
Sebenarnya Fang Yin tidak bermaksud untuk membohongi keluarganya dia terpaksa melakukan semua ini untuk mengecoh penyusup yang saat ini tinggal di sekitarnya. Jian Heng akan mendukung apa yang dilakukannya. Tidak boleh ada yang tahu tentang kejadian sebenarnya sebelum mereka berhasil menemukan petunjuk.
Setelah tahu masalah yang sebenarnya Jian Heng bisa kembali bekerja dengan tenang. Fang Yin tidak lagi berpura-pura di hadapannya. Dia pun pergi dari kamar mereka untuk melanjutkan pekerjaannya.
Di luar kamar, Ling Shasha masih duduk menunggu perintah dari Fang Yin. Sebagai pelayan pribadi, dia tidak mungkin meninggalkan majikannya seorang diri. Tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya selain menjalankan perintah dari Fang Yin.
Jian Heng menatapnya heran ketika berjalan melewatinya. Keberadaan racun di dalam minumannya membuat Fang Yin lupa mengatakan jika dia telah mengangkat seorang pelayan pribadi.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jian Heng saat berada tepat di hadapan Ling Shasha.
Ling Shasha membungkuk memberi hormat dan terus menunduk. Dia tidak berani untuk menunjukkan wajahnya.
"Ampun, Yang Mulia. Yang Mulia Permaisuri meminta saya untuk menjadi pelayan pribadinya. Saya diminta untuk menunggu di luar selama beliau beristirahat," jelas Ling Shasha tanpa merubah posisinya.
Masalah ini tidak begitu penting untuk Jian Heng. Dia memilih untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke ruang kerjanya. Dia meninggalkan Ling Shasha tanpa berkata apa-apa lagi.
'Mungkin Yin'er lupa memberitahuku tentang pelayan itu padaku.' Jian Heng bergumam dalam hati sambil terus berlalu.
Setelah kepergiannya, dua orang pelayan datang menghampiri Ling Shasha dengan wajah yang sulit ditebak. Mereka berdiri tepat di hadapan Ling Shasha dan saling berpandangan satu sama lain. Masing-masing memberi kode sebuah anggukan yang mengandung maksud tertentu.
"Apa yang dikatakan Yang Mulia Kaisar padamu?" tanya salah seorang dari mereka.
Ling Shasha menggeleng lalu berkata, "Tidak ada."
Sebagai seorang abdi yang setia, dia tidak mungkin membocorkan hal sekecil apapun pada orang lain meskipun itu bukanlah suatu hal yang rahasia.
Pelayan yang lain menatap Ling Shasha sinis. Keduanya terbilang lebih senior di sana dan menganggap Ling Shasha sebagai pelayan baru yang sombong. Jawaban darinya membuat kedua pelayan itu tersinggung dan merasa direndahkan.
"Kamu tidak lupa jika masih baru bekerja di sini, bukan? Jangan mencoba untuk bermain-main denganku! Aku tidak peduli meskipun kamu adalah pelayan pribadi Yang Mulia Permaisuri. Di luar jam kerja, kamu tetaplah bawahan kami," ucapannya sambil menunjuk-nunjuk wajah Ling Shasha.
Meskipun suaranya begitu pelan tetapi terasa menusuk bagi siapapun yang mendengarnya. Mereka merasa berkuasa dan bertingkah seolah-olah statusnya lebih tinggi dari Ling Shasha.
Keringat dingin membasahi telapak tangan Ling Shasha. Demi menjaga kepercayaan majikannya, dia harus rela dipecundangi oleh dua pelayan seniornya itu. Setidaknya dia bisa tenang untuk saat ini di mana mereka tidak mungkin menyakitinya ketika berada di istana Fang Yin.
"Percuma kita berbicara dengan patung. Lebih baik kita pergi beristirahat sekarang." Pelayan lain ikut merasa jengah dengan sikap Ling Shasha.
"Kamu benar."
Setelah mengatakan itu, keduanya pergi dengan pongahnya.
Dari balik sebuah tanaman yang rimbun, seseorang sedang melihat ke arah mereka. Tempatnya begitu tersembunyi sehingga tidak ada yang bisa melihatnya. Dia menyunggingkan senyuman saat melihat dua pelayan itu berhasil menindas Ling Shasha.
