Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 211


__ADS_3

Fang Yin mengusap telapak tangan kirinya dengan telapak tangan kanannya. Beberapa saat kemudian muncul sebuah titik bersinar di dalam lingkaran simbol tersebut.


"Astaga! Jiwa penasaranku meronta-ronta! Haruskah aku mengikuti cahaya ini dan mencari tahu letak Kitab Sembilan Naga malam ini juga! Tidak, tidak, tidak, aku butuh istirahat. Seharian berjalan kaki membuat betisku terasa pegal."


Fang Yin menyimpan kembali kitabnya, memasang pelindung di sekelilingnya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Pagi-pagi sekali Fang Yin telah terbangun. Rasa penasarannya membuatnya ingin segera pergi ke luar untuk mengikuti petunjuk tentang keberadaan Kitab Sembilan Naga bintang enam.


Sebelum pergi, Fang Yin membenahi penampilannya terlebih dahulu. Simpel dan tidak terlalu banyak hiasan rambut yang dia gunakan.


Saat membuka pintu kamarnya, dia telah dikejutkan dengan kehadiran Jian Heng yang telah berdiri di depan pintunya. Entah sejak kapan dia berdiri di sana. Sepertinya dia ingin membangunkan Fang Yin tetapi urung dia lakukan.


"Tetua Yu! Kamu membuatku terkejut saja." Fang Yin menutup pintu kamarnya dan mengibaskan tangannya untuk menarik mantra pelindung yang dia buat.


'Kamu sangat waspada sekarang. Aku tidak perlu menyemaskanmu lagi,' gumam Jian Heng dalam hati.


"Aku ingin berpamitan padamu, Xiao Yin. Maaf, aku harus kembali ke kehidupanku setelah ini." Jian Heng menundukkan wajahnya mencoba untuk menahan kegetiran di hatinya.


Dia tidak bisa berlama-lama di tempat ini karena harus pergi untuk mengunjungi orang tuanya di Benua Tengah. Dia juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan Sekte Sembilan Bintang terlalu lama.


"Aku pikir ada apa. Kita memiliki misi yang berbeda, sudah sewajarnya kita berpisah." Fang Yin berpura-pura kuat seolah dia tidak terpengaruh dengan perpisahan mereka.


"Kamu benar, Xiao Yin. Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Jaga dirimu baik-baik dan jangan pernah berpikir untuk melupakanku. Aku tidak bisa menerima itu."

__ADS_1


Fang Yin merasa sedikit bingung dengan maksud dari kata-kata yang diucapkan oleh Jian Heng. Namun dia tidak ingin terlihat jika dia sangat tersanjung saat mendengar semua itu.


"Kita pasti akan bertemu lagi. Dunia ini sempit." Sebenarnya kata-kata ini untuk menghibur dirinya sendiri.


Mereka berdua akhirnya memilih turun dan pergi untuk mencari sarapan. Tidak ada lagi yang terucap dari bibir mereka. Saat ini keduanya larut dalam pikirannya masing-masing.


Fang Yin dengan ambisinya yang besar memilih untuk mengesampingkan urusan perasaannya. Jian Heng merasa dirinya lemah dan ingin memperkuat dirinya agar bisa setara saat bersanding dengan Fang Yin yang selangkah lagi menjadi seorang Dewi Naga.


Sebelum dia mencapai ranah dewa, Jian Heng belum merasa pantas untuk mengungkapkan perasaannya pada Fang Yin.


'Aku menunggumu dewasa dan aku menjadi kuat. Semoga ayah tidak menentangku meskipun kamu hanya gadis biasa.'


Sampai saat ini keduanya sama-sama belum tahu tentang identitas mereka yang sebenarnya. Baik Jian Heng maupun Fang Yin belum ingin membuka jati dirinya satu sama lain.


"Apakah kamu akan benar-benar pergi sekarang?" tanya Fang Yin. "Eh, maksudku hati-hati." Dia meralat ucapannya.


"Aku akan berhati-hati. Kamu juga harus melakukannya. Saat kita bertemu lagi aku ingin mengatakan sesuatu yang penting." Jian Heng tidak kalah malu, dalam suaranya yang terdengar biasa tersimpan rasa malu yang luar biasa.


Fang Yin menegakkan kepalanya dan menatap Jian Heng tak percaya. Hatinya berdebar-debar meskipun dia tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Jian Heng di masa mendatang.


'Perasaanku sangat kacau. Tetua Yu, jangan membuatku tidak bisa berkonsentrasi untuk mencapai tujuanku.' Fang Yin mencoba mengontrol dirinya agar tidak larut dalam gelombang perasaan.


Keduanya sama-sama kembali terdiam. Makanan di hadapan mereka hampir tak tersentuh. Selera makan mereka menghilang terhimpit olah beban perasaan yang membuat leher mereka seperti tercekat.

__ADS_1


Dengan perasaan yang berat, keduanya akhirnya berpisah. Fang Yin mengantarkan Jian Heng hingga ke perbatasan desa itu.


"Xiao Yin! Apakah kamu keberatan jika aku memelukmu?" Ucapan permohonan Jian Heng dikemas dalam sebuah pertanyaan.


Mulut Fang Yin ternganga. Untung saja penutup wajah yang dia pakai menutupinya. Hanya saja mata sipitnya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


Sikap diam Fang Yin dianggap sebagai persetujuan oleh Jian Heng. Dia segera meraih tubuhnya dan memeluknya erat.


Tidak ada penolakan bukan berarti Fang Yin setuju. Dia takut jika Jian Heng merasakan debaran aneh ketika jantungnya memompa darahnya lebih cepat. Fang Yin berusaha melepaskan dirinya tetapi hatinya selalu menghentikannya dan memintanya untuk tenang.


Jian Heng melepaskan pelukannya.


"Terimakasih. Aku pergi dulu, Xiao Yin. Aku menyayangimu." Setelah mengatakan itu, Jian Heng buru-buru berbalik dan berjalan meninggalkan Fang Yin yang terpaku.


Kejutan demi kejutan yang diberikan oleh Jian Heng membuatnya syok. Tubuhnya terasa kaku dan bibirnya sulit untuk berucap. Keadaan Fang Yin saat ini seperti seorang yang terjebak dalam ilusi.


Saat dia tersadar, Jian Heng telah berjalan menjauh pergi.


"Aku juga menyayangimu, Tetua." Fang Yin berbisik lirih.


Jian Heng menghentikan langkahnya. Sadar akan hal itu, Fang Yin segera berbalik dan berjalan sebelum Jian Heng menoleh padanya. Fang Yin tidak sanggup untuk melihatnya lagi.


'Hatiku sedang bermain perasaan.'

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2