Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kabar dari seberang


__ADS_3

Penderitaan yang dialami oleh Liana dan Falcon sejak usia yang sangat muda, membuat kedua orang itu membentuk diri mereka dengan sifat dan karakter masing-masing, demi bertahan hidup dalam setiap kesulitan yang dihadapi.


Liana yang sejak dulu hidup dalam hinaan dan juga siksaan dari keluarga angkatnya, membuat sifat Presdir Wang yang diturunkan kepadanya menjadikan gadia itu semakin tajam dalam berargumen, dan menindas lawan hanya dengan pemainan kata-kata.


Sementara Falcon, tuan muda yang terbuang itu dilatih menjadi senjata pembunuh sejak usianya masih begitu muda, dengan banyaknya musuh yang berada di sekitarnya, membuat pria itu selalu bersikap waspada dan bengis. Tak kenal ampun, meski yang ia hadapai adalah wanita dan anak-anak.


Kini, mereka dihadapkan pada musuh yang sama. Akar dari semua malapetaka yang menimpa keluarga mereka, dan menjadikan hidup keduanya bagai di neraka selama bertahun-tahun lamanya.


Kini, Liana pun ingin membuat Amber, sang dalang di balik kematian dia ibu, ikut merasakan bagaimana rasanya hidup dalam neraka dunia yang ia ciptakan.


Liana berpikir bahwa orang setamak Amber, pasti akan langsung bertindak saat posisinya terancam. Terbukti ketika Liana memprovokasinya pertama kali di Sky Castle, dan paginya dia langsung pergi mencari bantuan, hingga merelakan lima persen sahamnya di Lunar Gass.


Begitu pula saat ini. Liana bahkan baru memulai sedikit rencananya, akan tetapi dia sudah mengamuk di mana-mana, apalagi sekarang, Moses tak lagi mau membantunya dan justru memintanya untuk menyerah.


Tak disangka, seseorang tiba-tiba muncul dan memberinya harapan untuk membalas perbuatan Liana.


...👑👑👑👑👑...


Keesokan harinya, sebuah kabar mengejutkan datang dari Negara bagian A. Falcon dan Liana bahkan harus bergegas terbang kembali ke kota itu menggunakan pesawat jet pagi-pagi.


“Ada apa, Honey?” tanya Liana cemas.


Dia baru saja selesai sarapan, dan sang kekasih telah menjemputnya untuk membawanya ke landasan terbang.


“Kita bicara di jalan saja. Ayo!” seru Falcon.

__ADS_1


Gadis itu merasa ada yang aneh dengan gelagat yang ditunjukkan oleh sang kekasih. Dia pun hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh Falcon padanya, dan pergi secepatnya dari sana.


Selama perjalanan, Falcon terus terlihat serius. Liana merasa takut untuk bertanya. Barulah saat mereka berada di dalam pesawat, gadis itu mencoba mendekati Falcon dan menanyakan hal tersebut.


“Honey, ada apa sebenarnya?” tanya Liana.


Gadis itu berdiri di samping Falcon, yang sedari tadi terus duduk sambil menyangga kepalanya, seraya memijat keningnya.


Liana menyentuh pundak pria itu, berharap kali ini Falcon mau menjawab pertanyaannya.


“Honey,” panggil Liana lagi.


Falcon pun akhirnya mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah gadis itu. Helaan nafas panjang, seolah menjadi tanda sesuatu yang serius benar-benar telah terjadi.


Pria tersebut meraih tangan Liana dan menatap lekat kedua manik hitam sang gadis.


Raut bersalah memenuhi rupa tampan itu, dan membuat Liana semakin tak tenang.


“Ada apa, Honey? Bisa tidak kau jangan main teka teki seperti ini?” cecar Liana


Falcon kembali menunduk sambil menarik nafas, dan menghembuskannya sekaligus, lalu kembali menatap Liana.


“Seseorang berhasil membawa pergi ayah mu tadi malam,” ungkapnya.


Seketika, mata Liana membola. Otaknya masih mencerna apa yang baru saja di sampaikan oleh Falcon.

__ADS_1


“Mem.... Membawa pergi? Apa maksudmu, Honey? Apa yang terjadi?” cecar Liana semakin panik.


“Seseorang berhasil menemukan tempat itu dan membawanya pergi. Pelayan mu ditemukan pingsan di tepi pantai, dengan lebam di beberapa bagian tubuhnya serta sebuah luka tembak di kaki,” tutur Falcon.


Liana lemas. Dia yang masih berdiri pun seolah tak bisa merasakan kakinya dan hampir ambruk. Beruntung, Falcon cepat bangkit dan menopang tubuh ringkih itu, dan mendudukannya di kursi.


“Ba... Bagaimana kondisi Kak Ella?” tanya Liana khawatir.


“Dia tak apa. Dalam kondisi kritis seperti itu, dia masih sempat berpikir untuk mengikat lukanya agar darah tak banyak keluar. Saat pertolongan datang, dia masih bisa tertolong, meski banyak memerlukan transfusi darah,” tutur Falcon.


Ada sedikit kelegaan di hati Liana. Namun, ada satu orang lagi yang ia ingat mungkin juga berada di sana saat itu.


“Anak kecil itu. Bagaimana dengan dia? Dia ada sana juga bukan?” tanya Liana kembali panik.


Falcon diam. Genggaman tangannya semakin erat, dan membuat Liana kembali tak tenang.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2