
“KAKEK!” pekik Liana
Melihat kekasihnya bangun dengan histeris, Falcon pun cemas dan mencoba menenangkan gadis itu.
“Sweety, tenang lah. Kau masih lemah. Jangan bangun dulu,” seru Falcon.
“Honey, kakekku... Bagaimana dengan kakekku? Cepat katakan!” tanya Liana.
Wajahnya benar-benar tampak khawatir dan ketakutan. Sangat jauh berbeda dari Liana yang dikenalnya. Tak ada keberanian dan rasa percaya diri lagi yang tersisa di sana, membuat Falcon begitu sedih melihatnya.
“Honey...,” panggil Liana cemas.
“Kakek mu baik-baik saja. Tenanglah. Aku juga meminta Jimmy agar berita ini tak sampai pada Tuan Wang, dan memperketat penjagaan di sekitar kakekmu. Sekarang, pulihkan di dirimu dulu, hem,” bujuk Falcon.
Liana menggeleng. Dia kembali mencoba bangun meski tenaganya terasa lemas.
“Sweety...,” cegah Falcon.
“Aku ingin melihat Kak Ella dan anak kecil itu. Mereka pasti di sini juga kan?” sela Liana.
“Tapi, apa kau yakin?” tanya Falcon khawatir.
Dia takut gadisnya tak akan kuat melihat kondisi kedua orang itu yang cukup memprihatinkan, terlebih si kecil Paulo.
“Aku tak apa. Antar aku menemui mereka,” pinta Liana.
__ADS_1
Falcon awalnya terus menolak. Dia khawatir Liana kembali terguncang dan jatuh pingsan. Dia tak mau gadisnya semakin tertekan dengan kondisi sekarang ini.
Akan tetapi, Liana yang keras kepala terus mendesak Falcon agar mau mengantarnya melihat kedua korban. Dia bahkan hampir mencabut jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya, jika saja tidak segera di cegah oleh Falcon.
Akhirnya, pria itu pun mau tak mau mengantarkan Liana untuk melihat kondisi Ella dan juga Paulo.
Gadis itu duduk di atas kursi roda, karena kondisinya masih sangat lemah. Keterkejutannya membuat fisiknya tiba-tiba menjadi fak bertenaga.
Falcon mendorong Liana menuju ke ruangan di mana Ella berada, akan tetapi di tengah jalan, dia melihat seorang wanita tengah duduk di sebuah kursi sambil menangis.
Pria itu mendorong Liana melewati wanita tersebut, namun pandangan Liana tertuju pada sebuah kain yang tampak familiar untuknya.
“Berhenti,” pinta Liana.
Gadis itu menoleh ke belakang. Seolah mengerti apa yang dipikirkan gadisnya, Falcon pun memberitahukan kepada Liana bahwa wanita itu adalah ibu dari si kecil Paulo.
“Bawa aku menemuinya,” pinta Liana.
“Apa kau yakin?” tanya Falcon.
Liana menganggu. Gadis itu terus menatap wanita yang tengah menangis sambil mendekap kain ikat kepala, yang sering dipakai Paulo setiap hari.
Rupanya, kain itu yang lebih dulu ditemukan oleh tim penyelamat di sekitar area pencarian, hingga akhirnya tubuh anak kecil malang itu berhasil diangkat ke daratan.
“Maaf,” ucap Liana.
__ADS_1
Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut gadis cantik tersebut, saat berada di depan orang tua si kecil Paulo.
Wanita itu menoleh. Dia melihat Liana, akan tetapi tak mengenalnya sama sekali. Falcon lah yang akhirnya menjelaskan.
“Dia adalah putri dari orang yang terluka di pondok itu. Saat tahu ada kejadian buruk, dia segera datang kemari. Dia merasa bersalah atas apa yang menimpa putra mu,” ucap Falcon mewakili Liana.
Sementara gadis itu, dia hanya bisa menangis dalam diamnya. Pandangannya tertuju pada kain ikat yang ada di tangan wanita tadi.
“Anak itu sungguh malang. Sejak bayi sudah melewati banyak kepahitan dalam hidup. Dia bahkan tak pernah tahu siapa orang tuanya,” ucap wanita itu.
“Maksud Anda, Anda bukan ibu kandungnya?” tanya Falcon.
Wanita itu menggeleng. Wajahnya terus tertunduk sambil *******-***** kain di tangannya.
.
.
.
.
🤧🤧🤧🤧🤧
Mohon dukungan untuk cerita ini🤧🤧🤧
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah🤧🤧🤧🤧