
Xiao Chang sangat marah ketika dirinya merasa diacuhkan. Dia menyerang penjahat dengan pedangnya.
Awalnya penjahat menyepelekan kemampuannya dan melawannya dengan santai. Setelah menyadari kemampuan pedang Xiao Chang begitu hebat, dia mengambil langkah serius untuk menghadapinya.
"Hebat juga kamu, Anak Muda. Kupikir kamu masih bocah ingusan. Ternyata kemampuanmu boleh juga."
Penjahat memuji tanpa rasa tulus tetapi ungkapan itu adalah sebuah pengakuan yang jujur. Beberapa kali dia hampir mati tersabet pedang Xiao Chang.
"Pujianmu tidak akan menyelamatkanmu dari kematian. Aku sangat berterimakasih untuk itu tetapi tetap saja kamu harus mati. Hiyahh!" Xiao Chang mempercepat gerakannya dengan ayunan pedang yang hampir tidak tertebak oleh lawan.
Luka menganga menyebarkan aroma darah segar dari tubuh penjahat. Namun, dia tidak menyerah dan terus membalas serangan Xiao Chang.
"Aku tidak suka dengan kekalahan. Terima ini!"
Penjahat mengerahkan energi yang besar dari dalam tubuhnya. Energi yang keluar dari tangannya melesat cepat ke arah Xiao Chang.
Terlambat sedikit saja maka Xiao Chang akan mati atau paling tidak terluka parah. Beruntung dia melompat dengan cepat hingga membuat serangan energi penjahat hanya menyentuh ujung kakinya.
Penjahat kembali menyerangnya dan mengarahkan energinya ke udara tempat dirinya berada saat ini. Serangan itu kembali mengenai tempat kosong.
Tiba-tiba dari arah belakang seseorang juga menyerang Xiao Chang. Serangan orang itu menghantam punggungnya hingga membuatnya terpental dan menubruk musuh pertamanya.
Mereka jatuh saling bertumpuk lalu Xiao Chang menghantamkan kepalan tangannya kuat-kuat ke kepalanya dengan aliran Qi. Penjahat itu meregang nyawa akibat pukulannya tetapi dia tidak bisa bersenang-senang mengingat pria yang menyerangnya menodongnya dengan pedang.
Ujung pedang pris bengis itu menggores lehernya. Dia akan mati dengan sekali tusuk. Xiao Chang tidak bergerak untuk menghindari luka yang lebih serius.
Tangan kanan Xiao Chang menyentuh sesuatu yang tidak lain adalah kantong perhiasan hasil rampasan penjahat yang telah mati. Dengan gerakan tak terlihat tangannya melemparkan kantong ke wajah penjahat yang sedang menekannya dengan pedang.
Penjahat yang dilempar menyadari sebuah benda melesat ke arahnya. Dengan gerakan cepat di mengayunkan pedangnya ke arah kantong yang terbang ke arahnya. Kantong perhiasan pecah dan membuat isinya berhamburan di tanah.
Mata penjahat membelalak melihat harta benda yang dikumpulkan temannya berserakan di tanah.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Xiao Chang. Pemuda ini berguling ke samping dan meraih pedangnya.
Tangan yang memegang pedang diinjak dengan kuat oleh penjahat. Tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membunuh Xiao Chang lagi, dia mengayunkan pedangnya lalu mengarahkan ujung pedangnya ke arah dadanya.
Pedang penjahat melesat dengan cepat ke arah jantung Xiao Chang. Dengan aliran Qi penjahat menusuknya dengan kuat.
"Mati Kau, Bocah!" seru penjahat dengan senyum kemenangan.
Pedang penjahat menghantam sesuatu yang keras dan membuat penjahat terpental ke belakang.
Xiao Chang sendiri terkejut melihat kejadian ini. Kalung peninggalan ayahnya melindunginya dari serangan mematikan yang hampir merenggut nyawanya.
'Ayah! Kalung ini melindungiku. Sebenarnya kalung apa ini?' Xiao Chang larut dalam keheranan.
Penjahat masih mencoba menguasai dirinya. Dia merasa sebuah kekuatan besar mendorongnya dengan kuat. Tubuhnya seperti mati rasa akibat serangan tak terlihat dari energi asing yang menghantamnya.
"Terima ini!" Xiao Chang mengayunkan pedangnya ke arah penjahat.
