
Fang Yin berjalan menghampiri Jian Heng dan Kaisar Xi lalu memberikan penghormatan kepada keduanya.
"Maaf jika aku mengganggu waktu kalian," ucap Fang Yin merasa sungkan.
Sikapnya yang malu-malu membuat Kaisar Xi merasa yakin jika calon menantunya akan menjadi kebahagiaan bagi putranya. Meskipun dia bisa berdiri sendiri dengan kuat dan memiliki status sosial yang tinggi, dia tetap memberinya muka.
"Kami tidak sedang membicarakan sesuatu yang penting. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan Heng'er? Jika begitu aku akan memberikan kalian waktu." Kaisar Xi bersiap untuk pergi.
"Tidak, Ayah. Aku ingin membicarakan sesuatu yang umum." Fang Yin segera menjawab sebelum Kaisar Xi pergi dari sana.
Kaisar Xi menangkap sesuatu yang lain di wajah Fang Yin. Dari sorot matanya dia bisa merasakan jika calon menantunya sedang memikirkan sebuah masalah yang sulit untuk diatasi. Tidak biasanya Fang Yin seperti ini dan menurutnya ini sangat aneh.
Jian Heng pun memiliki pendapat yang sama dengan ayahnya. Dia berpikir jika Fang Yin sedang menghadapi sebuah masalah.
"Aku melihat mendung di wajahmu, Yin'er. Jika aku bisa, aku akan menghiasnya dengan pelangi." Jian Heng membuat syair untuk menggambarkan keadaan Fang Yin saat ini.
"Ayah juga melihat hal yang sama. Hal apakah yang membuatmu menjadi murung? Kami adalah keluargamu saat ini, tidak ada yang salah jika kamu mau membaginya." Kaisar Xi menambahkan.
Fang Yin menyusun kalimat yang tepat untuk memulai ceritanya. Apa yang ingin disampaikannya merupakan sesuatu yang rumit. Kejadian baik atau buruk mungkin saja terjadi jika segala sesuatunya terungkap.
"Kak Heng, Ayah, aku memang sedang memikirkan sesuatu tentang sesuatu hal. Ini tentang saudaraku yang lain dari ibu yang lain." Fang Yin merasa begitu berat untuk berbicara banyak.
Jian Heng dan Kaisar Xi saling berpandangan. Mereka tidak mengerti maksud dari perkataan Fang Yin tentang saudara yang dimaksud olehnya. Sejauh yang mereka tahu, hanya Fang Yin yang tersisa.
"Aku tidak yakin jika kamu masih memiliki saudara yang lain dari pernikahan ayahmu. Seharusnya dia di sini jika memang benar-benar ada." Jian Heng tidak mengerti dengan cerita Fang Yin yang menurutnya tidak masuk akal.
"Tenanglah, Heng'er. Biarkan Yin'er bercerita. Dia lebih tahu tentang keluarganya daripada kita. Lanjutkan, Yin'er!" Kaisar Xi mencoba mencerna cerita yang baru saja dimulai.
Fang Yin mengangguk.
Dia kemudian menceritakan tentang kejadian yang dialaminya beberapa waktu yang lalu di mana dia terjebak dalam dimensi naga yang mempertemukannya dengan seorang pria yang mengaku sebagai putra dari ayahnya.
Pertemuannya dengan Cau Ahlin menjadi alasannya menghilang selama seminggu dari dunia manusia. Tidak ada yang bisa menemukan dirinya karena hanya orang yang dipanggil saja yang bisa masuk ke alam dimensi naga.
Kaisar Xi dan Jian Heng terkejut mendengar cerita ini. Awalnya mereka berpikir jika Fang Yin menghilang karena sedang bertarung melawan seseorang yang berbuat buruk padanya.
Fang Yin kembali melanjutkan ceritanya di mana dirinya harus bersusah payah untuk keluar dari dimensi itu. Dia harus menghadapi Ying Yushi dan Gong Kim setelah berhasil menaklukkan Cau Ahlin.
Keberadaannya yang cukup lama di dimensi naga tanpa berkultivasi membuatnya kehilangan energi pendampingnya dan melebihi batas. Keadaan Fang Yin semakin parah ketika dirinya menggunakan sisa energi pendampingnya yang tinggal sedikit itu untuk melintasi dimensi dan kembali ke dunia manusia.
