Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 305. Acong


__ADS_3

Jian Heng mempersilakan Qin Yushang untuk masuk ke kamarnya. Kini mereka berempat duduk saling berhadapan.


"Sepertinya Anda membawa kabar yang sangat penting?" Jian Heng menatap wajah Qin Yushang dengan serius.


Qin Yushang mengangguk.


"Banyak penduduk yang meminta untuk membuka segel perlindungan sesegera mungkin. Mereka ingin melihat dunia luar dan membaur bersama manusia lain yang tinggal di wilayah sekitar," jelas Qin Yushang.


Jian Heng menatap Fang Yin dan Guan Xing secara bergantian. Masalah ini tidak bisa diputuskan sembarangan. Perlu dipikirkan segala akibat yang mungkin bisa terjadi dari keputusan yang diambil.


"Kehidupan di luar tempat ini bukanlah surga. Banyak kejahatan dan bahaya yang mengintai setiap saat. Aku sudah pergi melintasi banyak negeri, penindasan dan kesewenang-wenangan masih saja terjadi di setiap tempat yang aku singgahi." Fang Yin berbicara dengan serius sambil menatap Qin Yushang.


"Aku akan melatih mereka dengan teknik yang cepat. Mereka tidak butuh waktu yang lama untuk menguasai bekal beladiri dan pemahaman tentang bagaimana bersosialisasi dengan dunia luar." Jian Heng menambahkan.


Qin Yushang mengangguk. Semua yang mereka katakan cukup beralasan. Selama ini penduduk bukit Giok Hitam seperti burung dalam sangkar. Sejak mereka dilahirkan, mereka tidak pernah mengenal adat dan budaya di luar peradaban mereka. Hidup mereka terkotak dalam sebuah tradisi turun temurun yang berkesinambungan.


"Aku sudah hidup di luar dan mengembara sejak berusia empat belas tahun. Banyak hal yang aku lewati dalam kehidupanku. Sering kali aku menerima ketidak adilan, bahkan pernah suatu ketika aku menolong seseorang dan dia membalasku dengan kejahatan. Namun, tidak semuanya begitu, ada sebagian juga yang memiliki hati nurani dan kebaikan. Selama berada di tengah-tengah lingkungan baru, kita harus pandai-pandai membawa diri." Fang Yin kembali berbicara.


Guan Xing tidak tahu seperti apa kisah yang dilalui Fang Yin hingga dirinya menjadi seperti ini sekarang. Jian Heng tahu akan perjuangan Fang Yin, tetapi dia baru tahu jati dirinya yang sebenarnya belum lama ini. Sebagai seorang putri yang terbuang, dia telah melewati rasa sakit dan beban mental yang membuat batinnya menderita. Hidupnya dipenuhi dengan amarah dan dendam atas fitnah kejam dan penghinaan yang diterimanya bersama sang ibu.


"Aku akan mengumpulkan seluruh penduduk bukit Giok Hitam untuk membicarakannya. Aku ingin kalian menyampaikan semua rencana yang telah kita sepakati sebelumnya." Qin Yushang ingin secepatnya mengambil langkah sebelum kesalahpahaman di tengah masyarakat yang dipimpinnya semakin meluas.


"Itu lebih baik. Mari kita berangkat," ucap Jian Heng.


Mereka berempat keluar dari kamar Jian Heng dan berdiri di depan villa Qin Yushang. Beberapa orang kepercayaan Qin Yushang pergi untuk memanggil para penduduk untuk berkumpul di tempat itu. Wilayah bukit Giok Hitam yang cukup luas membuat mereka harus rela menunggu sejenak.


Satu persatu penduduk bukit Giok Hitam mulai berdatangan. Mereka terlihat sangat antusias saat mendapatkan panggilan untuk datang terutama para gadis yang menaruh hati pada Jian Heng. Wajahnya yang tampan dan pembawaannya yang halus membuat mereka terpesona oleh kharismanya.


"Kak Heng," bisik Fang Yin di telinga Jian Heng.


"Iya, ada apa, Yin'er?" tanya Jian Heng pelan.


