
“Akhirnya, ketemu,” ucap seorang pria yang tiba-tiba datang memeluk Liana.
Gadis itu terdorong ke belakang hingga badannya harus bersandar pada badan mobil. Tangannya terangkat dan melekat di dada bidang pria itu, seraya mencoba mendorong tubuh yang terasa semakin kuat memeluknya.
“Lepas!” ronta Liana.
Gadis itu terus berusaha mendorongnya kuat, hingga akhirnya pelukan itu terurai. Liana terkejut melihat wajah panik yang kini jelas ada di hadapannya.
“Chris?” gumam Liana.
Pria itu masih merengkuh lengan Liana sambil menatap wajah gadis tersebut dengan mata yang terus bergerak-gerak. Nafasnya terlihat memburu seolah ia telah berlari demi menghampiri Liana.
Tangannya terulur ke atas dan membingkai wajah cantik gadis yang dulu ia kenal sebagai gadis buruk rupa, yang selalu menyembunyikan cacatnya di balik penutup wajah.
“Kemana saja kau? Aku khawatir dan kebingungan mencarimu. Kau hilang saat kita sedang makan malam. Tasmu tertinggal di toilet dan aku sama sekali tak bisa melacak keberadaanmu. Apa kau baik-baik saja,” cecar Christopher.
Liana mencoba menyingkirkan tangan pemuda itu, yang sedari tadi berada di wajahnya dengan sopan.
“Maaf, Chris. Ada keadaan mendesak yang mengharuskan aku pergi saat itu juga. Untuk tas, itu tak sengaja terjatuh saat aku berlari keluar dari pintu belakang,” jawab Liana.
“Urusan? Urusan apa? Kenapa kau harus pergi lewat pintu belakang? Apa ini gara-gara gangster itu? Apa dia mencoba berbuat buruk padamu?” tanya Christopher.
Liana nampak menghela nafas panjang mendengar semua terkaan dari seniornya itu. Dia mencoba tersenyum se manis mungkin sebelum menjawab semua pertanyaan tadi.
“Chris. Aku bilang aku ada urusan. Entah urusan apapun yang jelas ini urusan pribadiku dan tak ada kaitannya dengan mu. Jadi, aku rasa tidak perlu memberitahukan apapun padamu, bukan? Dan satu hal lagi, ini tidak ada kaitannya dengan pria itu. Aku tau aku tiba-tiba menghilang saat sedang bersama mu. Aku minta maaf atas semua itu,” jelas Liana.
Christopher berusaha untuk menerima penjelasan Liana. Terlebih, gadis itu memang selalu membatasi dirinya, untuk mengatakan semua hal tentang urusan pribadi pada pemuda ini.
Dia hanya bisa menghela nafas panjang untuk meredakan kekhawatiran yang ternyata sia-sia belaka. Kepeduliannya sama sekali tak dianggap oleh gadis berparas cantik itu.
Liana paham jika pemuda di hadapannya ini pasti merasa kecewa. Dia pun tak bisa mengabaikan perasaanya itu. Karena bagaimana pun, Liana pernah berhutang jasa pada Christopher.
“Apa kau ada waktu?” tanya Liana tiba-tiba dengan senyum yang begitu manis.
Christopher melebarkan matanya mendengar pertanyaan tersebut. Terlebih senyuman gadis itu yang mampu meruntuhkan rasa kecewa yang baru saja ia rasakan.
“Aku baru saja datang dan harus meninjau proyek. Jika kau ada waktu, kita bisa minum kopi setelah aku selesai...” ajak Liana.
__ADS_1
Gadis itu nampak melihat jam di pergelangan tangannya.
“... Ehm, sekitar jam sembilan. Bagiamana?” Lanjutnya.
Christopher masih diam. Dia tak menyangka jika gadis itu berinisiatif untuk duduk bersamanya, meski hanya sebatas minum. Kopi.
Melihat pemuda itu hanya diam, Liana mengira jika ajakannya akan di tolak. Gadis yang harga dirinya begitu tinggi itu pun cepat-cepat menarik kata-katanya tadi.
“Tapi, kalau kau sibuk...,” ucap Liana.
“Aku bisa. Akan ku tunggu,” sela Christopher.
Liana terkejut sejenak dengan kata-kata pemuda itu, namun sejurus kemudian dia kembali mengulas senyumnya.
