Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 192


__ADS_3

Fang Yin memutar tubuhnya lalu berdiri dengan bersandar di pohon tempatnya berdiri sekarang. Rasa nyeri yang dia rasakan semakin terasa panas membakar ulu hati.


Keringat dingin membasahi tubuhnya yang tidak kuasa menahan nyeri. Fang Yin mengalirkan Qi pengobatan ke bagian yang terasa sakit tetapi itu tidak banyak membantu.


"Kristal inti roh binatang rusa emas. Akankah ini ada hubungannya dengan ginseng rusa emas yang aku dapatkan dari desa tiga klan itu?"


Fang Yin membuka telapak tangannya lalu keluarlah ginseng rusa emas yang dia simpan. Entah berguna atau tidak, Fang Yin tidak tahu. Dia mencoba untuk memakan sebuah ginseng kering itu dengan lahap.


Rasanya sangat hambar dan muncul sensasi dingin ketika berada di dalam mulutnya. Fang Yin tidak menelannya bersama dengan ampasnya melainkan intisarinya saja.


Tubuhnya sedikit merasakan perubahan setelah dia memakan ginseng itu. Lambungnya terasa dingin dan rasa sakitnya menghilang dalam sekejap.


"Syukurlah! Naga gila itu hampir saja membuatku mati." Fang Yin mengatur napasnya sebelum kembali untuk melanjutkan langkahnya.


Melihat matahari bergerak turun dengan cepat, Fang Yin segera melangkah menuju ke desa yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Kemajuan di Kekaisaran Benua Utara membuat Fang Yin merasa kagum. Desa itu tertata rapi dan terlihat ramai dengan bangunan rumah yang bisa dibilang sangat elegan seperti villa diperkotaan.


Seperti biasanya, orang-orang akan menatap Fang Yin dengan tatapan aneh ketika pertama kali melihatnya. Wajahnya yang tertutup cadar dengan pakaian berwarna gelap mengundang perhatian mereka. Beruntung Fang Yin mampu menyembunyikan aura energinya sehingga dia tidak terlacak sebagai seorang kultivator.


"Selamat sore, Nyonya! Bisakah saya mengganggu waktu Anda sebentar?" tanya Fang Yin dengan sopan pada seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri menunggu seseorang.


Wanita itu tersenyum ramah pada Fang Yin lalu mengangguk, "Katakan saja, Nona!"


"Begini, saya sedang dalam perjalanan untuk mencari kerabat saya yang tinggal di ibukota. Apakah saya bisa menemukan tempat untuk menginap di desa ini?"


Wanita itu melihat penampilan Fang Yin dari atas hingga ke ujung kaki. Dari logat bicara dan penampilannya dia memang bukan orang dari daerah itu. Melihat Fang Yin tidak membawa sesuatu dia berpikir jika Fang Yin hanyalah orang miskin yang sedang mencari tempat singgah gratisan.


"Kamu bisa menginap di rumah penduduk desa, tetapi itu tidak cuma-cuma," ucap wanita itu dengan nada bicara yang sedikit berbeda. "Apakah kamu memiliki uang?"

__ADS_1


Fang Yin terkejut dengan pertanyaan wanita itu tetapi dia tidak heran. Mereka tidak saling mengenal sebelumnya jadi sah-sah saja jika wanita itu memasang harga demi menjamin keamanannya.


Tidak ada rasa curiga sedikitpun di hati Fang Yin jika wanita itu berniat tidak baik dan ingin memerasnya.


"Berapa yang harus saya bayar untuk menginap selama semalam?" tanya Fang Yin dengan wajah polosnya.


Melihat wajah bodoh Fang Yin, wanita itu semakin senang. Dia menarik tangan Fang Yin dan membawanya masuk ke halaman rumahnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri takut ada yang melihatnya.


"Kamu bisa tinggal di rumahku malam ini. Aku akan melayanimu dengan baik, tetapi kamu harus memberiku 3 keping koin emas." Wanita itu berbicara dengan suara pelan.


Fang Yin membuka telapak tangannya lalu keluarlah tiga keping koin emas di sana. Wanita itu segera mengambilnya dan memastikan jika uang itu asli.