"Sepertinya kamu menjadi idola gadis-gadis di sini," ucap Fang Yin dengan nada kesalnya.


Jian Heng tersenyum. Dia tahu jika kekasihnya itu sedang cemburu. Setelah ini dia akan berhati-hati jika didekati oleh para gadis. Seorang wanita sangat sensitif dan sering hilang akal jika sedang cemburu.


"Kamu jangan berpikir macam-macam. Aku tidak tertarik untuk memiliki selir. Hanya kamu wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku," bisik Jian Heng mencoba menenangkan Fang Yin.


Fang Yin tersenyum bahagia. Hatinya menjadi tenang. Setelah itu, dia tidak berbicara apapun lagi dan bersiap untuk memberikan pengumuman kepada penduduk bukit Giok Hitam.


Berbeda dengan Jian Heng yang memiliki banyak penggemar karena ketampanan dan kehebatannya, Fang Yin justru sebaliknya. Para pria yang mengagumi kehebatannya tidak berani untuk mendekati atau menyinggungnya. Melihat kemampuannya, kekaguman itu berubah menjadi rasa segan dan ketakutan. Mereka hanya berani melihat kecantikan dan kehebatannya dari kejauhan tanpa berani untuk mengusiknya.


Seluruh penduduk bukit Giok Hitam telah berkumpul seluruhnya. Qin Yushang memulai pidato sambutannya. Dia mengatakan semua yang telah dibicarakan bersama Jian Heng, Guan Xing dan Fang Yin.


Jian Heng dan Guan Xing selaku pelaksananya mengatakan sambutannya dan detail rencana yang akan dilaksanakan setelah ini. Para gadis terlihat sangat antusias saat mendengar berita ini. Mereka akan memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengan Jian Heng setiap harinya.


Fang Yin menatap jengah ke arah para gadis itu. Namun, dia mencoba untuk tenang setiap kali mengingat kata-kata Jian Heng. Kebersamaan mereka selama ini cukup membuktikan jika pria yang pernah menjadi gurunya itu adalah orang yang bisa dipercaya.


Pelatihan itu akan dimulai besok pagi. Qin Yushang menentukan tempatnya yaitu di aula. Belum tahu berapa banyak orang yang akan datang ke acara tersebut, hanya aula lah yang bisa menampung banyak orang.


Setelah penduduk bukit Giok Hitam membubarkan diri, Qin Yushang dan yang lainnya meninggalkan halaman depan. Mereka berempat masuk ke dalam rumah Qin Yushang. Para tetua lain juga bersedia untuk membantu jika diperlukan. Semua orang menyambut baik tentang pelatihan dan pembekalan yang akan diberikan pada mereka.


Di dalam rumah, Qin Yu Zhu dan ibunya telah menunggu mereka untuk makan. Para pelayan di rumah itu telah menyiapkan makanan untuk mereka. Sejak siang hari mereka belum makan dan memilih untuk beristirahat setelah tidak tidur selama semalaman.


Ketika mereka sedang makan, Xin Nian datang ke sana. Dia membawa sebuah kotak yang berisi lauk pauk yang dia masak. Wajahnya terlihat kecewa saat melihat mangkuk mereka telah penuh dengan makanan.


"Xin Nian, kelihatannya masakanmu sangat lezat, bolehkah aku mencobanya?" Nyonya Qin memanggil Xin Nian untuk mendekat.


Hati lembut seorang ibu membuatnya sangat peka. Dari perubahan ekspresi wajah Xin Nian dia tahu jika gadis itu merasa kecewa. Makanannya tidak tersentuh karena dia terlambat datang membawanya.


Xin Nian mengangguk dan tersenyum. Beberapa kali dia melirik ke arah Jian Heng berharap pria itu juga akan mengambil masakannya.


Fang Yin tidak suka makan terlalu banyak, begitu juga dengan Jian Heng dan Guan Xing. Mereka bertiga selesai lebih awal dan menolak ketika Qin Yushang dan istrinya hendak menambahkan makanan ke dalam mangkuknya.