__ADS_1
'Semoga saja nanti mereka tidak mengganguku lagi.' Ling Shasha berharap sesuatu yang mustahil.
Percakapan mereka juga tidak luput dari pendengaran Fang Yin. Dari atas tempat tidurnya, dia bisa mendengar dengan jelas setiap ucapan mereka. Suara sepelan apapun bisa dia dengar, terlebih lagi mereka berada dalam jarak yang begitu dekat.
'Aku tidak ingin Ling Shasha ditindas oleh siapapun. Sikapnya sudah benar, di mana dia tidak mengatakan sesuatu tentang percakapannya dengan Kak Heng. Sepertinya aku perlu memberikan apresiasi dengan sesuatu yang tidak kentara agar tidak menimbulkan rasa iri.' Fang Yin memikirkan sebuah ide.
Sebelum dirinya menemukan solusi untuk Ling Shasha, maka dia tidak akan memanggilnya masuk. Fang Yin berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil berpikir. Banyak hal yang dia pertimbangkan untuk kembali membuat keputusan.
Cukup lama dia menghabiskan waktu untuk berpikir. Merasa tidak kunjung menemukan solusi, dia terpaksa berjalan keluar ruangan untuk menemui Ling Shasha. Mungkin saja dia bisa menemukan ide dengan melihat suasana yang berbeda.
"Yang Mulia! Apakah Anda sudah baik-baik saja?" tanya Ling Shasha sambil berlari menghampiri Fang Yin yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Aku sudah mendingan. Hanya tinggal pusing sedikit saja." Fang Yin mencari tempat bersandar dan merebahkan punggungnya pada sebuah tiang.
Wajah Ling Shasha berbinar. Dia merasa senang saat melihat kondisi tubuh Fang Yin sudah membaik. Kulit wajahnya masih tampak putih pucat tetapi tidak terlihat seperti ketika dia meninggalkannya.
Di kejauhan dia melihat kepala pelayan sedang berjalan tergesa menuju ke arahnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, batinnya. Fang Yin merasa senang karena dia menemukan rencana untuk Ling Shasha saat melihat kedatangannya.
Ling Shasha menoleh ke arah pandang Fang Yin karena merasa penasaran mengapa majikannya itu menoleh cukup lama.
'Yang Mulia Permaisuri sepertinya memiliki tatapan yang berbeda pada kepala pelayan. Apakah dia sengaja memanggilnya untuk datang?' Ling Shasha merasa begitu penasaran.
"Selamat sore, Yang Mulia Permaisuri!" Kepala pelayan memberi hormat pada Fang Yin sambil bersalam.
Kepala pelayan mengeluarkan sebuah buku yang berisi laporan bulanan kebutuhan istana. Setiap satu bulan sekali dia membuat laporan dan menyerahkannya pada Fang Yin.
"Saya ingin menyampaikan ini kepada Yang Mulia."
Fang Yin menerima buku laporan yang disodorkan oleh kepala pelayan tanpa ada niat untuk memeriksanya saat ini. Dia memiliki tujuan yang berbeda di dalam kesempatan ini. Jika tidak segera berbicara, dia takut akan melupakannya karena tergeser oleh sebuah masalah baru.
"Ada sesuatu yang harus kamu kerjakan. Tolong siapkan kamar Ling Shasha yang tidak terlalu jauh dari kamarku. Aku ingin dia cepat-cepat datang ketika aku memanggilnya."
Kepala pelayan melirik ke arah Ling Shasha dengan tatapan tidak senang. Dia merasa jika nasib pelayan baru itu begitu mujur. Fang Yin selalu memperhatikannya dan memberikan perlakuan istimewa padanya.
"Untuk sementara hanya kamar yang berada di sebelah kamar saya yang kosong, Yang Mulia," jawab kepala pelayan dengan nada yang terdengar tidak ikhlas.
Selama ini dia sengaja mengosongkan ruangan di sebelahnya karena ingin merasa leluasa. Dua kamar yang terpisah dari kamar-kamar yang lain membuatnya bebas melakukan apa saja tanpa merasa terganggu dengan kehadiran orang lain. Namun, sepertinya dia harus merelakan kamar itu ditempati Ling Shasha mulai hari ini.
