
Fang Yin tidak segera menerima bulu yang diberikan oleh Han Han. Dia melihat hal yang tidak benar dan merasa bersalah. Saat melihat tubuh Han Han hampir limbung, dia segera menangkapnya lalu membawanya ke tempat tidurnya,
Darah pada bekas bulu yang dicabut masih menetes. Dengan sabar Fang Yin melakukan tindakan pengobatan untuknya. Namun, sebelum itu dia memberikan pil pemulih energi pada Han Han terlebih dahulu.
"Pil apakah yang aku minum ini? Tubuhku rasanya sangat berenergi. Anda memang luar biasa, Nona," puji Han Han.
"Terimakasih atas pujiannya, tetapi aku masih jauh dari kata itu. Aku masih membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan banyak hal." Fang Yin tersenyum pada Han Han dan Ying Ruo secara bergantian.
Penanganan yang dilakukannya telah selesai dan luka ditubuh Han Han telah diobati dan dibalut. Bulu Api dan Es masih berada di dalam genggaman Han Han karena Fang Yin belum menerimanya.
Ying Ruo yang sejak tadi terdiam kini berjalan menghampiri Fang Yin dan berdiri di hadapannya. Dia tahu jika Fang Yin pasti merasa tidak enak karena menyebabkan kekacauan ini. Kondisi Han Han yang masih lemah harus bertambah ketika ingin membalas budi padanya.
"Kamu boleh mengambil bulu itu, Nona. Kami tidak memberikannya dengan terpaksa. Semua ini bukan salahmu, Han Han melakukannya dengan suka rela."
Fang Yin mendongak menatap Ying Ruo yang memiliki tubuh yang lebih tinggi. Mata tegas pemimpin ras phoenix itu melembut. Suaranya pun tidak menyiratkan kemarahan sedikitpun.
"Terimakasih, Ying Ruo. Tapi sungguh apa yang dilakukan oleh Han Han membuatku terkejut. Dalam kondisi seperti ini, bisa saja dia mengalami hal yang fatal. Setelah ini, aku juga masih harus melakukan observasi selama beberapa waktu padanya." Fang Yin menjelaskan keadaan Han Han.
Ying Ruo menyatukan kedua tangannya lalu membungkuk dihadapan Fang Yin lalu berkata, "Jika tidak keberatan, tolong selamatkan adikku. Kami bersedia melakukan dan memberikan apapun jika Anda mau tinggal dan merawatnya, Nona."
Han Han adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Ying Ruo. Populasi ras phoenix di tempat itu kurang dari seratus orang. Anak-anak Han Han masih kecil-kecil, mereka belum bisa melindungi dirinya dan sangat nakal. Ying Ruo tidak ingin melihat mereka hidup tanpa ayah.
Sejenak Fang Yin berpikir. Bulu Phoenix Api dan Es sangat berharga, mungkin dengan merawat Han Han semuanya akan menjadi impas dan tidak saling berhutang satu sama lain. Dia pun menyetujui permintaan Ying Ruo untuk tinggal
Han Han kembali mengulurkan tangannya dan memberikan bulu miliknya. Kali ini tidak ada penolakan lagi dari Fang Yin karena dia memang benar-benar membutuhkannya.
"Aku akan mengantarmu ke tempat istirahatmu, Nona." Ying Ruo membawa Fang Yin pergi dari kamar Han Han menuju ke sebuah kamar yang berada tidak jauh dari sana. Dia juga menunjukkan di mana kamarnya jika sewaktu-waktu membutuhkan bantuannya.
Fang Yin memasuki kamar yang disediakan untuknya dengan decak kekaguman. Pengaturan ruangan dan segala perabot yang ditempatkan di sana ditata dengan apik. Tempat tidurnya sangat lembut dan hangat.
"Aku bisa lebih berkonsentrasi dengan fasilitas seperti ini. Aku bisa lebih bersemangat mempelajari Kitab Sembilan Naga bintang tujuh di atas sebuah kasur empuk."
Telapak tangan Fang Yin mengeluarkan bulu phoenix dan Kitab Sembilan Naga di kedua sisinya. Hari ini juga dia ingin membuka misteri yang tersimpan di dalam kitab ini.