"Pemimpin Qin, setelah ini aku akan pergi keluar untuk berlatih. Sebelum hari gelap aku harus sudah menemukan tempat yang nyaman." Fang Yin meminta ijin pada Qin Yushang selaku pemilik rumah.


Qin Yu Zhu tersenyum sambil melirik ke arah Xin Nian. Mereka berpikir setelah ini akan memiliki kesempatan untuk mendekati Jian Heng. Angan mereka terlalu tinggi, mengharapkan pria yang tidak akan pernah meliriknya sama sekali.

__ADS_1


"Apakah Anda akan pergi seorang diri, Nona?" tanya Qin Yushang.


"Aku akan menemaninya." Jian Heng tidak meminta persetujuan dari Fang Yin untuk ini.


Wajah Qin Yu Zhu dan Xin Nian seketika berubah masam. Lagi-lagi mereka harus menelan kekecewaan. Satu-satunya kesempatan yang mungkin mereka dapatkan adalah mengikuti pelatihan besok pagi.


Guan Xing memilih untuk tinggal. Dia tahu kehadirannya hanya akan merusak suasana hati Fang Yin dan Jian Heng. Untuk itu, dia lebih memilih untuk tinggal dan mengobrol bersama Qin Yushang serta keluarganya.


Matahari sudah meredup di ufuk barat. Sedikit lagi dia akan tenggelam dan membuka tirai kegelapan. Selagi bumi masih dipenuhi oleh cahayanya yang temaram, Fang Yin dan Jian Heng berpamitan untuk pergi dari villa Qin Yushang.


Mereka pergi dengan berjalan kaki melewati jalan yang mengelilingi villa-villa milik penduduk. Penduduk yang berada di luar menyapa mereka dan memberi hormat. Setelah berada di pinggir kampung, Fang Yin dan Jian Heng melompat ke udara dan menempuh perjalanan dengan cara terbang.


Langit berwarna jingga dengan cahaya redup matahari yang hampir tenggelam membuat suasana sore itu begitu indah. Fang Yin dan Jian Heng berputar-putar di atas langit bukit Giok Hitam untuk mencari tempat yang tepat untuk latihan.


Mereka tertarik pada sebuah bukit batu yang berada sekitar seribu kaki ke arah tenggara dari pemukiman penduduk. Fang Yin menunjukkan tempat yang akan dia tuju kepada Jian Heng lalu mereka sama-sama turun di sana.


Mereka berjalan berkeliling untuk mencari tempat yang nyaman untuk berlatih. Ada banyak batu besar di sana yang menjulang tinggi. Keduanya melompat dari satu batu ke batu yang lainnya hingga mereka berhenti pada sebuah batu yang sedikit luas.


"Sepertinya ini cukup bagus untuk berlatih." Fang Yin memutar tubuhnya melihat ke sekeliling tempatnya berpijak.


"Boleh juga. Batu ini berada di puncak yang tinggi dan permukaan yang cukup luas. Kita bisa berlatih dengan leluasa tanpa rasa takut menimbulkan kerusakan." Jian Heng setuju untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat berlatih.


Keduanya duduk saling berhadapan dengan mengambil jarak aman. Pinggir batu yang curam hanya berada beberapa jengkal saja dari tubuh mereka. Meskipun duduk di ujung tanduk sekalipun mereka tetap mampu menjaga keseimbangan.


Mereka mengabaikan keadaan fisik di sekelilingnya dan mulai memasuki alam bawah sadar masing-masing. Fang Yin menggali ingatannya sedangkan Jian Heng menyempurnakan apa yang telah dia pelajari.


Suasana hening menyelimuti keduanya. Tempat itu benar-benar sepi. Tidak ada binatang yang berkeliaran di sana karena tempat ini terlalu lama terisolasi dari dunia luar.


Fang Yin memasuki alam bawah sadarnya dan melihat seluruh isi Kitab Sembilan Naga bintang sembilan yang telah dia serap dalam wujud tulisan. Isi dari kitab ini merupakan penyempurnaan dari delapan Kitab Sembilan Naga sebelumnya. Ada beberapa bab tambahan yang belum pernah dia pelajari juga di sana.


