
Setelah lelah berlari, Yue Jie terduduk di tengah jalan dengan keadaan yang sangat berantakan. Tangisnya sudah berhenti, tetapi dia masih terus menggumamkan nama Fang Yin.
Kedua orang pria yang sedari tadi mengikuti Yue Jie membawanya menepi sambil menunggu seluruh rombongan menyusul mereka. Terlihat dua orang wanita juga berlari-lari kecil untuk menyusul mereka dan membantu untuk menenangkan Yue Jie.
Di tempat lain, Fang Yin yang tidak kuasa lagi melihat kesedihan ibunya, berbalik meninggalkan tempat persembunyiannya dan kembali ke penginapan.
Berdekatan dengan sang ibu akan membawa keduanya dalam bahaya. Cukup memberitahu ibunya jika saat ini dia masih hidup dan sedang berjuang untuk menjadi kuat.
'Anak macam apa diriku yang tidak bisa membuat ibunya bahagia. Namun ketahuilah ibu, aku benar-benar tidak berdaya saat ini. Aku memang sangat merindukanmu, tetapi jika ada yang tahu aku masih hidup maka semuanya akan menjadi berantakan.' Fang Yin menyeka air matanya lalu kembali melangkah.
Di dalam dunia kultivasi yang kejam, sebuah hubungan kekerabatan akan menjadi celah bagi lawan untuk membuat musuhnya menjadi lemah.
Itulah alasan Fang Yin mengapa harus rela mengesampingkan perasaan demi untuk mencapai tujuannya.
Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya, Fang Yin segera turun dari kamar yang dia sewa menuju ke sebuah kedai yang sangat ramai.
Pandangan matanya mengedar ke sekeliling untuk mencari tempat duduk yang bisa membuatnya leluasa dalam memakan makanannya tanpa takut ada yang mengintipnya saat makan.
Fang Yin memang sudah terbiasa makan tanpa melepaskan cadarnya, tetapi di tempat yang baru tentu dia akan ada menjadi pusat perhatian.
Ketika dia turun dengan penampilannya yang berbeda pun sudah banyak mata yang memperhatikannya. Sebagian di antara mereka tahu jika Fang Yin adalah orang yang membunuh Sheng Mo, kultivator ranah suci yang sangat ditakuti di wilayah itu.
Sheng Mo di kenal sangat kejam, terutama pada keturunan suku es. Entah sudah berapa nyawa yang sudah dia habisi. Secara tidak langsung, penduduk desa ini diuntungkan dengan kematiannya karena terbebas dari rasa takut.
Dalam menjalankan misinya, Sheng Mo tidak segan untuk membunuh orang yang menghalangi jalannya dan orang-orang tidak bersalah yang tidak mau memberikan apa yang dia inginkan.
Makanan yang di pesan oleh Fang Yin datang ke hadapannya. Di saat yang bersamaan, terlihat beberapa orang tamu masuk ke kedalam kedai itu. Penampilan mereka terlihat biasa saja. Akan tetapi aura yang keluar dari tubuh mereka sangat jelas menunjukkan jika mereka adalah seorang kultivator.
Fang Yin memasang telinganya, berharap ada kabar penting yang bisa dia dapatkan dari mereka.
__ADS_1
Mereka membicarakan rencana mereka untuk pergi ke Benua Selatan untuk menjalankan sebuah misi dari kekaisaran Benua Tengah.
Keempat kultivator itu mengatakan jika mereka akan melewati Jalur Perak yang mengharuskan mereka untuk berhati-hati.
Di jalur itu banyak sekali bandit yang sangat kejam, tidak jarang juga kultivator yang sedang menjajal kemampuannya untuk mencari lawan dengan mencari gara-gara.
Mereka mengatakan jika beruntung, Pendekar Iblis Buta akan turun tangan untuk mengatasi kekacauan itu.
Fang Yin langsung menegakkan tubuhnya ketika mendengar nama orang yang dia cari disebutkan oleh para kultivator itu.