Penjahat mencoba membalas dengan menggerakkan tangannya untuk menyambut serangan Xiao Chang. Sayangnya gerakannya melambat seperti ada yang menahannya. Alhasil, pedang Xiao Chang menebas tangan kaku penjahat.
Teriakan keras terdengar di tangah keheningan malam. Derita yang lebih menyakitkan dari sebuah kematian. Satu persatu bagian tubuh penjahat terpotong dengan cepat.
Xiao Chang meninggalkannya dan membiarkannya mati karena kehabisan darah. Dia lalu melesat pergi mencari anggota penjahat yang lain.
Semua penjahat mati di tangannya. Penduduk kota yang semula memandangnya sebelah mata kini mulai memberinya panggung. Mereka tidak menyangka pemuda yatim itu memiliki kemampuan bela diri yang patut diacungi jempol.
Semua pujian dan penghargaan tidak berarti apa-apa bagi Xiao Chang. Dia tidak menginginkannya.
"Terimakasih, Xiao Chang. Kamu adalah penyelamat kami!" seru salah seorang penduduk.
"Ini hanya kebetulan saja. Aku tidak sehebat yang kalian pikirkan. Malam semakin larut, aku ingin pergi beristirahat. Sampai jumpa."
Xiao Chang pergi meninggalkan penduduk yang masih ingin berbicara banyak dengannya. Mereka tidak menyerah dan mengikuti Xiao Chang berjalan di belakangnya.
Sebenarnya Xiao Chang mengetahuinya tetapi dia pura-pura tidak melihat. Dia tidak suka dielu-elukan oleh orang banyak. Menurutnya kehebatan tidak perlu ditunjukkan agar tidak memancing kecemburuan.
Sesampainya di rumah, Xiao Chang segera masuk dan mengunci pintu rumahnya dari dalam. Bukan bermaksud tidak sopan, dia benar-benar tidak ingin berbicara hal yang tidak penting dengan semua orang.
"Kamu sudah kembali, Chang'er?"
Kakek Xiao Chang sedang duduk di depan sebuah meja yang penuh dengan makanan. Pria tua itu sangat pandai memasak.
"Waaah, kelihatannya ini sangat lezat."
Xiao Chang bersiap untuk duduk tetapi kakeknya mencegahnya dengan isyarat tangan.
"Aku mual melihat darah yang menempel di bajumu. Pergilah menggantinya terlebih dulu. Aku akan menunggumu sampai kamu datang."
Xiao Chang meringis menatap tubuhnya sendiri. Tubuhnya memang sangat kotor. Tidak salah jika kakeknya merasa jijik.
"Baiklah! Aku pergi sebentar."
Xiao Chang pergi membersihkan diri dengan cepat lalu kembali ke hadapan kakeknya dengan tubuh yang bersih. Dia mengambil makanan dengan cepat lalu memakannya dengan sangat rakus.
"Kamu terlihat seperti orang yang terkena busung lapar. Makanlah dengan pelan, Chang'er. Jangan seperti itu, tidak baik."
"Hmm." Xiao Chang menjawabnya dengan anggukan mengingat mulutnya yang penuh dengan makanan.
Selama tinggal di hutan dia tidak bisa makan dengan baik. Diam-diam dia telah melatih jurusnya hingga menjadi sehebat sekarang. Keberaniannya patut diberi apresiasi mengingat dia bukan siapa-siapa saat pergi memasuki hutan.
Makan malam selesai. Seluruh makanan yang ada di meja telah berpindah ke dalam perut Xiao Chang dan kakeknya. Mereka tidak lantas tidur mengingat perutnya yang masih merasa begah.
Mereka mengobrol santai membahas kegiatan keduanya ketika tidak bersama. Xiao Chang dengan perjuangannya dan kakeknya dengan kebunnya. Cerita sederhana yang membuat mereka saling mengisi satu sama lain.
Tiba-tiba Xiao Chang teringat sesuatu. Tangannya menyentuh dadanya dan mengeluarkan kalung peninggalan ayahnya. Sebuah liontin giok berbingkai emas berbentuk matahari menggantung di lehernya.
"Kakek, bolehkah aku bertanya sesuatu."
__ADS_1
Kakek Xiao Chang mengangguk. Mendadak wajahnya berubah menjadi tegang.
