Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 382. Diputuskan


__ADS_3

Fang Yin terus berjalan perlahan dengan tetap waspada. Pandangan matanya mengedar ke sekeliling untuk memastikan tidak ada bahaya yang mengancam. Selain musuh, tempat ini terbilang baru, jarak pandangnya yang pendek membatasinya untuk melihat keadaan di sekitarnya.


Esensi energi yang menggantung di langit terlihat dari tempat Fang Yin berdiri. Dia tidak bisa mendekat lagi karena tidak ada tanah untuk berpijak lagi. Saat ini dia telah berada di tepi daratan yang tidak terlalu luas.


'Aku ingin melihat benda asing itu tetapi tidak tahu bagaimana caranya mendekat. Kabut yang menutupi tempat ini semakin tebal, aku tidak ingin membahayakan nyawaku.' Fang Yin tidak ingin melompat ke langit.


Di dalam dimensi ini dia merasakan energinya terbatas. Tempat yang penuh dengan misteri tidak membuatnya tertantang lagi untuk menggali. Dia telah mencapai titik tenang di mana yang dia pikirkan sekarang bukanlah dirinya sendiri lagi.


Fang Yin telah mencapai puncak kekuatannya sebagai Dewi Naga. Kesempurnaan yang membuat tubuhnya melampaui kemampuan manusia pada umumnya.


'Aku tidak ingin menyerap esensi energi itu. Aku hanya ingin tahu mengapa aku merasakan energi yang sama dengan benda itu.' Telapak tangan Fang Yin mengusap lengan kirinya.


Sebuah sisik naga berwarna emas muncul di sana. Sisik itu berkilau dengan cahayanya yang sangat terang. Cahaya energi di tangan Fang Yin terserap ke dalam benda yang menggantung di langit.


Tidak ingin kehilangan banyak energinya, Fang Yin pun menutup aliran energinya. Kakinya bergerak mundur ke belakang hingga punggungnya menabrak sebuah pohon. Kemampuan menyerap benda asing hampir setara dengan Jurus Napas Naga tingkat atas.


'Hahaha!' Tiba-tiba saja Yang Hui tertawa.


Sudah sangat lama dia tertidur. Setelah huru-hara berakhir dia lebih banyak tidur ketimbang mengganggu Fang Yin. Amarah dan dendam yang menjadi sifat dasarnya perlahan terkikis dan membuatnya lebih damai dengan dirinya yang sekarang.


'Ada apa Yang Hui? Sepertinya kamu sangat senang melihat aku bertingkah bodoh. Haish, sungguh ironis, seorang Dewi Naga terjebak dalam keadaan yang memalukan.' Fang Yin menggelengkan kepalanya merasa payah.


'Kamu memang bodoh, Yang Mulia. Tentu saja Inti Jiwa itu menyerap energimu karena dia berasal dari hawa murni yang terbentuk darimu dan Tuan Heng,' jelas Yang Hui.


Fang Yin membulatkan matanya. Dia belum mengerti maksud perkataan Yang Hui. Apakah itu inti jiwa dan mengapa bisa terbentuk di sini?


'Aku tidak mengerti, Yang Hui. Bagaimana bisa Inti Jiwa kami terbentuk dari esensi hawa murni kami? Lalu ... Bagaimana bisa dia ada di tempat ini? Rasanya sulit aku pahami.' Fang Yin merasakan kepalanya berdenyut.


'Hemm ... bagaimana aku menjelaskannya padamu, Yang Mulia? Aku juga tidak tahu harus memulainya dari mana.'


Ucapan Yang Hui membuat Fang Yin semakin penasaran.


'Katakan intinya saja, Yang Hui! Tidak perlu menceritakannya dengan detail. Kepalaku menjadi pusing jika kamu tidak segera memberitahuku tentang ini.' Sudah menjadi sifat Fang Yin yang tidak sabaran dan ingin tahu segalanya.


Tidak ada pilihan lain bagi Yang Hui, jika tidak menuruti keinginannya maka dia pasti dihukum. Sekali menentang Fang Yin maka dia akan kehilangan kenyamanan yang didapatkannya selama ini.


'Baiklah! Aku akan mengatakannya secara singkat. Bagi seorang Dewi Naga, dia juga bisa memperoleh keturunan seperti wanita pada umumnya. Namun, dia tidak akan hamil dan melahirkan. Anak mereka terbentuk dari hawa murni yang terkumpul sedikit demi sedikit hingga membentuk Inti Jiwa yang terus disempurnakan,' jelas Yang Hui.


