Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 373. Mengunci Portal Dimensi


__ADS_3

Jian Heng dan Fang Yin tidak bisa bersantai. Mereka kembali dengan cepat menuju ke istana Kekaisaran Benua Timur dengan berteleportasi. Keduanya tiba di depan aula istana yang ternyata sudah dipenuhi oleh para penghuni istana.


Keluarga Fang Yin dan Jian Heng juga ada di tengah-tengah mereka. Entah apa yang mereka lakukan, wajah mereka terlihat panik saat melihat kedatangan Fang Yin.


"Yin'er! Heng'er! Kalian kemana saja?" tanya Shi Jun Hui dengan wajah kesalnya.


Jian Heng dan Fang Yin bingung dengan sikap kakeknya yang terlihat kesal pada keduanya. Mereka baru saja datang dan tidak tahu dengan apa yang terjadi hari ini.


"Ada apa, Kek? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Fang Yin bingung.


Shi Jun Hui menghela nafas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Hatinya benar-benar saat ini meskipun dia telah melihat Fang Yin dan Jian Heng dalam keadaan baik-baik saja."


Selir Shi kemudian menyela dan berkata, "Kami sangat mengkhawatirkan kalian. Kalian selalu saja membuat ulah dan menghilang sesuka hati. Bagaimana kami bisa tenang karena sebentar lagi kalian akan menikah."


Fang Yin dan Jian Heng meringis merasa bersalah pada keluarganya. Mereka tidak menyangka jika kepergian mereka yang sebentar akan membuat keluarganya menjadi cemas. Sebelumnya mereka memang tidak memiliki rencana untuk pergi sehingga mereka tidak berpamitan kepada keluarganya.


"Ada sebuah hal penting yang memaksa kami harus pergi meninggalkan istana. Bisakah kita bicara di dalam?" Fang Yin berjalan menuju ke ruang pertemuan meninggalkan ibunya.


Berdebat dengan ibu dan kakeknya tidak akan pernah ada habisnya. Jika tetap di sana mungkin mereka masih berbicara dan membuang banyak waktu untuk hal yang tidak penting.


Sikap serius Fang Yin dan Jian Heng membuat semua orang diam. Mereka tidak berani lagi menyalahkan keduanya mengingat ada hal yang lebih penting dari amarah mereka.


Fang Yin duduk di kursi kebesarannya menghadap seluruh anggota keluarga dan para pembesar istana. Suasana di ruangan masih hening karena Fang Yin belum memulai pembicaraan. Dia masih menunggu dewan pemerintahan yang masih terus berdatangan.


Semula berita tentang siapa Cau Ahlin dan dimensi naga hanya akan disimpan untuk dirinya dan keluarga besarnya. Namun, mengingat ramalan yang begitu mengerikan itu mungkin saja terjadi maka kisah tentang siapa dirinya harus diketahui oleh semua orang.


"Semua telah berkumpul. Aku ingin menyampaikan sebuah hal yang penting untuk didengarkan." Fang Yin mulai berbicara dengan suara yang lantang.


"Silakan, Yang Mulia!" seru semua orang hampir bersamaan.


"Pertama, aku ingin menjelaskan tentang kepergianku yang tiba-tiba. Aku dan Kak Heng pergi menemui pertapa tua yang tinggal di kuil yang berada di belakang istana. Sebelumnya kami ingin melihat fenomena yang terjadi hari ini apakah memang telah ditetapkan dalam ramalan perbintangan atau belum. Namun, karena kami tidak menemukan token untuk membuka ruangan perbintangan. Kami memutuskan untuk pergi menemui kakek pertapa tua dan menanyakan perihal fenomena ini."


Semua orang masih fokus menanti Fang Yin kembali berbicara. Mereka tidak mengeluarkan suara apapun saat menunggu Fang Yin menyusun kata-katanya.


"Cermin ramalan dari kakek pertapa tua menunjukkan bahwa fenomena ini bukanlah fenomena biasa. Kami melihat gejala alam yang terjadi adalah sebuah awal mala petaka di mana ratusan naga akan menyerang negara ini dan menghancurkan apa saja yang menghalanginya." Fang Yin kembali menjeda ceritanya.


