Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 236


__ADS_3

Perasaan Fang Yin sedikit lega meskipun pada kenyataannya dia tidak tahu apakah Kaisar Jing akan benar-benar membantunya setelah tahu tujuannya yang sebenarnya.


Tangannya bergerak untuk meraih teh panas yang tersuguh di hadapannya. Aroma wangi segar yang khas menyeruak memenuhi rongga hidungnya.


Rasa hangat terasa di bibirnya saat bibir cangkir menempel di sana. Dia merasakan seteguk teh hangat yang mengalir melalui kerongkongan.


Fang Yin kembali meletakkan cangkir itu, tidak ingin meminumnya hingga tandas.


Apa yang dilakukan olehnya tidak luput dari pengamatan Kaisar Jing. Semula dia berharap dapat mengintip wajah di balik cadar hitam itu. Namun, semuanya hanya sekedar angan-angan belaka. Wajah cantik Fang Yin tetap tersembunyi dengan rapat.


"Aku sedang menjalankan sebuah misi, Yang Mulia. Bagiku misi ini cukup berat dan membuatku hampir putus asa."


Ucapan Fang Yin membuat Kaisar Jing tersadar dari lamunannya. Suara lembut itu berhasil membuatnya tersentak. Dadanya bergetar, tergambar jelas rasa peduli di matanya.


“Aku tidak bisa mengukur sebuah kesulitan. Wanita hebat sepertimu pasti akan menyelesaikan misimu dengan mudah.”


Pujian yang dilontarkan Kaisar Jing membuat Fang Yin merasa gerah. Sebenarnya dia sangat enggan berurusan dengan seorang pria, terlebih lagi orang yang memiliki kekuasaan.


Semakin banyak bicara akan membuang waktunya. Berdekatan dengan pria asing yang memberinya pandangan menginginkan memaksanya untuk segera bicara dan mengakhiri semuanya.


Raut wajah Fang Yin semakin tidak senang pada Kaisar Jing. Dia mencium aroma kelicikan di balik sikap manisnya. 

__ADS_1


“Misiku adalah mencari Kitab Sembilan Naga bintang tujuh. Selentingan kabar yang kuterima terdengar rancu. Entah, aku akan mendapatkannya atau tidak.”


Ekspresi wajah Kaisar Jing berubah dengan cepat. Kedua bola matanya bergerak-gerak.


‘Sudah kuduga. Kamu pasti tidak akan senang setelah mendengar ini.’ Fang Yin berbicara di dalam hati.


Belum sempat Kaisar Jing memberikan jawaban untuk Fang Yin, seorang wanita dengan baju bermotif indah dan berpenampilan elegan, tiba-tiba sudah berdiri di samping mereka.


Matanya memberi tatapan tidak senang pada Fang Yin lalu beralih menatap Kaisar Jing yang terlihat bersikap biasa. Wanita itu semakin merasa tidak senang karena tidak ada penghormatan untuknya. Baru kali ini sebagai seorang permaisuri dia tidak dihormati oleh wanita asing berpenampilan seperti seorang rakyat biasa.


Sia-sia dia menunggu sopan santun dari Fang Yin. Tangannya menarik kursi lalu mendudukinya dengan kesal.


“Rupanya benar yang aku dengar dari pelayan. Yang Mulia Kaisar menyimpan seorang wanita di istana ini.” Permaisuri Lin tidak bisa lagi menahan dirinya untuk diam.


Tidak ingin mendengar ucapan yang memancing emosinya, Fang Yin berencana untuk segera pergi dari sana. ‘Menghadapi seorang wanita yang sedang cemburu akan lebih sulit daripada menghadapi musuh yang berbahaya,’ gumam Fang Yin dalam hati.


“Terimakasih untuk tehnya, Yang Mulia. Jika tidak ada yang perlu kita bicarakan, aku ingin kembali ke kamar.” Fang Yin beranjak dari duduknya lalu berbalik.


Tiba-tiba permaisuri Lin bangkit dan memegang lengannya. Pandangan matanya menyiratkan kemarahan dan kebencian.


“Tunggu, Nona. Sebenarnya aku tidak pernah memandang seseorang dari pakaiannya. Tetapi melihat sikapmu ini aku merasa jika rakyat biasa memang sedikit sekali belajar tata krama.”

__ADS_1


Kaisar Jing berdiri dan menatap Permaisuri Lin tajam.


“Jaga sikapmu, Permaisuri Lin.” Suara berat dan penuh penekanan Kaisar Jing membuat emosi permaisuri yang tersulut mereda.


“Aku hanya membela kehormatanmu, Yang Mulia. Tidak masalah jika dia tidak memberiku hormat, tapi dirimu ….”


Tangan kanan Kaisar Jing mengayun ke atas dengan telapak tangan terbuka mengisyaratkan permaisuri untuk diam.


Melihat kejadian ini, Fang Yin merasa yakin jika sebenarnya Kaisar Jing memperlakukan wanita dengan terhormat. Jauh dari praktek yang terlanjur mendarah daging di tengah rakyatnya.


“Tolong lepaskan tanganku!”


Sedikitpun Fang Yin tidak melihat ke arah permaisuri. Dengan perasaan segan, Permaisuri Lin pun melepaskan tangannya.


Dia melihat punggung Fang Yin yang berjalan menjauh. Keadaan yang membuatnya tidak mengerti. Wanita yang baginya asing telah membuat suaminya bersikap aneh.


Permaisuri Lin duduk dengan kasar. Hatinya memendam perasaan geram. Namun, dia tidak berani untuk mengungkapkannya.


Kaisar Jing pun kembali duduk, menatap Permaisuri Lin lekat lalu berkata, "Sebaiknya kamu tidak menyinggungnya. Dia adalah keturunan dari suku es."


Permaisuri Lin terkesiap. Seketika wajahnya pias didera oleh kecemasan. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. Ketakutan membuat suaranya tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2