Di akhir ceritanya Fang Yin menceritakan tentang Kolam Naga di Bukit Lentera Emas yang kini telah diubahnya menjadi Bukit Salju Abadi. Setelah ini Fang Yin berharap mereka akan memberikan solusi untuk masalahnya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan pada kami, Yin'er?" tanya Kaisar Xi.
"Aku tidak tahu bagaimana aku harus bersikap, Ayah. Di satu sisi dia adalah kakakku tetapi di sisi lain dia adalah seorang binatang roh yang memiliki banyak perbedaan dengan seorang manusia. Meskipun saat ini dia bersikap baik padaku tetapi aku melihat sisi buruknya di mana dia sangat mudah terpengaruh." Fang Yin mencoba untuk bersikap netral.
Kaisar Xi tidak langsung menjawab. Binatang roh memang bukan manusia. Mungkin apa yang dilakukan oleh Kaisar Xi adalah kesalahan dan membiarkan putranya tinggal di dimensinya itu adalah benar. Selain tidak aman, sifat buruk binatang roh bisa saja melukai seluruh anggota keluarganya.
Jian Heng juga tidak bisa menjawab tentang masalah ini. Binatang roh dan manusia tidak bisa disatukan. Selama ini manusia menjadikan binatang roh sebagai roh pendamping setelah berhasil mengambil kristal roh darinya. Bisa dibilang mereka tidak diijinkan hidup dengan wujud fisiknya di dunia manusia sedangkan Fang Yin tidak mungkin membunuh saudaranya dan menyimpan kristal rohnya ketika dirinya ingin tinggal.
"Semuanya terlihat sulit, Yin'er. Aku tidak punya solusi untuk masalah ini. Sifat kejam binatang roh lebih dominan ketimbang sifat lembutnya. Meskipun memiliki darah ayahmu belum tentu kakakmu memiliki sifat yang sama dengannya. Terlepas dari itu, tidak ada yang tahu apakah ayahmu benar-benar menikahinya atau tidak. Jika benar mereka menikah dan memiliki hubungan, tentu ayahmu tidak akan melupakan mereka dan meninggalkannya begitu saja."
Fang Yin mengangguk. Cau Ahlin sendiri tidak menerima penjelasan yang lengkap dari ibunya dan berpikir hanya Kaisar Gu yang pantas dia persalahkan tanpa tahu seperti apa masalah orang tuanya sebenarnya.
"Keluargaku belum tahu tentang masalah ini. Mereka belum tahu bagaimana aku pergi dan mengapa aku kembali dalam keadaan tak sadarkan diri. Sampa hari ini aku masih merahasiakan masalah ini," cerita Fang Yin.
"Aku tidak menyalahkanmu tentang hal ini, Yin'er. Memang butuh banyak pertimbangan untuk membongkar keberadaan saudaramu itu. Appa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui semuanya sebaiknya kamu diskusikan bersama Heng'er." Kaisar Xi menyadari bahwa masalah Cau Ahlin tidak akan selesai sampai di sini saja. Bagaimanapun juga keluarga Fang Yin harus tahu tentang siapa dia agar tidak ada ganjalan di masa mendatang.
"Terlepas tentang bagaimana kamu akan mengambil sikap, keluargamu harus tahu tentang dia. Aku dan Heng'er akan membantumu menyampaikan semuanya. Dengan begitu kamu akan merasa tenang meskipun tidak mendapatkan jalan keluar untuk Cau Ahlin," imbuh Kaisar Xi.
"Terimakasih, Ayah."
Mereka bertiga berjalan meninggalkan taman melintasi koridor yang rindang dengan berbagai tanaman hias di kedua sisinya. Sebagian besar penampakan istana Kekaisaran Benua Timur tidak dirubah. Keadaan yang masih sama ketika Fang Yin kecil masih tinggal di sana.
Kaisar Xi membawa Jian Heng dan Fang Yin pergi untuk menemui Selir Shi dan Tian Feng. Sebagai orang tua mereka harus tahu tentang masalah ini lebih dari siapapun.