'Aku harus pergi bersama mereka tetapi aku harus memastikan keadaan ibu dan rombongan aman terlebih dahulu, setidaknya sampai di perbatasan.' gumam Fang Yin di dalam hati.
Setelah memastikan jika keempat kultivator itu menginap di tempat itu, Fang Yin menyelinap keluar dari penginapan untuk menyusuri jejak energinya yang dia tinggalkan pada sapu tangan yang dia beerikan pada ibunya.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Fang Yin melompat dari pohon ke pohon yang berada di sepanjang jalur yang dilalui oleh rombongan Klan Shi.
Setelah beberapa saat menggunakan teknik meringankan tubuhnya dan mengikuti jejak energi yang dia tinggalkan, akhirnya Fang Yin bisa melihat rombongan itu dari kejauhan.
Perbatasan Gunung Perak sudah mulai terlihat sehingga Fang Yin berhenti di sebuah pohon yang paling tinggi untuk melihat ibunya.
Meskipun masih butuh waktu sepanjang malam tanpa istirahat untuk sampai di tempat tinggal mereka, tetapi setelah melewati perbatasan itu mereka sudah mencapai titik aman.
'Selamat jalan ibu. Tunggu aku kembali!' Fang Yin berbalik lalu melompat dengan cepat untuk kembali ke penginapan.
Hari sudah hampir tengah malam ketika Fang Yin sampai di penginapan. Di sepanjang jalanan yang dia lalui sudah mulai sepi. Banyak pedagang yang sudah mulai tutup, hanya tinggal beberapa kedai minuman keras saja yang masih buka.
Para pria berkerumun di kedai-kedai minuman itu untuk menikmati malam setelah penat menjalankan aktifitasnya. Udara malam yang sangat dingin di desa itu membutuhkan sedikit arak untuk menghangatkan tubuh. Tidak heran jika kedai-kedai minuman itu semakin malam akan semakin ramai pengunjung.
'Untung saja tidak ada yang curiga dengan penyamaranku sebagai seorang pria. Jika tidak maka akan lain ceritanya saat aku berjalan sendirian di malam hari seperti ini.'
__ADS_1
Fang Yin melangkah cepat untuk meninggalkan tempat itu dan segera masuk ke penginapan untuk beristirahat.
Keempat kultivator yang ingin dia ikuti masih berdiskusi di sebuah kedai minuman yang ada di dalam penginapan di lantai bawah. Sekilas mereka melihat ke arah Fang Yin lalu kembali menikmati minuman mereka.
Sebenarnya Fang Yin ingin mendengarkan lebih banyak informasi dari mereka. Namun dia memilih untuk beristirahat lebih awal agar bisa bangun lebih awal.
"Sepertinya orang itu sejak tadi terus melihat ke arah kita," bisik salah satu kultivator itu sambil menunjuk Fang Yin dengan dagunya.
"Tetapi kita baru bertemu dengannya di sini. Tidak mungkin kan jika dia seorang mata-mata," balas teman yang lainnya.
"Heh! Apakah kamu pernah melihat orang aneh itu?" tanya salah seorang lagi pada pelayan yang berdiri di samping meja mereka.
Pelayan itu terlihat ketakutan sebelum menjawab pertanyaan mereka mengingat orang yang mereka tanyakan adalah orang yang telah mengalahkan Sheng Mo.
Keempat orang itu saling berpandangan saat melihat perubahan wajah pelayan itu.
"Tidak perlu takut. Kamu akan melindungimu. Sekarang cepat katakan, siapa dia sebenarnya!" seru salah seorang dari mereka.
Pelayan itu sedikit ragu-ragu untuk berbicara. Sebelum bercerita dia melihat ke sekeliling untuk memastikan jika Fang Yin sudah masuk ke kamarnya.
"Dia menyebut dirinya sebagai Pendekar Cadar Perak. Tadi siang dia telah mengalahkan Sheng Mo dan menyelamatkan beberapa orang dari suku es yang beberapa hari ini tinggal di wilayah ini."
Keempat kultivator itu kembali saling berpandangan dan mengangguk.
Apakah yang mereka rencanakan?
****
Bersambung....
__ADS_1