Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 278. Kekacauan


__ADS_3

Pemilik baju-baju itu mengangguk sambil tersenyum. Ada beberapa baju lain yang dia simpan. Dia mengeluarkan semuanya agar Fang Yin memiliki banyak pilihan.


Fang Yin tidak memiliki selera khusus dalam memilih pakaian. Dia mengambil empat buah untuk dirinya dan keluarganya.


Penjual baju merasa sangat senang karena Fang Yin tidak menawarnya. Dia langsung membayar sejumlah uang yang diminta oleh penjual meskipun harga yang ditawarkannya sangat tinggi.


Semua orang yang melihatnya terbengong menatap Fang Yin. Ada banyak pedagang dari luar daerah yang berbelanja baju untuk di jual lagi. Mereka terheran-heran dan menganggap Fang Yin terlalu dermawan.


"Nona, mampirlah ke mari. Belilah daganganku." Penjual-penjual lain merasa iri melihat uang yang didapatkan oleh penjual yang dibeli oleh Fang Yin.


Fang Yin berdiri sambil berpikir. 'Sifat manusia memang tidak jauh dari rasa iri dan keserakahan.'


"Maaf saya sudah mendapatkan baju yang saya inginkan." Fang Yin segera pergi dari sana dan mengabaikan suara-suara sumbang para pedagang yang merasa iri itu.


Desa kecil itu adalah desa pengrajin kain sutera. Di pinggir desa banyak sekali pondok-pondok yang digunakan untuk memelihara ulat sutera. Mereka hanya bisa memanennya dalam waktu-waktu tertentu sehingga membuat produksi mereka tidak pasti.


Banyak sekali kendala yang sering mereka hadapi sebagai seorang petani ulat sutera. Penghasilan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok saja. Para pedagang nakal yang berasal dari daerah lain terkadang membeli baju-baju mereka dengan harga yang sangat murah. Namun, mereka menjualnya dengan harga yang sangat mahal di daerah lain.


Mereka begitu serakah dengan uang dan terkadang saling bersekongkol untuk menjatuhkan harga. Fang Yin juga merasakan tatapan kebencian mereka ketika dia membeli baju dengan harga yang sangat mahal.


Suara tangis seorang anak kecil membuat Fang Yin menghentikan langkahnya. Gadis kecil itu kira-kira berusia kurang dari lima tahun. Dia menangis ketakutan ketika seorang pedagang membentak ibunya saat bertransaksi.


Pedagang itu memaksa mengambil baju-baju yang dia inginkan dan membayarnya sesuai keinginannya. Ibu dan anak itu terlihat pasrah dan hanya menerima uang yang jauh dari kata sepadan.


Fang Yin menghampiri mereka setelah mendengar sedikit tentang apa yang mereka perdebatkan. Hatinya sulit menerima ketidakadilan di depan matanya. Mau tidak mau dia harus ikut campur dalam masalah mereka dan menjadi penengah.


"Hentikan!" teriak Fang Yin pada pedagang yang mengemas barang milik wanita itu.


Pria itu menghempaskan baju yang masih dia pegang dengan kasar dan menatap Fang Yin dengan marah.


"Kamu tidak berhak mencampuri urusan kami, Nona. Kami sudah sepakat dan jual beli ini sudah sah!" seru pedagang itu.


Fang Yin maju ke depan dan berdiri tepat di hadapan pria itu. Meskipun tubuhnya tidak mengeluarkan aura energi tetapi tatapan matanya terlihat sangat menakutkan. Dia menengadahkan tangannya di depan ibu dan anak yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Berikan uang yang diberikan oleh pedagang ini padaku!" pinta Fang Yin.


Wanita itu tampak ragu tetapi dia menuruti permintaan Fang Yin dan memberikan semua uangnya.


Ada lebih dari sepuluh pasang baju yang diambil oleh pria itu, sementara uang yang diberikan untuk wanita itu hanya satu koin emas dan sepuluh koin perak.


Satu koin emas senilai dengan lima belas koin perak dan satu koin perak senilai dengan lima belas koin perunggu. Itu artinya seluruh baju itu hanya dinilai dua puluh lima koin perak. Sebelumnya Fang Yin membayar empat baju dengan harga empat koin emas. Setidaknya pedagang itu membayar satu baju setengah dari nilai satu baju yang dibayarkan olehnya.


Pertengkaran mereka menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Mereka terus berdatangan dan menyaksikan keributan yang terjadi.


"Di kota orang membeli baju sutra dengan harga yang sangat mahal. Paling tidak satu baju dihargai satu koin emas. Kamu terlalu kejam, Tuan. Kamu mengambil keuntungan yang sangat besar. Baju sebanyak ini ini hanya kamu hargai satu koin emas dan sepuluh koin perak, yang benar saja!" Emosi Fang Yin membuncah, amarahnya meledak-ledak saat mengetahui jumlah uang yang dibayarkan oleh pedagang itu. Pantas saja pemiliknya menangis. Pria itu benar-benar keterlaluan.


"Kamu tidak berhak untuk ikut campur dalam masalah ini, Gadis Aneh! Wajahmu pasti sangat buruk sehingga kamu menutupinya dengan kain hitam. Jika tidak ada keperluan lagi di sini mendingan kamu pergi. Kembalikan uang itu pada pemiliknya!" teriak pedagang itu.


"Kamu pemiliknya. Jangan sentuh baju-baju ini dan biarkan dia menemukan pedagang yang memberikan harga terbaik."