Kedua bulu phoenix itu diletakkan di atas kitab, berharap kitab itu akan segera terbaca. Namun, hingga beberapa saat lamanya kitab itu tidak juga terbuka.
Fang Yin membaca ulang petunjuk yang ada di dalam kitab itu. Setelah susah payah mendapatkan bulu phoenix, apa yang diharapkannya tidak juga terjadi. Di dalam kitab itu ada sebuah simbol bergambar cermin. Dia tidak tahu di mana dia akan mendapatkan cermin itu.
"Apakah cermin dari Selir Tang akan berguna untuk membuka kitab ini?" Fang Yin berpikir sebelum melakukan hal selanjutnya.
Merasa tidak menemukan ide lain, Fang Yin pun segera mengeluarkan kotak kecil berisi cermin yang dihadiahkan oleh Selir Tang. Dia mengambil cermin itu, mengamatinya sebentar lalu meletakkannya di atas Kitab Sembilan Naga bintang tujuh.
"Mengapa masih tidak bekerja? Aduh, bagaimana ini? Bodoh sekali aku." Ocehan Fang Yin membuat Yang Hui menertawakannya.
Fang Yin mendengus kesal dan merasa frustasi. Tawa Yang Hui membuatnya semakin kesal dan membuatnya hampir kehilangan kontrol pada energinya.
"Tidak diragukan lagi kamu memang bodoh, Nona Cantik. Kamu melupakan sesuatu untuk dilakukan. Kamu terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting sehingga fokusmu terpecah," terang Yang Hui tanpa bermaksud untuk mengejeknya.
"Haihh! Kamu tidak tahu bagaimana rasanya harus bertarung dengan emosi untuk mendapatkan dua helai bulu ini. Kamu pikir itu mudah." Fang Yin mendengus kasar.
"Aku sudah melihat semuanya tanpa kamu menceritakannya. Sekarang saatnya kamu memikirkan cara membuka kitab itu. Anggap saja aku sedang berbaik hati, jadi aku akan membantumu kali ini." Kesombongan memang tidak bisa terlepas dalam diri Yang Hui. Terima atau tidak itu memang sifat yang mendarah daging padanya. Beruntung sifat kejamnya telah terkikis secara perlahan.
__ADS_1
"Itu memang sudah tugasmu. Kamu akan terlihat tidak berguna jika tidak melakukan apa-apa," sindir Fang Yin. Secara tidak langsung dia mengatakan jika Yang Hui hanya menumpang saja ditubuhnya.
Mata Fang Yin terpejam dan merasakan Yang Hui keluar dari tubuhnya. Dia melepaskan mantra pengikatnya agar Yang Hui bisa bergerak-gerak sesuai dengan keinginannya. Dalam wujud seekor naga emas dia berdiri di hadapannya.
Yang Hui meminta Fang Yin untuk mengulurkan tangannya lalu menerimanya. Sesaat kemudian dia mengayunkan tangan pendeknya dan menggores tangan Fang Yin dengan kuku panjangnya.
"Aaahhh! Yang Hui, apa yang kamu lakukan." pekik Fang Yin meringis menahan perih. Darahnya menetes membasahi bulu phoenix yang ada di atas cermin pemberian Selir Tang.
"Diamlah! Bukankah kamu sudah terbiasa terluka? Tidak usah manja!" seru Yang Hui.
Fang Yin melirik kesal pada Yang Hui. Semakin diladeni dia akan semakin banyak bicara. Lebih baik dia memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Yang Hui selanjutnya.
Sebuah bola energi keluar dari mulut Yang Hui dan mendarat di atas bulu phoenix yang telah berlumuran darah Fang Yin. Energi itu adalah energi murni yang diambil dari cermin Selir Tang.
Elemen energi cermin, darah, dan energi api dan es dari bulu phoenix itu membentuk sebuah simbol bercahaya yang perlahan turun ke dalam Kitab Sembilan Naga. Simbol cahaya itu perlahan memudar lalu menghilang.
Fang Yin mengambil kitab itu dan melihat apa isinya. Lembaran Kitab Sembilan Naga yang semula kosong kini sudah penuh dengan tulisan. Tinta berwarna emas berkilauan di lembaran putih.
"Wohoo! Luar biasa! Aku harus segera mempelajarinya setelah keluar dari sini," ucap Fang Yin sebelum menyimpan kitab itu lagi.
