
Fang Yin merasa senang mendengar perkataan Jian Heng. Dia berharap bisa menguasai seluruh isi kitab itu dengan cepat agar tidak terlalu lama dia tinggal di sekte ini.
"Terimakasih, Tetua Yu. Terimakasih juga telah meminjamkan tempat ini untukku," ucap Fang Yin.
Jian Heng mengangguk lalu meminta diri pada Fang Yin untuk pergi dari sana dan kembali mengajar.
Fang Yin mempersilakannya pergi lalu dia berjalan masuk dan menutup pintu ruangan itu. Ruangan itu lumayan luas dengan dekorasi yang indah di setiap sudutnya.
Setelah kepergian Jian Heng, Fang Yin segera mengambil tempat yang berada di tengah ruangan.
Dia sudah lama tidak membuat pil obat. Terakhir dia membuatnya di kediaman Xi Jiang, orang tua angkatnya.
Fang Yin segera melakukan tahap demi tahap dalam pembuatan pil obat, mulai dari pemurnian bahan dan energi pendukung, dan Qi yang dibutuhkan.
Satu demi satu, tahap pembuatan obat mulai dilakukan oleh Fang Yin dan terus berkonsentrasi untuk menghasilkan pil obat yang sangat berguna.
Kali ini Fang Yin tidak hanya membuat satu resep saja, tetapi beberapa resep pil yang akan dia buat dan gunakan sebagai sumberdaya maupun sebagai obat untuk mengobati penyakit tertentu.
Di dalam cincin penyimpannya terdapat bahan-bahan obat yang dia kumpulkan selama ini. Setiap kali menemukan tanaman obat, maka Fang Yin akan langsung memasukkannya ke dalam cincin penyimpannya. Bahan-bahan itu jumlahnya melimpah di dalam cincin penyimpannya.
Pil demi pil terbentuk dari proses pembuatannya dengan bentuk yang sangat sempurna. Setiap pil yang dia buat memiliki aroma dan bentuk yang khas. Pil-pil itu pun memiliki khasiat yang berbeda-beda.
Setelah merasa puas dengan hasilnya, Fang Yin pun segera menyimpan pil-pil itu ke dalam wadah yang kedap air dan kedap udara.
__ADS_1
Untuk yang terakhir, Fang Yin ingin membuat cacing tanah yang dia simpan menjadi pil sebagai obat typus untuk Lin Shi.
Fang Yin merasa sangat yakin jika setelah ini, Lin Shi sangat membutuhkan pil ini. Tabib yang mengobatinya memberikan resep obat yang kurang tepat untuknya. Mungkin untuk sesaat obat itu akan bekerja menurunkan suhu tubuhnya, tetapi setelah itu akan kembali naik lagi karena luka di dalam organ pencernaannya belum terobati.
Sudah cukup lama Fang Yin berkutat di daam ruang rahasia milik Jian Heng. Merasa sudah cukup dengan apa yang dia kerjakan, Fang Yin segera mengakhiri kegiatannya sebagai seorang alkemis di sana. Fang Yin ingin segera pergi keluar dan melihat apa yang terjadi.
Suasana hatinya sudah membaik. Fang Yin sudah melupakan perlakuan tidak menyenangkan yang dia terima siang tadi. Saat ini hari sudah sore, ternyata Fang Yin telah memakan banyak waktu untuk membuat pil obat.
Di kejauhan terlihat Jian Heng masih sibuk melatih beberapa orang murid.
Fang Yin ingin datang untuk menghampirinya dan melihat dari dekat pelajaran tentang apa yang diberikan oleh guru muda tersebut.
Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba datang Tetua Ming dari arah yang berlawanan dan memintanya untuk berhenti.
"Tunggu, Xiao Yin!" panggilnya.
"Apakah Tetua Ming memanggil saya?" tanya Fang Yin sambil menyatukan tangannya memberi hormat.
"Benar. Dari tadi aku mencarimu ke mana-mana tetapi tidak kunjung menemukanmu," jelas Tetua Ming.
'Pasti sersuatu telah terjadi pada Lin Shi, hingga membuat wajah Tetua Ming sepanik ini.' Fang Yin terdiam sambil menerka-nerka apa yang terjadi.
"Keadaan Lin Shi semakin memburuk meskipun tabib Su telah mengobatinya. Apakah kamu benar-benar mengerti tentang penyakit yang di derita oleh Lin Shi?" Tetua Ming kembali berucap.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan hal yang sia-sia Tetua. Dan aku tidak ingin mengulang kebodohan untuk kedua kalinya. Rasanya begitu menyakitkan ketika niat baik yang aku lakukan dianggap sebuah lelucon." Fang Yin mencoba jual mahal dan tidak ingin langsung menyetujui begitu saja permintaan Tetua Ming meskipun sebenarnya dia telah memaafkan mereka.
Wajah Tetua Ming terlihat murung. Dia menyesal akan sikapnya yang menyepelekan ucapan Fang Yin dan tidak mempercayainya sebelumnya. Bahkan dia diam saja ketika murid-murid yang lain menertawakan Fang Yin.
Melihat perubahan sikap Tetua Ming, Fang Yin merasa tidak tega. Tidak seharusnya dia mempermainkan perasaan orang tua itu.
"Tolong tunjukkan kamar, Lin Shi. Aku lupa jalannya," ucap Fang Yin datar.
Tetua Ming tersenyum mendengar ucapan Fang Yin lalu memintanya untuk berjalan mengikutinya.
Sesampainya di kamar Lin Shi, Fang Yin melihat keadaannya memang benar-benar sangat buruk saat ini. Denyut nadi Lin Shi terasa sangat lemah, bibirnya sangat kering dan wajah yang pucat. Jika sudah seperti ini, maka tidak cukup pil cacing saja untuk mengobati Lin Shi.
Fang Yin meminta salah satu murid yang berada di sana untuk mengambilkan air minum dan madu untuk Lin Shi karena tubuhnya mengalami dehidrasi yang lumayan parah.
Langkah kedua, Fang Yin memberikan dua butir pil cacing dan memasukkannya langsung ke mulut Lin Shi.
Tetua Ming melihat apa yang dilakukan oleh Fang Yin tanpa banyak bertanya. Dia percaya pada murid barunya itu meskipun dia terlihat bodoh. Jika Tetua Yu saja mengakuinya sebagai saudara jauhnya, tentu anak di hadapannya ini memiliki suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh murid lainnya, pikir Tetua Ming.
"Biarkan dia untuk istirahat dan sering-seringlah memberinya air madu. Setelah dia tersadar, dia harus memakan makanan yang halus seperti bubur dan beberapa jenis makanan yang bisa meningkatkan darah merah. Atau panggil saja aku, sepertinya aku masih menyimpan pil untuk itu," ucap Fang Yin dan bersiap untuk meninggalkan kamar itu.
Meskipun tatapan mereka sudah berubah pada Fang Yin, tetapi tidak satupun dari semua orang yang ada di sana mengucapkan terimakasih padanya. Mungkin mereka masih ragu-ragu karena belum melihat adanya perubahan yang terjadi pada tubuh Lin Shi.
Fang Yin tidak mau ambil pusing dengan semua itu dan terus melangkah pergi meninggalkan kamar Lin Shi.
__ADS_1
****
Bersambung ....