"Liontin ini menyelamatkanku malam ini. Sebenarnya seperti apa ayahku dan dari mana dia berasal?" Xiao Chang menatap kakeknya sejurus.
Kakek Xiao Chang menghela nafas dalam. Wajahnya menampakkan ekspresi yang serius. Sebelum mulai berbicara dia mengambil cangkirnya lalu menenggak habis isi di dalamnya.
"Ayahmu seorang yatim piatu. Saat aku menemukannya dia masih bayi. Sedangkan ibumu adalah putri kandungku. Aku tidak tahu dari klan mana ayahmu berasal. Kalung itu satu-satunya petunjuk yang bisa digunakan untuk menelusuri identitasnya."
Xiao Chang menatap wajah kakeknya tidak percaya. Dia merasa masih ada yang disembunyikan oleh kakeknya.
"Aku akan melakukan perjalanan besok untuk mencari keluarga ayahku."
Pernyataan Xiao Chang membuat kakeknya merasa bingung. Dia tahu jika cucunya itu memiliki sifat yang keras. Xiao Chang tidak pernah main-main dengan kata-katanya.
"Sebenarnya ...." Kakek Xiao Chang terjeda.
Xiao Chang menatap kakeknya dalam. Hatinya bersorak. 'Ayo katakan, Kek. Akhirnya kakek terpancing juga.'
"Ayahmu dulu pernah mencari tahu tentang asal usulnya." Kakek Xiao Chang kembali berhenti.
Xiao Chang semakin tidak sabar untuk mendengar kelanjutan ceritanya.
"Saat ayahmu lulus dari akademi, kira-kira dia berusia delapan belas tahun, dia meminta ijin padaku untuk pergi mencari tahu tentang keluarganya. Kurang lebih dia pergi selama lima tahun."
"Apakah ayah menemukan keluarganya?" tanya Xiao Chan, dia tidak bisa menahan dirinya lagi.
Kakek Xiao Chang mengangguk.
Mata Xiao Chang membelalak menatap kakeknya. Rasa penasarannya semakin bertambah mengingat kakeknya hanya bercerita sepotong demi sepotong.
Kakek Xiao Chang mengambil sesuatu dari balik lengan bajunya. Sebuah gulungan kecil berhias benang emas berada di tangannya.
"Apa ini, Kek?" tanya Xiao Chang saat menerima benda itu.
Kakek Xiao Chang tidak mengatakan apa-apa. Dia memberinya isyarat untuk membukanya.
Xiao Chang membukanya dengan hati-hati. Gulungan itu adalah sebuah kain yang mirip seperti sebuah sapu tangan. Di tengah-tengah kain terdapat sebuah tulisan.
"Gu Tian An."
Jantung Xiao Chang seperti genderang perang yang ditabuh dengan cepat. Secara tidak langsung dirinya adalah keturunan Klan Gu yang terpisah dari keluarga besarnya.
Kakeknya kembali bercerita bahwa selama hidupnya dia diam-diam membantu Kaisar Gu tanpa membuka identitasnya. Kakek Xiao Chang tidak tahu mengapa bayi Tian An bisa berada di tepi hutan saat ditemukannya.
Tubuh Xiao Chang menjadi lemas. Berita yang diterimanya ini membuatnya tidak berdaya. Dirinya senang saat mengetahui kenyataan bahwa dirinya adalah keturunan Klan Gu. Namun, dirinya merasa sedih karena keluarganya telah habis dibantai oleh Kaisar Ning dan hanya tersisa Fang Yin dan Tian Feng saja.
Malam semakin larut, kakek Xiao Chang meminta cucunya untuk beristirahat. Keadaan Xiao Chang seperti orang yang linglung. Dengan telaten dia membawanya ke kamar untuk beristirahat.
'Maafkan kakek. Seharusnya aku tidak perlu menceritakan semua padamu dan tetap merahasiakannya. Namun, semuanya telah terlanjur. Semoga kamu segera mengatasi keadaan ini.'
Kakek Xiao Chang meninggalkannya setelah melihat cucunya terlihat lebih tenang. Di luar kamar Xiao Chang, kakek tua itu menangis. Dia merasa takut kehilangan Xiao Chang seperti dia telah kehilangan kedua anaknya.
***
Lelaki tua itu menggeleng. Xiao Chang selalu bangun siang jika tidak dibangunkan olehnya. Kebiasaan ini tidak membuatnya merasa keberatan karena dia sangat menyayanginya.
