
Terus menerus menghindar tidak akan menyelesaikan masalah. Jian Heng membalas serangan iblis hitam dengan lemparan energi untuk menghalau energi yang menghampirinya.
Ledakan keras terdengar setiap kali energi mereka bertabrakan.
Raksasa itu menyambar pepohonan besar yang dapat dijangkaunya lalu melemparkannya ke arah Jian Heng. Beruntung pertarungan mereka telah menjauh dari jalanan yang semula dilewati oleh para pedagang.
‘Aku tidak tahan lagi dengan aroma tubuh raksasa ini.’ Jian Heng tidak ingin berlama-lama bertarung dengan iblis hitam.
Tangan kanannya terangkat ke atas, sedangkan tangan kirinya melemparkan serangan. Jian Heng menyerap energi alam dan mengumpulkannya di atas telapak tangan kanannya.
Iblis hitam tidak tinggal diam. Melihat apa yang dilakukan lawannya, dia berusaha keras untuk menggagalkannya. Serangan membabi buta terus menghampiri Jian Heng.
‘Aku akui energinya memang sangat besar, tetapi iblis ini terlihat bodoh,’ gumam Jian Heng dalam hati. Dia merasa sedikit kewalahan menahan serangan iblis hitam dengan satu tangan.
Energi yang terkumpul hampir sempurna. Namun, keadaan Jian Heng juga terus terjepit. Iblis hitam terus memberikan serangan energi bertubi-tubi. Kekuatan mereka seperti tidak ada habisnya.
“Anak baik, menyerahlah!” seru raksasa itu ketika berhasil mendesak Jian Heng hingga di tepi sebuah jurang.
Jian Heng melayang di atas jurang yang dalam tanpa rasa takut. Tangan kirinya sejajar dengan tangan kirinya lalu menyangga energi besar yang terkumpul di atasnya. Aliran Qi dari dakam tubuhnya membuat energi itu semakin kuat.
Boom! Bomm!
Energi itu melesat dengan cepat menghantam tubuh raksasa itu setelah menembus energi yang dilemparkan olehnya.
Keadaan menjadi gelap. Pandangan mata tidak bisa menembus kepulan debu tebal yang menyelimuti iblis hitam.
Angin yang berhembus menerbangkan debu. Berangsur-angsur udara menjadi jernih. Raksasa iblis hitam tidak lagi tampak di hadapan Jian Heng. Tubuh keempat bandit hati iblis tergeletak di tanah.
"Kalian memang sudah tidak berdaya, tetapi jika aku membiarkan kalian hidup, banyak nyawa yang akan terancam." Jian Heng mengeluarkan pedang energi di tangannya.
Srett! Srettt! Srett!
Jeritan kematian menggema dipinggiran hutan itu. Keempat bandit itu meregang nyawa dan mati di tangan Jian Heng.
Kedua pedagang yang mengintip pertarungan itu berjalan mendekati Jian Heng. Mereka membantu melemparkan tubuh para bandit itu ke dalam jurang.
"Terimakasih, Tuan Muda." Kedua pria itu serempak memberi hormat pada Jian Heng.
"Bangunlah! Segera susul teman kalian!" seru Jian Heng.
Mereka meninggalkan tempat itu menuju ke jalan di mana kejadian bermula. Kedua pedagan itu membawa mayat temannya dan meletakkannya pada gerobak barang.
Jian Heng berjalan mendahului mereka menuju ke wilayah Benua Tengah. Dia bertemu kembali dengan rombongan pedagang yang ternyata masih menunggunya.
__ADS_1
"Kedua temanmu selamat. Mereka sedang membereskan barang-barangnya. Pergilah susul mereka!"
Ketujuh pedagang itu bersorak gembira. Mereka sangat kagum ketika tidak mendapati luka di tubuh Jian Heng.
"Terimakasih, Tuan!"
Jian Heng melangkah dengan ringan menuju ke ibukota Kekaisaran Benua Tengah. Teknik meringankan tubuh tingkat tinggi membuatnya bergerak sangat cepat. Ketujuh pedagang itu masih tertegun sampai dia benar-benar menghilang.
Jarak ibukota Kekaisaran Benua Tengah dan perbatasan masih cukup jauh. Namun, itu bukan masalah untuknya. Dengan teknik meringankan tubuhnya, dia bisa mencapainya dalam waktu singkat.
Keadaan tubuhnya yang lelah, memaksa Jian Heng untuk bergerak cepat pulang ke istana.
‘Setelah sekian purnama akhirnya aku kembali ke tempat ini.’
Jian Heng tersenyum melihat tembok istana dari kejauhan. Dia mempercepat langkahnya agar segera sampai di sana.
Pakaiannya yang sederhana membuatnya tidak mudah dikenali. Prajurit yang berjaga di depan istana menghadangnya ketika dia mencapai gerbang.
“Tunggu! Kami tidak bisa mengijinkan Anda masuk. Anda harus mengatakan tujuan Anda dan siapa yang mengundang Anda datang ke istana.”
Jian Heng menatap jengah ke arah para prajurit itu. Kerinduannya pada ibunya membuatnya ingin segera masuk. Dia membuka telapak tangan kanannya lalu muncul sebuah token.