Fang Yin tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Penjelasan Yang Hui sulit untuk dicerna oleh akal manusia tetapi semuanya bisa saja benar. Ini adalah pengalaman pertamanya menjadi seorang Dewi Naga. Begitu banyak rahasia yang belum diketahuinya termasuk seperti apa Inti Jiwa itu terbentuk dan menjadi bayi.


'Jadi Inti Jiwa itu adalah calon anakku?' tanya Fang Yin sambil menatap esensi energi yang terbentuk di kejauhan.


'Mungkin saja. Akan tetapi, aku belum merasakan tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Setiap Dewi Naga yang telah menikah akan memiliki Inti Jiwa tetapi tidak tahu apakah dia akan memiliki anak atau tidak.' Yang Hui mengatakan apa yang dia ketahui tanpa menambah atau menguranginya.


Ada perasaan kecewa di hati Fang Yin tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Segala yang terjadi tidak bisa dipastikan olehnya. Namun, dia tidak akan putus harapan dan percaya jika dirinya akan memiliki keturunan yang akan meneruskan perjuangannya.


Merasa tidak ada yang perlu dilakukan lagi di dimensi kekosongan jiwa, Fang Yin memilih untuk kembali ke alam nyata. Tubuhnya tersentak ketika dia kembali dengan cepat. Beruntung Jian Heng yang sedang memeluknya tidak terbangun karenanya.


'Syukurlah!' Fang Yin membuka matanya dan mendapati Jian Heng masih terlelap.


Malam masih panjang dan dia pun kembali tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Hatinya merasa tenang setelah tahu jika dia akan memiliki keturunan. Sebelumnya dia ragu untuk berharap karena dia tidak memiliki informasi yang cukup tentang kehidupan Dewi Naga di masa lampau.


***

__ADS_1


Fang Yin ikut hadir di dalam pertemuan Dewan Pemerintahan untuk membicarakan tentang kerusuhan di perbatasan barat. Jian Heng memintanya untuk mendampinginya. Ini adalah pertama kalinya dia memimpin sebuah pertemuan sebagai seorang kaisar.


Setelah semua peserta rapat berkumpul, Perdana Menteri Huan Ran memberikan kata sambutannya. Untuk mempersingkat waktu, dia mengurangi pembicaraan yang tidak perlu dan segera mengatakan inti pembahasan.


Para anggota Dewan Pemerintahan terlihat serius menanggapi permasalahan ini. Mereka dihadapkan pada masalah yang berhubungan langsung dengan rakyat. Fitnah dan profokasi membuat kepercayaan rakyat pada pemerintah menurun.


Jika tidak segera diatasi, masalah ini akan terus berkembang dan merambah ke wilayah yang luas. Pemberontak akan merasa di atas angin dan merasa kuat. Bukan tidak mungkin mereka akan menguasai sebuah wilayah dan membentuk pemerintahan sendiri.


Perdana Menteri Huan Ran menjelaskannya secara detail keadaan yang terjadi di wilayah perbatasan barat. Untuk mengambil tindakan, dia meminta semua peserta untuk mengeluarkan pendapatnya. Pendapat mereka akan dibahas dan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyimpulkan sebuah keputusan.


Forum diskusi dibuka oleh Jian Heng dan Fang Yin. Mereka bebas mengeluarkan pendapatnya tanpa menyinggung atau merendahkan pendapat orang lain.


"Setiap orang memiliki pendapat. Kita harus belajar saling menghargai dan menghormati orang lain." Fang Yin turun dari singgasana dan mengawasi secara langsung jalannya diskusi.


Keberadaannya membuat para peserta tidak berani macam-macam. Meskipun didominasi oleh rasa takut mereka tetap berusaha menyampaikan usulannya. Dari sekian banyak usulan, akhirnya tercapai sebuah kesepakatan.


Kesimpulan final sama dengan yang diinginkan oleh Fang Yin. Pasukan istana berhak membunuh para pembangkang dan mengampuni orang yang tidak terlibat. Masalah ini tidak akan selesai dalam satu atau dua hari karena mereka akan membatasi pengiriman bahan makanan pokok ke wilayah perbatasan barat.