Tubuh renta kakek Xiao Chang berjalan lambat menghampiri kamar Xiao Chang. Tangannya mengulur ke depan lalu mendorong pintu kamar dengan perlahan. Tidak ingin membuat cucunya terkejut, kakek Xiao Chang membukanya dengan hati-hati.
"Chang-er ...." Ucapannya terhenti saat melihat kamar itu telah kosong.
Xiao Chang tidak tinggal lagi di sana. Hatinya serasa remuk merasa kehilangan cucu satu-satunya pergi tanpa sepengetahuannya.
"Aku tahu kamu tidak ingin menatap wajah sedihku tapi seharusnya kamu membiarkanmu menatap punggungmu."
Tangan kakek Xiao Chang meraih selimut Xiao Chang dan mendekapnya. Aroma tubuh Xiao Chang masih sangat jelas, dia menghirupnya dalam-dalam dan merasakan kehadiran cucunya yang telah pergi.
Ranjang bekas tidurnya pun masih terasa hangat menandakan jika Xiao Chang belum pergi jauh dari sana.
Kesedihannya tidak akan membawa Xiao Chang kembali. Hal yang bisa dilakukannya saat ini adalah bertahan untuk hidup dan menanti cucunya itu kembali padanya.
Di tempat yang berbeda,
Xiao Chang pergi dengan cepat dengan cara melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini, dirinya tetap akan pergi untuk menemui Gu Fang Yin dan melihat dua orang anggota Klan Gu yang tersisa.
Hanya mereka dan kakeknya saja yang dia miliki saat ini. Kedatangannya bukan untuk mengharapkan kekuasaan atau kemuliaan, niatnya jauh dari itu. Xiao Chang datang hanya untuk melihat tempat tinggal nenek moyangnya di masa lalu.
"Kakek, maafkan aku." Xiao Chang menoleh ke belakang lalu kembali bergerak.
"Aku tidak sabar ingin sampai di Kekaisaran Benua Timur. Putri Gu pasti tidak akan mengenaliku. Aku akan menyamar menjadi orang yang ingin melamar kerja sebagai seorang pelayan agar aku bisa masuk ke dalam istana." Xiao Chang berbisik pada dirinya sendiri.
Hari masih sangat pagi, saat dia pergi meninggalkan Kota Qiong, belum ada penduduk yang pergi keluar rumah. Tidak ada yang tahu akan kepergiannya. Kini Xiao Chang telah mencapai perbatasan kota.
Tidak ingin mengambil banyak resiko, Xiao Chang memilih pergi melalui jalur perdagangan. Dengan mengikuti rute para pedagang maka dia tidak akan tersesat dan bisa mencapai ibukota dengan selamat.
Butuh waktu sekitar dua hari dengan berjalan kaki untuk sampai di ibukota Kekaisaran Benua Timur. Waktu itu dihitung dengan jeda istirahat di malam hari. Dia bisa sampai lebih cepat jika dia berjalan tanpa istirahat tetapi rasanya mustahil.
Keluar dari Kota Qiong, Xiao Chang memasuki wilayah perbukitan batu mulia. Banyak sekali lubang galian yang dibuat oleh para penambang yang tersebar di kanan kiri jalan. Jika tidak berhati-hati maka seseorang bisa tergelincir dan jatuh ke jurang.
Setelah melewati wilayah perbukitan dan pinggiran hutan, dia akan menemukan sebuah desa. Di sana dia bisa beristirahat sejenak untuk mengisi perutnya dan membeli sejumlah perbekalan.
Penduduk desa tidak ada yang mengenalnya. Mereka biasa bertemu dengan para pendatang dan pedagang yang melintas sehingga mereka tidak banyak bertanya.
Setela peperangan berakhir, roda ekonomi belum berjalan dengan normal. Para penduduk merasa was-was untuk beraktifitas seperti sedia kala. Mereka masih berbenah dan menunggu aturan baru dari pemimpin baru.
Pedagang yang biasanya ramai berjualan di sepanjang jalan, kini hanya segelintir saja. Hanya ada dua orang yang berjualan makanan di sebuah kedai membuatnya sedikit kewalahan melayani pembeli yang datang.
Xiao Chang mengantri.
