Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 238


__ADS_3

Di perbatasan Benua Tengah.


"Hei! Berhenti kalian!" seru salah seorang pria yang mengacungkan pedangnya.


Empat orang bandit menghadang pedagang yang melintas di wilayah kekuasaannya. Mereka terkenal sangat kejam dan merupakan manusia kanibal.


Mantra iblis yang mereka gunakan menuntut mereka untuk memakan jantung manusia. Semakin banyak manusia yang mereka bunuh maka kekuatan mereka akan semakin bertambah.


Keempat bandit itu menggunakan kalung dari rangkaian tulang ruas-ruas jari manusia. Rambut yang berantakan dan baju kumal membuat mereka terlihat sangat jorok. Belum lagi aroma busuk dari tubuh mereka.


Para pedagang itu merasa ngeri bercampur jijik. Mereka berjumlah sepuluh orang. Namun, hanya tiga orang saja yang menguasai ilmu bela diri.


"Mereka adalah bandit Hati Iblis. Berhati-hatilah atau kita semua akan mati di tangan mereka!" bisik salah seorang pedagang pada salah satu temannya.


"Jangan khawatir! Kita harus menghadapi musuh dengan tenang. Rasa takut adalah sebuah kekalahan."


Mereka bertiga saling berhadapan dan mengangguk, sedangkan tujuh orang yang lain menepi ke belakang.


"Hahaha! Aku mencium aroma lezat daging kalian. Hari ini kami belum mendapatkan buruan untuk makan siang."


Salah seorang bandit melirik seorang pedagang bertubuh tambun. Pria yang diliriknya langsung menggigil ketakutan. Kakinya sangat sulit di gerakkan, bahkan untuk mundur selangkah pun dia merasa sulit.


"Kalian benar-benar bukan manusia!" salah seorang pedagang maju ke depan dan menyerang bandit-bandit itu.


Pertarungan yang tidak seimbang di mana empat orang bandit melawan tiga orang pedagang.


Suara pedang beradu menghasilkan suara yang membuat hati terasa ngilu. Ketiga pedagang itu merupakan kultivator ranah langit. Meskipun kalah jumlah tetapi mereka bisa mengimbangi permainan pedang bandit hati iblis.


Sreettt!


Sabetan salah seorang pedagang berhasil melukai lengan seorang bandit. Ketiga temannya menoleh ke arahnya dan menatap pedagang itu dengan penuh kemarahan.


Di luar dugaan, ketiga bandit menyerang pria malang itu secara bersama-sama hingga membuat tubuhnya terpotong-potong. Lengkingan keras hanya terdengar sesaat karena kematian datang lebih cepat.


Pedagang yang lain berlari mencari tempat yang aman dan mencari pertolongan. Mereka tidak sanggup lagi melihat hal mengerikan di hadapannya.

__ADS_1


Dua pedagang yang lain masih bertarung melawan para bandit. Pantang bagi mereka untuk mundur meskipun nyawa taruhannya


"Seperti suara orang bertarung." Seorang pria menghentikan langkahnya dan mencari dari mana arah sumber suara itu berasal.


Dia melompat ke langit dan melihat beberapa orang berlari ke arahnya di kejauhan. Pria itu kembali turun dan berjalan menyongsong rombongan yang hampir sampai di hadapannya itu.


"Jangan ke sana, Tuan! Di sana berbahaya sekali."


Salah seorang dari para pria itu berbicara pada Jian Heng sebelum dia bertanya pada mereka. Wajah-wajah ketakutan dengan napas yang tersengal berdiri dengan tidak tenang. Sesekali mereka menoleh ke belakang takut jika bandit itu mengejar.


"Tenanglah! Tolong bicaralah dengan jelas." Jian Heng mengira jika mereka sedang dikejar oleh binatang buas atau binatang roh.


"Kami di serang oleh bandit hati iblis, Tuan. Dua teman kami masih terjebak di sana."


Mendengar nama itu, Jian Heng tidak ingin mengulur waktu. Dia segera berlari ke arah yang berlawanan dengan para pedagang itu. Sudah sejak lama dia mengincar bandit-bandit itu.


"Tuan ...!" teriak para pedagang itu dengan wajah khawatir.


Mereka berpikir jika Jian Heng telah berbuat konyol. Usianya yang terlihat masih sangat muda membuat mereka meragukan kemampuannya.


