Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Di tepi tebing


__ADS_3

Di tepi pantai bertebing batu yang tinggi, sebuah motor berhenti. Kedua orang yang menaikinya pun turun dan menatap ke arah laut lepas.


Seorang gadis berjalan maju mendekat ke sisi tebing dan berpegangan pada pagar pembatas.


“Apa ini semua milikimu?” tanya Liana.


Falcon mendekat dan ikut berdiri di samping Liana.


“Kenapa memang? Apa kau mulai tertarik padaku?” Tanya Falcon balik.


“Cih! Dasar narsis,” Sahut Liana.


Keduanya tersenyum sambil menatap ke arah laut lepas. Falcon terdengar menghela nafas panjang dan terasa berat, membuat Liana menoleh dan menatap wajah pria tampan di sampingnya.


“Apa aku perlu meninggalkanmu sendiri di sini?” tanya Falcon.


Liana mengerutkan alisnya hingga hampir menyatu, mendengar pertanyaan dari Falcon barusan.


Pria itu menoleh dan menatap lurus ke dalam manik hitam Liana yang begitu bening dan indah.


“Aku tau kalau kau sangat sedih dan ingin sekali menangis sekarang. Jika kau malu, aku bisa meninggalkanmu sendiri di sini dan menangislah sepuasnya,” ucap Falcon.


Kerutan di kening Liana seketika mengendur. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah laut lepas, disusul helaan nafas yang sama beratnya dengan Falcon tadi.


“Aku tidak apa-apa. Sejak dulu hidupku memang sudah berat. Jadi masalah seperti tadi bukan lah hal besar bagiku,” sahut Liana.


Namun, Falcon tak lantas percaya begitu saja dengan perkataan Liana. Terlebih saat matanya melihat sendiri pegangan tangan gadis itu semakin erat pada pagar pembatas.


“Mau ku ceritakan sebuah kisah?” tanya Falcon.


Liana menoleh. Dia tak menjawab namun dengan tatapannya, gadis itu seakan meminta Falcon untuk memulai bercerita.


“Dulu, ada seorang anak laki-laki yang sengaja diasingkan ke pulau ini. Usinya masih sangat muda, kurang lebih sekitar enam tahun, dan dia masih sangat membutuhkan belaian dari ibunya. Tapi, entah kenapa orang-orang dewasa itu membiarkannya tinggal sendirian di pulau sebesar ini dan kesepian selama bertahun-tahun,” ucap Falcon memulai ceritanya.

__ADS_1


Liana berbalik dan menyandarkan punggungnya di pagar, dengan kedua siku yang bertumpu di sana.


“Lalu, apa yang terjadi dengan anak itu?” tanya Liana.


“Anak itu hampir mati karena kesepian. Setiap hari, dia selalu melihat ke arah laut, seolah ingin berenang dan menyeberangi lautan hingga sampai ke pulau utama yang jauh di sana. Namun, tubuh kecilnya membuatnya ketakutan akan adanya ikan hiu yang hidup di lautan,” lanjut Falcon.


“Hingga suatu hari, rasa takut itu hilang dan berganti dengan keputusan asaan dan kerinduan yang teramat akan ibunya, sampai membuatnya nekad untuk terjun ke bawah sana,” Falcon menunjuk ke arah bawah.


Liana pun mengikuti arah telunjuk Falcon, an melihat tebing yang begitu curam dan bahkan di bawah sana terdapat beberapa batu karang terjal yang cukup untuk melubangi kepala seseorang jika jatuh dari atas sini.


“Lalu, apa anak itu selamat? Sepertinya sulit,” tanya Liana berspekulasi.


“Entahlah. Bahkan keluarganya pun tak pernah mencarinya sama sekali,” jawab Falcon.


“Wah... Apa dia jadi hantu? Apa ini cerita nyata? Kenapa keluarganya kejam sekali?” cecar Liana.


"Namun, ada yang mengatakan jika nasib baik masih mengikutinya. Meskipun keluarganya seolah membuang anak itu, akan tetapi ada seseorang yang merawatnya hingga dia dewasa, meski dengan cara yang bisa dibilang sangat berat untuk diterima oleh seorang anak kecil," ucap Falcon.


“Di dunia ini, ada banyak hal yang mungkin terjadi. Seperti yang terjadi pada anak itu. Keluarganya tega membiarkan anak sekecil itu tinggal di tempat terpencil seorang diri, dan bahkan tak peduli bagaimana nasibnya. Bukankah kau termasuk beruntung, karena kakekmu sudah sejak lama mencoba mencarimu kemana-mana?” tanya Falcon kemudian.


