Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Romantis dengan caramu


__ADS_3

"Apa kau suka?" tanya Falcon.


"Ehm, aku sangat suka. Ini indah sekali," sahutnya tanpa menoleh.


Gadis itu terus memandang keluar. Pertunjukan kembang api itu sangat lama, dengan cahaya warna warni yang menghiasi langit petang itu.


"Liana," panggil Falcon.


Gadis itu pun menoleh. Matanya kembali membola, saat melihat pria di depannya tengah duduk tegap, sambil memegangi sesuatu.


Sebuah kotak beludru kecil berwarna merah yang terbuka, dengan sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk snow drop dari berlian di dalamnya.



“Ini...,” tanya Liana terhenti.


“Ibuku pernah berkata, bahwa bunga snow drop itu melambang sebuah keberuntungan. Ada juga yang mengatakan jika ini lambang kesucian dan keberanian. Tapi menurutku, bentuk ini lebih berarti dingin dan angkuh, sama seperti mu,” ucap Falcon.


“Kata-kata macam apa itu? Bukankah seharusnya saat ini kau mengatakan kata-kata manis. Kenapa malah menyindir ku begitu,” keluh Liana.


“Ishh! Kau ini. Diam lah. Biarkan aku selesaikan kata-kata ku dulu,” seru Falcon.


“Baiklah,” sahut Liana.


“Ehem... Ah, sudahlah. Aku lupa mau bilang apa lagi,” gerutu Falcon.


Liana menahan tawanya karena pria itu kehilangan kata-kata karena ulahnya.


Falcon terlihat langsung mengambil kalung tersebut dan membuka pengaitnya.


“Biar ku pasangkan,” ucap Falcon.


Liana membantu menyingkirkan rambutnya, agar tak menghalangi Falcon memasang kalung tersebut di lehernya.


“Cantik,” puji Falcon.


Liana mengambil bandul snow drop itu dan memandanginya.


"Ini pasti mahal. Darimana kau dapat uang untuk membeli ini? Bukankah kau bilang, kau tidak digaji oleh kakekmu?" tanya Liana.

__ADS_1


"Kau tidak perlu tanya aku dapat dari mana," jawab Falcon.


"Apa jiwa gengster mu bangun lagi? Apa kau merampok? Tidak mungkin kau menghubungi orang-orang mu di Grey Town bukan," terka Liana.


"Hah... kau ini. Seperti yang ku katakan saat menuju lahan, pak tua itu sedikit demi sedikit memberiku semuanya dengan alasan fasilitas perusahaan yang bisa diambil lagi sewaktu-waktu, kalau aku tidak menurut. Jadi, apa salahnya jika aku belikan ini dengan uang itu," jelas Falcon.


“Oh... begitu. Jangan bilang, kembang api tadi juga ulahmu?” terka Liana.


“Hanya hiburan kecil saja. Kebetulan taman hiburan ini dikelola oleh The Palace kami. Jadi, aku bisa dengan mudah meminta hal ini pada mereka,” ucap Falcon.


“Wah... Jadi sekarang kau sudah berani memanfaatkan identitasmu? Yah... Ini lebih baik daripada tidak sama sekali,” sahut Liana.


“Apa kau benar-benar berharap aku menyewa satu tempat ini?” tanya Falcon.


“Ehm... Tidak juga. Sepertinya begini lebih bagus. Lagipula, aku tidak terlalu suka genre pure romance, aku lebih suka action romance,” jawab liana.


“Pure romance? Action romance? Apa itu?” tanya Falcon.


“Intinya, aku lebih memilih berlari di jalanan Grey Town bersama ketua gangster dari pada dimanjakan dengan hal-hal romantis oleh seorang pewaris,” sahut Liana.


“Lalu, kalau keduanya bagaimana?” tanya Falcon lagi.


“Itu baru jackpot,” jawab Liana menyeringai.


Tak terasa, gondola telah tiba di bawah, dan keduanya pun keluar dari sana. Falcon menawari Liana untuk memilih wahana lagi, namun gadis itu menolak.


“Kurasa tour nya cukup. Aku masih ada waktu satu minggu di sini, jadi kita bisa kembali lagi lain kali. Lagi pula, aku sudah mendapat banyak kejutan hari ini dan sudah tak mampu mendapat kejutan lagi. Aku bisa mati karena bahagia nanti,” ucap Liana.


“Baiklah. Jadi, apa kita bisa makan malam dulu sebelum mengantar mu kembali ke penginapan?” tanya Falcon.


“Ide bagus,” sahut Liana.


Keduanya pun pergi meninggalkan taman hiburan tersebut dan menuju ke sebuah restoran.


Setelah makan malam, Falcon mengantarkan Liana kembali ke penginapan.


“Besok aku akan menjemputmu. Kau jangan pergi sebelum aku datang ya,” seru Falcon sesaat setelah mobil berhenti.


“Apa tidak apa-apa kalau kau terlalu dekat dengan ku? Apa kakekmu tidak akan mempersulitmu lagi nantinya?” tanya Liana khawatir.

__ADS_1


Falcon menoleh dan tersenyum ke arah Liana. Tangannya terulur dan menyentuh pipi gadis itu.


“Aku tidak takut dengannya. Aku tidak akan biarkan pak tua itu atau siapapun menyakitimu. Mereka boleh mengancamku, tapi selama kau berada di sini, aku tidak akan pernah jauh darimu. Bahkan kalau bisa, aku ingin kau tinggal denganku,” ucap Falcon.


“Apa ini modus rayuan baru?” tanya Liana.


“Hah... Kau ini. Kenapa selalu merusak momen romantis ku sih?” keluh Falcon.


Liana terkekeh melihat prianya nampak frustasi, karena selalu gagal menciptakan momen romantis untuknya.


Tiba-tiba, gadis itu mencondongkan wajahnya ke arah Falcon, dan mengecup sekilas pipi pria itu.


“Kau sudah sangat romantis dengan caramu sendiri. Jangan terlalu berusaha menjadi orang lain untuk membahagiakanku,” ucap Liana.


Falcon pun tersenyum dan mengusap puncak kepala gadisnya.


“Sudah malam. Kau masuklah. Aku takut berlama-lama dengan mu,” seru Falcon.


“Kenapa?” tanya Liana.


“Aku takut akan menculik mu dan mengurung mu bersamaku,” ucap Falcon.


“Coba saja kalau berani. Weeekkkk...,” ledek Liana.


Gadis itu melompat turun dari mobil dan meninggalkan Falcon yang nampak tersenyum dari dalam kendaraannya.


Dia melambaikan tangannya ke arah Falcon dan masuk ke dalam penginapan.


.


.


.


.


Uhhh..... mau dong dikasih kejutan juga🥰🥰🥰🥰


Manis-manis dulu aja deh ye, mumpung bisa ketemu 🤭🤭🤭

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2