"Aku merasa berdebar-debar, Ayah. Aku takut jika cerita ini membuat ibuku meminta Kak Ahlin untuk tinggal di istana ini. Dia adalah orang yang mudah iba." Fang Yin mengungkapkan ketakutannya.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi, Yin'er. Jika ibumu menginginkan hal itu, kita bisa memberinya pengertian tentang bagaimana ganasnya sifat binatang roh. Jangan khawatir, kami berdiri di belakangmu." Kaisar Xi mencoba menenangkan Fang Yin.
"Benar. Aku akan membantumu menjelaskan semuanya pada ibu," imbuh Jian Heng.
Hati Fang Yin merasa sedikit tenang.
Mereka kembali berjalan menuju ke kediaman Selir Shi dan Tian Feng.
Selir Shi dan Tian Feng terlihat sedang mengobrol di sebuah bangku yang ditata apik di dekat taman kecil yang berada di samping tempat tinggal mereka. Mereka tidak melihat kedatangan Fang Yin bersama Jian Heng dan Kaisar Xi.
Salam hormat dari ketiganya membuat Selir Shi dan Tian Feng terkejut. Mereka mempersilakan ketiga tamunya untuk duduk di bangku kosong yang berjajar di samping mereka.
__ADS_1
Selir Shi merasa ada hal yang tidak biasa mengingat putrinya datang bersama mertua dan calon suaminya.
'Semoga tidak ada kabar yang buruk. Hatiku merasa aneh dengan kedatangan mereka bertiga.' Selir Shi bermonolog dalam hati.
Sama seperti sebelumnya, Fang Yin terlihat ragu-ragu untuk bercerita tentang Cau Ahlin pada ibu dan ayah sambungnya. Jian Heng yang membantunya untuk memulai percakapan.
Berita yang dibawa oleh Fang Yin cukup mengejutkan. Selir Shi sedikit merasa syok saat pertama kali mendengarnya. Mengingat keadaan Fang Yin yang begitu parah saat kembali, Selir Shi berpikir jika putra lain dari Kaisar Gu sangatlah kejam.
Apa yang ditakutkan oleh Fang Yin tidak pernah menjadi nyata. Ibunya justru tidak ingin membiarkan Fang Yin untuk bertemu lagi dengannya. Jika Cau Ahlin diberi kesempatan untuk tinggal di dunia manusia maka sudah pasti dia akan membuat kekacauan.
Kaisar Xi dan Jian Heng ikut lega mendengarnya. Namun, mereka menangkap raut sedih wajah Tian Feng. Mengenai penyebabnya apa, hanya Tian Feng sendiri yang tahu. Mungkin saja dia merasa iba melihat darah Gu mengalir pada binatang roh yang tidak bisa tinggal bersama mereka.
Obrolan mereka mengenai Cau Ahlin tidak berlanjut. Suasana menjadi hening ketika mereka larut di dalam pikirannya masing-masing. Minuman dan kue yang disajikan oleh pelayan tidak tersentuh karena selera makan mereka tiba-tiba menghilang.
Perasaan Fang Yin lebih tenang setelah mengungkapkan cerita tentang secuil masa lalu ayahnya. Mereka berpisah dan kembali ke kediaman mereka masing-masing untuk beristirahat.
Jian Heng menemani Fang Yin di kamarnya. Meskipun masalah itu tidak berat, dia tahu saat ini Fang Yin sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi sandarannya.
Jian Heng sedang berbaring di lantai dengan kepala yang diletakkan di pangkuan Fang Yin. Tangan Fang Yin mengelus lembut rambutnya dan sesekali memainkannya.
"Yin'er!" panggil Jian Heng.
"Hmm."
"Jika kita menikah aku ingin memiliki anak yang banyak," ucap Jian Heng.
Fang Yin menghentikan usapan tangannya. Bola matanya membulat sempurna ketika Jian Heng mulai membahas tentang hubungan keluarga.
"Kak Heng bicara apa? Kamu pikir melahirkan itu mudah. Belum lagi membesarkan anak-anak yang masih kecil-kecil. Huh, sulit kubayangkan." Fang Yin menghembuskan nafas kasar.
Jian Heng bangun dari tidurnya lalu duduk menghadap Fang Yin dan menatapnya begitu dalam.
