Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 251. Alibi


__ADS_3

Changyi tidak berhasil untuk mengingat-ingat siapa wanita di dalam lukisan tersebut. Semakin memaksa, kepalanya semakin pusing saja. Dia akhirnya memilih untuk tidur dan melupakan semuanya.


Malam hampir mendekati pertengahan, seluruh penghuni istana telah terlelap kecuali Jian Heng, Fang Yin dan prajurit yang berjaga.


Di taman istananya, Jian Heng berkultivasi dengan tenang. Esensi energi alam di malam hari lebih besar daripada di siang hari. Malam ini dia berharap bisa menerobos ke satu tingkat di atasnya.


Berbeda dengan Jian Heng, Fang Yin melakukan kegiatan lain. Dia mengeluarkan gulungan pemberian Jian Heng dan membaca isinya. Gulungan itu dibentangkan di hadapannya dengan posisi melayang di udara.


Susunan huruf dan simbol di dalam gulungan itu hampir mirip dengan yang ada di dalam Kitab Sembilan Naga bintang enam. Namun, penggambaran sikap dan pengaturan energi yang diterapkan untuk teknik ruang dan waktu lebih jelas.


"Kamu begitu pengertian padaku Tetua Yu." Fang Yin tersenyum saat terlintas momen lucu yang baru saja dia lewati bersama Jian Heng.


Fang Yin tidak tahu akan masa depannya seperti apa. Namun, dia sangat yakin jika Jian Heng tidak akan merasa keberatan untuk menunggunya.


Berkat gulungan yang diberikan oleh Jian Heng, Fang Yin berhasil menyempurnakan teknik dimensi ruang dan waktu miliknya. Setelah ini, dia bisa melawan hukum alam dengan meretas jarak dan ruang dan mencapainya dalam sekejap mata.


Menjelang dini hari, Fang Yin baru terlelap. Sebenarnya dia ingin sekali untuk melihat keadaan Jian Heng di luar, tetapi dia takut salah. Bisa saja Changyi mengetahuinya dan memberinya hukuman yang lebih berat lagi.


Pagi-pagi sekali, suasana di luar kamar Fang Yin sudah terdengar gaduh. Fang Yin terbangun dan pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Suara gaduh itu berasal dari suara Selir Tang yang memarahi Changyi karena telah menghukum Jian Heng untuk tidur di luar dengan alasan yang tidak diketahuinya. Jian Heng yang tidak ingin alasan hukumannya diketahui oleh ibunya berusaha untuk membela Changyi.


Selir Tang tidak mengerti apa yang terjadi pada kedua anaknya tersebut. Merasa ada yang aneh, dia menoleh pada Fang Yin yang baru datang untuk meminta penjelasan.


'Mati aku! Aku menyesal keluar di saat yang tidak tepat.' Fang Yin menjadi serba salah.


Jian Heng dan Changyi melotot kepadanya memberinya isyarat untuk diam. Fang Yin mengangguk dan Selir Tang berbalik ke belakang untuk melihat kedua putranya.


"Kalian jangan mencoba untuk memanipulasi keadaan, ya?" Selir Tang benar-benar merasa kesal pada keduanya.


"Yang Mulia, tunggu!" Fang Yin menghentikan Selir Tang yang ingin menjewer telinga kedua pangeran itu.

__ADS_1


Di luar istana Jian Heng sudah banyak orang yang lalu lalang untuk beraktifitas. Fang Yin tidak ingin kedua pangeran itu merasa malu.


Selir Tang pun kembali berbalik menghadap Fang Yin.


"Katakan apa yang terjadi pada mereka, Nona Xiao. Tidak perlu takut, mereka tidak akan berani macam-macam padamu. Aku orang pertama yang akan maju jika mereka berani."


Fang Yin meringis di balik cadarnya, berpikir untuk mencari alasan yang tepat. Jika dia mengatakan hal yang sejujurnya, dia sendiri juga kena masalah.


"Mereka ... emm ... mereka sedang bertaruh, Yang Mulia. Pangeran Ketiga kalah bertaruh jadi dia menerima hukuman."


Fang Yin menunduk, berharap Selir Tang tidak merasakan kalau dia telah berbohong. Dari ujung matanya dia bisa melihat Selir Tang berbalik menghadap kedua pangeran.


