Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 45. Salah Paham


__ADS_3

"Aku bertemu dengan anak buahnya di jalan dekat hutan tadi pagi," jelas Xiao Chen.


Tuan Xiao mengangguk-angguk.


"Sepertinya malam sudah semakin larut. Kami mohon diri untuk kembali ke penginapan," pamit Jian Heng.


"Terimakasih atas kunjungannya, Tetua Yu. Jika ada waktu silakan berkunjung lagi ke sini. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk Anda." Tuan Xiao memberi hormat.


"Terimakasih banyak, Tuan Xiao. Jika ada kesempatan lagi, saya pasti akan berkunjung kemari. Besok pagi saya sudah harus kembali melakukan perjalanan," jawab Jian Heng seraya memberi hormat.


Fang Yin menyusul memberi hormat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Tuan Xiao, Nyonya Xiao dan Xiao Chen mengantar kepergian mereka hingga di depan pintu.


"Sampai ketemu di Sekte Sembilan Bintang, Guru!" Xiao Chen melambaikan tangannya pada Jian Heng.


Jian Heng membalas lambaian itu sambil tersenyum pada Xiao Chen.


Fang Yin dan Jian Heng melangkah dari halaman rumah Xiao Chen menuju ke jalan. Namun langkah mereka tiba-tiba harus terhenti ketika mereka berpapasan dengan beberapa orang yang datang menaiki kuda. Rupanya mereka memang datang menuju ke rumah Xiao Chen.

__ADS_1


Wajah mereka baru terlihat ketika cahaya lentera yang dipasang di depan rumah Xiao Chen menerangi mereka ketika sudah dekat di hadapan Fang Yin dan Jian Heng.


Fang Yin membulatkan matanya ketika melihat salah satu dari rombongan itu.


"Tuan Xi!" pekik Fang Yin dengan bibir yang bergetar.


Jian Heng menoleh ke arah Fang Yin dengan tatapan keheranan. Dari mana Fang Yin mengenal orang yang sangat mirip dengan Tuan Xiao ini.


"Xiao Yin! Kamu kah itu?!" tanya Tuan Xi dengan nada yang sedikit meninggi.


Fang Yin tidak merasakan kasih sayang seorang ayah dari tatapan Tuan Xi seperti ketika dia mengantarkannya pergi ke Akademi Tujuh Bintang beberapa waktu yang lalu.


Sebuah anggukan mewakili bibir Fang Yin untuk menjawab pertanyaan ayah angkatnya itu.


"Aku memasukanmu ke akademi milik Song agar bisa membuatku bangga, tetapi apa yang telah kamu lakukan? Kamu membuat seluruh akademi menjadi berantakan karena ulahmu!" Ucapan Tuan Xi terasa seperti sebuah tamparan keras bagi Fang Yin.


Entah cerita seperti apa yang telah dikarang oleh Tetua Song sehingga membuat Tuan Xi begitu marah padanya.


Fang Yin tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab kata-kata yang dikeluarkan oleh ayah angkatnya itu. Bukan karena tidak berani. Namun itu dia lakukan karena ingin tahu apa yang menyebabkannya menjadi marah seperti itu.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kamu begitu tega meracuni teman-temanmu sendiri karena merasa sakit hati pada mereka selalu mengabaikanmu!"


Fang Yin melotot mendengar ucapan Tuan Xi. Kali ini dia tidak bisa diam lagi. Dia harus membuktikan jika dirinya tidak bersalah dan itu adalah fitnah.


Mungkin Tetua Song ingin ada perpecahan antara Tuan Xi dan Fang Yin. Dia ingin Tuan Xi menghukum Fang Yin dengan fitnah ini karena dia yakin Fang Yin pasti akan menyanggahnya.


"Tuan Xi! Begitu mudahnya Anda percaya dengan cerita palsu yang dibuat oleh tua bangka itu!" seru Fang Yin.


"Bersikaplah sopan pada gurumu meskipun kamu dikeluarkan dengan tidak hormat dari sana!" hardik Tuan Xi.


"Apa?! Hemh! Anda telah ditipu mentah-mentah olehnya. Aku pikir seorang ayah akan lebih mempercayai anaknya ketimbang orang lain. Aku telah lulus dari akademi itu beberapa pekan yang lalu dan Tetua Song jugalah yang melepas kepergianku secara resmi sebagai murid paling berbakat!" Fang Yin mencoba mengatakan apa yang sebenarnya terlepas percaya atau tidaknya Tuan Xi padanya.


"Aku tidak bodoh, Xiao Yin! Paling tidak butuh satu tahun bagi murid jenius untuk menyelesaikan pendidikannya. Kamu belum genap setengah tahun berada di sana. Memangnya sehebat apa dirimu bisa menyelesaikan pendidikan di sana dalam waktu beberapa bulan saja." Tuan Xi tersenyum mengejek pada putri angkatnya itu.


Fang Yin memberanikan diri berjalan menghampiri Tuan Xi hingga mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.


Tuan Xi turun dari kudanya dan menyerahkan kuda itu pada anak buahnya.


Mereka saling bertatapan sama-sama merasa dirinyalah yang benar.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2