Poin pertama, Fang Yin menyempurnakan jurus pedang yang ada pada Kitab Sembilan Naga bintang satu. Jurus ini dipadukan dengan energi yang besar dari Giok Hitam sehingga menghasilkan gerakan yang sulit untuk dilawan dengan aura mematikan yang akan membuat lawannya menjadi segan.


Untuk malam ini, Fang Yin hanya berkutat dalam menyempurnakan jurus pedang dari Kitab Sembilan Naga. Meskipun dia tidak menggunakan fisiknya secara langsung, tetapi tubuhnya pun terlihat berkeringat. Efek dari latihan yang dilakukannya tetap berdampak pada fisiknya.


Jian Heng melatih jirah cahaya emas yang baru saja dia dapatkan. Menurutnya ini terasa sangat luar biasa di mana dia bisa melindungi dirinya dari serangan mematikan musuh-musuhnya. Jika semula jirah ini muncul dan menghilang dengan sendirinya kini dia menghubungkannya dengan inti pikirannya. Ke depannya, jirah itu akan keluar dan menghilang atas perintahnya.


Fang Yin masih duduk dengan mata terpejam ketika Jian Heng telah menyelesaikan latihannya. Tubuhnya terlihat bercahaya karena aura energi yang terpancar. Jian Heng menatapnya dari kejauhan tanpa berani mendekat. Dia takut mengganggu konsentrasi Fang Yin.


Dari tekanan kuat energi pendamping yang keluar dari tubuh Fang Yin, Jian Heng yakin jika Fang Yin sedang melatih jurus yang kuat. Untuk mengisi waktunya, dia membuka jalur meridiannya dan melakukan kultivasi terbuka. Kultivasi yang dilakukannya bisa dilakukan bersamaan dengan aktifitas lain. Hanya orang yang sudah berada di tingkat kultivasi ranah dewa yang bisa melakukan hal ini.


Jian Heng berdiri dan melakukan beberapa gerakan ringan untuk memaksimalkan kultivasinya. Giok Hitam masih menjadi penyumbang energi terbesar sebelumnya. Namun, alam di sekitarnya juga memiliki energi yang cukup besar untuk diserap.


Fang Yin telah menyelesaikan jurus pedangnya. Perlahan dia membuka matanya dan melihat Jian Heng sedang berlatih. Dia pun berdiri dan melakukan latihan secara nyata.


Tangan kanannya terbuka dan mengeluarkan pedang pemberian Jian Heng. Pedang kecil itu cukup kuat untuk dialiri Qi yang besar. Sebelum memainkan jurusnya, Fang Yin mengalirkan Qi pada seluruh titik alat geraknya.


Gerakannya terlihat bersinar didalam gelap. Cahaya kemilau pedang yang mengandung Qi memancar menerangi tempat di sekelilingnya. Fang Yin melakukan gerakan penyerangan dan pertahanan dengan sangat baik. Di akhir latihannya, dia mengarahkan ujung pedangnya pada sebuah batu dan membuatnya meledak. Batu itu hancur berkeping-keping, menyisakan kepulan debu yang mengepul terbawa angin.


"Kamu sudah selesai, Yin'er?" tanya Jian Heng sambil melangkah mendekatinya.


Fang Yin mengangguk. Pedang di tangannya menghilang ketika dia menyerapnya ke dalam cincin penyimpanannya.


"Untuk malam ini, cukup ini yang aku pelajari. Bagaimana denganmu?" tanya Fang Yin sambil menyeka keringat yang membasahi wajahnya.


"Aku juga sudah cukup. Apakah kamu ingin pulang sekarang?" Jian Heng menatap wajah Fang Yin yang tidak tertutup oleh cadar.


"Kita akan pulang sebentar lagi." Fang Yin memalingkan wajahnya karena tidak sanggup membalas tatapan Jian Heng.


"Lihat aku, Yin'er!" ucapnya lembut.


Fang Yin pun kembali menatapnya. Tinggi badan mereka yang berbeda membuatnya harus mendongak ke atas untuk membalas tatapannya.