Beberapa orang berbisik dan mengungkapkan kecemasannya. Mereka tidak merasa tidak pernah menyinggung kaisar naga atau pun membunuh binatang roh naga yang tidak tinggal di dunia manusia.


Mereka terus berdiskusi hingga membuat ruangan menjadi gaduh. Masing-masing orang memiliki pendapat dan berspekulasi sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Suasana kembali tenang ketika Guan Xin maju ke tengah dan menenangkan mereka.


"Silakan dilanjutkan, Yang Mulia," ucap Guan Xing setelah situasi kembali kondusif.


Fang Yin mengangguk.


"Entah kejadiannya seperti apa di masa lalu, Kaisar Gu memiliki seorang anak di luar nikah yang menjadi penguasa di dimensi naga. Menghilangnya diriku beberapa waktu yang lalu disebabkan olehnya. Namun, kami telah berdamai sebelum aku kembali ke dunia manusia. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah aku pergi dari sana dan aku melihat gambaran ramalan dari pertapa tua bahwa Cau Ahlin lah yang memimpin penyerangan ini." Fang Yin belum mengungkapkan solusi dari masalah ini untuk melihat reaksi orang-orang disekitarnya.


Mereka kembali berbisik dan berdiskusi satu sama lain. Kegelisahan yang disertai oleh rasa takut terlihat jelas di wajah mereka. Fang Yin begitu pandai memancing pendapat mereka tentang keadaan yang belum tentu terjadi.


"Apakah Yang Mulia akan menyiapkan pasukan untuk menghadapi mereka? Sepertinya sangat sulit untuk melawan naga-naga itu mengingat mereka memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan apa pun dihadapannya." Huan Ran mengungkapkan pendapatnya. Dia membayangkan keadaan yang terjadi jika ratusan naga itu datang untuk menyerang.


"Tidak," jawab Fang Yin.


Suasana menjadi gaduh saat mendengar jawaban Fang Yin. Perasaan takut mati membuat mereka tidak habis pikir dengan jalan pikiran Fang Yin. Meskipun pemimpin penyerangan itu adalah kakaknya tidak seharusnya dia mengorbankan rakyat yang seharusnya dia lindungi.


"Tenanglah!" seru Jian Heng.


Semua orang kembali diam.


Jian Heng menatap tajam ke arah Fang Yin dan menuntutnya untuk segera melanjutkan berita yang seharusnya disampaikan secara lengkap.


"Aku sedang memikirkan sebuah strategi. Jangan menggunjing ku dan berpikir jika aku tidak peduli dengan negaraku. Aku butuh orang yang menguasai teknik formasi empat penjuru mata angin. Sedangkan untuk menemukan portal yang dibuat oleh Cau Ahlin, aku akan memeriksanya sendiri." Fang Yin mengatakan rencananya pada semua orang.


Mereka terdiam. Rupanya Fang Yin tidak ingin melibatkan banyak orang untuk menghadapi naga-naga tersebut. Dugaan mereka ternyata salah dan membuat mereka menyesal telah berasumsi yang buruk terhadap Fang Yin.


Tian Feng maju ke depan. Dia bersedia untuk pergi menemukan di mana portal dimensi itu berada. Demi menjaga keselamatan Fang Yin, dia rela melakukan tugas ini untuk menggantikannya.


Kaisar Xi maju ke depan dan mengatakan jika dirinya menguasai teknik formasi empat mata angin. Untuk melakukan formasi ini dia membutuhkan tiga orang kuat lainnya untuk mendukung formasi yang dibentuknya.


Shi Han Wu, Shi Jun Hui dan Guan Xing menjadi tiga pilar pendukung formasi yang akan dilakukan oleh Kaisar Xi. Mereka melarang Jian Heng dan Fang Yin untuk andil di dalam mengatasi masalah ini.


Setelah disepakati, mereka memutuskan untuk bergerak secepatnya mengingat waktu yang tersisa tidak bisa diprediksi. Pertapa tua mengatakan jika waktu penyerangan kurang dari tiga hari. Ukuran waktu yang dikatakan tidak pasti sehingga mereka harus bertindak cepat sebelum hal yang buruk terjadi.


