
Malam ini, Kaisar Ning merasa sangat puas karena mendapatkan beberapa orang korban sekaligus. Tidak ingat secara pasti jumlah yang telah didapatnya tetapi kesempurnaan itu semakin dekat.
Sebelum dia kembali ke istana, dia membersihkan tubuhnya dari noda-noda darah yang menempel. Tidak lupa dia juga mengganti pakaiannya karena terkoyak di beberapa bagian.
Setiap kali Permaisuri Ning menanyakan tentang penampilannya yang berbeda, Kaisar Ning selalu menjawab jika dirinya merasa gerah dengan pakaian sebelumnya. Begitu juga dengan hari ini.
Permaisuri Ning pun tidak banyak bertanya lagi dan memilih untuk tidur mengingat hari masih malam.
Pagi hari di istana Kekaisaran Benua Timur,
Ning Yao Xi datang tergesa menuju ke istana ayahnya. Dirinya mendapat beberapa laporan dari beberapa pemimpin di daerah yang menyatakan tentang kematian misterius beberapa penduduknya.
Tidak ada yang mengetahuinya penyebab kematian mereka. Rata-rata korbannya memiliki luka cakar dan sebagian lain tubuh mereka terbakar.
Ning Yao Xi datang ke hadapan ayahnya yang sedang duduk bersantai di sebuah bangku yang menghadap ke taman. Tidak ada siapapun di sana selain dua orang dayang yang menemaninya minum.
"Selamat pagi, Ayah!" sapa Ning Yao Xi sambil menyatukan kedua tangannya memberi hormat.
"Kesejahteraan selalu menyertaimu." Kaisar Ning membalasnya dengan kalimat kebaikan.
"Ada apa pagi-pagi mendatangiku? Bukankah setelah ini kita akan bertemu di rapat istana?" Kaisar Ning menatap heran putranya yang terlihat sangat cemas.
"Aku tidak ingin membuat heboh ruang rapat dengan kabar yang aku bawa, Ayah. Sebelum aku menemukan pelakunya, aku tidak ingin mengatakannya kepada siapapun selain ayah," jelasnya.
__ADS_1
Perkataan Ning Yao Xi membuat Kaisar Ning semakin tidak mengerti. Menurutnya putranya itu terlalu berbelit dengan ceritanya.
Sadar akan tatapan tidak sabar ayahnya, Ning Yao Xi segera mengatakan maksud dan tujuannya.
"Beberapa penduduk yang tinggal tidak jauh dari istana mati secara mengenaskan, Ayah. Aku ingin meminta pendapatmu tentang bagaimana cara mengatasinya. Haruskah aku dan Shen'er pergi langsung untuk memeriksa kejadian ini?" tanya Ning Yao Xi.
Sebenarnya Kaisar Ning terkejut dengan berita ini. Namun, dia berusaha bersikap biasa dan menghadapi putranya itu dengan tenang.
"Kamu tidak perlu memikirkan masalah sepele seperti ini. Aku pikir ini bisa jadi merupakan jebakan dari musuh yang sengaja mengganggu. Dengan kewaspadaan kita yang terganggu mereka akan mudah memporak-porandakan pasukan kita," jelas Kaisar Ning.
"Cukup masuk akal, Ayah. Aku hanya tidak ingin korban terus baru berdatangan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat." Ning Yao Xi berusaha meyakinkan ayahnya agar mengijinkannya pergi.
Sebanyak apapun alasannya, Kaisar Ning tetap tidak mengijinkan Ning Yao Xi pergi.
Merasa tidak mendapatkan dukungan dari ayahnya, Ning Yao Xi berpamitan untuk pergi dari sana. Dia ingin pergi mencari Ning Mu Shen untuk membicarakan masalah ini.
Dia ingin mengurus masalah ini tanpa mengganggu jadwal latihan dan persiapan pasukan untuk menghadapi kedatangan pasukan pemberontak yang tidak pasti kapan akan datang.
Ning Mu Shen sedang berlatih di halaman belakang istananya ketika Ning Yao Xi datang. Mereka kemudian mengobrol untuk membicarakan masalah ini.
Sifat Ning Mu Shen tidak jauh berbeda dengan sifat sang ayah. Dia memiliki sifat acuh dan tidak peduli. Jiwa sosialnya sangat rendah dan menganggap kakaknya terlalu baik dan membuang-buang waktu saja.
Merasa tidak ada yang memihaknya, Ning Yao Xi pun ikut menyerah. Dia merasa bimbang untuk mengusut masalah ini sendirian. Tanpa dukungan mereka, rasanya akan sulit untuk mengatasi masalah yang terjadi.
__ADS_1
Malam hari,
Ning Yao Xi mencari udara segar dengan duduk di atas atap istananya. Malam itu cuaca sangat cerah dan menampakkan bulan sabit yang menerangi langit.
Lelah duduk, Ning Yao Xi pun membaringkan tubuhnya di atas atap yang sama. Posisinya saat ini membuatnya tidak terlihat dari sisi manapun.
Di tengah lamunannya, dia mendapati seseorang tengah melintas di udara. Meskipun tidak melintas dalam jarak yang dekat tetapi Ning Yao Xi bisa melihatnya.
Ning Yao Xi berinisiatif untuk mengikutinya diam-diam. Untuk menghindari ketahuan, dia mengambil jarak aman dalam misinya.
Target yang diikutinya tidak merasakan kedatangannya. Ning Yao Xi terus waspada agar bisa menangkap basah apa yang dilakukan oleh pria misterius tersebut.
Setelah sampai di luar istana, Ning Yao Xi bisa bergerak lebih leluasa dan menyembunyikan kehadirannya dengan baik.
Pria misterius itu pergi menuju ke sebuah desa yang berada cukup jauh dari istana. Gerakannya begitu cepat sehingga membuat Ning Yao Xi sedikit memiliki perjuangan agar tidak kehilangan jejaknya.
Ning Yao Xi berhenti ketika melihat pria misterius itu sedang mengintai penduduk desa yang sedang berbincang di tepi jalan.
'Siapa dia dan apa yang akan dilakukannya malam-malam begini? Tidak mungkin seorang anggota istana pergi ke luar untuk merampok harta penduduk desa yang tidak seberapa.' Ning Yao Xi bertanya-tanya dalam hati.
****
Bersambung ....
__ADS_1