
Kaisar Xi menatap lembut Selir Tang yang masih pucat. Hati wanita itu begitu lembut meskipun di medan perang adalah lawan yang tidak bisa dianggap remeh oleh musuh-musuhnya.
Jian Heng adalah putra yang terlahir dari perpaduan keduanya. Tidak disangka putra ketiganya mampu melampaui kedua kakaknya baik dalam prestasi maupun dalam hal memilih pasangan.
"Heng'er sudah dewasa. Dia pasti sudah memikirkannya. Kita hanya bisa menunggunya menyampaikan keinginannya."
"Mungkin saja dia lupa." Selir Tang tersenyum dan merasa aneh dengan apa yang dikatakannya sendiri.
"Aku percaya putra kita memiliki rencana yang lebih baik daripada rencana kita. Terbukti dia tetap bertahan dengan cintanya meskipun dulu dia tidak tahu tentang asal usul Yin'er yang sebenarnya."
Selir Tang akhirnya menyerah. Dia akan menunggu Jian Heng meminta mereka untuk meminang Fang Yin secara resmi.
Di luar pintu kamarnya, Xi Hao Xiang berdiri dan mendengarkan obrolan orang tuanya. Tidak ada kebencian di hatinya, hanya kesedihan dan rasa sepi.
Kebahagiaan yang diperoleh oleh Jian Heng tidak serta merta datang. Sebelum ini dia telah melewati banyak luka dan air mata. Pangeran Ketiga dari keluarga Xi terkenal dengan sifatnya yang bersahaja dan penampilannya yang sederhana.
Terus mendengar tidak akan mampu menguatkan hatinya. Melihat kebahagiaan kedua orang tuanya, Xi Hao Xiang pun berpikir intuk bisa melakukan hal yang sama setelah ini.
Di tengah keheningan malam Kekaisaran Benua Timur, jiwa-jiwa terlelap dalam kemenangan.
Sebuah pemandangan berbeda dengan yang ada di sudut kota.
Sekelompok orang datang mengacau di sebuah daerah yang berada di pinggir kota. Keamanan di sana sedang kacau mengingat pemimpin dan pasukan pilihan yang tinggal di sana pergi ke medan perang.
Setelah mendengar berita kemenangan Fang Yin, para pengacau ini mengambil kesempatan untuk mengacau. Mereka merampok dan menjarah harta benda milik warga ibukota negara bagian Qiong.
Sebagian besar penduduk negara itu memiliki tingkat ekonomi yang mapan. Bisa dikatakan negara bagian ini memiliki kemajuan dibandingkan dengan negara bagian lainnya.
"Serahkan harta kalian!" seru seorang pria tegap menghunuskan pedang dan mengarahkan pedang itu ke arah seorang warga.
Warga yang ditodong merupakan seorang pria tua dengan tubuh bungkuk. Pria ini tergolong berani mengingat dia berdiri di luar rumah meskipun dia tahu sedang ada pengacau di wilayah itu.
__ADS_1
"Ambil saja sekiranya ada benda berharga yang kamu inginkan di dalam rumahku," ucap pria itu dengan santai.
Pria yang menodongkan tersenyum sinis. Tangannya menarik pedang yang mengarah ke pria tua lalu dengan langkah tergesa mendekati rumah megah di belakang pria tua.
Sebelum benar-benar masuk, pria jahat menoleh pada pria tua yang berdiri memunggungi rumahnya tidak bergeming. Menurutnya ini aneh tetapi segera ditepisnya dan dianggapnya sebagai sebuah kepatuhan.
Langkah yang lambat membawa pria jahat itu mencapai pintu. Tangannya membawa pedang sehingga dia memilih membuka pintu dengan menendang pintunya.
Pintu rumah terbuka dan menampakkan cahaya terang yang menyilaukan mata. Pria jahat itu tidak bisa melihat apapun isi di dalam rumah itu. Kakinya perlahan mundur dengan keadaan tubuh yang tidak seimbang.
Tubuh pria jahat tersungkur ke belakang dengan keadaan yang menggelikan. Dia terlihat seperti orang buta yang kehilangan tongkat pemandunya. Tangannya meraba-raba ke samping tubuhnya mencari pedangnya yang terlepas ketika dia jatuh.
Pria tua mengambil pedang pria jahat dan melemparnya jauh. Lemparannya yang kuat melesatkan pedang itu menembus sebuah pohon besar.
"Kamu salah memilih lawan, Tuan Kekar!" Seorang pemuda muncul tiba-tiba.