Hari sudah mulai gelap ketika mereka selesai berdiskusi. Penghuni istana sebagian masih berkumpul di depan aula. Mereka ingin tahu bagaimana masalah yang terjadi akan di atasi.


Kaisar Xi membawa semua orang yang terlibat dalam formasi empat penjuru mata angin. Khusus Tian Feng, dia harus pergi ke atas menembus awan hitam untuk mencari portal dimensi yang sedang berusaha dibuka oleh Cau Ahlin.


"Berhati-hatilah! Kami menunggu kabar baik darimu," ucap Kaisar Xi kepada Tian Feng.

__ADS_1


"Hmm." Tian Feng mengangguk lalu melompat ke atas dan menghilang di kegelapan malam.


Semua orang harap-harap cemas menantikan kabar darinya. Sebelum portal itu berhasil ditemukan maka formasi empat penjuru mata angin belum bisa dilakukan.


Selir Tang berjalan mendekati Kaisar Xi dan menatap wajahnya yang mulai cemas. Sudah cukup lama Tian Feng pergi tetapi belum terlihat sinyal bahwa dirinya telah menemukan di mana portal itu berada. Tebalnya awan hitam membuat siapapun akan kesulitan untuk melihat ketinggian dan mungkin juga awan itu berlapis-lapis.


"Yang Mulia, bolehkah aku ikut andil dalam masalah ini. Aku akan mencoba untuk menyingkirkan awan-awan itu. Mungkin saja aku bisa melakukannya." Selir Tang menawarkan bantuannya.


Sorot mata Kaisar Xi berbinar. Dia baru ingat jika Selir Tang adalah seorang pengendali hujan. Kepanikan membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan melupakan hal yang penting.


"Astaga! Bagaimana bisa aku melupakanmu? Terimakasih, Putri Tang. Aku mengandalkanmu."


Jian Heng dan Fang Yin saling berpandangan. Mereka juga tahu jika ibunya memiliki kemampuan untuk mengendalikan hujan. Namun, rasa cemas membuat keduanya lupa.


Selir Tang berjalan ke tempat yang sedikit lapang. Jika biasanya dia mengendalikan awan untuk datang, kini dia akan mengusir awan-awan itu untuk pergi. Dengan kepergian awan yang gelap maka portal di langit akan terlihat.


Banyak yang tidak tahu jika Selir Tang adalah Dewi Hujan yang lahir dari Klan Tang. Mereka menatapnya dengan takjub saat Selir Tang mulai melakukan gerakan demi gerakan untuk mengendalikan awan.


Perlahan awan yang menaungi negeri itu mulai bergerak menjauh selapis demi selapis. Dia berpikir jika binatang roh naga yang mencoba mengacau juga memiliki kemampuan yang sama dengannya. Mereka mendatangkan awan-awan ini untuk menyembunyikan portal sehingga tidak ada yang menyadari kedatangan mereka.


Di dalam gelapnya malam cahaya portal mulai tampak meskipun awan tipis masih berseliweran di langit. Awan-awan itu seperti tidak menyerah untuk melawan kekuatan Selir Tang.


Keringat mengalir deras dari tubuh Selir Tang ketika dia berhasil menyibak awan-awan yang menutupi portal. Meskipun begitu dia tetap berkonsentrasi untuk menyingkirkan awan-awan baru yang terus bermunculan.


"Lihat itu portalnya!" seru Kaisar Xi.


Para anggota formasi empat penjuru mata angin mulai bersiap dan mengambil posisi. Mereka melakukan gerakan sesuai arahan dari Kaisar Xi.


Energi mulai terpancar dan berkumpul di satu titik. Perlahan energi yang terkumpul bergerak naik. Awalnya gerakannya sangat lambat lalu berubah menjadi sangat cepat dan melesat menembus ketinggian menuju ke portal dimensi.


Tian Feng meluncur turun dengan keadaan yang cukup memprihatinkan. Di balik awan tersembunyi dua naga yang menyerangnya. Beruntung dia bisa bertahan dan kembali dengan selamat.


Selir Shi dan Yu Ruo segera menyongsongnya untuk mengobatinya. Mereka pergi menepi dan melakukan pertolongan.


