
Fang Yin dan Jian Heng pergi meninggalkan kedai itu setelah mereka menyelesaikan makan siang mereka. Keduanya berhenti di depan kedai dan berdiri di bawah pohon.
"Ke mana kamu akan pergi setelah ini, Xiao Yin?" tanya Jian Heng.
"Aku akan melanjutkan misiku, tetapi sebelum itu, aku ingin pergi ke Gunung Serigala Merah untuk mencoba peruntungan membuka segel Kolam Misteri."
Jawaban Fang Yin membuat Jian Heng tersenyum. Dia merasa mendapatkan angin segar. Sebelumnya dia berpikir bagaimana dia bisa menahan Fang Yin untuk bersamanya lebih lama.
Dengan perjalanan ini, mereka setidaknya akan bersama-sama untuk satu atau dua hari.
"Aku juga akan pergi ke sana. Kita bisa berangkat ke sana bersama-sama sekarang." Jian Heng terlihat begitu bersemangat.
"Ayo kita berangkat!" Fang Yin pun tidak kalah bersemangat. Dia berjalan di depan mendahului Jian Heng dengan riang.
Mereka pergi meninggalkan kota itu di tengah matahari yang sangat terik. Sejuknya hati mereka membuat keduanya tidak merasakan panas.
'Hatiku merasa damai dengan kehadiranmu, Tetua Yu. Tetapi untuk saat ini aku belum bisa untuk terus bersamamu. Semoga suatu saat kita bisa dipertemukan lagi dan disatukan dalam sebuah ikatan.' Fang Yin melirik ke arah Jian Heng di sela-sela langkahnya.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka sampai di pinggiran kota dan mulai memasuki jalanan kecil yang dipenuhi oleh pepohonan rindang. Mereka tidak lagi kepanasan sehingga sedikit memelankan langkahnya.
"Apa tidak sebaiknya kita pergi saja melalui jalur udara?" tanya Fang Yin.
"Tidak. Kita tidak boleh menggunakan energi kita jika tidak terpaksa. Gunung Serigala merah adalah sarang bandit yang sangat sadis. Mereka bisa mencium kedatangan kita ketika kita mengeluarkan Qi dan meninggalkan jejak energi di mana-mana. Sebaiknya kita berjalan kaki saja."
Fang Yin mengangguk dan kembali berjalan mengikuti Jian Heng. Langkah panjang Jian Heng membuatnya harus berjalan dua kali lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
Sayangnya Jian Heng tidak peka akan hal itu dan terus saja berjalan dengan santai. Di sisinya, Fang Yin berusaha mengimbangi langkahnya dengan rasa lelah.
"Tetua Yu! Kakimu panjang sekali. Aku merasa kakiku pendek seperti kaki bebek. Susah sekali aku menjajari langkahmu." Lama kelamaan akhirnya Fang Yin pun menggerutu juga.
Ucapan Fang Yin membuat Jian Heng tersadar dan berjalan pelan.
"Maafkan aku, Xiao Yin. Aku tidak menyadari jika langkahku ini terlalu cepat." Jian Heng tersenyum dan menatap Fang Yin penuh penyesalan.
"Tidak perlu meminta maaf, Tetua Yu. Aku tidak bermaksud untuk menyalahkanmu untuk hal ini." Fang Yin merasa tidak enak.
"Kita akan sampai sebelum hari gelap meskipun berjalan sangat santai. Aku saja yang terlalu bersemangat karena ada gadis cantik yang menemaninya." Ucapan Jian Heng membuat Fang Yin tersipu.
"Dari mana kamu tahu aku cantik? Aku selalu menutupi wajahku." Fang Yin memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
"Entahlah! Tapi hatiku mengatakan jika kamu cantik. Betapa beruntungnya pria yang memilikimu kelak menjadi satu-satunya orang yang bisa melihat wajahmu dengan leluasa."
Matahari bergerak seiring dengan langkah mereka. Kini mereka sudah memasuki wilayah Gunung Serigala Merah.