Perbincangan orang-orang di sekelilingnya begitu menarik perhatiannya. Dari mereka Xiao Chang mendengar beberapa informasi penting tentang bagaimana keadaan istana Kekaisaran Benua Timur saat ini. Setidaknya dirinya memiliki gambaran meskipun tidak sepenuhnya berita itu benar.
__ADS_1
Sebagai keluarga yang hidup sederhana, Xiao Chang tidak memiliki banyak uang. Dia hanya memiliki sekantong koin perak yang dia kumpulkan cukup lama dari hasil menjual sayuran dan kayu bakar. Untuk itu dia memilih makanan yang paling murah dan memakannya seorang diri di sudut kedai.
Bersama kakeknya dirinya bisa makan enak karena kakeknya memelihara beberapa unggas dan menanam sayur di kebun miliknya. Mereka tidak harus membeli semua yang dibutuhkan. Xiao Chang dan kakeknya menjual kelebihan sayuran dan hasil peternakan untuk membeli sesuatu yang tidak mereka miliki.
Hidup tanpa orang tua sejak kecil membuatnya mengerti bagaimana caranya berhemat. Dirinya bukan seorang anak manja yang hanya menggantungkan hidup kepada kakeknya. Seringkali dia pergi ke hutan mencari kayu bakar dan jamur kering untuk dijual.
"Apa yang kamu lakukan di situ, Anak Muda? Kemarilah, duduklah bersama kami!" panggil seorang pria yang sedang makan siang bersama keluarganya.
"Tidak, terimakasih, Tuan. Makananku sudah hampir habis." Xiao Chang menolaknya secara halus.
"Hmm." Pria itu mengangguk. Dia tidak bisa memaksa Xiao Chang yang duduk menyedihkan di pojok kedai.
Anak gadisnya kira-kira berumur sepuluh tahun lebih muda dari Xiao Chang yang saat ini berusia sembilan belas tahun. Dia berjalan mendekati Xiao Chang dan menambahkan beberapa makanan ke mangkuk Xiao Chang.
"Hei, apa yang kau lakukan." Xiao Chang menatap kedua orang tua gadis itu dengan perasaan tidak enak.
Orang tua gadis itu memiliki wajah yang teduh. Belas kasih tergambar jelas di mata mereka. Sepertinya anak gadis itu memiliki sifat baik yang menurun dari mereka.
"Tidak apa-apa. Jangan membuat Jia Lin menangis. Hatinya sangat lembut," ucap ibu Jia Lin.
"Terimakasih, Nyonya. Terimakasih Jia ...." Xiao Chang mengingat-ingat. Ibu Jia Lin berkata dengan sangat lembut sehingga membuat ucapannya kurang begitu jelas.
"Jia Lin. Namaku Jia Lin. Kakak siapa?"
"Namaku Xiao Chang."
"Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi, Kakak." Jia Lin melirik liontin Xiao Chang yang sedikit menyembul.
"Hmm." Xiao Chang mengangguk.
Mereka kembali menikmati makanannya. Xiao Chang selesai lebih dulu karena dia tidak ingin berlama-lama singgah. Perjalanannya masih sangat jauh.
Xiao Chang berpamitan kepada keluarga itu lalu pergi dari kedai dengan langkah yang ringan. Tenaganya terisi kembali dan memungkinkannya bergerak dengan lincah.
***
Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya Xiao Chang sampai di ibukota Kekaisaran Benua Timur. Matanya disuguhkan dengan pemandangan yang berbeda dari seluruh kota yang pernah dikunjunginya sebelumnya.
Hari sudah hampir gelap. Tidak mungkin Xiao Chang pergi ke istana malam ini. Keesokan harinya dia baru akan pergi ke sana.
Xiao Chang berkeliling untuk mencari penginapan. Keadaan di ibukota sudak kembali normal. Para penduduknya sudah melakukan aktifitasnya seperti biasanya.
Banyak sekali penjual makanan yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Mereka menjual berbagai makanan dengan berbagai jenis. Aromanya menyebar ke seluruh sudut kota membuat orang berlomba-lomba untuk menemukan makanan yang disukainya.
Xiao Chang meraba isi kantong koinnya. Masih ada cukup banyak isinya tetapi dia tidak ingin terlalu boros. Dia belum tahu hari-harinya yang akan dijalaninya setelah ini.
"Kamu ingin membeli apa, Nak?" tanya penjual makanan tempat di mana Xiao Chang berdiri.