Fang Yin menyusul orang tua dan neneknya untuk membantu memberikan pertolongan.


"Apakah kamu baik-baik saja, Ayah?" tanya Fang Yin khawatir.


"Aku baik-baik saja, Yin'er. Kembalilah ke formasi. Keadaan belum aman," ujar Tian Feng dengan serius.


"Baiklah!" Fang Yin mengangguk lalu kembali ke formasi yang di bentuk oleh Kaisar Xi dan yang lainnya.


Selir Tang berhenti melakukan tugasnya karena awan-awan hitam tidak lagi datang. Kekuatan Selir Tang yang besar memungkinkannya untuk pulih dengan cepat tanpa bantuan dari siapapun.


Pancaran cahaya dari tangan Shi Jun Hui mulai meredup. Proses penutupan portal yang memakan waktu cukup lama membuat energinya terkuras. Untuk membuat formasi kembali seimbang, Fang Yin mentransfer energinya dengan cara menempelkan kedua telapak tangannya yang mengandung energi ke punggung Shi Jun Hui.


Keadaan kembali stabil dan terus menerobos pertahanan portal dimensi yang mulai melemah. Namun, seiring dengan itu energi dari tangan Guan Xing juga mulai melemah. Harus ada seseorang yang mentransfer energi untuk menyetabilkan formasi empat penjuru mata angin dan kembali menguat.


Jian Heng maju ke depan lalu berdiri di belakang punggung Guan Xing. Kedua tangannya mulai mengulur ke depan dengan energi yang memancar menembus meridian di punggungnya. Energi yang masuk ke tubuh Guan Xin membuat energi yang terpancar dalam formasi meningkat.


Dengan transfer energi yang ditambahkan oleh Fang Yin dan Jian Heng, formasi empat penjuru mata angin mampu menutup portal dimensi lebih cepat dari sebelumnya. Mereka berhasil.


Setelah portal dimensi tertutup dengan sempurna maka misi penyerangan yang akan dilakukan oleh Cau Ahlin dipastikan akan gagal. Semua orang yang berkumpul di halaman aula bersorak senang ketika formasi yang dibentuk oleh Kaisar Xi berhasil menyegel portal dimensi dan membuatnya menghilang.


Kerja keras mereka membuahkan hasil meskipun mereka harus kehilangan banyak energi untuk ini. Energi yang dihabiskan untuk melakukan formasi empat penjuru mata angin lebih besar dari energi yang dikeluarkan untuk bertarung melawan musuh selama seharian penuh.


"Menyingkirlah! Cari tempat untuk berlindung!" seru Fang Yin sambil melompat ke udara dengan cepat.


Tanpa pikir panjang Jian Heng mengikutinya dan menyusulnya dengan cepat. Dia tidak tahu apa yang membuat Fang Yin sepanik itu tetapi dia berusaha untuk tetap bersama dengan kekasihnya.


Para penghuni istana mengikuti perintah Fang Yin dan berlarian mencari tempat berlindung. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi tetapi mendengar perintah Fang Yin yang terdengar panik, mereka berhamburan seperti semut yang terciprat oleh air.


Dua naga yang menjaga portal terlihat sangat marah dan turun untuk menyerang istana. Mereka tidak terima saat portal dimensi yang mereka buat harus tersegel dan tidak mungkin untuk dibangkitkan lagi.


Kedua naga tidak bisa kembali ke dimensi naga setelah portal dimensi terkunci. Mereka memilih untuk membalaskan dendamnya dan bertarung hingga mati melawan Fang Yin.


'Yang Hui! Bersiaplah! Kita harus bersatu untuk mengalahkan binatang roh naga pengacau itu.' Fang Yin memanggil Yang Hui.


'Baik, Yang Mulia."


Tubuh Fang Yin berubah menjadi naga seutuhnya lalu bergerak cepat menyongsong binatang roh naga. Dia tidak ingin naga itu turun dan menghancurkan istananya. Sebelum binatang roh naga menyerangnya, Fang Yin melakukan serangan terlebih dahulu untuk menahannya.


Jian Heng juga melakukan serangan dengan kristal naga pendampingnya. Dia tidak menyatu dengan binatang roh yang didapatkannya melainkan hanya memanfaatkan kekuatannya saja.