"Melihat wajah cantikmu aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Tidak ada yang ingin aku lakukan selain memikirkan waktu yang akan selalu kita habiskan setelah menikah. Aku tidak ingin membiarkanmu tidur dengan nyenyak." Jian Heng mengatakan isi hatinya.
"Kak Heng!" seru Fang Yin memekik lirih.
Mereka melewati hari itu dengan penuh keromantisan. Meskipun masih sama-sama malu, sesekali Jian Heng telah berani memberikan sebuah ciuman untuk Fang Yin.
Hari belum terlalu sore tetapi awan hitam memenuhi langit Benua Timur. Gemuruh petir menyambar menebarkan kilat membuat sore itu terasa mencekam.
Menurut ilmu astronomi kuno yang menjadi acuan, musim hujan seharusnya belum saatnya datang. Fang Yin berpikir jika ini bukan gejala alam biasa.
"Mari kita lihat ke luar, Yin'er." Jian Heng bangkit lalu membantu Fang Yin berdiri.
Mereka berjalan keluar melewati pintu dan melihat awan yang gelap di atas langit istana. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengatasi ini karena fenomena alam terjadi bukan karena kuasa mereka.
"Aku ingin pergi ke ruang perbintangan. Di sana kita bisa melihat perkiraan musim dan peristiwa yang mungkin bisa terjadi setiap tahunnya. Jika benar musim hujan akan tiba maka kita lebih baik merubah strategi ekonomi yang kita terapkan di masa mendatang." Fang Yin mencoba untuk berpikir tentang masalah ini.
Jian Heng menemaninya pergi ke ruang perbintangan yang berada di bagian tengah istana. Di kanan kirinya adalah perpustakaan dan pusat pendidikan para bangsawan.
Mereka sampai di ruang perbintangan yang terkunci rapat. Untuk membukanya butuh sebuah token khusus. Fang Yin memanggil seorang pengawal dan memintanya membawakan token pembuka kunci ruangan perbintangan untuknya.
Jian Heng dan Fang Yin menunggu pengawal di depan pintu. Guan Xing yang menyimpan segala sesuatu yang berhubungan dengan istana. Jika dia tidak berada di tempat maka pengawal akan kembali dengan tangan kosong.
"Apakah kita akan mendapatkan jawaban tentang fenomena ini di sini Yin'er?" tanya Jian Heng penasaran.
"Aku rasa begitu. Ini adalah pengalaman pertamaku datang ke ruang perbintangan. Sebenarnya ada seorang pertapa tua yang tinggal di belakang istana. Orang-orang selalu datang padanya untuk melihat masa depan dan ramalannya banyak terbukti," cerita Fang Yin.
"Apakah kamu sudah pernah ke sana?" tanya Jian Heng.
Fang Yin menggeleng.
Jian Heng tidak habis pikir dengan tunangannya itu. Dia memberinya informasi hanya setengah-setengah. Seharusnya dia mendalami apa yang akan dia katakan sebelum dia menceritakannya pada orang lain.
Di kejauhan terlihat pengawal yang diberi perintah oleh Fang Yin datang menghampiri mereka. Seperti yang mereka pikir, dia datang dengan tangan kosong jika Guan Xing tidak sedang berada di tempat.
"Ampun Yang Mulia. Tuan Guan Xing sedang tidak berada di tempat. Saya tidak bisa membawa token untuk Anda." Pengawal menyesalkan kegagalannya tetapi dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kembalilah bekerja!" Fang Yin tidak ingin memperpanjang masalah ini mengingat hal ini bukan salahnya.
"Baik, Yang Mulia."
Pengawal kembali pada tugasnya meninggalkan Fang Yin dan Jian Heng yang masih berdiri di sana.
Jian Heng berpikir bagaimana jika Fang Yin dan dirinya pergi menemui petapa tua itu dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Meskipun dia sendiri tidak yakin tetapi tidak ada solusi yang terpikirkan olehnya selain ini.
"Yin'er, bagaimana jika kita pergi ke belakang istana untuk menemui pertapa tua yang baru saja kamu ceritakan? Mungkin saja kita akan menemukan solusi untuk menghadapi fenomena ini." Jian Heng mulai berbicara.