Matanya berbinar senang ketika mendapati uang itu asli. Buru-buru wanita itu menyimpannya dan membawa Fang Yin masuk ke dalam rumahnya. Rumah itu terlihat sepi. Fang Yin tidak melihat anggota keluarga lain di sana.


"Ini adalah kamarmu. Sebentar aku akan menyiapkan air mandi untukmu." Wanita itu pergi meninggalkan Fang Yin. Dia terlihat sangat gembira.


'Tidak heran wanita itu memintaku membayar mahal untuk menginap di sini. Rupanya kamarnya sangat bagus dan nyaman.' Fang Yin duduk di tepi ranjang dan mengusap kasur yang dia duduki.


Menurut Fang Yin itu sudah harga yang sepadan dengan yang dia dapatkan. Namun bagi masyarakat di desa itu, satu keping emas saja sudah cukup mahal untuk biaya tinggal satu malam.


Di luar kamar Fang Yin menginap terdengar suara orang sedang bercakap-cakap dengan suara pelan. Sepertinya anggota keluarga yang punya rumah telah kembali.


Fang Yin tidak ingin mendengar apa yang mereka bicarakan dan bersikap acuh dengan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Tidak lama kemudian wanita pemilik rumah datang menghampirinya dan memberitahukan jika air mandi sudah siap. Dia meminta Fang Yin untuk mengikutinya.


Mereka berjalan melewati seorang pria berwajah sangar yang sedang makan di ruangan depan. Pria itu menatap Fang Yin dengan tatapan tidak suka.


Wanita itu menarik tangan Fang Yin seolah memintanya untuk mengabaikan akan keberadaan pria itu.

__ADS_1


Saat Fang Yin mandi, wanita itu telah menyiapkan makan malam untuk Fang Yin dikamarnya.


'Pelayanan yang diberikan oleh wanita itu memang sangat baik. Tetapi kenapa aku merasa penasaran dengan pria yang berada di depan tadi, ya. Tidak apa-apa kan kalau aku sedikit ingin tahu.' Fang Yin menyelesaikan makannya dengan cepat dan membereskannya sebagai kamuflase untuk bisa mencari tahu tentang pria itu.


Fang Yin pergi mencari di mana wanita itu tetapi tidak juga menemukannya. Dia melihat sebuah meja kosong di tepi sebuah ruangan dan berniat untuk meletakkan alat makannya di sana.


Tanpa sengaja Fang Yin melihat hal tidak senonoh dari sebuah ruangan yang sedikit terbuka. Fang Yin buru-buru memalingkan wajahnya lalu pergi dari tempat itu sebelum pemilik rumah menyadari kehadirannya.


Fang Yin merasakan aura aneh di dalam ruangan tempat kedua orang itu berduel. Ada aura energi gelap yang menyelimuti ruangan tersebut.


'Aku semakin merasa penasaran tetapi aku tidak bisa bertindak lebih jauh lagi. Jika sampai ketahuan, aku pasti akan dicap sebagai pengintip. Memalukan!' Fang Yin menepuk jidatnya lalu kembali berjalan menuju ke kamarnya.


Tidak lama berselang, terdengar suara pintu kamarnya di ketuk. Fang Yin baru saja berjalan dua langkah meninggalkan pintu. Dia merasa aneh karena ada yang tiba-tiba datang ke kamarnya.


Dia berpikir jika tidak mungkin itu adalah pemilik rumah. Butuh waktu yang tidak sebentar untuknya berbenah dan menyusul Fang Yin.


Namun semua pemikiran Fang Yin telah dipatahkan oleh kenyataan. Wanita pemilik rumah itu benar-benar telah berdiri dihadapannya dengan keadaan yang sangat rapi.


"Selamat malam, Nona! Apakah Anda tadi mencariku?" tanya wanita itu. "Mohon maaf saya tadi sedang berada di luar."


Mulut Fang Yin ternganga. Rasanya sulit percaya dengan perkataan wanita paruh baya dihadapannya itu.


****


Bersambung ....


Mohon dukungannya untuk karyaku yang baru saja netes ya kak... terimakasih... 😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2