Pasukan istana akan memancing para pemberontak dan penduduk yang telah terhasut untuk datang merampas bahan makanan yang mereka timbun. Mereka akan bekerja sama dengan pemerintah yang memegang wilayah perbatasan barat. Dengan begini akan sedikit korban tidak bersalah dari masyarakat.


Fang Yin ikut menentukan siapa saja yang akan berangkat untuk mengatasi masalah di perbatasan. Ayah sambungnya yang akan memimpin pasukan sekaligus mengadakan perbaikan di wilayah itu.


Jian Heng membubarkan pertemuan dan meminta Dewan Keamanan untuk mengatur keberangkatan pasukan. Untuk urusan konsumsi dan lain sebagainya, dia meminta Dewan Logistik untuk mempersiapkannya.


Di dalam ruangan itu hanya tinggal Jian Heng, Fang Yin dan Huan Ran saja.


"Huan Ran, biar aku saja yang datang untuk menemui Ayah Feng. Ada hal lain yang ingin aku bicarakan dengannya." Fang Yin menghentikan Huan Ran yang sedang membuat surat perintah untuk Tian Feng.


"Baik, Yang Mulia. Ijinkan saya untuk kembali bekerja," pamit Huan Ran.


"Silakan!" jawab Fang Yin tidak ingin menahannya lagi.


Ruangan kembali sepi setelah kepergian Huan Ran. Di sana hanya tersisa Fang Yin dan Jian Heng saja.


"Kak Heng," panggil Fang Yin.


"Iya, Yin'er. Apakah kamu ingin menemui ayah mertua sekarang?" tanya Jian Heng.


Fang Yin mengangguk lalu beranjak dari duduknya. Dia terlihat bersemangat.


"Benar, mari kita ke sana sekarang."


Mereka berjalan bersama meninggalkan aula istana menuju ke kediaman Selir Shi dan Tian Feng. Untuk mencapai tempat itu mereka harus melewati taman dan beberapa istana-istana kecil milik para petinggi pemerintahan.


Di sepanjang perjalanannya mereka bertemu dengan para pelayan dan pekerja yang masih membenahi istana. Mereka terlihat sangat rajin meskipun tidak menyadari kedatangan Fang Yin dan Jian Heng.


"Aku suka melihat mereka bekerja. Begitu bersemangat dan sangat rapi." Fang Yin memuji para pekerja.


"Itu pasti karena mereka merasa sangat nyaman dengan lingkungan kerja mereka. Semoga saja kita bisa membuat seluruh penduduk Benua Timur menjadi makmur." Jian Heng berpikir bagaimana mengoptimalkan sumber daya yang ada di Benua Timur.


Saat dalam petualangannya, Fang Yin juga melihat banyaknya potensi alam yang belum digali. Dengan sedikit bimbingan mereka pasti bisa memanfaatkan alam dan mendapatkan penghasilan tambahan.


Setiap daerah memiliki potensi yang berbeda-beda sehingga mereka bisa berbisnis dan menjual produk masing-masing. Kedepannya Fang Yin ingin membuat wadah bagi para produsen untuk bertukar pengalaman.

__ADS_1


Terlalu asyik mengobrol membuat mereka tidak menyadari jika telah sampai di depan kediaman Selir Shi dan Tian Feng. Penjaga gerbang mempersilakan mereka masuk dan melaporkan kedatangannya pada Tian Feng.


Selir Shi sedang tidak ada di tempat ketika mereka datang. Hanya ada Tian Feng yang sedang berlatih di taman samping. Aroma tanaman herbal mulai tercium di sekitar tempatnya berdiri.


"Yin'er memberi hormat, Ayah." Fang Yin mengabarkan kedatangannya.


Sebenarnya Tian Feng sudah tahu akan kehadirannya tetapi dia sedang berkonsentrasi untuk menciptakan sesuatu.


"Duduklah, Yin'er, Heng'er! Ijinkan aku untuk menyelesaikan pekerjaanku." Tian Feng berbicara tanpa menoleh.


Fang Yin mengikuti perkataan Tian Feng dengan duduk di belakangnya bersama Jian Heng. Mereka melihat latihan yang dilakukan oleh Tian Feng.