Ucapan Fang Yin menyinggung pedagang itu. Dia terlihat memberi kode kepada teman-temannya untuk mendekat. Ada beberapa orang pedagang dengan tubuh kekar datang menghampirinya dan berdiri di sampingnya.


"Tampaknya kamu sudah bosan hidup, Gadis Jelek!" pedagang itu terlihat sangat emosi.


"Aku tidak mencari permusuhan denganmu, Tuan-tuan. Aku hanya tidak suka dengan cara kalian berdagang dengan cara yang curang. Kalian membeli dengan harga yang rendah dengan disertai pemaksaan. Ini adalah hal yang tidak benar." Fang Yin berbicara tanpa rasa takut.


Para pengrajin setuju dengan apa yang dikatakan oleh Fang Yin. Mereka selalu memberi harga yang rendah dan sering memaksa. Sebenarnya banyak pedagang lain yang datang untuk memborong dagangan mereka, tetapi sering kali mereka mengusirnya dan memintanya mengambil barang di tempat lain. Kelompok pedagang ini telah memonopoli perdagangan di tempat ini sejak beberapa tahun belakangan ini.


Para pedagang terlihat semakin marah ketika mendengar pengrajin mengadukan kelicikan mereka pada Fang Yin. Tetapi mereka merasa menang dengan jumlah mereka yang banyak dan membanggakan kemampuan beladiri yang dimilikinya. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dalam pandangan mereka, Fang Yin hanya seorang gadis biasa yang tidak memiliki kemampuan apa-apa.


"Aku memberimu dua pilihan, Gadis Aneh. Kamu pergi dan tidak mencampuri urusan kami atau tetap di sini dan bersiap untuk mati." Pedagang yang berurusan dengan Fang Yin sejak tadi terlihat begitu emosi.


Fang Yin menatap tajam ke arah pria itu. Sepertinya para pedagang itu memang tidak bisa diperingatkan dengan kata-kata. Telapak tangan kanannya terbuka lalu muncullah sebuah pedang.


"Aku tidak suka basa-basi. Sikap kalian membuatku muak. Mungkin dunia perdagangan akan menjadi damai dengan kematian kalian!" Fang Yin benar-benar sangat marah.


Bukannya mengakui kesalahannya, para pedagang itu malah semakin menjadi-jadi. Mereka bersikap waspada ketika melihat Fang Yin datang dengan pedangnya.

__ADS_1


Pertarungan pun tidak terelakkan lagi. Mereka menyerang Fang Yin dengan pedang dan senjata yang mereka miliki. Suara pedang beradu membuat warga di sekitar tempat itu menjerit ketakutan. Mereka bergerak menjauh dan melihat pertarungan dari jarak yang aman. Wajah mereka terlihat khawatir melihat Fang Yin yang melawan sepuluh orang pedagang seorang diri. Penduduk di desa itu memang tidak pandai bertarung, itulah mengapa mereka begitu mudah ditindas.


Teknik pedang yang dimiliki Fang Yin sudah mendekati sempurna. Tanpa menggunakan kemampuan lain pun dia sudah membuat sepuluh pedagang dengan ranah kultivasi tingkat bumi itu terdesak.


Jiwa kejam Fang Yin kembali bergelora. Dia membuat para pedagang itu kehilangan bagian-bagian tubuhnya sebelum dia benar-benar membunuhnya. Apa yang telah mereka lakukan pada para penduduk desa lebih menyakitkan daripada luka yang mereka alami saat ini.


Fang Yin tidak membunuh semua pedagang itu. Dia menyisakan salah seorang di antaranya sebagai peringatan kepada kelompok mereka. Setelah ini, jika ada yang berani mengganggu para pengrajin maka akan berhadapan langsung dengannya.


Pedagang yang masih hidup itu segera pergi dari desa itu tanpa membawa apapun. Nyawanya lebih penting. Selagi Fang Yin mengampuninya, dia segera meninggalkan tempat itu dengan luka-luka yang menggores di sekujur tubuhnya.


Seluruh penduduk desa mendekati Fang Yin dan mengucapkan terima kasih. Hari telah sore, dia meminta para penduduk untuk segera membereskan mayat-mayat pedagang dan kekacauan yang telah dibuatnya.


"Terimakasih, Nona." Penjual yang ditolong oleh Fang Yin maju ke hadapannya dan memberinya hormat.


"Hmm." Fang Yin mengangguk. Tubuhnya masih berkeringat dan terengah-engah setelah pertarungan tanpa energi pendamping. Dalam pertarungannya kali ini dia hanya mengandalkan kecepatan gerakan dan teknik pedang.


"Jika Anda berkenan, singgahlah di pondok kami." Wanita itu terlihat tulus.


Fang Yin masih diam berpikir hingga sebuah tangan kecil menarik ujung lengan bajunya.


"Kakak, ibuku pandai memasak. Sup buatannya sangat enak." Gadis kecil itu mencoba merayu Fang Yin.


Mata jernih itu seakan menghipnotisnya. Fang Yin membungkuk hingga mereka berhadapan dengan wajah sejajar.


"Benarkah?"


"Benar, Kak. Singgahlah di rumah kami." Gadis kecil itu terlihat sangat manis.


Fang Yin mengikutinya berjalan menuju ke rumahnya, tetapi baru beberapa langkah mereka berjalan terdengar suara ledakan yang sangat keras di ujung jalan.


Suasana sore hari yang remang-remang membuat nyala api besar terlihat sangat jelas di kejauhan. Penduduk berlari ketakutan sambil berteriak meminta pertolongan.


Fang Yin menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber ledakan.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2