
Setelah sampai di halaman, Fang Yin dan Jian Heng menuruni artefak daunnya dan berjalan menuju ke rumah keluarganya.
"Yin'er! Tuan Heng! Apa yang terjadi?" tanya Shi Jun Hui dan Shi Han Wu yang muncul dan membukakan pintu untuk keduanya ketika mendengar langkah kaki mereka.
"Ada sedikit masalah, Kek. Tapi tidak perlu khawatir. Kami sudah mengatasinya," jelas Fang Yin.
"Bagus. Tapi kulihat kalian seperti sedang terluka?" tanya Han Wu.
"Kami akan baik-baik saja setelah beristirahat. Besok pagi kami janji akan menceritakan semuanya. Bolehkah kami beristirahat sekarang?" tanya Fang Yin yamg ingin segera berkultivasi untuk mengeluarkan racun-racun di tubuhnya dan memulihkan energinya.
"Kami akan mengantarmu." Shi Han Wu membantu Fang Yin pergi ke kamarnya sedang Shi Jun Hui membantu Jian Heng.
Mereka mengantar keduanya hingga di depan pintu dan membiarkan keduanya beristirahat. Kakek kembar Fang Yin itu lalu kembali ke kamar mereka juga setelah menunggu cucunya pulang.
Fang Yin dan Jian Heng tidak langsung beristirahat, tetapi duduk berkultivasi hingga tubuh mereka kembali normal. Apa yang mereka alami menjadi pengalaman tersendiri di mana kekuatan yang besar tidak bisa disombongkan.
Di dunia kultivasi yang luas memungkinkan untuk menemukan kekuatan terus berkembang tanpa batas. Untuk bisa bertahan dan bersaing, seseorang harus menjadi kuat dan penuh perhitungan.
Berbeda lagi dengan Jian Heng yang selalu menyelaraskan perbuatan baik dengan energi positif dari alam. Setiap apa yang dilakukan akan memantul dan menimbulkan akibat bagi si pelaku.
Fang Yin mengakhiri kultivasinya dan beristirahat sebelum tengah malam. Begitu juga dengan Jian Heng yang merasakan lelah yang tidak jauh beda darinya.
Di bukit prasasti,
Batu prasasti itu terus meninggi hingga setinggi beberapa kaki. Pertumbuhannya baru berhenti setelah melewati tengah malam dan mencapai batas ketinggian yang ingin dicapai oleh roh pelindung mustika es.
Batu mustika es tertanam di atas puncak prasasti dan menyatu dengan mantra yang tidak bisa ditembus oleh kekuatan apapun. Siapapun yang mencoba untuk mendekatinya akan di serang oleh sulur-sulur hidup yang melindunginya.
Dari kejauhan batu mustika es akan terlihat seperti bendan yang bercahaya redup dan bisa terlihat dari tempat tinggal penduduk karena prasasti yang cukup tinggi.
Saat seluruh penduduk tengah terlelap dalam mimpi. Batu mustika es membagi energinya kepada seluruh keturunan suku es. Tidak termasuk kepada Selir Ning dan Jian Heng karena mereka tidak memiliki Qi Awan Salju di dalam tubuhnya.
Pembagian energi ini membuat penerimanya menjadi lebih berenergi dan bersemangat. Mereka merasakan tubuh mereka sangat segar ketika terbangun. Tidak ada rasa lelah yang sebelumnya terbawa ketika pergi tidur.
Salah seorang penduduk Gunung Perak terbangun di pagi hari untuk pergi mengambil kayu bakar yang dia simpan di belakang rumahnya. Secara tidak sengaja dia melihat ada cahaya putih yang menyala di bukit tempat seleksi pasukan berlangsung.
__ADS_1
"Apa itu?" Pria itu menjatuhkan kayu bakar yang ada di tangannya.
Untuk beberapa saat pria itu terus berdiri mengamati cahaya yang bersinar redup itu. Hari masih gelap karena saat ini masih dini hari. Pria itu kemudian berteriak kepada pria lain yang juga sedang mengambil kayu bakar untuk memasak.
Teriakan mereka mengundang warga lain untuk keluar rumah dan bergabung bersama mereka. Merasa aneh dengan benda bersinar itu, salah seorang pria pergi untuk melapor kepada Patriak Shi.
Suara gaduh itu akhirnya terdengar juga ke telinga keluarga Fang Yin. Mereka pun ikut berbondong-bondong menyusul penduduk yang berkumpul di halaman salah seorang penduduk.
'Tubuhku merasakan ada penambahan Qi. Aku sangat mengenal aura ini,' gumam Fang Yin dalam hati.
"Hmmh! Roh pelindung itu rupanya tidak perhitungan. Kupikir pusaka itu hanya untuk disimpan saja." Fang Yin tersenyum sambil mengamati telapak tangannya.
Jian Heng mengetuk pintu kamarnya saat melihat seluruh anggota keluarga Fang Yin pergi keluar. Meskipun sangat ingin pergi, Jian Heng tetap memikirkan Fang Yin dan berniat untuk membawanya juga.
"Yin'er! Bangunlah! Semua orang telah bangun dan pergi keluar. Sebaiknya kita segera menyusul dan melihat apa yang terjadi," ucap Jian Heng lembut.
