Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 312. Secuil Perasaan


__ADS_3

Tangan Pertapa Hu mendorong ke depan ke arah diagram ramalan. Qi yang dikeluarkannya membuat diagram itu berputar dengan dua gerakan yang berlawanan.


Simbol yang berada di tengah bergerak searah jarum jam dan bagian luar bergerak melawan arah jarum jam. Setelah mencapai puncak kecepatan, Pertapa Hu menarik tangannya dan membiarkan diagram itu bergerak sendiri.


Gerakan dari diagram ramalan mengalami penurunan. Semakin lama semakin melambat dan perlahan berhenti. Di bagian tengah diagram ada sebuah simbol yang menyerupai panah.


Wajah Pertapa Hu menunjukkan ekspresi yang tidak biasa. Dia tampak seperti orang yang sedang ketakutan. Mulutnya terbuka dengan bibir yang bergerak-gerak seakan ingin bicara.


Kaisar Ning menyadari ada yang tidak beres dari perubahan sikap Pertapa Hu. Dia merasa jika ini bukanlah hal yang baik. Namun, dia tetap berpikir jika setiap masalah pasti ada jalar keluarnya.


'Apa yang harus aku katakan kepada Kaisar Ning. Dia pasti akan memenggal kepalaku jika aku mengatakan hal yang sebenarnya. Kebangkitan Klan Gu sudah sangat dekat. Aku melihat dukungan yang besar dari beberapa kekaisaran di dalam penyerangan. Meskipun pasukan Kaisar Ning sangat kuat, tetapi mereka tetap tidak sebanding. Banyak kultivator hebat yang berdiri di belakang pemimpin Klan Gu saat ini.' Pertapa Hu tampak ketakutan.


"Apakah yang kamu lihat Pertapa Hu?"


Pertanyaan Kaisar Ning membuat Pertapa Hu semakin ketakutan. Tubuhnya gemetar. Hatinya diliputi kecemasan. Dia tidak tahu akan mengatakan hal yang sebenarnya atau menyembunyikannya.


"Jangan takut Pertapa Hu, apapun ramalan itu aku tidak akan menyalahkanmu. Kamu hanya mengatakan apa yang kamu lihat tanpa bukan kamu yang membuat semuanya. Seburuk apapun ramalan itu, aku akan tetap berusaha untuk mengubahnya."


Pertapa Hu menunduk. Perasaannya menjadi sedikit tenang saat mendengar kalimat itu. Namun, bayangan peperangan besar yang meluluhlantakkan ibukota Kekaisaran Benua Timur masih membayang di benaknya.


"Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak akan merekayasa apa yang terlihat di dalam diagram ramalan. Hal yang terlihat di sana sangat menakutkan. Aku tidak menyangka bahwa Dewi Naga akan bangkit pada masa ini. Di belakangnya berdiri para kultivator dari seluruh penjuru benua. Pasukan kekaisaran dari berbagai benua juga menjadi pendukungnya."


Pertapa Hu mengatakan apa yang dilihatnya dengan singkat. Namun, hal itu sudah cukup untuk menjadi gambaran bagi Kaisar Ning.


'Dewi Naga! Hanya seorang wanita yang bisa menjadi cangkangnya. Apakah dia benar-benar Putri Gu Fang Yin?' Kaisar Ning beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Pertapa Hu tanpa kata.


Tubuhnya bergerak dalam keadaan setengah sadar. Kakinya melangkah tetapi dia tidak tahu arah. Matanya yang terbuka lebar tetapi hanya berisi sebuah kekosongan. Kaisar Ning belum bisa menguasai dirinya.


Pertapa Hu yang merasa khawatir terus mengikutinya di belakangnya. Dia melihat Kaisar Ning sedang berdiri termangu dalam kekosongan. Ekspresi wajahnya terlihat sangat kacau dan berantakan.


"Yang Mulia! Maaf jika hamba menyampaikan berita yang tidak menyenangkan." Wajah Pertapa Hu terlihat sangat menyesal.


Kaisar Ning berbalik dan menatap Pertapa Hu. Di lihat dari sorot matanya tersirat beberapa pertanyaan.


"Apakah ada hal lain yang kamu ketahui selain itu?" tanya Kaisar Ning.