"Hmm. Berikan kamar itu untuknya!" perintah Fang Yin. Dia lalu menoleh pada Ling Shasha dan kembali bicara, "Tidak ada lagi yang perlu kamu lakukan untukku. Lebih baik kamu beresi barangmu sekarang dan pindahkan ke kamar barumu."
"Baik, Yang Mulia." Ling Shasha terlihat bingung.
__ADS_1
Di satu sisi dia senang mendapatkan kamar baru yang membuatnya tidak diganggu oleh pelayan senior tapi di sisi lain dia merasa segan karena harus tinggal didekat kepala pelayan.
"Ikut aku!" seru kepala pelayan kepada Ling Shasha setelah berpamitan pada Fang Yin.
Fang Yin sendiri telah kembali ke kamarnya sebelum kedua pelayan itu pergi dari sana. Dia tidak ingin terlalu lama berada di luar kamar untuk mengurangi kecurigaan penyusup. Bisa saja dirinya lupa jika saat ini dia sedang berpura-pura tidak enak badan.
Sikap kepala pelayan terlihat dingin pada Ling Shasha. Mereka tidak banyak berbicara meskipun berada di dalam satu lokasi yang sama. Begitu jelas terlihat ketidaksenangan di wajahnya.
'Aku tahu jika kepala pelayan tidak menyukaiku. Akan tetapi, aku butuh tempat ini untuk tinggal. Semoga saja sikap kepala pelayan bisa berubah,' gumam Ling Shasha dalam hati.
Sebelum hari terlalu sore, Ling Shasha harus cepat-cepat selesai berkemas dan membersihkan dirinya. Pada sore hari, banyak kesibukan yang harus dilakukannya. Sebagai seorang pelayan pribadi, dia harus memberikan seluruh waktunya untuk melayani majikannya.
"Yang Mulia! Bolehkah aku membantumu untuk melakukan sesuatu?" tanya Ling Shasha sambil mengetuk pintu ruangan Fang Yin.
"Masuklah!"
Tanpa menunggu lama, Fang Yin langsung menjawabnya karena saat ini dia tengah menikmati buah-buahan segar di depan meja.
Ling Shasha berjalan mendekat, memberi hormat lalu berdiri di samping Fang Yin agak jauh untuk menunggu perintah darinya. Dia tidak bisa sembarangan mengerjakan sesuatu meskipun tangannya sudah gatal saat melihat meja dan tempat tidur yang berantakan.
"Ambilkan aku peralatan mandi. Kita pergi ke pemandian setelah kamu selesai menyiapkannya!" perintah Fang Yin sambil terus mengunyah makanannya.
"Baik, Yang Mulia."
Ling Shasha segera melakukan perintah Fang Yin.
Pengalaman sebelumnya dimana dia mandi terlalu malam menimbulkan kehebohan. Tidak ingin itu kembali terjadi, Fang Yin memilih mandi saat hari masih terang. Matahari yang masih bersinar akan meredam cahaya dari simbol naga yang mengeluarkan cahaya ketika tersentuh oleh air.
"Semuanya sudah siap, Yang Mulia," ucap Ling Shasha sambi menatap tidak percaya ke sekelilingnya.
Keadaan meja dan tempat tidur Fang Yin sudah terlihat rapi padahal dia tidak melihat atau merasakan pergerakan darinya. Perasaan aneh menyelimuti dirinya. Rumor tentang kekuatan Fang Yin memang telah menyebar luas tetapi dia masih keheranan ketika melihatnya secara langsung.
Fang Yin beranjak dari duduknya dan berjalan mendahului Ling Shasha tanpa mengatakan apapun. Mereka pergi menuju ke tempat pemandian.
Di luar istana kekaisaran terdengar sebuah kehebohan. Mereka kembali melihat cahaya aneh di langit ketika Fang Yin sedang mandi. Namun, kali ini mereka tidak bisa melihat asal dari cahaya itu karena terhalang oleh cahaya matahari yang masih bersinar terang dan menyamarkan cahaya di atas pemandian.
Tubuh Ling Shasha gemetar saat merasakan tekanan energi yang sangat besar ketika dia menunggu Fang Yin di depan pintu. Semakin lama napasnya terasa semakin sesak. Dia mundur selangkah demi selangkah dengan langkah yang berat.
"Ahh!" Ling Shasha jatuh terjerembab di halaman pemandian.
***
__ADS_1
Bersambung ...