Kristal energi roh naga yang dimiliki oleh Jian Heng berpadu dengan elemen petirnya. Roh naga yang terbentuk memiliki kekuatan yang setara dengan binatang roh asli yang berada dalam tingkat atas. Walaupun hanya roh naga tetapi dia sangat agresif untuk menyerang lawan yang diberi tanda oleh pemiliknya.


Fang Yin dan roh naga Jian Heng menyerang dua binatang roh naga yang terus menyemburkan api. Untuk menghindari kerusakan, Fang Yin dan Jian Heng memancing mereka untuk bertarung menjauh dari istana dan pusat kota. Lemparan energi yang terlepas bisa saja menyasar dan menghancurkan apa saja yang terkena olehnya.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin kalian tahu jika kami akan datang menyerang ke tempat ini?" tanya salah satu binatang roh yang berhadapan dengan Fang Yin. Suaranya terdengar seperti seorang kakek tua yang tengah renta.


Binatang roh yang lain bertarung melawan Jian Heng di tempat berbeda. Mereka tidak saling mengobrol karena tidak saling mengenal.


"Aku seperti tidak asing dengan dirimu. Oh, aku ingat, kamu adalah naga kejam yang hampir saja membuatku mati saat aku tiba di dimensi naga. Sangat mudah bagiku untuk tahu serangan yang kalian rencanakan dan tidak perlu kamu tanya bagaimana aku mengetahuinya." Fang Yin berbicara sambil terus melakukan serangan. Dia tidak akan terkecoh dengan tipuannya.


"Oh, jadi kamu manusia lemah yang bodoh itu? Rupanya kamu seorang naga juga." Binatang roh naga berbicara dengan sombongnya.


"Benar aku lemah. Sangat lemah tapi percayalah setelah ini kamu akan mati di tanganku." Fang Yin bergerak mundur untuk mengambil jeda.


Binatang roh tua tertawa dengan lantang. Aura energi di tubuhnya lebih besar dari aura energi yang dimiliki oleh Fang Yin. Ucapan Fang Yin dianggap sebagai omong kosong belaka.


Semburan api yang sangat besar keluar dari mulut binatang roh naga menyambar tubuh Fang Yin dan membuat tubuhnya tak terlihat terbungkus api. Binatang roh naga berpikir jika lawannya telah terbakar oleh api merah tingkat atas miliknya.


Perlahan api yang menyelimuti tubuh Fang Yin berubah warna menjadi hitam. Api berwarna merah milik binatang roh naga telah menghilang dan dilahap habis olehnya. Wujud Fang Yin pun berubah menjadi naga emas yang lebih besar dan memiliki sebuah mahkota yang bersinar terang di kepalanya.


"Dewi Naga!" seru binatang roh naga mendadak kehilangan kesombongannya.


Seberapa keras dia berusaha tidak akan ada artinya bagi Dewi Naga. Tidak ada pilihan lain bagi binatang roh naga selain bersiap untuk menerima kematiannya.


"Kamu terkejut? Ayo serang atau aku yang akan menyerangmu sekarang?" Fang Yin bergerak memutari tubuh binatang roh naga.


Binatang roh naga tidak bergerak sedikitpun.


"Bunuh saja aku. Anggap ini sebagai balasan atas kesombonganku selama ini. Aku tidak akan melawanmu lagi setelah ini." Binatang roh naga terlihat pasrah.


Fang Yin tidak langsung percaya dengan kata-katanya. Bisa saja apa yang dikatakannya adalah sebuah trik agar lawannya menurunkan kewaspadaan terhadapnya.


Di tempat lain Jian Heng berhasil mengalahkan binatang roh yang menjadi lawannya. Dia sedang berusaha untuk mengumpulkan esensinya hingga membentuk sebuah kristal roh.


"Kata-kata yang manis. Di mana ancaman yang kamu tunjukkan padaku? Apakah kamu pikir aku mudah percaya? Jawabannya adalah tidak. Kak Ahlin orang yang aku percaya saja memiliki niat yang buruk apa lagi dirimu yang bukan siapa-siapa untukku."