Xiao Chang yang sedang melamun terlihat gelagapan saat mendapat pertanyaan sang pedagang. Dia kemudian menunjuk sebuah kue dan satu tusuk makanan.
Pedagang itu menyebutkan jumlah yang harus dibayar olehnya. Menurutnya ini terlalu mahal tetapi dia terlanjur membeli. Mau tidak mau Xiao Chang pun membayarnya.
'Harga makanan di ibukota sangat mahal. Koin yang aku miliki hanya cukup untuk makan beberapa hari saja. Aku harus memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan uang jika istana tidak sedang mencari pelayan baru.'
Xiao Chang memandangi makanan yang ada di tangannya. Rasa takut menghinggapi hatinya. Ketakutan membayang di mana dirinya akan hidup terlunta-lunta di tempat yang tidak dikenalnya.
Untuk berhemat, Xiao Chang mengurungkan niatnya untuk menginap di penginapan. Dia memilih tidur di alam terbuka demi bisa bertahan hidup lebih lama.
Tubuhnya terasa sangat lelah. Xiao Chang duduk bersandar pada sebuah pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Tempat itu terlihat sepi dan sedikit jauh dari pemukiman penduduk. Dia tidak tahu jika di belakang tempat peristirahatannya adalah istana Kekaisaran Benua Timur.
Tidak banyak pengawal yang berjaga dan berpatroli di istana mengingat pembenahan belum selesai dilakukan. Sebagian besar pasukan pendukung Fang Yin telah kembali ke negara mereka masing-masing. Hanya tinggal pasukan dari suku es dan bukit Giok Hitam saja yang tinggal di sana.
Yu Ruo dan Selir Shi baru saja kembali dari kios obat. Mereka mencari bahan ramuan yang diminta oleh Fang Yin. Keduanya berjalan melewati pohon yang menjadi tempat peristirahatan Xiao Chang.
Orang yang pertama kali melihatnya adalah Yu Ruo. Selir Shi baru menyadari keberadaan Xiao Chang setelahnya.
"Siapa dia, Ibu? Kasihan sekali," ucap Selir Shi merasa iba.
"Aku tidak tahu. Mungkin dia adalah orang yang terusir atau mungkin tidak memiliki keluarga lagi setelah keluarganya pergi menjadi korban peperangan."
Selir Shi berjalan mendekati Xiao Chang. Jiwa sosialnya sangat tinggi, dia tidak bisa melihat penderitaan orang lain di depan matanya.
"Anak Muda, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Selir Shi.
Xiao Chang yang belum begitu pulas dengan tidurnya segera membuka matanya yang sangat mengantuk dan memastikan suara yang baru saja didengarnya bukan ilusi atau mimpi.
Samar-samar dia melihat bayangan dua orang wanita di hadapannya. Xiao Chang menegakkan tubuhnya lalu mengucek matanya dengan kedua tangannya.
Yu Ruo dan Selir Shi sangat terkejut saat melihat pemuda itu memiliki garis wajah yang mirip dengan Gu Tian Feng. Sedikit mirip juga dengan Kaisar Gu.
Selir Shi memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup tak menentu. Kakinya seperti tidak menapak di tanah. Barang yang dibawanya hampir jatuh jika Yu Ruo tidak segera menangkapnya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Yu Ruo. Namun, dia lebih bisa mengendalikan dirinya.
"Ibu, aku merasa sangat akrab dengan wajah ini," ucap Selir Shi lirih.
"Aku juga."
Sejenak suasana menjadi hening. Ketiganya berusaha untuk menguasai keadaan masing-masing. Mereka sama-sama terkejut dengan pertemuan ini dengan alasan yang berbeda.
Xiao Chang merasa takut jika kehadirannya di sana adalah sebuah kesalahan yang membawa nasib buruk untuknya.
"Ma-maaf, Nyonya. Aku tidak bermaksud mengacau di tempat ini. Sekali lagi aku minta maaf." Xiao Chang menyatukan kedua tangannya lalu bersiap untuk berlutut.
"Hentikan! Apa yang akan kamu lakukan?" Selir Shi mencegah Xiao Chang yang ingin berlutut.
Selir Shi menatap ibunya. Dia merasa ragu untuk bertanya.
Yu Ruo meyakinkan Selir Shi dengan anggukan.
__ADS_1
****
Bersambung ....