"Aku juga berpikir begitu. Ayo kita berangkat!"
__ADS_1
Tidak ingin memancing rasa ingin tahu orang lain, Fang Yin dan Jian Heng memilih menggunakan teknik teleportasi untuk pergi ke sana. Mereka pergi dengan cepat tanpa diketahui oleh siapapun.
Fang Yin dan Jian Heng turun di depan kuil tempat pertapa tinggal. Ada beberapa murid di sana yang berjalan sambil membawa guci air dan kayu bakar. Mereka rata-rata masih berusia remaja dan kaum muda.
"Adik kecil, bolehkah aku bertanya padamu?" tanya Fang Yin pada salah seorang dari mereka.
Anak yang sedang membawa kayu bakar berhenti. Dia melepaskan pikulannya lalu berputar mendekati Fang Yin. Wajah Fang Yin dan Jian Heng yang asing membuatnya menatap keduanya begitu lama.
"Boleh," jawabnya kemudian.
"Terimakasih. Kami ingin bertanya apakah kakek pertapa tua masih tinggal di kuil ini? Kami ingin bertemu dengannya," ucap Fang Yin mengungkapkan tujuannya datang ke tempat itu.
"Oh, jadi begitu. Mari ikut saya." Anak itu kembali memikul kayu bakar lalu berjalan mendahului Fang Yin dan Jian Heng.
Mereka melewati jalan setapak dan sebuah halaman yang luas. Kuil sederhana tampak bersih dan asri. Taman bunga kecil di sekitar kuil terpelihara dengan baik.
Seorang kakek tua sedang duduk bersila di depan sebuah altar pemujaan. Aroma dupa menyebar di seluruh ruangan dan tercium hingga di kejauhan. Meskipun sedang fokus, dia tetap menyadari kedatangan Fang Yin dan Jian Heng.
Pertapa tua itu bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Fang Yin dan Jian Heng. Dia menatap keduanya dengan tatapan yang misterius. Terlihat antara terkejut dan tidak percaya dengan kedatangan mereka di sana.
Untuk menjaga sopan santunnya, Fang Yin dan Jian Heng melepaskan alas kakinya saat memasuki tempat yang disucikan oleh penganutnya. Mereka memberi hormat pada pertapa tua dan menyebutkan namanya.
Pertapa tua kini benar-benar yakin jika kedua orang dihadapannya itu adalah penguasa Benua Timur saat ini. Sikap yang berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Kaisar Ning yang seringkali mendatanginya beberapa waktu yang lalu.
"Anda terlalu sopan kepada orang kecil seperti hamba, Yang Mulia. Mari silakan masuk." Pertapa tua mempersilakan Fang Yin dan Jian Heng untuk duduk di hadapannya. Mereka saling berpandangan ketika kakek pertapa tua tahu status mereka.
"Kakek pertapa, maaf mengganggu Anda. Kami merasakan sesuatu yang aneh dengan fenomena yang terjadi hari ini. Bolehkah kami mengetahui apakah ini merupakan gejala alam biasa atau sebuah pertanda, Kek?" tanya Jian Heng mewakili Fang Yin.
Kakek pertapa tua menatap Fang Yin dan Jian Heng bergantian. Dia melihat sesuatu yang menarik dari keduanya. Baik Fang Yin maupun Jian Heng memiliki pancaran energi yang sangat luar biasa.
"Aku juga merasa ada yang aneh dengan fenomena ini. Kita akan melihatnya dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi." Kakek pertapa mengeluarkan sebuah cermin lalu meletakkannya di hadapan mereka bertiga.
Sepintas cermin itu sama dengan cermin yang biasa dimiliki oleh orang biasa. Perbedaannya mungkin pada ukurannya yang lebih kecil dari cermin pada umumnya.
Pertapa tua mulai membaca mantra dan membuat cermin mengeluarkan sinar yang sangat terang. Cahaya dari cermin memantul ke dinding ruangan yang berwarna gelap. Di dinding yang terkena pantulan cermin muncul sebuah bayangan yang menggambarkan keadaan di negeri Benua Timur.
Di sana terlihat fenomena yang terjadi saat ini. Gambaran menjadi gelap lalu mulai muncul kembali gambaran lain di mana ratusan naga menyerang Kekaisaran Benua Timur. Fang Yin mengenali salah satu di antaranya yaitu Cau Ahlin.