Pertapa Hu menyembunyikan fakta jika pemimpin Klan Gu adalah Putri Gu Fang Yin dan ada seorang lagi yang masih tersisa. Pria itu yang akan menjadi saksi kunci akan kebenaran statusnya sebagai putri sah dari Kaisar Gu.


"Ti-tidak ada, Yang Mulia," bohongnya.


Kaisar Ning mengangguk.


"Aku akan kembali ke istana." Kaisar Ning berbalik memunggungi Pertapa Hu.


"Apakah Yang Mulia membutuhkan seseorang untuk mengantarkan Anda?" tanya Pertapa Hu.


Kaisar Ning berhenti dan hanya mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh sebagai ungkapan bahwa itu tidak perlu.

__ADS_1


Pertapa Hu hanya mampu menatap kepergian Kaisar Ning sambil termenung. Dia memang tidak bisa memastikan berapa lama lagi perang besar itu akan terjadi. Namun, dari tanda-tanda yang dia lihat, waktu itu sudah sangat dekat.


Kaisar Ning memacu kudanya dengan kencang menuju ke istana. Di sepanjang perjalanannya dia memikirkan tentang ramalan dari Pertapa Hu. Hampir seluruh ramalannya terbukti, tetapi dia berharap ramalannya kali ini tidak akan pernah terjadi.


Sesampainya di istana, Kaisar Ning langsung pergi ke kediaman Panglima Bai Chang. Langkahnya yang sangat tergesa membuat penjaga villa Panglima Bai Chang tidak sempat melaporkan kedatangannya pada atasannya tersebut.


"Panglima Bai Chang!" panggil Kaisar Ning.


Pengawal yang mengikutinya membantunya untuk mengetuk pintu.


Tidak lama kemudian Panglima Bai Chang membuka pintu ruangannya. Matanya membelalak ketika melihat kedatangan Kaisar Ning. Setelah menguasai dirinya, dia segera memberikan penghormatan pada Kaisar Ning.


Kaisar Ning tidak ingin berbasa-basi lebih lama, dia berjalan melewati Panglima Bai Chang lalu duduk di depan sebuah meja.


Sikap tidak biasa dari Kaisar Ning membuat Panglima Bai Chang bertanya-tanya. Melihat rambut Kaisar Ning yang terlihat berantakan, Panglima Bai Chang segera menuang air madu untuk kaisarnya tersebut.


Kaisar Ning menerima cangkir yang diberikan oleh Panglima Bai Chang lalu meneguk isi di dalamnya hingga tandas. Tanpa malu-malu di meminta Panglima Bai Chang untuk menambahkan air ke dalamnya. Dahaga yang dia rasakan terasa hingga ke dasar kerongkongannya.


Setelah merasa lega dan sedikit tenang, Kaisar Ning mengatakan maksud kedatangannya kepada Panglima Bai Chang. Semua yang dia dengar dari Pertapa Hu dia ceritakan padanya. Panglima Bai Chang adalah orang kepercayaannya setelah kedua putranya.


Sebelumnya Panglima Bai Chang tidak bisa mengenali dengan jelas siapa pemimpin Klan Gu yang akan melakukan pemberontakan. Namun, kini semuanya sudah menjadi jelas. Putri Gu Fang Yin masih hidup dan akan menjadi ancaman bagi Kaisar Ning dan seluruh sekutunya.


Di akhir ceritanya, Kaisar Ning mengatakan sesuatu yang mengejutkan Panglima Bai Chang, yaitu mengenai kebangkitan Dewi Naga yang tidak lain adalah pemimpin Klan Gu. Bulu kuduk Panglima Bai Chang meremang. Cerita menakutkan di balik Legenda Dewi Naga membuat siapapun merasa segan.


Kaisar Ning berharap jika ramalan ini belum terjadi. Oleh sebab itu, dia meminta Panglima Bai Chang untuk mengutus pasukan khusus mencari keberadaan Putri Gu Fang Yin. Jika sebelumnya dia hanya mencarinya di wilayah Benua Timur, kini dia meminta utusan itu untuk pergi ke seluruh penjuru dunia.


Tugas yang diberikan kali ini merupakan sebuah tugas rahasia. Hanya Kaisar Ning dan Panglima Bai Chang yang mengetahuinya. Jika orang lain mengetahuinya maka akan menimbulkan ketakutan dan kecurigaan pada berita palsu yang dia buat di masa lalu.