“Oh, jadi kesitu arah tujuan ceritamu. Haah! Entahlah. Aku tak tau ini termasuk beruntung atau tidak. Yang jelas, hidupku berat sejak kecil. Umurku sembilan tahun saat Ibu Vivian meninggal dan menitipkan ku pada Bibi Caro. Paman Zang, suami bibi, sangat baik padaku, hanya saja umurnya pun tak panjang,” ucap gadis itu.


Liana menceritakan kisah hidupnya pada Falcon, dan mencoba meluapkan apa yang telah lama ia pendam dalam hati.


Kemarahan atas perlakuan Jessica dan ibunya, perlakuan orang-orang di sekitarnya karena memandang wajah cacatnya, serta nasibnya yang hampir dinikahi pria tua bangka sebagai penebus hutang sang bibi.


“Saat itu pun aku sudah putus asa, hingga muncul ide gila dalam otakku. Aku melompat begitu saja dari mobil yang membawaku pergi dan jatuh berguling di aspal. Rasa sakit, perih serta panas dari luka dan sengatan lapisan jalan itu tak terasa sama sekali di kulitku. Aku hanya memikirkan satu hal, yaitu lari sejauh mungkin dari kejaran orang-orang tua bangka itu,” lanjut Liana.


Dia pun menceritakan pertemuannya dengan Kakek Joseph yang tak disengaja, saat dirinya tengah lari dari kejaran orang-orang itu.


Sebuah pertemuan tak terduga, yang membuatnya bisa mendapatkan wajahnya kembali dan semua yang ia milik saat ini.


“Saat pertama kali mengetahui bahwa aku adalah cucu kakek, ingin rasanya aku berlari dan memeluknya seerat mungkin. Aku ingin menangis di pelukan kakek yang telah lama mencariku itu. Aku ingin menumpahkan semua kesedihan dan meluapkan emosi yang terus tertahan selama ini. Tapi, setelah semua itu, Jessica Tiba-tiba muncul dan membuatku kembali tersisih sampai hanya bisa melihat dari samping. Apa kau tau bagaimana rasanya melihat si palsu mengambil tempatmu? Bahkan tak ada yang mau percaya bahwa akulah yang asli, meski sudah sangat jelas persamaan antara aku dan ibuku,” ungkap Liana.

__ADS_1


Mata gadis itu mulai terlihat berair. Bahkan setetes bulir bening itu sempat lolos dan diseka dengan kasar oleh punggung tangan Liana.


“Lalu, bukankah sekarang sudah selesai? Harusnya, kau tadi memeluk pak tua itu bukan? Kenapa malah lari bersama ku?” tanya Falcon.


“Entahlah. Aku memang merasa puas dan lega karena bisa membongkar kebusukan Jessica dan ibunya. Tapi, saat melihat kakek, entah kenapa aku menjadi benci padanya,” tutur Liana.


Kini, bukan hanya sebulir. Air mata mulai mengalir deras di pipi gadis itu, saat membayangkan betapa kerasnya Kakek Joseph menepis kemiripannya dengan sang ibu, Lilian.


“Aku kecewa kepada Kakek. Aku kecewa dengan Paman Jimmy. Aku kecewa pada semuanya!” pekik Liana.


Gadis itu berteriak dengan begitu keras, meluapkan semua kemarahan, emosi dan kesedihan di hatinya yang terus ia coba tutupi. Semuanya meledak dalam satu waktu, dan menghilang bersama deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana.


Liana menangis dengan kerasnya, hingga membuat lututnya terasa lemas. Ia pun merosot turun dan berjongkok di bawah sana, dengan tubuh yang berguncang hebat karena isaknya.


Falcon hanya diam. Dia tak mau mengganggu Liana. Pria tampan itu memilih membiarkannya mengeluarkan semua ganjalan di hatinya, agar kelak gadis itu bisa merasa lebih baik.


Tangisnya terdengar begitu pilu. Bahkan Falcon pun dibuat berkaca-kaca. Pria itu mencoba menutup mata, sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menetralkan emosinya agar tak ikut hanyut bersama tangisan Liana.


.


.


.


.


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi umat muslim yang menjalankan 😊🙏


seperti biasa, hari minggu cuma up se kali doang yes🤭


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2