Jian Heng membingkai wajah Fang Yin dengan kedua telapak tangannya. Kedua wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat lalu sebuah kecupan mendarat di kening Fang Yin. Jian Heng tidak berani melakukan hal yang lebih dari itu sebelum status mereka menjadi jelas.


Merasa tidak ada yang perlu dilakukan lagi di sana, mereka pun sepakat untuk kembali ke villa Qin Yushang. Besok Jian Heng harus melatih penduduk bukit Giok Hitam pagi-pagi sekali dan Fang Yin bebas untuk tidak melakukan apapun atau bergabung bersamanya.


Fang Yin enggan berlatih di siang hari karena akan menarik perhatian banyak orang. Suasana malam yang hening juga lebih mudah membuatnya berkonsentrasi.

__ADS_1


Melihat pemukiman penduduk sudah terlihat, Fang Yin dan Jian Heng memelankan laju terbangnya lalu turun di perbatasan. Jian Heng meraih tangannya lalu membawanya berjalan menuju ke villa Qin Yushang. Dia ingin menunjukkan pada semua orang yang mereka temui bahwa keduanya memiliki hubungan tak biasa.


Karena hari belum terlalu malam, masih ada beberapa penduduk yang terjaga. Ini adalah malam pertama setelah malam pembebasan. Sebagian di antara mereka ada yang merayakan kebebasannya dari belenggu iblis dengan merayakan pesta kecil bersama keluarganya.


Seorang anak kecil berlari ke tengah jalan saat melihat Fang Yin dan Jian Heng melintas. Bocah itu kira-kira berumur tiga tahun. Dia dan keluarganya sedang membakar ayam di depan rumah mereka.


Para penduduk bukit Giok Hitam memelihara ternak untuk kebutuhan logistik di pinggir desa. Mereka membuat kandang beberapa hewan piaraan yang biasa diambil untuk dikonsumsi. Entah seperti apa mekanismenya, mereka memelihara hewan-hewan itu secara bersama-sama dan menikmatinya secara bergiliran.


Ada orang yang bertanggung jawab untuk ini. Di lereng bukit dan lembah, ada sebuah lahan pertanian dan perkebunan. Mereka juga mengerjakannya secara kelompok dan membagi hasilnya dengan adil. Kekeluargaan di sini sangat terasa meskipun mereka memiliki toleransi yang rendah bagi penghianat dan pembangkang.


"Namaku Acong! Namaku Acong!" anak kecil itu memegang tangan Fang Yin dan mengayunkannya.


Fang Yin melepaskan tangan Jian Heng lalu membungkuk di hadapan Acong.


"Anak yang manis." Fang Yin merasa gemas padanya lalu menggendongnya.


"Acong ... Acong!" Seorang wanita paruh baya dan laki-laki muda muncul dari sebuah villa dan turun ke jalanan sambil terus memanggil nama bocah itu.


Mereka terkejut saat melihat Acong sudah berada di dalam gendongan Fang Yin. Wajah mereka menjadi pucat pasi saat melihatnya. Dengan cepat mereka berlari ke arah Fang Yin lalu memberi hormat.


"Maafkan anak ini, Nona. Dia memang sedikit nakal." Wanita paruh baya itu berusaha untuk mengambil Acong dari gendongan Fang Yin tetapi anak itu malah memeluk Fang Yin semakin erat.


"Aku tidak mau sama nenek!" Acong merajuk.


"Sudah, biar aku mengantarnya pulang. Tunjukkan saja di mana rumahmu!" Fang Yin meminta wanita itu menunjukkan rumahnya.


"Jangan nakal, Nak! Sini ikut ayah!" pria muda yang berada di samping wanita paruh baya itu maju dan mengulurkan tangannya ke arah Acong.


Anak itu masih tidak bergeming. Dia tetap tidak ingin turun dari gendongan Fang Yin. Pria itu pun akhirnya mengalah dan membiarkan anak itu tetap di sana.


