
Mata Jian Heng terbelalak karena terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Fang Yin. Detak jantungnya memacu dengan cepat dan tubuhnya mendadak menjadi dingin. Semua itu bukan karena rasa sakit yang dideritanya melainkan karena sentuhan Fang Yin.
Jian Heng mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Kamu berbohong. Ada masalah serius tapi kamu tahan. Sekarang buka bajumu!" perintah Fang Yin.
Lagi-lagi suara lembut Fang Yin membuat Jian Heng tersentak. Otak nakalnya membuatnya berpikir hal yang tidak-tidak. Beruntung dia segera bisa mengalihkan pikirannya ke hal positif dan berusaha mengendalikan dirinya.
Jian Heng hendak berdiri tetapi Fang Yin menarik tangannya hingga dia kembali terduduk.
"Mau ke mana?" tanya Fang Yin.
"Katanya kamu memintaku untuk membuka baju," ucap Jian Heng sambil mengerjab-ngerjapkan matanya.
"Kan sambil duduk saja. Aku hanya ingin kamu membuka pakaian bagian atas saja," ujar Fang Yin dengan nada kesalnya.
"Oh, kirain." Jian Heng meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Fang Yin melotot melihat tingkah aneh Jian Heng. Sebagai seorang wanita dewasa, Agata tahu apa yang ada di otak Jian Heng saat ini. Fang Yin memalingkan wajahnya yang tersipu saat menunggu Jian Heng selesai membuka pakaiannya.
Setetah Jian Heng siap, Fang Yin segera memulai pengobatannya. Dia menekan beberapa bagian tubuh Jian Heng untuk menentukan bagian mana saja yang harus dia totok untuk mempermudah pengobatannya.
'Kamu membuat aku hampir pingsan, Xiao Yin! Berapa lama lagi kamu akan memeriksaku seperti ini,' gumam Jian Heng menahan napasnya ketika Fang Yin berada dalam jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
Fang Yin berpindah posisi dengan duduk di belakang punggung Jian Heng untuk mulai menandai titik-titik akupuntur yang akan dia tusuk dengan jarum.
Sebelum menggunakan jarum-jarum itu, Fang Yin memanaskannya terlebih dahulu.
"Itu apa? Kamu tidak ingin membunuhku, kan?" Jian Heng merasa ngeri melihat jarum-jarum di tangan Fang Yin.
"Kamu tenang saja. Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan," ucap Fang Yin mencoba menenangkan Jian Heng.
Jian Heng pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Fang Yin. Tidak ada gunanya dia berontak karena sebagian alat geraknya telah terkunci oleh totokan Fang Yin.
Tusukan demi tusukan jarum Fang Yin mengisi tempat-tempat yang telah dia tandai sebelumnya.
Tidak ada rasa sakit seperti yang dikhawatirkan oleh Jian Heng sebelumnya. Dia diam tak berkutik sampai seluruh jarum itu menancap di tubuhnya.
Setelah semuanya sudah tertata seperti yang dia inginkan, Fang Yin mulai mengalirkan Qi untuk membuat jarum-jarum itu bekerja.
"Arrgh!" pekik Jian Heng ketika merasakan Qi dari jarum-jarum itu menerobos masuk ke dalam tubuhnya.
Di dalam tubuhnya mengalir energi yang terasa panas membakar menyebar dengan cepat. Energi itu terus bergerak memasuki seluruh tubuh Jian Heng yang sebelumnya terasa sakit dan membuatnya semakin sakit.
"Tetap tenang. Rasa sakitnya akan hilang jika racun yang mengendap di dalam tubuhmu sepenuhnya sudah menghilang," jelas Fang Yin sambil terus mengalirkan Qi miliknya.
"Hmm." Jian Heng mengangguk pelan.
__ADS_1
Gigi-giginya gemeretak menahan rasa sakit yang teramat menyiksanya. Keringat mengalir membasahi tubuhnya. Sesekali air mata Jian Heng mengalir di sudut matanya tanpa bisa dia kendalikan.
Luka dalam yang di alami oleh Jian Heng lumayan parah sehingga membuat pengobatannya membutuhkan waktu yang sedikit lama.
Bukan hanya Jian Heng yang merasakan siksaan, Fang Yin pun turut merasakan efeknya. Racun energi yang begitu pekat membuatnya harus bekerja keras untuk mengeluarkannya. Rasa panas dari racun yang keluar membuat tubuh Fang Yin merasa gerah dan berkeringat.
"Terimakasih, Xiao Yin. Aku sudah tidak meerasakan sakit lagi," ucap Jian Heng setelah melewati masa-masa sulitnya.
"Sama-sama." Fang Yin segera menghentikan aliran Qi-nya lalu mencabut satu demi satu jarum akupunturnya.
'Tubuh yang indah. Kenapa aku baru menyadarinya. Ah, mikir apa, sih, aku ini.' Fang Yin memukul kepalanya pelan saat terpesona oleh tubuh atletis Jian Heng.
Semua sudah beres, tinggal membuka totokan di bagian depan tubuh Jian Heng saja. Fang Yin melakukannya dengan cepat karena tidak sanggup berada di dalam jarak yang begitu dekat dengan Jian Heng. Sebelumnya dia tidak begitu memperhatikan karena tertutup rasa khawatirnya.
Fang Yin segera berbalik dan segera berlalu dari hadapan Jian Heng tanpa permisi.
Jian Heng terbengong melihat kepergian Fang Yin. Semuanya terasa begitu cepat hingga dia pun tidak sempat mengucapkan kata selamat malam untuknya.
'Kamu seperti hantu,' gumam Jian Heng lirih saat mendapati Fang Yin sudah menghilang dari pandangannya.
****
Bersambung ....
__ADS_1