Fang Yin meluapkan kekesalannya pada binatang roh naga.


"Aku hanya menjalankan perintah. Pangeran Ahlin hanya boneka. Dia dikendalikan oleh ibunya. Kamu salah telah berpikir jika ibunya tidak terlibat dalam teknik terlarang yang menjebakmu," jelas binatang roh naga.


"Aku tidak peduli. Formasi empat penjuru mata angin telah menutup portal dimensi naga dan dunia manusia secara permanen. Tidak ada kekuatan apapun yang bisa membukanya."


Binatang roh naga semakin tak berdaya dan terus menunduk. Harapannya untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di hadapan rajanya harus pupus. Seluruh penghuni dimensi naga pun tidak akan menang melawan Dewi Naga meskipun mereka bergerak bersama-sama.


"Aku melihat kesetiaan dalam sorot matamu tetapi sayang, kesetiaan itu tidak kamu tujukan padaku. Mungkin keputusanku begitu kejam tetapi hidup di tengah-tengah manusia juga hasilnya akan sama bagimu. Maaf, aku harus membunuhmu." Fang Yin mengeluarkan sebuah bola energi dan melepaskannya ke tubuh binatang roh naga.


Tubuh binatang roh naga hancur tak bersisa menjadi ledakan cahaya yang berpendar dan turun berhamburan di angkasa. Fang Yin sengaja tidak mengambil kristal rohnya dan membiarkan jiwanya bebas menentukan tempatnya bernaung.


Cahaya jiwa binatang roh yang terbunuh oleh Fang Yin melesat ke langit dan menghilang bersama bintang.


Jian Heng yang telah selesai terlebih dahulu bergerak menghampiri Fang Yin. Mereka turun dengan tubuh yang telah kembali menjadi manusia.


"Mengapa kamu tidak mengambil esensi energi dari binatang roh yang kamu taklukkan?" tanya Jian Heng.


"Aku menghormati kesetiaannya. Semoga jiwanya bisa memilih kepada dirinya akan mengabdi setelah dia dibangkitkan kembali."


Jian Heng mengangguk menghargai keputusan Fang Yin.


Di halaman aula istana tampak sepi. Ketika Fang Yin dan JIan Heng turun ke sana, hanya tersisa keluarga inti mereka. Penghuni lain telah kembali ke kediaman masing-masing untuk mengamankan keluarga dan harta benda mereka untuk berjaga-jaga jika hal yang buruk mungkin saja terjadi.


"Yin'er, Heng'er! Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Selir Tang dan Selir Ning hampir berbarengan.


"Kami baik-baik saja, Ibu." Fang Yin menyentuh tangan calon ibu mertuanya.


Mereka terharu dengan perjuangan Fang Yin dan Jian Heng. Dua orang yang seharusnya mendapatkan perlindungan.


Selir Shi masih terlihat fokus mengobati Tian Feng yang mulai membaik.


"Aku kembali, Ibu." Fang Yin mendekati Selir Shi dan membantunya berdiri.


Pengobatan Tian Feng telah selesai sesaat sebelum Fang Yin menghampirinya.


"Anak nakal, sampai kapan kamu akan membuat ibumu ini khawatir. Calon pengantin seharusnya tidak keluar kamar tanpa pengawalan." Selir Shi melanjutkan omelannya yang tertunda.


Semua orang tertawa mendengarnya. Fang Yin tidak membalas sedikitpun kata-kata ibunya. Dia hanya menunjukkan ekspresi terintimidasi. Jika sudah begitu, Yu Ruo akan datang untuk membelanya.


Perdebatan kecil antara Selir Shi dan Yu Ruo mengiringi perjalanan mereka menuju ke kamar masing-masing. Mereka berpisah saat menemukan persimpangan hingga yang tersisa hanya Fang Yin dan Jian Heng.


"Aku berharap tidak ada lagi peristiwa yang membuat hidup kita kacau. Upacara pernikahan kita harus tetap dilaksanakan, Yin'er." Jian Heng terlihat sangat kesal.


"Apa yang membuatmu bicara seperti itu, Kak Heng? Siapa juga yang ingin membatalkan pernikahan," sungut Fang Yin dengan bibir yang mengerucut.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2