Jawaban Fang Yin membuat Changyi dan Jian Heng harus berpikir untuk menjawab pertanyaan ibunya. Mereka tahu jika Selir Tang adalah tipe orang yang kritis.


"Ibu merasa heran, kalian sudah dewasa tetapi masih saja bersikap seperti anak-anak. Ibu tidak ingin tahu, kejadian ini tidak boleh terulang lagi!"


"Baik, Ibu!" Mereka berdua serempak menjawab. Mereka bernapas lega karena Selir Tang tidak bertanya macam-macam pada keduanya.


"Ibu ingin tahu, apa yang kalian pertaruhkan?"


Changyi merasa kasihan melihat Jian Heng yang menunduk tak berdaya. Sebenarnya dia tidak bersalah dalam hal ini, tetapi kasih sayangnya pada adiknya itu membuatnya tidak tega.


"Kami bertaruh dengan siapa wanita di dalam lukisan ini, Ibu. Jian Heng tidak bisa menjawabnya jadi dia kalah."


Jian Heng melotot ketika melihat lukisan di tangan Changyi. Dia tidak menyangka jika kakaknya itu mengambilnya.


"Apakah itu benar, Jian Heng?"


Jian Heng mengangguk lalu merebut lukisan itu dari tangan Changyi. Changyi sudah waspada dan menarik tangannya ke belakang. Mereka berdua kembali berebut, membuat Selir Tang kembali merasa jengkel.


Dengan gerakan cepat, Selir Tang merebut lukisan itu dari tangan Changyi. Dia merasa penasaran dengan siapa wanita di dalam lukisan itu.

__ADS_1


Ekspresi wajah Jian Heng terlihat sangat cemas. Begitu juga dengan Changyi yang merasa bersalah. Niatnya ingin menolong adiknya tetapi malah membuat masalah menjadi rumit.


Fang Yin tidak mengerti apa yang terjadi dan melihat mereka bertiga secara bergantian.


Jian Heng berdebar-debar ketika Selir Tang mulai membuka lukisan itu. Dalam keadaan tertutup dia sangat mengenali jika lukisan itu adalah gambar Fang Yin yang dilukisnya.


"Waow! Cantik sekali. Apakah wanita ini benar-benar ada atau hanya imajinasi semata?" Selir Tang mengamati lukisan itu dengan seksama.


Changyi terdiam melihat ke arah Jian Heng. 'Semoga aku tidak salah memberi jawaban.'


Jian Heng berharap jika Changyi tidak mengetahui siapa wanita di dalam lukisan itu. Dia juga berharap Fang Yin tidak akan marah andaikan dia tahu jika itu adalah wajahnya.


"Changyi ...." Suara lembut Selir Tang terasa memaksa bagi sang pemilik nama.


"Dia ... dia ... dia adalah Jing Jihua, Ibu."


Sebenarnya dia tahu jika lukisan itu adalah wajah Fang Yin. Namun, dia tidak ingin membuat masalah dengan adik dan calon iparnya itu.


"Jing Jihua? Sepertinya ini tidak mirip." Selir Tang memutar lukisan itu dan memiringkan kepalanya untuk mengamati dari sisi yang berbeda.


Changyi merebut lukisan itu dari tangan Selir Tang sebelum dia melihat wanita itu dengan detail.


"Maaf aku tidak sopan padamu, Ibu. Pagi ini aku ada urusan yang harus segera aku selesaikan."


"Hmm ... Anak nakal. Pergilah!" Selir Tang tidak ingin memperpanjang masalah ini dan membiarkan Changyi pergi.


Jian Heng menatap kepergian Changyi dengan perasaan yang campur aduk. Dia tidak rela lukisan Fang Yin di bawa begitu saja olehnya. Kali ini, dia tidak bisa berbuat banyak selain bersabar untuk sementara waktu, setelah ini dia pasti akan merebutnya kembali.


"Apa yang kamu lihat? Kamu belum puas bertengkar dengan kakakmu?"


Jian Heng menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lebih baik diam dan berpura-pura bodoh daripada harus berhadapan dengan ibunya lebih lama.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2