Sesulit apapun tugas ini, Panglima Bai Chang tetap harus melaksanakannya. Dia yakin jika Dewi Naga belum bangkit dan berharap segera menemukannya. Dengan kekuatan Kaisar Ning saat ini, dia merasa yakin jika Dewi Naga akan dihabisi dengan mudah.


Perasaan Kaisar Ning menjadi lebih tenang setelah mengungkapkan semuanya pada Panglima Bai Chang. Dia segera bergegas menuju istananya dan berkultivasi. Banyak hal yang bisa dia persiapkan sebelum Dewi Naga datang menyerang. Malam nanti dia berencana untuk menemui Ning Yao Xi dan membicarakan masalah ini.


Setelah hari ini Kaisar Ning terlihat sangat sibuk. Dia meminta para sekutunya untuk memperkuat pasukannya. Dia mengatakan sebagian ramalan Pertapa Hu dan merahasiakan tentang kemunculan Dewi Naga.


Untuk menambah jumlah pasukan, Kaisar Ning meminta warga sipilnya bergabung dengan pasukan kekaisaran. Mereka diiming-imingi dengan upah yang besar sehingga diharapkan berbondong-bondong datang tanpa paksaan.


Kaisar Ning sendiri sibuk dengan latihannya sendiri. Ruangan yang menyimpan formasi sembilan matahari kini dijaga ketat. Tidak ada yang diijinkan untuk mendekati ruangan itu, apalagi memasukinya.


Semua orang terlihat sangat sibuk dan melupakan perselisihan di antara mereka. Begitu juga dengan Ning Yao Xi dan Ning Mu Shen. Mereka tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya perang besar yang digambarkan oleh ayahnya, di mana seluruh benua memihak pada Klan Gu.


Siasat tentang berita palsu yang menyatakan bahwa Putri Gu Fang Yin bukanlah keturunan Kaisar Gu kembali digaungkan. Masyarakat diprofokasi untuk membencinya dan menyatakan bahwa dia adalah anak haram.


Kehidupan Selir Ketiga kembali menjadi perbincangan di dalam masyarakat dan menjadi isu terhangat. Rumor tentang hubungan terlarangnya dengan Jenderal Wang Jiang juga santer diberitakan. Fitnah yang sudah lama tidak terdengar terus mencuat dan menumbuhkan spekulasi dalam masyarakat luas.


Kaisar Ning sedang duduk di taman samping bersama Ning Mu Shen. Keduanya menikmati pemandangan yang menghadap ke taman bunga yang berada di tepi danau buatan yang dipenuhi bunga teratai.


"Ayah, aku ingin mendengar secara jujur darimu, apakah adik Fang Yin adalah anak haram dari Jenderal Wang Jiang dan Selir Shi?" tanya Ning Mu Shen.

__ADS_1


Kaisar Ning menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah hatinya merasa tenang, dia kemudian menatap putranya itu dengan kesal.


"Tentu saja bukan. Ayah sengaja membuat berita itu untuk memprofokasi masyarakat luas agar memihak pada kita. Jika sewaktu-waktu Fang Yin datang, mereka tidak akan bersimpati padanya."


Ning Mu Shen mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan ayahnya. Senyum liciknya terbit. Dia memiliki ide yang menyimpang dari arahan yang diberikan oleh ayahnya.


Meskipun lama tidak bertemu, ingatan tentang Fang Yin masih segar di dalam ingatan Ning Mu Shen. Sejak lama dia menaruh hati pada putri satu-satunya dari Kaisar Gu tersebut. Setelah mendengar kejujuran ayahnya barusan, perasaan yang telah lama hilang itu kembali datang.


Ning Mu Shen bisa berubah menjadi ular berkepala dua. Di satu sisi dia akan memihak ayahnya dan di sisi lain dia akan berusaha untuk mendapatkan tempat di hati Fang Yin.


Dari cerita yang di dengarnya Fang Yin begitu luar biasa. Butuh usaha yang keras untuk mengalahkannya. Kemungkinan terburuknya adalah kekaisaran di bawah kepemimpinan ayahnya akan tumbang.