"Aku sudah bangun." Fang Yin membuka pintu dan berdiri mematung di hadapan jian Heng.
"Ayo kita keluar sekarang!" Jian Heng menarik tangan Fang Yin.
Mereka melihat penduduk Gunung Perak yang berkerumun sambil terus bergumam. Suara mereka membuat suasana menjadi gaduh. Saat semua orang berbicara bersama-sama membuat apa yang mereka bicarakan tidak terlalu jelas.
Seorang penduduk yang baru datang bertanya kepada penduduk yang lain, dari sini Fang Yin dan Jian Heng ikut mendengar kabar yang membuat seluruh penduduk berkumpul.
Mereka berdua menatap benda bersinar yang menyala redup di kejauhan. Fang Yin dan Jian Heng saling berpandangan.
"Bukankah itu prasasti yang kita buat semalam, Yin'er?" tanya Jian Heng.
"Aku rasa juga begitu. Roh pelindung itu pasti sengaja meninggikan batu penyangganya agar dia bisa dengan mudah membagi energi kepada seluruh keturunan suku es yang tinggal di sini," jawab Fang Yin.
Jian Heng mengangguk mengerti.
Di kejauhan terlihat Patriak Shi berjalan tergesa menghampiri kerumunan. Saat melihat Fang Yin dan Jian Heng, dia berputar arah dan berhenti tepat didepannya.
"Selamat pagi, Nona Yin, Tuan Heng," sapa Patriak Shi menyatukan kedua tangannya memberi hormat.
__ADS_1
"Selamat pagi, Patriak Shi." Jian Heng dan Fang Yin membalas hormat itu bersamaan.
Untuk beberapa saat, Patriak Shi tertegun melihat perubahan pupil mata Fang Yin. Namun, dia tidak mengungkapkannya dan menganggap itu hal yang wajar bagi seorang kultivator ranah dewa sepertinya.
"Menurut Anda, apa yang sebenarnya terjadi, Nona? Penduduk Gunung Perak takut jika terjadi bahaya. Kami belum bisa melihat secara jelas wujud dari batu mustika es. Batu itu hanya muncul pada perayaan tertentu dan menjadi sebuah penanda bahaya di masa lalu." Patriak Shi mengungkapkan kekhawatirannya.
Fang Yin tersenyum menanggapi sikap Patriak Shi. Dia kemudian maju beberapa langkah hingga keduanya berdiri saling berdekatan.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Roh pelindung mustika es hanya ingin membagi energi dari pusaka leluhur itu secara berkala kepada seluruh keturunan suku es yang berada di sini. Aku pernah melihat prasasti seperti ini di dimensi Phoenix Api dan Es. Mereka menyimpan benda pusaka yang merupakan bagian kecil dari mustika es dan menyimpannya di atas menara. Setiap hari mereka mendapatkan energi darinya," jelas Fang Yin.
"Jadi, Anda juga tahu tentang kisah Phoenix Api dan Es? Aku pikir legenda itu hanyalah cerita fiktif." Patriak Shi terkejut mendengar penuturan Fang Yin.
"Aku telah melihatnya secara langsung. Mereka sangat berhati-hati dalam menerima orang luar. Untuk masuk ke dalam dimensi Phoenix Api dan Es harus bisa melewati Bejana Jiwa Suci." Fang Yin menceritakan pengalamannya.
Patriak Shi pernah mendengar keberadaan makhluk itu yang selalu diburu oleh para kultivator untuk dijadikan roh pendamping. Namun, cerita dibaliknya terdengar simpang siur dan terdengar seperti legenda.
Setelah mendengar penjelasan Fang Yin tentang prasasti mustika es, Patriak Shi akhirnya merasa tenang. Dia kemudian berbicara di hadapan suku es dan mengatakan jika itu adalah pusaka suku es yang akan terus menyebarkan energi untuk mereka.
Penduduk Gunung Perak bersorak senang saat mendengar penjelasan Patriak Shi.
Fang Yin menyusulnya dan menjelaskan sebuah larangan kepada siapapun untuk mendekati prasasti mustika es dengan niat yang tidak baik. Batu mustika es memiliki roh pelindung yang tidak segan-segan untuk membunuh siapapun. Tidak akan ada yang sanggup melawannya karena roh itu memiliki kemampuan untuk memblokir kekuatan lawannya.
Semua orang mendengarkan ucapan Fang Yin. Sebagian percaya padanya dan sebagian lagi tidak percaya. Manusia memang memiliki dua sifat baik dan buruk yang saling berebut untuk menguasai pemiliknya.
"Jika sudah tidak ada yang ingin diketahui lagi, kalian bisa pulang. Setelah ini kita akan menjalani latihan di bawah Prasasti Mustika Es." Patriak Shi membubarkan kerumunan penduduk dan meminta mereka untuk melakukan aktifitas seperti biasanya.
Selir Ning datang tergesa menghampiri Fang Yin dan merasa takjub dengan perubahannya. Di belakangnya, Selir Shi dan anggota keluarganya yang lain juga berjalan menghampirinya.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Terimakasih.
__ADS_1