"Sayangnya kamu tidak bisa bersantai. Tulisan itu hanya bisa bertahan satu purnama dihitung dari hari ini. Setelah itu semakin hari tulisannya akan memudar dan hilang. Kamu akan membutuhkan bulu phoenix yang baru untuk membukanya lagi," jelas Yang Hui.
"Apa?!" Fang Yin membulatkan matanya.
"Mengapa kamu tidak bilang? Tau gini aku akan membukanya setelah pulang dari sini," sungut Fang Yin.
Yang Hui terlihat santai tanpa rasa bersalah.
"Mana aku tahu kalau kamu tidak akan mempelajarinya sekarang. Masih mending aku mau membantumu." Yang Hui tidak ingin disalahkan.
"Kamu pikir mudah mendapatkan bulu phoenix, selalu saja membuatku kesal. Mendingan kamu tidur lagi saja. Otakku tidak bekerja juga terus melihatmu di hadapanku."
Yang Hui tidak ingin membuat masalah lagi. Dia pun kembali masuk ke dalam simbol Dewi Naga.
'Apa hubungan Selir Tang dengan ras phoenix api dan es? Mengapa dia bisa tahu jika aku akan membutuhkan ini?' Fang Yin mengingat cermin pemberian Selir Tang Yang saat ini telah menyatu bersama Kitab Sembilan Naga bintang tujuh.
Malam ini juga, Fang Yin akan memulai menyerap isi Kitab Sembilan Naga bintang tujuh ke dalam inti pikirannya sebelum tulisannya memudar. Dia tidak tahu berapa waktu yang dia butuhkan untuk mempelajarinya. Satu purnama adalah waktu yang singkat dan tidak mudah untuk mendapatkan bulu phoenix itu lagi.
Kekuatan Fang Yin banyak berkurang setelah mengobati Han Han. Mungkin setelah ini dia juga masih harus menggunakan energinya lagi. Untuk itu dia memutuskan berkultivasi dan melupakan waktu istirahatnya.
Esensi energi di dalam dimensi ras phoenix cukup besar. Fang Yin merasakan energi itu menyelimutinya dan masuk ke dalam tubuhnya.
'Rasanya tempat ini cukup bagus untuk berkultivasi. Gelombang energi yang besar terasa begitu lembut mengalir di dalam meridianku. Sepertinya bukan hal yang buruk mempelajari Kitab Sembilan Naga di sini.' Fang Yin memejamkan mata sembari merasakan masuknya energi yang dia serap.
Cukup lama dia berkultivasi dan menyerap energi secara maksimal. Suasana di dalam kamarnya mulai berubah. Entahlah seperti apa cara kerjanya, batu-batu yang melayang di udara menyala dengan sangat terang ketika hari sudah malam.
Fang Yin keluar dari dalam kamarnya. Di luar kamarnya dia sudah ditunggu oleh dua orang pelayan berwajah dingin. Mereka tidak terbiasa tersenyum, atau mungkin memang wajahnya seperti itu.
Kedua pelayan itu memberi hormat lalu menyampaikan apa tujuannya. Ying Ruo memerintahkan mereka untuk membawa Fang Yin ke ruang perjamuan.
Selama dalam perjalanan, Fang Yin terpesona dengan keindahan istana ras phoenix di waktu malam. Pemandangan yang membuatnya ternganga dengan bibir yang bergerak merancau kagum. Suasana di istana ras phoenix sangat berbeda dengan suasana di istana manusia.
__ADS_1
Di ruang perjamuan, seluruh penghuni istana bergabung di sana termasuk kedua pelayan tadi. Makanan mereka terlihat aneh dan membuat Fang Yin berdiri mematung membayangkan dirinya harus memakan itu semua.
"Selamat malam, Nona!" sapa Ying Ruo yang muncul dari arah samping. Fang Yin tidak menyadari kedatangannya karena dia terlalu fokus melihat hidangan di hadapannya.
"Selamat malam, Ying Ruo." Fang Yin membalas hormat Ying Ruo.
"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Para pelayanku sudah menghidangkan makanan manusia untukmu. Mari ikut denganku." Ying Ruo meminta Fang Yin untuk mengikutinya ke tempat yang sedikit menepi.