"Apa yang kamu pikirkan Shen'er? Mengapa kamu tersenyum? Tidakkah kamu merasa takut dengan kekuatan besar yang berada di belakang Putri Gu Fang Yin?" Kaisar Ning menatap Ning Mu Shen curiga.


Jika tidak gila, maka putranya itu sedang mengalami gangguan psikis. Di dalam masalah yang serius seperti ini, ekspresi wajahnya menunjukkan hal yang bertolak belakang dengan keadaan yang seharusnya.


"Bukan begitu ayah. Aku hanya sedang memikirkan sebuah rencana untuk menjebak Putri Gu Fang Yin. Pada saat kemunculannya aku akan berpura-pura untuk memihak padanya dan menyerangnya ketika dia lengah," jelas Ning Mu Shen.


"Rencanamu itu sangat berbahaya, Shen'er. Kamu akan mati sia-sia jika Fang Yin tahu akal busukmu. Sebaiknya kamu tidak merencanakan hal-hal konyol seperti ini lagi."


Ning Mu Shen terdiam. Dalam hati dia tetap pada pendiriannya. Tidak peduli ayahnya itu akan kalah atau menang, dia akan tetap berusaha untuk mendapatkan posisi yang diuntungkan. Bisa dibilang otak Ning Mu Shen lebih licik dari ayahnya.


Senja hampir turun, Kaisar Ning dan Ning Mu Shen kembali ke istana mereka masing-masing. Keesokan harinya mereka akan pergi menyusun strategi pelatihan bagi para prajurit pemula agar lebih cepat mahir dalam bertarung.


Kaisar Ning sendiri juga ikut turun tangan untuk mengawasi apa yang dilakukan oleh para panglima dan panglima tinggi yang memegang sebuah pasukan.


Dalam tubuh pemerintahan, para dewan dan raja-raja kecil sepakat untuk merekrut para kultivator kuat untuk bergabung. Mereka bisa mendapatkan banyak dari mereka dengan mengeluarkan upah yang tinggi. Uang itu sebenarnya juga berasal dari uang rakyat yang mereka dapatkan dengan menaikkan pajak.


Begitu banyak hal yang bisa dilakukan oleh pasukan pilihan Kaisar Ning. Mereka berkeliling untuk menyampaikan pengumuman penerimaan prajurit dan kultivator. Siapapun boleh bergabung tanpa adanya ketentuan khusus yang mengikat mereka.


Ning Yao Xi tidak kalah sibuk dengan ayah dan adiknya. Selain mengurusi masalah kemiliteran, dia juga mengurus tindakan kriminal dan kerusuhan yang sering terjadi di perbatasan dan wilayah yang berada di pinggir.


Sore ini, Ning Yao Xi yang baru kembali dari misi, segera pergi menemui ayahnya untuk melapor. Sayangnya Kaisar Ning masih terlalu sibuk dengan urusannya dan belum kembali ke istananya.


Perasaan kecewa membuatnya berjalan tidak bersemangat menuju ke istananya. Saat dalam perjalanannya, seorang anak kecil sedang bermain kejar-kejaran bersama temannya. Tanpa sengaja gadis kecil itu menabrak tubuhnya. Wajahnya terlihat ketakutan dan terus mendongak ke atas menatap Ning Yao Xi.


"Ampun, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud untuk tidak sopan," ucap anak kecil itu sambil melepaskan tangan Ning Yao Xi yang memegangi bahunya.


Ning Yao Xi terbengong menatap wajah polos anak itu. Pikirannya terbawa pergi melintasi masa lalu. Dia teringat masa kecilnya saat bermain dengan Fang Yin dan kedua kakaknya.


Fang Yin yang sangat cantik dan berbakat menjadi populer di antero istana. Dalam usianya yang masih sangat muda, beberapa petinggi istana berniat untuk mengatur perjodohannya dengan pangeran atau raja-raja kecil yang ada di negaranya.


Tanpa ada yang tahu, Ning Yao Xi mengagumi Fang Yin seperti Ning Mu Shen. Pada waktu kecil pun mereka berebut untuk mendapatkan perhatian Fang Yin yang cantik jelita.


'Mengapa sekarang kita harus menjadi musuh, Yin'er? Istana ini menjadi saksi bahwa kita tumbuh bersama.' Wajah Ning Yao Xi tiba-tiba menjadi murung.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2