Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 88. Membuka Ingatan


__ADS_3

Resep pil rahasia yang menjadi sumber daya untuk mempercepat penguasaan terhadap sebuah jurus atau teknik yang tercantum di dalam sebuah kitab itu tidak sesederhana yang Fang Yin.


Sebagian besar bahan yang tertera di sana dia miliki, tetapi sebagian kecil tidak dia miliki. Bahkan baru kali ini dia mendengar namanya dan melihat gambarnya.


Fang Yin terlihat meraba gambar itu dan melihat detailnya.


Ada satu bahan yang tidak terlalu kelihatan gambarnya karena gulungan itu terlihat sangat kuno dan mungkin sudah berumur ratusan tahun.


'Aku tidak bisa membaca dan melihat gambar bahan yang terakhir. Bagaimana bisa aku membuat pil itu jika melewatkan satu bahan yang mungkin saja sangat penting.' Fang Yin mencoba berpikir sambil membawa gulungan itu berjalan mondar-mandir mengelilingi kamarnya.


Jika lantai kamarnya berumput mungkin rumput yang ada di sana mengering karena begitu banyak langkah Fang Yin yang menginjak-injaknya.


Tangannya beberapa kali berganti gaya mulai dari di letakkan di belakang punggungnya, menyentuh pipinya, memijit pelipisnya. Namun semua itu tidak membuatnya menemukan ide untuk mencari cara agar goresan pudar itu bisa kembali menjadi jelas.


Satu-satunya cara adalah membuka ingatan Fang Yin yang mungkin saja memiliki cara ini di kehidupan sebelumnya.


Sebagai seorang putri seorang kaisar tentunya dia dibekali dengan hal-hal seperti ini selain ilmu tentang tata krama yang membosankan.


Fang Yin membuka satu persatu ingatannya di masa lalu ketika masih tinggal di istana Kekaisaran Benua Timur.


Matanya terpejam hingga muncul bayangan-bayangan yang menampilkan kegiatannya sehari-hari.


'Aku merasa iri padamu, Fang Yin. Kamu memiliki keluarga yang hangat sebelum tragedi itu terjadi. Berbeda denganku yang hidup sebagai yatim piatu dan harus melewati kerasnya kehidupan bersama nenekku,' gumam jiwa Agata di dalam tubuh Fang Yin.


Setelah beberapa saat berkonsentrasi akhirnya dia menemukan sebuah teknik yang digunakan Fang Yin kecil untuk memulihkan tulisan yang hampir terhapus.


Di dalam bayangan itu, Fang Yin mencuri baca kitab rahasia ayahnya di ruang bacanya ketika dia sedang tidak ada di tempat.

__ADS_1


Jika tertangkap basah, Fang Yin selalu bilang dia sedang mencari ayahnya dan hanya melihat-lihat saja.


Suatu ketika dia tertarik pada sebuah kitab kuno yang berisi tentang beberapa teknik mengelak dari serangan yang begitu hebat. Di halaman terakhirnya, Fang Yin tidak bisa membacanya dengan jelas karena tulisannya memudar padahal itu adalah bagian terpenting dari teknik yang dia pelajari.


Putri Fang Yin terlihat menggigit ujung jarinya hingga menghasilkan luka yang meneteskan darah. Setelah itu Putri Fang Yin mengalikan Qi Cahaya Emas untuk mengalirkan darah itu pada bekas goresan yang terhapus.


Hasilnya sangat mencengangkan, goresan yang terhapus itu kembali muncul. Awalnya tulisan itu berwarna merah seperti darah. Namun setelah Putri Fang Yin mengusapnya dengan telapak tangannya yang masih mengalir Qi Cahaya Emas di dalamnya, tulisan itu berubah menjadi seperti warna tinta.


'Ajaib!' Fang Yin tersenyum lalu kembali manyun.


'Darah! Ah! Untung saja hanya sedikit saja yang terhapus kalau sampai banyak, bisa-bisa aku jadi kurang darah dan menjadi vampir. Hiii!'


Tidak ingin menunda-nunda lagi, Fang Yin segera mempraktekkan teknik yang dia temukan dari ingatan Putri Fang Yin.


Senyumnya merekah di wajah cantiknya yang sedang tidak memakai cadar ketika berada di dalam kamarnya.


'Yes! Bekerja!' Fang Yin bersorak senang melihat tulisan di dalam gulungan itu begitu juga gambar tanaman obat yang dia cari.


Satu-satunya tempat yang menjadi surga bagi tanaman obat adalah Hutan Bintang Selatan.


Hutan penuh kenangan yang menjadi tempat bersejarah baginya di mana seorang Agata Moen harus berpindah jiwa setelah kematian dan menepati raga baru dengan segala ingatan dan dendam yang dia miliki.


Masih jelas tergambar di dalam ingatannya setiap sudut yang ada di dalam hutan itu.


'Jika tidak salah ingat aku pernah melihat tanaman-tanaman ini hanya saja saat itu aku tidak tahu jika tanaman ini akan berguna. Lebih baik aku tidur sekarang. Aku bisa memikirkannya besok pagi.'


Fang Yin kembali menyimpan gulungan itu lalu merebahkan tubuhnya yang terasa sangat letih.

__ADS_1


Pagi hari di Sekte Sembilan Bintang.


Sikap acuh Jian Heng masih terus berlanjut.


Saat makan pagi bersama Fang Yin pun dia masih terus terdiam tanpa bicara apapun.


Diacuhkan tanpa sebab yang jelas itu begitu menyakitkan bagi Fang Yin.


Jangankan bicara, melihat wajah Fang Yin pun Jian Heng enggan melakukannya.


Hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar di sekte itu mengingat lokasi itu masih sangat berantakan.


Setelah selesai sarapan pun, Jian Heng melakukan apa yang ingin dia lakukan tanpa bicara Fang Yin. Jian Heng melompat ke atap dan mengganti beberapa genteng dan kayu yang rusak dengan cepat.


"Aarghh!" teriak Fang Yin ketika matanya kemasukan debu saat melihat ke atas ketika Jian Heng membetulkan genteng itu.


Melihat Fang Yin kelipatan dan kebingungan untuk mengambil benda asing yang masuk ke dalam matanya, Jian Heng merasa tidak tega dan akhirnya turun untuk membantunya.


Masih tanpa bicara, Jian Heng memutar tubuh Fang Yin untuk menghadapnya. Dalam jarak yang sangat dekat keduanya saling berpandangan.


Deg


Jantung Fang Yin seakan terhenti ketika Jian Heng semakin mendekat untuk mencari benda asing di matanya.


Fiuhh!


Jian Heng meniup mata Fang Yin dengan lembut untuk mengeluarkan benda yang terdampar di matanya.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2