Antara ras manusia dan ras phoenix memiliki selera dan jenis makanan yang berbeda. Keduanya tidak bisa bertukar makanan satu sama lain. Mereka akan sama-sama merasa aneh dengan makanan yang mereka makan. Mengingat akan hal itu, Ying Ruo memberikan tempat yang berbeda dan sedikit menjauh satu sama lain.
Beberapa jenis hidangan tertata rapi di atas meja. Aroma ayam bakar dan masakan sederhana lain terlihat menggiurkan. Ada juga beberapa jenis buah-buahan ditata di atas piring besar yang terbuat dari perak.
Fang Yin mengambil makanan yang dia inginkan. Dia tidak terlalu lapar jadi hanya mengambil sedikit saja. Tanpa ragu dia pun memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
Rasa dari makanan itu tidak senikmat kelihatannya. Semuanya begitu hambar dan nyaris tidak berbumbu. Mungkin di sini memang tidak ada garam dan lainnya.
'Astaga. Aku merasa seperti memakan makanan diet garam.' Fang Yin mencoba menikmati makanan itu. Lama kelamaan mulutnya pun terbiasa mencecap makanannya dan menghabiskan yang tersaji di piringnya.
Tempat makannya dan tempat makanan ras phoenix saling memunggungi agar tidak saling melihat. Mereka akan sama-sama jijik dan mual melihat makanan mereka. Hanya buah-buahan saja yang disukai oleh keduanya.
Fang Yin menyelesaikan makannya lebih cepat lalu menghampiri Ying Ruo yang juga telah selesai makan. Mereka berjalan keluar meninggalkan ruang perjamuan.
"Terimakasih atas jamuannya," ucap Fang Yin sambil berjalan.
"Semoga Anda menikmatinya, Nona. Bangsa kami tidak pandai memasak makanan manusia," jujur Ying Ruo.
Fang Yin tersenyum dan mengangguk. Terlintas dalam bayangannya jika setiap hari dia harus menikmati makanan yang hambar. Rasanya dia akan kehilangan indera perasanya setelah keluar dari sana.
"Ying Ruo, sebaiknya kalian tidak perlu repot-repot lagi memasak untukku. Berikan saja aku buah-buahan saja, itu sudah lebih dari cukup untukku." Takut lidahnya mati rasa, Fang Yin memilih untuk memakan buah-buahan saja selama di sana.
"Maafkan aku, Nona. Kami tidak menjamu Anda dengan baik." Ying Ruo tahu jika Fang Yin tidak menyukai hidangannya. Dia terlihat tidak enak.
Fang Yin menghentikan langkahnya lalu memegang kedua lengan Ying Ruo.
"Aku sudah terbiasa hidup di alam bebas dengan makanan seadanya. Kamu tidak perlu sungkan. Buah-buahan sangat nikmat dan banyak sekali kegunaannya bagi tubuh. Jadi jangan tersinggung, aku juga tidak ingin merepotkanmu."
Ying Ruo menatap Fang Yin tidak percaya. Jelas-jelas dia merasakan aura kebangsaan dari dalam tubuh Fang Yin. Dia tidak mungkin salah dan sangat yakin jika Fang Yin memiliki darah kaisar.
"Dalam jarak sedekat ini aku bisa merasakan aura Anda, Nona. Anda adalah seorang putri. Rasanya sulit untuk percaya jika Anda tidak terbiasa dilayani."
Fang Yin melepaskan tangannya dari lengan Ying Ruo lalu kembali berjalan sambil berkata, "Apa yang kamu katakan bisa berarti benar, tetapi aku hanyalah seorang putri tanpa mahkota. Memiliki darah kaisar tetapi tidak memiliki tahta. Itulah tujuan yang akan aku gapai dengan berbekal Kitab Sembilan Naga yang sedang aku pelajari."
"Jika boleh tahu, dari mana Anda berasal. Maaf atas kelancanganku, Yang Mulia, Anda tidak wajib untuk menjawabnya jika tidak berkenan." Ying Ruo tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Fang Yin menghela napas dalam lalu menghembuskannya dengan lembut.
"Apakah kamu bisa menjaga rahasia?" Fang Yin menatap Ying Ruo tajam.
****
Bersambung ....
__ADS_1
Kak numpang promo novel karya temanku, ya, terimakasih.