
Tidak sabar menunggu jawaban dari roh naga, Fang Yin menyusulnya ke inti jiwanya. Rupanya roh naga itu sedang melakukan penerobosan dengan energi yang diserap dari cermin pemberian Selir Tang.
Ini pertama kalinya bagi Fang Yin melihat momen menakjubkan di mana seekor naga sedang bertransformasi. Sampai-sampai matanya tak berkedip, tidak ingin melewatkan pemandangan di hadapannya.
Cukup lama dia berdiri mematung dan tak bergerak sedikitpun dari tempatnya hingga proses transformasi itu benar-benar berakhir. Roh naga yang semula berwarna hitam kini berubah menjadi kuning emas dengan cahaya menyilaukan. Di keningnya terdapat tanda yang unik.
"Wow! Kamu sangat cantik sekarang. Tidak menakutkan seperti wujudmu yang sebelumnya," puji Fang Yin. Meskipun demikian, sorot mata naga itu tetaplah kejam.
"Hmm."
Jawaban yang tidak memuaskan bagi Fang Yin dan membuatnya sangat marah. Panjang lebar dia bicara tetapi hanya mendapatkan jawaban satu kata tanpa makna.
"Kamu menyebalkan sekali, Naga Jelek. Percuma kamu menawarkan pertemanan padaku jika kamu tidak pernah menghargaiku. Mungkin aku benar-benar akan menjadikanmu budak seperti yang terjadi pada Dewi Naga sebelum aku."
Dada Fang Yin terlihat naik turun meluapkan emosinya dengan bicara tanpa jeda. Dia semakin kesal saat roh naga tampak santai menanggapinya.
"Kamu selalu memanggilku seenaknya. Harus kamu ingat bahwa aku tidak suka diperintah. Kamu harus belajar untuk bicara baik-baik sekarang karena yang akan kamu hadapi setelah ini akan menguras kesabaranmu." Sikap roh naga menjadi lembut.
Fang Yin merasa heran sampai dia memiringkan kepalanya saat menatap roh naga. Sepertinya energi dari cermin itu membawa aura positif pada roh naga.
"Baiklah, kali ini aku akan mendengarkanmu. Tapi ingat, kalau sampai kamu berhianat maka aku akan melenyapkanmu!" ancam Fang Yin.
"Sepertinya sekarang kamu menjadi lebih kejam daripadaku. Beri aku nama. Aku tidak suka kamu memanggilku naga jelek, atau aku juga akan terus memanggilmu gadis bodoh."
Fang Yin merasa apa yang dikatakan oleh roh naga ada benarnya juga. Mulai hari ini, Fang Yin memanggil roh naga dengan panggilan Yang Hui. Mereka kembali akrab dan melupakan perdebatan mereka.
Yang Hui menjelaskan apa saja yang harus dilakukan untuk menghadapi Phoenix Api dan Es. Sebisa mungkin, mereka harus menghindari pertarungan dengannya jika tidak terpaksa. Ras Phoenix Api dan Es semakin sedikit dan hampir punah. Mereka akan menjadi sangat ganas karena mempertahankan rasnya.
Untuk membuka Kitab Sembilan Naga bintang tujuh, Fang Yin hanya membutuhkan dua helai bulunya. Namun, tentu saja itu tidak akan mudah mengingat mereka sangat sulit untuk didekati.
Phoenix Api dan Es membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menumbuhkan kembali bulunya dan selama dia kehilangan bulu walau sehelai, mereka akan kehilangan kemampuan terbangnya.
Ini adalah tantangan berat untuk Fang Yin di mana dia harus berusaha keras mendapatkan bulu itu tanpa perlawanan. Sebisa mungkin dia harus membuat Phoenix Api dan Es memberikannya dengan suka rela.
'Terlalu pusing jika aku memikirkannya sekarang. Lebih baik aku beristirahat.' Fang Yin mengakhiri kultivasinya lalu memasang pelindung di sekelilingnya.
Dinginnya udara malam dan suara binatang membuatnya merasakan kedamaian. Sudah lama dia tidak merasa sebebas ini. Kualitas tidurnya lebih baik saat tinggal di alam bebas ketimbang berada di tengah masyarakat.
Hari telah berganti pagi, sorot matahari di sela dedaunan menerpa wajahnya. Terngiang di telinganya kicauan burung yang saling bersahut-sahutan.
