
Fang Yin ter lihat tidak sabar, dia terlihat beberapa kali memukul-mukul tangannya sendiri sambil berjalan mondar mandir di belakang Ketua Sekte.
'Sepertinya saat ini sudah memasuki tengah malam. Huh! Malam ini aku benar-benar gagal untuk melanjutkan perjalanan.' Fang Yin berdiri bersandar pada sebuah pohon dengan tangan yang terlipat di dada. Pandangan matanya menerawang jauh ke angkasa melihat bintang-bintang.
"Eheemm!" deheman Ketua Sekte membuyarkan lamunan Fang Yin.
"Ah, Kak Feng! Kamu sudah selesai rupanya." Fang Yin beranjak lalu berdiri dengan benar untuk menghadap Ketua Sekte.
"Sudah. Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah kamu memiliki rencana?" tanya Ketua Sekte, mata elangnya menatap ke arah Fang Yin sejurus.
Sebuah senyuman merekah di balik cadar Fang Yin mengingat sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu!" seru Fang Yin sambil berjalan di depan mendahului Ketua Sekte.
Tidak jauh dari merek terlihat tanaman-tanaman yang sangat unik. Tanaman itu bersinar dengan warna ungu yang sangat cantik.
Fang Yin duduk berjongkok untuk melihatnya dari dekat.
"Jangan di sentuh, Yin'er! Kita belum tahu tanaman itu berbahaya atau tidak." Ketua Sekte memperingatkan Fang Yin untuk berhati-hati.
Fang Yin mendongak ke atas dan melihat tanaman yang sama merambat pada sebuah pohon.
"Wah, tanaman unik ini rupanya bisa merambat!" seru Fang Yin beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati pohon itu.
Dia berjalan tanpa melihat ke bawah hingga kakinya menginjak tanaman yang bersinar itu.
Sesuatu hal yang tidak terduga pun terjadi tanaman yang dia injak itu tumbuh dengan cepat lalu bergerak untuk melilit kakinya.
__ADS_1
"Aaarrggghh!" pekik Fang Yin ketika tanaman itu menarik kakinya yang terikat.
Tubuh Fang Yin terjatuh lalu meluncur menjauh terbawa oleh tanaman itu menuju ke pohon yang dipenuhi tanaman itu.
"Yin'er! Yin'er!" teriak Ketua Sekte berusaha untuk mengejar dan menolong Fang Yin.
"Hahh! Hahh! Hahh! Tanaman cantik ini ternyata sangat kejam!" seru Fang Yin ketika mendapati tubuhnya tergantung dengan posisi terbalik.
Kakinya berada di atas dengan kepala yang berada di bawah. Tangannya berusaha mengeratkan penutup wajahnya agar tidak tersingkap.
"Tetaplah di sana, Yin'er! Aku akan berusaha untuk menolongmu!" seru Ketua Sekte sambil mengeluarkan pedangnya.
"Tunggu, Kak! Jangan menggunakan kekerasan untuk menghadapi tanaman ini. Sepertinya tanaman ini memiliki roh sehingga dia bisa merasakan hawa manusia di sekitarnya," jelas Fang Yin ketika merasakan energi yang sangat kuat pada tanaman yang mengikat kakinya itu.
Ketua Sekte terlihat berpikir saat mendengar ucapan Fang Yin. Dia merasa apa yang dikatakan oleh adik angkatnya itu ada benarnya.
Di dalam sebuah kitab kuno dituliskan jika sebuah tanaman roh bisa berkomunikasi dengan manusia huruf yang ditulis menggunakan aliran energi Qi.
Ketua Sekte mencoba melakukannya.
Dia mengulurkan kedua telapak tangannya maju ke depan. Sebuah cahaya keemasan keluar dari sana. Dengan gerakan cepat, Ketua Sekte melemparkannya ke udara lalu dengan kekuatan pikirannya mengendalikan Qi itu hingga membentuk sebuah tulisan.
'Hahh! Jurus apalagi ini! Aku baru melihatnya kali ini.' Fang Yin melihat huruf-huruf mulai tersusun rapi di udara dari energi yang dikeluarkan oleh Ketua Sekte.
'Tolong lepaskan adikku! Kami bukan orang yang jahat.'
Begitulah bunyi tulisan yang dibuat oleh Ketua Sekte.
__ADS_1
Tidak lama tanaman yang berada di ujung pohon itu menaburkan serbuk-serbuk cahaya yang bergerak membentuk sebuah tulisan.
'Apa yang kalian lakukan di sini? Ini bukanlah tempat untuk manusia tinggal!'
Ketua Sekte kembali melemparkan energinya untuk membalas tulisan itu.
'Kami sedang dalam perjalanan dan tersesat ke tempat ini.'
Setelah menerima jawaban dari Ketua Sekte itu tanaman aneh itu tidak lagi mengeluarkan tulisannya melainkan melepaskan lilitannya pada kaki Fang Yin.
"Woo ... wo ... wooo! Aku jatuh!" pekik Fang Yin yang terjatuh dari ketinggian.
Ketus Sekte berlari lalu menangkap tubuhnya.
"Terimakasih!" ucap Fang Yin segera melompat dari gendongan Ketua Sekte.
"Bukan hal yang besar. Ayo kita pergi dari sini. Bahkan tanaman di tempat ini pun sangat membahayakan." Ketua Sekte mengajak Fang Yin untuk melanjutkan perjalanannya.
"Kakak benar. Sesuatu yang tampak cantik pun ternyata begitu kejam," ujar Fang Yin.
'Sama seperti dirimu, Yin'er. Kamu wanita bermata cantik tetapi sangat kejam saat menghadapi lawan-lawanmu.' gumam Ketua Sekte.
Mereka kembali berjalan meninggalkan tanaman bersinar dan tepi sungai itu.
****
Bersambung ....
__ADS_1