Terlihat beberapa tanaman spiritual yang telah terpecah menjadi bagian-bagian kecil. Pecahan-pecahan yang berbeda perlahan tercampur dan membentuk gumpalan di udara. Ketika Tian Feng menambahkan energinya gumpalan itu berangsur memadat.


Ini adalah teknik pembuatan pil tingkat tinggi. Fang Yin merasa takjub saat melihatnya. Setelah Tian Feng berhasil dia ingin mempelajari teknik ini juga.


Proses pemadatan esensi tanaman spiritual yang telah menyatu masih berlangsung. Tian Feng terlihat mengurangi tekanan energi yang digunakannya. Sedikit demi sedikit penampakan pil mulai terlihat dan terbagi menjadi beberapa buah.


Pada tahap penyempurnaan, Fang Yin merasakan hawa panas dari efek samping pembakaran yang dilakukan oleh Tian Feng. Tidak nyaman dengan kondisi ini, tangan kanannya mengibas dan mengeluarkan energi dingin untuk menghalau hawa panas. Ternyata apa yang dilakukan oleh Fang Yin membawa dampak positif dan membuat proses penyempurnaan selesai dengan cepat.


Tian Feng menarik pil-pil yang telah jadi ke dalam tangannya. Senyuman manis menghiasi wajahnya lalu dengan cepat dia berbalik menghadap Fang Yin dan Jian Heng.


"Yin'er! Aku berhasil! Seandainya kamu tidak datang mungkin prosesnya belum selesai. Aku tidak bisa melakukan proses pendinginan." Tian Feng menunjukkan pil-pil itu ke hadapan Fang Yin dan Jian Heng.


Mereka merasa takjub melihat hasil yang sangat berkualitas. Bukan itu saja, mereka juga mendapatkan teknik baru untuk membuat obat tanpa menggunakan tungku. Tian Feng bisa bekerja sama dengan Selir Shi untuk melakukan pendinginan pada proses penyempurnaan.


"Ayah bisa bekolaborasi dengan ibu untuk melakukannya. Dengan sedikit Qi Awan Salju maka efek samping yang panas akan turun dalam sekejap," jelas Fang Yin.


"Kamu benar. Oh, iya, apa yang membawa kalian datang kemari? Rasanya tidak mungkin jika hanya ingin bermain.main saja." Tian Feng mengambil tempat duduk di hadapan Fang Yin dan Jian Heng.


"Kami memang datang membawa sesuatu yang penting tapi sebelum itu lebih baik ayah simpan pil itu terlebih dahulu. Pada zat-zat tertentu bisa mengalami perubahan sifat jika terus dibiarkan di udara terbuka." Fang Yin sangat teliti dalam mengenali jenis tanaman yang digunakan oleh Tian Feng.


"Kamu sangat mengerti tentang obat-obatan." Tian Feng pun melakukan apa yang dikatakan oleh Fang Yin.


Melihat Tian Feng telah selesai menyimpan pil-pil itu, Fang Yin kembali berbicara. Dia menjelaskan masalah yang terjadi di perbatasan barat dengan terperinci. Tidak ada informasi yang terlewat untuk disampaikan.


Tidak lupa Fang Yin juga menyampaikan hasil dari rapat yang dilakukan bersama para Dewan Pemerintahan. Setelah semuanya jelas, Fang Yin mengutarakan maksud hatinya untuk meminta Tian Feng memimpin pasukan ke wilayah perbatasan barat.


"Aku percaya ayah bisa mengatasi masalah ini. Butuh ketegasan dan kedewasaan dalam menghadapi mereka." Fang Yin merasa tenang setelah Tian Feng menyetujuinya.


Di perbatasan barat,


Penghentian pasokan bahan makanan ke wilayah itu membuat mereka resah. Simpanan bahan makanan di gudang semakin menipis. Mereka berpikir bagaimana caranya untuk mencari pasokan makanan agar para penduduk yang mendiami wilayah itu tetap berpihak kepada mereka.


"Kita harus melapor pada Yang Mulia untuk mengatasi masalah ini," ucap wakil pemimpin pemberontak.


"Apakah kamu ingin mati?" tanya pemimpin pemberontak.


Seluruh anggota inti yang bersama mereka terdiam saat melihat kemarahan di wajah pemimpin mereka. Keadaan ini akan membuat rencana mereka sedikit terhambat.


Mereka tidak tahu jika ini memang sudah direncanakan oleh Kaisar Heng dan Fang Yin.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2