__ADS_1
Suara itu terdengar lain di telinga Fang Yin. Dia merasa Jian Heng yang memanggilnya dan memintanya untuk segera bangun. Dalam ingatannya, saat ini dia masih merasa berada di istana Kekaisaran Benua Tengah.
"Sebentar, Pangeran. Aku akan segera datang." Fang Yin terduduk dan hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangannya. Dia lupa jika saat ini tengah tidur di atas sebuah dahan pohon.
Setelah kesadarannya kembali, Fang Yin menoleh ke segala arah untuk mencari keberadaan Jian Heng.
"Pangeran Ketiga! Pangeran Ketiga!" panggil Fang Yin.
Tidak ada jawaban.
"Tidak mungkin aku sedang bermimpi. Suara itu terdengar sangat jelas. Atau mungkin aku sedang berhalusinasi." Fang Yin memukul kepalanya pelan berharap dia bisa mengingat sesuatu.
Saat membuka mata batinnya dia tidak merasakan ada jejak energi yang tertinggal di sana. Hawa manusia pun juga tidak ada di sekitarnya.
Kali ini Fang Yin baru benar-benar percaya jika suara itu hanya halusinasinya. Wajahnya terlihat kecewa. Kakinya menendang dedaunan kering dan apa saja yang menghalangi jalannya.
Sekelebat ayam hutan melintas di hadapannya. Dengan gerakan cepat dia melemparkan energi yang melesat menerobos rimbunnya semak-semak di antara pepohonan. Suara lengkingan ayam yang terbakar hidup-hidup menggema di tempat itu. Semakin lama suara itu semakin melemah lalu hilang.
Fang Yin mengambil ayam yang telah matang itu dan membuang kulit luar dengan sedikit bulu-bulu yang masih menempel. Dia hanya mengambil dagingnya saja yang paling lembut, lalu menaburinya dengan garam. Meskipun tidak selezat masakan istana, tetapi ayam ini cukup nikmat dinikmati sambil menantap hamparan alam yang luas.
Udara sejuk pagi itu membuat Fang Yin tidak ingin segera pergi dari sana. Dia menunggu matahari naik dan suhu disekitarnya menghangat. Untuk melemaskan otot-ototnya, dia mengeluarkan pedangnya.
__ADS_1
"Sudah lama aku tidak memainkan pedang ini. Meskipun sekarang aku lebih suka bertarung dengan tenaga dalam, tetapi aku tidak boleh melupakan teknik pedang. Segala sesuatu bisa terjadi, bukan tidak mungkin aku akan kembali menghadapi orang seperti Kaisar Jing." Fang Yin tersenyum miring mengingat pernah mengalahkan pemimpin negeri Benua Utara itu.
Tangan dan kaki Fang Yin bergerak harmonis ketika memainkan pedang. Sepintas gerakannya terlihat seperti sebuah tarian. Semakin lama kecepatannya semakin bertambah hingga dia hanya terlihat seperi bayangan.
Selain untuk latihan, Fang Yin tidak pernah mengeluarkan pedangnya kecuali dalam keadaan terdesak.
Pedang yang dia gunakan untuk berlatih merupakan hadiah dari Jian Heng. Pedang itu dipesan secara khusus dari seorang ahli pembuat pedang.
Ada semangat tersendiri setelah melihat kilau pedang miliknya. Suasana hatinya kini mulai membaik dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.
Matahari sudah tidak malu-malu lagi untuk menunjuk sinarnya. Fang Yin segera mengakhiri latihannya lalu meninggalkan tempat itu dengan artefak daunnya.
Benua Timur masih jauh meskipun berbatasan langsung dengan Benua Tengah. Mungkin sore hari dia baru sampai di perbatasan yang berhubungan langsung dengan tempat di mana Phoenix Api dan Es tinggal.
"Sepertinya tempat itu ada di sana. Semoga aku tidak salah arah." Fang Yin menempelkan sela jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya di kening saat melihat tempat yang jauh.
Artefak daun membawanya melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan pusat wilayah Benua Tengah.
'Selamat tinggal Benua Tengah, selama tinggal Pangeran Ketiga. Aku pasti akan merindukanmu. Semoga kita bisa segera bertemu lagi.'
\*\*\*\*
Bersambung ....
__ADS_1