Insting Fang Yin yang sangat tajam, bisa merasakan adanya energi lain di tempat itu. Dengan adanya roh naga di tubuhnya, dia juga bisa mendeteksi hawa manusia dan binatang roh yang berada di sekitarnya.
"Kita sebaiknya melalui jalan ini. Di sana aku merasakan hawa manusia, takutnya mereka adalah bandit. Kolam Misteri itu ada di sebelah ...." Fang Yin memutar tubuhnya sambil menunjuk ke arah yang belum pasti, "Sana!" Jari telunjuk Fang Yin berhenti pada sebuah arah.
Setelah mengatakan itu, Fang Yin pun berjalan menuju ke arah yang ditunjuknya. Jian Heng mengikutinya tanpa banyak bertanya. Sudah lama dia tidak bersama Fang Yin dan melihat perkembangan kemampuannya. Tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya pada seorang jenius sepertinya.
Matahari sudah bersembunyi di ufuk barat, senja semakin meremang meninggalkan semburat jingga di langit. Fang Yin dan Jian Heng melangkah dalam suasana temaram mendaki gunung yang jarang terjamah oleh manusia.
__ADS_1
Sedikit orang saja yang pergi ke sana karena tidak ingin bertarung dengan bandit dan bertemu binatang roh ribuan tahun yang siap memangsa mereka. Banyak kultivator yang mati sia-sia di sana sebelum mencapai Kolam Misteri.
Di tengah perjalanannya, Fang Yin merasakan tubuhnya begitu panas. Roh naga perlahan muncul dan menyelimuti tubuhnya dengan aura naga. Hanya binatang roh saja yang bisa melihat dan merasakan aura pekat di tubuh Fang Yin.
'Heh! Naga Jelek! Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu mengeluarkan aura menyeramkan ini? Sungguh, kamu senang sekali menyiksaku.' Fang Yin berbicara pada roh naga dengan suara hatinya.
'Diamlah!' Ucapan panjang lebar Fang Yin hanya dibalas dengan satu kata saja oleh roh naga.
Fang Yin merasa kesal dan marah tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Keringatnya bercucuran menahan hawa panas aura naga yang membuat tubuhnya seperti terbakar. Mungkin Jian Heng tidak bisa merasakan aura ini, hanya saja sisik-sisik samar di kulit wajah dan tangan Fang Yin bisa saja terlihat olehnya.
Saking kesalnya, Fang Yin berhenti lalu mengangkat kedua tangannya di depan wajahnya seakan sedang mencengkeram sesuatu.
Saat menyadari jika Jian Heng melihatnya, Fang Yin buru-buru melakukan tindakan konyol agar dia tidak merasa curiga. Fang Yin menepuk dengan keras seolah ada nyamuk di depannya.
Secara kebetulan aksinya itu mendapatkan dukungan dari alam, seekor nyamuk benar-benar melintas di depan Jian Heng. Jian Heng menepiskan tangannya untuk mengusir nyamuk itu.
"Nyamuk di sini besar-besar," ucap Jian Heng.
Fang Yin bernapas lega karena Jian Heng tidak curiga dengan apa yang dilakukannya.
Binatang roh yang ada di sekitar tempat itu bergerak menjauh dari mereka berdua setelah merasakan aura Dewi Naga yang keluar dari tubuh Fang Yin. Mereka tidak ingin berhadapan dan menyinggung binatang roh yang sangat kejam dan tidak mengenal ampun, Dewi Naga.
Semakin lama aura naga di tubuh Fang Yin semakin pekat. Di dalam gelapnya malam, sisik-sisik di tubuh Fang Yin terlihat bersinar. Meskipun cahayanya redup, tetapi Jian Heng bisa melihatnya dengan jelas.
'Aku tidak merasakan adanya energi apapun yang keluar dari tubuh Xiao Yin. Lalu mengapa auranya terlihat sangat berbeda. Aku yakin ini adalah aura Dewi Naga yang menguasai tubuhnya. Dalam keadaan seperti ini, bisa saja Xiao Yin kehilangan kesadarannya.' Jian Heng sedikit menjaga jarak dari Fang Yin dan bersikap waspada.
__ADS_1
****
Bersambung ....