"Chang'er, dari mana saja kamu?" Kakek tua itu menatap kesal cucunya.
Saat dalam perjalanan pulang dia mendengar jika Raja Qiong dan pasukan kuat dari negaranya mati di medan perang saat melawan pasukan Putri Gu Fang Yin. Berita ini sangat mengejutkan baginya.
Xiao Chang senang karena dia tidak kembali sebelum ini. Mungkin jika dia berada di kota sebelum peperangan, Raja Qiong akan membawanya serta dalam pasukan yang mendukung Kaisar Ning.
Saat Kaisar Ning mulai berkuasa dia masih remaja. Namun, dia tahu semua kejahatan yang dilakukan oleh kaisar kejam itu karena ayah dan ibunya juga menjadi korban keganasannya.
Sebagai keturunan Dewa Pedang Timur, Xiao Chang tahu bagaimana sepak terbang orang tuanya. Mereka adalah orang jujur yang dihapuskan di negara ini. Orang tuanya dibunuh saat menolak perintah Kaisar Ning untuk membantunya membantai Klan Gu.
Orang tua Xiao Chang pernah membantu pasukan khusus Kerajaan Qiong untuk melakukan pemberontak pada masa pemerintahan Kaisar Gu. Sadar akan kesalahannya, mereka berdua tidak ingin lagi mematuhi perintah Kaisar Ning yang saat itu masih menjabat sebagai Penasehat Kaisar.
Xiao Chang memiliki wajah yang mirip dengan Gu Tian Feng. Masih menjadi misteri asal usul orang tuanya karena mereka tidak pernah menceritakan itu padanya. Kemungkinan mereka belum sempat menceritakan semuanya dan telah meninggal.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengotori negara ini dengan kejahatannya. Aku menyambut era baru yang dibawa oleh Kaisar Benua Timur yang baru. Dia akan mengembalikan kedamaian seperti masa-masa kejayaan kepemimpinan Kaisar Gu."
__ADS_1
Xiao Chang membalas pertanyaan kakeknya dengan pernyataan yang membuat kakeknya terkejut.
"Jadi kamu sudah tahu jika Klan Gu kembali berkuasa? Klan Gu memang pantas untuk bangkit. Mereka mendapatkan berkat Dewa untuk selalu memimpin negara ini dengan adil."
Melihat keduanya mengobrol, pria jahat yang hendak menjarah harta benda mereka mencoba untuk kabur dengan merangkak. Pandangannya yang kabur membuatnya tidak bisa melihat arah. Dia menggunakan suara percakapan Xiao Chang dan kakeknya sebagai acuan untuk bergerak menjauh.
Xiao Chang menoleh tanpa memutar tubuhnya. Posisi penjahat ada di belakangnya. Sebuah pedang muncul di tangannya lalu dia memutar ujungnya ke arah pria jahat.
Pedang Xiao Chang melesat cepat setelah pemiliknya mendorongnya dengan Qi. Pria jahat tidak dapat mengelak ketika pedang menembus punggungnya. Jeritan keras menegakkan bulu roma siapapun yang mendengarnya.
"Secepat ini dia mati. Atas dasar apa dia menjadi perampok. Sungguh memalukan!" Xiao Chang tersenyum miring lalu berbalik mendekati pria jahat untuk mengambil pedangnya.
"Dia datang bersama beberapa orang. Pergilah cari mereka dan selamatkan penduduk yang menjadi sasaran mereka." Kakek Xiao Chang berbalik lalu berjalan pulang ke rumahnya.
Tanpa perintah kakeknya pun Xiao Chang sudah berencana untuk pergi membantu penduduk kota. Di kejauhan terlihat kobaran api yang menyala di kegelapan malam. Dia sangat yakin jika itu adalah ulah kawanan yang sama dengan yang menyerang kakeknya.
Kilatan pedang Xiao Chang menyilaukan mata saat cahaya lentera memantul dari sana. Penduduk kota tersenyum menyambut kedatangan dan menganggapnya sebagai seorang pahlawan.
Beberapa wanita dan anak-anak berdiri ketakutan di luar rumah. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika para penjahat mengobrak abrik rumah mereka. Jika tidak menemukan benda berharga, penjahat tidak segan-segan membakarnya.
"Letakkan barang-barang itu!" pekik Xiao Chang saat melihat penjahat membawa sekantong perhiasan emas dan menimangnya di tangan sambil berjalan.
Penjahat itu tidak mengindahkan ucapan Xiao Chang.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir, terimakasih.
__ADS_1