Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 107. Cerita Kelam


__ADS_3

"Tian Feng! Apa yang terjadi?!" pekik Kakek Zhu.


Baru kali ini dia melihat wajah Tian Feng seperti itu. Kakek Zhu mencoba mengejarnya meskipun gerakan Tian Feng sangat cepat dan sulit terkejar.


Di saat kakek Zhu hampir putus asa saat kehilangan jejak Tian Feng, tiba-tiba Tian Feng kembali ke hadapannya lalu memberikan tanaman langka itu.


Rupanya kepergiannya tadi untuk mengambil tanaman itu untuk Fang Yin.


"Tolong berikan tanaman obat ini untuknya," ucap Tian Feng lalu berbalik untuk segera pergi dari hadapan kakek Zhu.


"Tunggu! Kamu mau ke mana memangnya?" tanya kakek Zhu dengan wajah penuh tanda tanya.


"Aku ... aku tidak tahan berdekatan dengan gadis itu. Dia ... Dia ...." Tian Feng berkata sambil menahan perasaannya.


Kakek Zhu mengerti apa yang dirasakan oleh Tian Feng saat ini, meskipun belum tahu pasti apa yang membuatnya menjadi begitu lemah.


"Beristirahatlah! Terimakasih telah membantu tamuku," ucap Kakek Zhu sebelum berbalik meninggalkan Tian Feng.


Mereka berjalan saling berlawanan arah. Kakek Zhu berjalan menuju ke tempat Fang Yin berada, sedangkan Tian Feng berjalan sambil menunduk penuh kesedihan. Langkahnya sangat lambat,. berjalan gontai untuk kembali menepi dari keramaian.


"Tunggu!" pekik Fang Yin mengabaikan kakek Zhu yang terbengong ketika melihatnya berlari menyusuri Tian Feng.


Tian Feng bisa merasakan kehadiran Fang Yin meskipun dia tidak menoleh ke belakang.

__ADS_1


Kini mereka telah berada pada jarak yang cukup dekat.


"Maaf. Bisakah aku meminta waktumu sebentar, Tuan?" tanya Fang Yin setengah memohon.


"Aku sudah memberikan tanaman langka itu pada kak Zhu," ucap Tian Feng masih dengan sikapnya yang terlihat tenang.


"Terimakasih atas kemurahan hati Tuan." Fang Yin mengucapkan terimakasih dan masih terus berjalan mengikutinya.


Di kejauhan tampak Ketua Sekte ingin pergi untuk menyusul Fang Yin, tetapi kakek Zhu mencegahnya. Dia memintanya untuk memberi waktu pada mereka berdua untuk menyelesaikan masalahnya.


Kembali ke tempat Tian Feng dan Fang Yin berada.


"Tidak perlu berterima kasih untuk hal sekecil ini. Katakan ada maksud apa kamu datang menghampiri ku." Tian Feng menghentikan langkahnya lalu menghadap ke arah Fang Yin.


Tian Feng tidak menjawab pertanyaan Fang Yin melainkan maju selangkah demi selangkah hingga berada di dalam posisi yang paling dekat.


"Aku tahu kamu sedang menyembunyikan jati dirimu dari orang lain. Namun aku tidak akan salah dalam membaca hawa tubuhmu. Perasaan aneh dan tidak nyaman yang kamu rasakan itu karena emosional kita kita yang terhubung satu sama lain. Kesamaan darah yang mengalir di dalam tubuh kita membuat kita bisa melihat seluruh anggota klan yang memiliki darah yang sama," jelas Tian Feng.


Fang Yin membelalakkan matanya setelah mendengar semua yang dikatakan oleh Tian Feng.


"Jadi kita adalah keluarga!" Fang Yin masih tidak percaya dengan apa yang dia alaminya hari ini.


"Kita adalah anggota klan Gu yang masih tersisa."

__ADS_1


Lagi-lagi Fang Yin kembali dibuat terkejut dengan pernyataan Tian Feng.


'Jika benar pria ini merupakan anggota klan Gu, kenapa dia memilih tinggal di tempat ini?' Fang Yin mencoba menerka-nerka.


Setahunya Klan Gu adalah kaum bangsawan di Benua Timur jauh sebelum Gu Ming Hao yang merupakan ayah Fang Yin di angkat menjadi seorang kaisar.


"Aku tidak mengerti, Tuan. Jika Tuan benar-benar berasal dari klan yang sama denganku, mengapa tuan tinggal di tempat terpencil seperti ini?" Fang Yin memberanikan diri untuk bertanya alasan Tian Feng tinggal di sini dan menjauh dari keluarga.


"Karena aku buta," jawab Tian Feng singkat.


Ucapan ambigu itu membuat Fang Yin begitu keras memikirkan kisah di balik jawaban Tian Feng tersebut.


"Maafkan aku Tuan. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung ataupun masuk ke dalam ranah pribadimu." Fang Yin mencoba bersikap sopan.


"Kamu tidak memiliki kesalahan. Aku adalah orang yang terbuang dari Klan Gu. Dengan keadaanku yang cacat aku tidak bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh anak-anak lain seusiaku. Hingga suatu ketika, aku bersama orang tuaku pergi dalam sebuah perjalanan panjang. Di dalam perjalanan kami di rampok hingga orang tuaku mati dan aku tidak memiliki siapa-siapa lagi. Para perampok itu membiarkan aku hidup karena mereka tahu jika aku buta. Saat itu aku baru berusia 5 tahun." Tian Feng menghentikan ceritanya sejenak.


Butiran-butiran bening mengembun di sudut matanya. Suaranya yang terdengar serak menggambarkan betapa dalam dia memendam kesedihannya.


Fang Yin tertunduk mencoba memposisikan dirinya sebagai Tian Feng. Meskipun dengan cerita yang berbeda, tetapi mereka sama-sama memiliki kisah hidup yang tragis.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2