Pria itu adalah ayah Acong. Dia memperkenalkan dirinya dan bernama Gong Yu, sedangkan wanita paruh baya itu bernama Lin He. Istri Gong Yu telah meninggal ketika Acong baru berusia beberapa bulan. Kematian yang tiba-tiba biasa terjadi saat mereka masih menjadi ras manusia hijau. Mereka tidak tahu jika ada sihir jahat yang menyerap energi murni tanpa mereka sadari.


Fang Yin dan Jian Heng merasa iba pada Acong. Anak itu sepertinya sedang merindukan ibunya. Ayah dan neneknya seringkali bercerita padanya jika ibunya sangat cantik dan berada di tempat yang jauh. Mungkin dia berpikir jika ibunya itu adalah Fang Yin karena dia datang dari tempat yang jauh.


Gong Yu memiliki wajah yang tampan. Kulitnya putih bersih dengan rambut yang terikat dengan rapi. Kira-kira umurnya tidak lebih dari dua puluh lima tahun. Perawakannya sedang dengan tinggi badan yang proporsional. Jika diberi nilai ketampanannya mendekati angka sembilan, beda tipis dengan Jian Heng.


Mereka berempat berjalan beriringan menuju ke rumah Gong Yu. Jian Heng melirik ke arah Fang Yin yang berjalan terlalu dekat dengan Gong Yu. Tidak ingin kekasihnya berdekatan dengan pria lain, dia berpindah dan berjalan di tengah keduanya.


'Rupanya kak Heng punya rasa cemburu juga. Aku pikir cemburu hanya milik seorang wanita.' Fang Yin tersenyum geli melihat tingkah konyol Jian Heng.


Mereka memasuki halaman villa tempat tinggal Acong dan keluarganya. Di halaman itu berdiri seorang pria yang sedang mengipasi ayam yang dibakar dengan arang. Dia adalah ayah Gong Yu yang bernama Gong Chen.


Acong meminta Fang Yin dan Jian Heng untuk tinggal dan menikmati ayam bakar yang sedang di buat. Entah berapa lama lagi proses pematangannya akan terjadi, api dari arang itu sepertinya tidak cukup panas. Aroma bumbu yang menggugah selera membuat perut mereka menjadi lapar. Fang Yin dan Jian Heng pun memutuskan untuk menerima undangan mereka.


"Biar aku bantu." Fang Yin mendekati Gong Chen sambil menggendong Acong.


"Tidak perlu repot-repot, Nona. Biar kami saja yang melakukannya. Anda adalah tamu kehormatan bagi kami." Lin He tidak ingin merepotkan Fang Yin.


Fang Yin tidak pergi dari depan pemanggangan. Dia mengulurkan tangannya ke atas ayam yang sedang dipanggang. Dari telapak tangannya keluar api yang diarahkan pada ayam.


"Balik ayamnya!" perintah Fang Yin.


Gong Chen pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Fang Yin. Aroma daging bakar itu semakin kuat. Api yang stabil membuat dagingnya menjadi cepat masak hingga ke dalam-dalamnya.


Tidak butuh waktu lama untuk menunggu makan malam. Fang Yin melakukan hal ini semata-mata untuk Acong. Anak kecil sepertinya tidak bisa tidur larut malam agar bisa bertumbuh kembang dengan baik.


"Ibu cantik, kamu hebat sekali. Ibuku kalau pulang pasti dia juga secantik dirimu, Ibu," celoteh Acong.


Gong Yu terlihat sangat malu. Putranya yang masih kecil itu begitu padai merayu wanita. Dia berpikir bagaimana setelah dia besar nanti.


Fang Yin tersenyum dan mengangguk. Saat menatap sepasang bola mata anak ini dia seperti terseret ke dalam dimensi alam lain. Dia seperti sedang berada di ambang kesadarannya.


'Apa yang telah terjadi padaku? Mengapa tubuhku tiba-tiba terasa sulit untuk digerakkan. Ini bukan sihir, aku juga tidak merasakan kekuatan yang besar dari anak ini.' Fang Yin melihat ke sekelilingnya. Tubuhnya semakin terhisap ke kedalaman ruang kekosongan yang belum menemukan ujungnya.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2