Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 56. Sampai di Sekte


__ADS_3

Fang Yin akhirnya memutuskan untuk tidak ikut mengambil kristal inti roh ular air itu. Beberapa jenis Qi yang berbeda telah berada di dalam dantiannya. Rasanya akan semakin sulit baginya untuk mengendalikan Qi yang begitu banyak sementara ini saja dia belum bisa menggunakannya secara optimal.


"Sepertinya, Kristal inti roh itu akan lebih cocok buatmu. Aku akan menyerap energi luarnya saja untuk mengganti energiku yang telah hilang," ucap Fang Yin yakin.


"Apa kamu yakin?" tanya Jian Heng memastikan keputusan yang diambil oleh Fang Yin.


Fang Yin mengangguk dengan sungguh-sungguh.


Setelah merasa yakin dengan keputusan Fang Yin, Jian Heng segera mengulurkan tangannya untuk mengambil kristal inti roh.


Aura biru terang menyelimuti kristal roh itu dan mengeluarkan tekanan energi yang sangat kuat.


Jian Heng tidak ingin menyerap energinya sekarang karena perjalanan mereka menuju ke Sekte Sembilan Bintang sudah tertunda cukup lama.


"Kita harus segera pergi dari sini sebelum ada bahaya lain datang menghampiri kita!" seru Jian Heng.


"Baiklah! Mari kita segera pergi dari sini!" Fang Yin pun setuju dan segera bersiap.


Mereka melompat ke atas pohon dan bergerak dari satu dahan ke dahan dengan cepat.


Keduanya sama-sama kehilangan banyak energi sehingga tidak mungkin bertarung lagi untuk sementara waktu sampai mereka beristirahat sejenak dan memulihkan tenagannya.


Matahari terus bergulir mendekati cakrawala malam. Burung-burung berbaris rapi terbang menuju ke tempat tinggalnya. Melihat senja yang sudah hampir turun, rasanya tidak mungkin mereka akan sampai di sekte sebelum malam menjelang.

__ADS_1


Secepat apapun mereka melompat, tetap saja waktu tidak akan berbaik hati untuk menunggu mereka.


"Apakah Gunung Telaga Emas itu masih jauh?" tanya Fang Yin yang belum tahu di mana letak gunung itu.


"Lihatlah tanganku! Itu adalah gunung yang kamu maksud," tunjuk Jian Heng.


Fang Yin mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Jian Heng dan merasa terkejut karena tempat itu sudah sangat dekat dengan tempat mereka berdiri saat ini.


"Waow! Sungguh pemandangan indah yang begitu memukau. Ayo kita lanjukan perjalanan!" Fang Yin terlihat begitu bersemangat.


Walaupun bibirnya tertutup oleh cadarnya, tetapi Jian Heng sangat yakin jika saat ini Fang Yin sedang tersenyum.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi akan mencapai garis finish. Tubuh mereka bergerak cepat di bawah sinar jingga matahari sore. Dunia sudah diliputi oleh keremangan ketika mereka sampai di sebuah desa di kaki Gunung Telaga Emas.


"Suatu hari nanti aku ingin pergi untuk melintasi desa ini saat hari terang." Fang Yin merasa kecewa saat dia tidak bisa melihat keindahan alam di sepanjang perjalanan yang telah dia lalui.


"Aku akan membawamu jalan-jalan jika kita ada waktu," janji Jian Heng.


"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya." Fang Yin berbicara dengan nada yang sangat gembira.


"Kamu boleh mengingatkanku jika aku melupakannya."


Kata-kata Jian Heng membuat hatinya merasa sangat gembira. Fang Yin berharap dia akan mendapatkan banyak pengajaran selama dia tinggal di Sekte Sembilan Bintang.

__ADS_1


Jian Heng memelankan langkahnya ketika mereka sudah berada dalam jarak yang dekat dengan villa Sekte Sembilan Bintang.


"Kamu bilang saja jika kamu adalah kerabat jauhku saat ada yang menanyaimu nanti. Selain itu kamu tidak perlu untuk menjelaskan apa-apa dan kamu bisa tetap menjadi dirimu sendiri seperti biasanya," jelas Jian Heng mengungkapkan keinginannya pada Fang Yin.


"Aku akan melakukan seperti yang kamu minta."


"Anak baik!" seru Jian Heng sambil tersenyum meskipun senyumnya itu tidak terlihat di dalam gelap.


Lentera bertebaran di sekitar gerbang masuk Sekte Sembilan Bintang membuat tempat itu terlihat terang.


Senja baru saja berlalu sehingga masih ada beberapa murid sekte itu yang berkeliaran di luar gerbang. Salah satu dari murid itu berseru ketika melihat kedatangan Jian Heng. Teriakannya itu mengundang murid-murid lain untuk datang ke sana.


"Tetua Yu datang! Tetua Yu datang!" Begitu pekik mereka sambil berlari menyongsong kedatangan Jian Heng dan Fang Yin.


Beberapa murid wanita dan penghuni wanita di sana berkerumun mengelilingi guru tampan itu. Jian Heng merupakan guru termuda dan tertampan di sana. Namun memiliki kemampuan mengajar yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh tetua sekte lainya.


Fang Yin terlihat sangat canggung berada di tengah-tengah kerumunan murid wanita yang mengelilinginya bersama Jian Heng.


Tidak ada yang menanyai Fang Yin karena Jian Heng telah menjawabnya terlebih dahulu sebelum Fang Yin membuka mulutnya.


"Kita akan lanjut mengobrol nanti. Sekarang ijinkanlah kami pergi untuk membersihkan diri dan beristirahat sebentar." Jian Heng meminta diri secara halus.


****

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2