“Oke kalau begitu. Aku ke sana dulu. Kau bisa menunggu ku di kedai kopi ini,” sahut Liana.
“Kebetulan, aku juga mau mengambil beberapa gambar proyek mu ini untuk beritaku,” timpal Christopher.
“Baiklah. Selamat bekerja,” ucap Liana.
Keduanya berpisah dan melakukan pekerjaan masing-masing. Liana menyapa semua pekerja yang ditemuinya dan berbasa basi menanyakan kondisi mereka dan keluarga. Hal itu lah yang membuat para pekerja yang bekerja di bawah arahan Liana, merasa dekat dan diperhatikan oleh atasnya.
Setelah itu, dia mulai masuk ke area gedung yang hampir jadi itu, dan meninjau setiap lantai di sana.
Dia ditemani oleh mandor yang bertanggung jawab di lapangan, dan selalu mencecar pria berperawakan gembal itu dengan pertanyaan-pertanyaan seputar proyek.
Dia kini berada di puncak gedung, di mana pemasangan saluran udara sedang dipasang di sana. Liana selalu senang saat melihat mesin crane bergerak mengombang ambingkan benda yang dibawanya ke atas dan ke bawah.
Sifat liarnya selalu muncul dan ingin melompat ke sana kemudian ikut ke bawah dengan mesin berat itu. Meski berbahaya, namun Liana sama sekali tak takut.
Namun, ia urungkan keinginan itu kali ini karena masih banyak urusan yang harus ia kerjakan, dan bukan waktunya untuk main-main.
Seusai memantau semua pekerjaan di proyek, Liana bisa mengatakan jika kurang dari sebulan, apartemen itu bisa ditempati oleh para warga yang telah mendaftarakan diri untuk menyewa.
“Baiklah. Kalau begitu akan saya sampaikan pada Nona Shu untuk bersiap membuat iklan pra-launching. Saya harap, Anda bisa menyempatkan diri menemui beliau untuk membicara kondisi real di gedung ini,” seru Liana.
“Baik, Nona Wu. Saya akan ke kantor setelah proses pengecatan selesai seluruhnya,” ucap mandor itu.
__ADS_1
“Baiklah. Saya serahkan sisanya pada Anda. Kalau begitu, saya tidak akan sering-sering kemari lagi dan hanya akan datang sekali seminggu,” ujar Liana.
“Baik. Semoga proyek Golden Hospital Anda bisa sukses seperti proyek-proyek Anda sebelumnya,” ucap mandor.
“Terimakasih,” sahut Liana.
Liana tersenyum mendengar ucapan dari mandor tersebut. Setelah itu, dia pun pamit dari sana. Liana berjalan ke arah jalan, dan seseorang menepuk bahunya dari belakang.
Ketika ia berbalik, sebuah kamera mengarah ke arahnya, dan sebuah bunyi terdengar, tanda sebuah gambar berhasil tertangkap oleh mata kamera.
“Nice,” ucap pria yang ternyata adalah sang wartawan Golden Daily.
“Hei, tak baik mengambil gambar seseorang tanpa bertanya dulu, Tuan,” sindir Liana.
“Ayolah. Hanya sebuah foto. Lagi pula, kau terlihat begitu cantik di foto ini. Lihatlah,” ucap Christopher.
Pemuda itu menunjukkan foto yang tadi diambilnya kepada Liana. Gadis itu pun tersenyum, kala melihat gambarnya ada di dalam memori kamera sang wartawan.
“Kau bilang ini cantik? Rambut kering dan kusam, wajah berdebu, aksesoris rambut yang sangat aneh. Cantik dari mananya?” ejek Liana saat melihat dirinya sendiri di sana.
“Hei, ayolah. Helm proyek ini adalah aksesoris ikonik untuk seorang arsitek handal seperti mu. Tidak sembarang orang yang bisa begitu pantas memakainya,” sanggah Christopher.
Liana terkekeh mendengar ucapan pemuda itu yang terkesan hanya bualan. Keduanya terlihat begitu akrab dan riang siang itu, hingga tak sadar jika ada seseorang yang terus memperhatikan keduanya dari dalam sebuah mobil, yang terparkir tak jauh dari sana.
.
.
.
.
Bagi yang belum tau, othor kasih tau ya🤭di bab sebelumnya ada Quizz berhadiah pulsa 25k untuk 3 penjawab pertama yang benar😁ada yang sudah jawab????
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1