Naga-naga itu bergerak sangat beringas dan menghancurkan apa saja yang mereka lewati. Ibukota Kekaisaran Benua Timur terbakar oleh api yang menyembur dari serangan naga-naga.
Fang Yin dan pasukannya berusaha untuk menghentikan serangan mereka. Namun, keadaan terlanjur kacau. Banyak sekali kerusakan yang timbulkan dari kekacauan ini, begitu juga korban jiwa yang di akibatkan olehnya.
Didalam serangan banyak pasukan Fang Yin yang mati. Sebagian diantaranya adalah anggota keluarganya yang tidak berhasil menaklukan Cau Ahlin.
Bayangan mengerikan itu membuat Fang Yin dan Jian Heng merasa takut. Tidak bisa di bayangkan ibu kota yang baru saja mereka rombak harus hancur dalam sekejap. Peristiwa ini menjadi pukulan berat baginya meskipun pada akhirnya pertempuran berhasil dimenangkan.
Pertapa tua tidak bisa membaca ramalan berikutnya dan menghentikan mantra yang di bacanya. Cahaya pada cermin ramalan mulai meredup lalu menghilang. Pertapa tua membuka matanya dan melihat kecemasan di wajah Fang Yin dan Jian Heng.
"Pertapa tua, apakah ramalan ini akan menjadi kenyataan?" tanya Jian Heng.
"Sebuah ramalan bisa terjadi dan bisa tidak terjadi sepertinya pemimpin naga-naga tersebut memiliki tujuan yang tidak baik mereka ingin menguasai Kekaisaran Benua Timur."
Fang Yin terkesiap mendengar ucapan pertapa tua. Jika peristiwa buruk bisa di cegah maka dia rela melakukan apapun untuk mencegahnya. Setiap kejadian memiliki penyebab. Fang Yin berfikir bagaimana cara untuk mencegah kejadian di dalam ramalan agar tidak menjadi kenyataan.
"Pertapa tua, apakah Anda memiliki cara untuk menyelesaikan masalah ini?" tanya Fang Yin.
Pertapa tua terlihat sedang berpikir. Keriput di wajahnya semakin bertambah ketika dia mengerutkan dahinya dan berpikir. Usianya yang tidak lagi muda membuatnya melupakan beberapa hal mendasar yang seharusnya tidak dia lupakan.
"Ada sebuah catatan kuno yang berisi tentang bagaimana mencegah sebuah peristiwa yang belum terjadi tetapi aku tidak tahu di mana catatan itu berada. Aku merasa jika naga-naga yang menyerang tidak berasal dari dunia ini. Untuk mencegah serangan dari dimensi lain kita bisa menggunakan formasi empat penjuru mata angin."
Penjelasan dari pertapa tua membuat Fang Yin dan Jian Heng saling berpandangan. Mereka tidak asing dengan formasi ini karena mereka pernah mendengarnya.
"Kami akan mencari cara untuk mengunci sebuah dimensi dengan teknik formasi empat penjuru mata angin. Aku tahu siapa orang yang menjadi dalang dibalik serangan ini." Fang Yin berbicara dengan yakin.
"Segeralah, Yang Mulia. Fenomena ini adalah pertanda awal kedatangan mereka. Peristiwa akan terjadi dalam waktu kurang dari tiga hari dari sekarang," jelas pertapa tua.
"Apa?" pekik Fang Yin dan Jian Heng hampir berbarengan.
Berita mengejutkan ini membuat Fang Yin dan Jian Heng tidak bisa berdiam diri lebih lama di sana. Dia harus segera bertindak sebelum peristiwa mengerikan dalam ramalan menjadi kenyataan.
Mereka segera meminta diri kepada kakek pertapa dan memberikan hadiah berupa koin emas untuk membantu pembangunan kuil dan biaya hidup para penghuninya.
"Yin'er. Kita harus memberitahukan ini pada ayah dan yang lainnya. Mereka memiliki pengalaman tentang teknik formasi empat penjuru mata angin." Jian Heng memberikan usulan.
"Hmm," angguk Fang Yin.
****
Bersambung ....
__ADS_1