“Pangeran Ketiga!” para prajurut itu segera memberi hormat padanya.
Jian Heng mengangguk lalu berjalan masuk ke istana.
Istana miliknya masih terlihat sama. Tidak ada yang berubah. Ibunya pasti meminta para pelayan untuk merawat dan membersihkan tempat itu.
Dua orang dayang menyamutnya dan segera memanggil yang lainnya untuk menyiapkan keperluan Jian Heng.
Keluarganya belum ada yang tahu kedatangannya. Setelah membersihkan diri, dia baru akan pergi menemui ibunya.
‘Hari sudah sore. Aku harus segera pergi menemui ibu. Ayah pasti akan membuatku kesulitan jika aku menemuinya terlebih dulu.’
Kepergiannya yang terlalu lama tentu akan membuat ayahnya merasa marah. Dia dianggap mangkir dari tugas-tugasnya sebagai seorang pangeran. Kaisar Xi mengharapkan putra-putranya bersaing secara adil dalam memperebutkan tahta. Namun, Jian Heng tidak pernah tertarik untuk itu.
Untuk sampai ke istana ibunya, dia harus melewati istana Pangeran Kedua dan Permaisuri. Dengan pakaiannya yang sekarang dia akan mudah untuk dikenali.
Jian Heng berjalan cepat dan menyelinap di jalanan yang tidak biasa dilewati. Orang pertama yang ingin dia temui adalah ibunya dan berharap tidak ada yang menyadari kepulangannya sebelum bertemu dengannya.
Pelayan yang berpapasan dengannya tidak berani memberitahukan kepulangannya tanpa seijinnya. Mereka memilih untuk diam dan tidak berani ikut campur.
Setelah berjalan dengan penuh ketegangan, dia akhirnya sampai di kediaman Selir Tang, ibunya.
__ADS_1
Pintu kamar ibunya tertutup rapat. Jian Heng menempelkan telingannya pada daun pintu. Dia mendengar ibunya sedang mengobrol bersama para pelayannya.
Jian Heng berpikir untuk memberikan kejutan untuk ibunya. Jika dia mengeluarkan suara, maka ibunya akan langsung mengenalinya. Saat melihat seorang pelayan melintas, muncul ide di kepalanya untuk memintanya bekerja sama.
Pelayan itu mengerti isyarat dari Jian Heng yang memanggilnya dengan lambaian tangan. Dia juga memberi isyarat agar pelayan itu tidak bersuara.
Setelah mereka berdekatan, Jian Heng berbisik padanya, “Tolong kamu panggil Selir Tang dan katakan jika ada ular besar yang berjalan ke kamarnya.”
Pelayan itu terlihat bimbang. Dia takut jika Selir Tang akan murka dan menghukumnya. Namun, dia tidak bisa menolak perintah dari Jian Heng.
“Ehemm!” Suara orang berdehem membuat Jian Heng berbalik. Rupanya bayangan tubuhnya terlihat dari dalam kamar Selir Tang. Merasa penasaran Selir Tang membuka pintu dan melihat apa yang terjadi di luar.
“Ibu!” Jian Heng tersenyum kikuk dan sedikit meringis. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rencana jahilnya gagal total.
Selir Tang mengagkat tangannya sebagai isyarat agar para pelayannya meninggalkan mereka untuk sendiri.
“Dasar, Anak Nakal! Kamu pasti sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjai ibu.”
Jian Heng tidak menjawab kata-kata ibunya dan langsung memeluknya erat. Beberapa saat mereka larut dalam keharuan. Selir Tang menitikkan airmatanya.
“Mengapa ibu menangis? Ibu tidak senang dengan kedatanganku?” Jian Heng merenggangkan pelukannya lalu menghapus air mata ibunya dengan jari.
“Ibu mana yang tidak senang melihat putranya datang.”
Selir Tang membingkai wajah Jian Heng dengan kedua tangannya.
“Ayo masuk!”
Jian Heng menurut ketika ibunya memintanya untuk mengikutinya masuk ke kamarnya. Sesampainya di dalam, Selir Tang mengamati tubuhnya. Dia merasa sedih saat mendapati tubuh putranya yang terlihat kurus dengan kulit yang menghitam seperti seorang prajurit.
“Aku masih putramu, ibu. Tidak perlu melihatku seperti itu.” Jian Heng merasa jika ibunya itu berlebihan.
“Aku tahu. Tapi kamu terlihat seperti seorang gelandangan.”
Jian Heng tertawa melihat wajah ibunya yang menurutnya sangat lucu jika sedang marah.
“Mana ada gelandangan setampan diriku, Ibu. Pasti akan banyak gadis yang mengantri untuk menjadi menantumu. Itupun kalau ayah sedikit menurunkan egonya dan menerima mereka.”
Selir Tang kembali melihat ke arah pintu dan meminta Jian Heng untuk diam. Instingnya sangat tajam. Hal yang luput dari perhatian Jian Heng selama ini. Dia tidak tahu jika ibunya memiliki kelebihan ini.
****
Bersambung ….
__ADS_1
Kak numpang promo novel kece karya temanku ya... Sambil nunggu aku update... terimakasih...