Kedua pedagang itu dia tarik ke belakang lalu di tinggalkan pada tempat yang aman. Jian Heng kembali ke hadapan empat begal sadis itu.


"Berani sekali kamu mencampuri urusanku!"


"Bersiaplah untuk menjadi makan siang kami!"


Bandit itu mengayunkan pedangnya yang telah berlumuran darah ke arah Jian Heng. Mereka merasa akan mengalahkannya dengan mudah karena tidak memegang senjata apapun.


Pedang bandit itu mengincar leher Jian Heng. Namun, dengan gerakan cepat dia menangkap pedang itu dengan tangan kosong.


Jurus tapak berlian miliknya mampu melelehkan segala jenis logam. Dalam hitungan detik pedang yang tersentuh oleh tangannya berubah menjadi cairan logam yang meleleh ke tanah.


Keempat bandit itu terperanjat. Mereka tidak menyangka jika bocah ingusan di hadapannya memiliki jurus langka yang cukup diperhitungkan di dunia kultivasi.


Jian Heng bergerak sangat gesit dan melumatkan seluruh pedang mereka. Satu persatu bandit itu berjatuhan di tanah dengan luka dalam.

__ADS_1


Saat Jian Heng mengambil jeda, keempat bandit itu saling berpandangan. Ada isyarat rahasia dari pandangan mata dan gerakan kepala mereka.


Mereka mengatur diri membentuk sebuah formasi. Dua orang berdiri di bawah dan yang lainnya melompat ke atas dan berdiri di atas bahu mereka.


Aura energi menyelimuti tubuh keempat bandit itu dan menarik Qi alam yang menyelimuti tempat itu sebanyak-banyaknya. Langit siang yang cerah kini berubah menjadi gelap sebagai pengaruh kondensasi energi iblis yang terbentuk di tubuh para bandit.


'Jurus terlarang ras iblis hitam? Aku harus berhati-hati.' Jian Heng meningkatkan kewaspadaannya.


Dia memundurkan kakinya beberapa langkah ke belakang untuk menghindari kemungkinan terburuk. Rambutnya yang panjang melambai-lambai tertiup pusaran angin yang berhembus kencang.


Tubuh keempat bandit itu tak terlihat. Pusaran angin bercampur energi kegelapan menyelimuti tubuh mereka.


Dedaunan kering terbang ke langit. Sekali lagi Jian Heng melangkah mundur. Tubuhnya menyala biru menandakan keberadaan energi yang melindunginya.


'Aku pernah mendengar jurus ini yang begitu hebat. Namun aku yakin pasti memiliki kelemahan.'


Dalam jeda pertarungan, Jian Heng memikirkan cara mengatasi jurus iblis hitam. Tubuh roh raksasa yang merupakan gabungan keempat bandit itu pasti sangat merepotkan. Namun, Jian Heng berusaha untuk tetap tenang.


Dua pedagang yang diselamatkan oleh Jian Heng merasa khawatir pada pria yang telah menolongnya. Namun, sisa tenaga yang mereka miliki tidak akan banyak membantu. Kehadiran mereka di tengah pertarungan hanya akan membuat Jian Heng kehilangan konsentrasi.


Tubuh roh bandit itu mulai terbentuk sempurna. Sesosok iblis berkulit hitam dengan rambut sebahu berdiri menjulang di hadapan Jian Heng. Di lehernya melingkar kalung yang terbuat dari rangkaian tengkorak manusia.


Bau busuk bercampur anyir membuat perut Jian Heng menjadi mual. Dengan gerakan cepat dia mengambil sapu tangannya dan mengikatkannya di kepala untuk menutupi hidungnya.


Perwujudan iblis hitam yang mengerikan itu membuat bergidik dua pedagang yang melihatnya dari kejauhan. Mereka membayangkan taring tajam iblis itu menyayat-nyayat tubuh mereka hidup-hidup.


Iblis hitam itu melangkah maju ke hadapan Jian Heng. Langkah kakinya membuat tanah disekitar bergetar. Tangannya yang besar dengan kuku-kukunya yang tajam bergerak ke depan meraih tubuh Jian Heng.


Jian Heng melompat ke atas dan berpindah-pindah dengan lincahnya.


Iblis hitam mulai geram. Dari matanya yang memerah muncul kilatan api yang meluncur ke arah Jian Heng. Api itu membakar apa saja yang tersentuh olehnya.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2