Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sebuah telepon


__ADS_3

Rapat terakhir sebelum dimulainya proyek Paradise bersama tim The Palace akhirnya selesai. Kini, Liana hanya perlu untuk mematangkan gambar setiap bangunan dan unit yang akan dibangunnya dan mengirimkan melalui surel.


Hal tersebut juga sudah disetujui oleh Tuan Harvey melalui asistennya, Jack yang saat itu juga mengikuti rapat tersebut.


Setelah semuanya selesai, seluruh tim berencana untuk mengadakan pesta perpisahan nanti malam. Liana dan Falcon pun akan ikut serta dalam pesta tersebut.


Liana dan rekan timnya mulai membereskan semua barang-barang mereka untuk dibawa pulang ke Golden City, sedangkan tim Falcon kembali ke kantor mereka dan meneruskan pekerjaan hingga jam kerja selesai.


Di ruang meeting, Liana yang masih membantu rekan-rekannya nampak sibuk membenahi gulungan-gulungan besar hasil rancangannya.


“Apa kalian suka tinggal di sini?” tanya Liana.


“Tentu saja suka. Kota ini sangat modern dan semua serba bisa dijangkau dengan mudah. Benar-benar hidup yang praktis,” sahut salah satu rekan Liana.


“Tentu saja. Apalagi jika bisa ditemani oleh seorang pangeran tampan. Ah... Aku benar-benar iri padamu, Nona Wang,” timpal yang lain.


“kalian ini. Aku serius bertanya,” sahut Liana.


“Memang ada apa dengan pertanyaanmu itu?” tanya yang lain.


“Aku berencana untuk menetap di sini setelah proyek Golden Hospital. Aku akan mendirikan sebuah anak perusahaan Wang Construction di kota ini. Apa kalian mau bergabung bersamaku? Jangan tanya bayarannya, karena sudah pasti kecil. Ingat! Aku baru akan memulai usahaku. Jadi jangan rampok aku,” seru Liana.


“Kau menawari orang bekerja tapi pelit begitu. Siapa yang mau menerima tawaranmu, Nona?” ejek rekannya.


“Orang b*doh mana yang akan mau menerima tawaran itu?” timpal yang lain.


“Aku yakin kalian lah orang b*dohnya. Bukankah kalian bisa lihat sendiri betapa pesatnya pertumbuhan ekonomi di kota ini. Sudah pasti banyak gedung-gedung atau tempat-tempat yang akan dibangun kedepannya. Kita juga bisa merambah ke berbagai daerah maju lainnya,” ucap Liana dengan penuh percaya diri.


Semuanya saling pandang mendengar ucapan Liana. Mereka mengakui jika perkataan gadis itu semuanya adalah benar.

__ADS_1


“Baiklah. Mungkin kita bisa bicarakan lagi, setelah melihat profil anak perusahaan yang akan kau dirikan itu,” ucap salah satu tekan.


“Baiklah. Dan akan ku pastikan, kalau kalian akan langsung menerimanya,” sahut Liana.


“Wah... Percaya diri sekali,” sindir yang Liana.


“Yah, itulah Nona Wang,” timpal lainnya.


Mereka pun tertawa bersama. Liana menatap satu persatu wajah rekannya itu. Dia sudah sejak awal bekerja sama dengan mereka, dan merasa jika cara kerja timnya itu adalah yang terbaik.


Dia berharap jika nanti cita-citanya terwujud, merekalah yang akan ada untuk menemani mewujudkan impiannya.


...👑👑👑👑👑...


Siang hari, saat semua telah selesai di bereskan, Falcon nampak berjalan menghampiri gadisnya.


“Apa sudah selesai?” tanyanya.


“Baiklah. Jangan lupa makan siang, oke,” seru Falcon.


“Apa kau tidak mau mengajakku makan bersama?” tanya Liana.


“Kukira kau mau bersama dengan temanmu,” ucap Falcon.


“Aku bisa makan bersama mereka kapanpun setelah kembali ke Golden City. Tapi kau berbeda, Tuan,” sahut Liana.


“Dengarkan kekasihmu ini, Tuan. Jangan biarkan dia terus merengek,” ejek teman Liana.


“Jadi bagaimana?” tanya Liana.

__ADS_1


“Baiklah. Kau selesaikan dulu urusanmu. Seperti biasa, ku tunggu di resto depan ya,” ucap Falcon.


“Baiklah!” sahut Liana.


Gadis itu pun kembali melakukan pekerjaannya dan membantu teman-temannya mengangkat semua benda tersebut ke dalam mobil.


Setelah semua beres, Liana undur diri dan hendak menyusul Falcon di tempat yang sudah mereka sepakati.


Saat baru saja keluar dari lobi, sebuah dering dari ponselnya membuat Liana berhenti. Gadis itu mengambil benda tersebut dari dalam tas punggungnya.


Nampak sebuah nama tertera di layar ponsel. Keningnya berkerut dan dia ragu untuk menjawab panggilan tersebut.


Deringnya berhenti, dan gadis itu menghela nafas sejenak. Dia kemudian hendak memasukkan kembali benda tersebut ke dala tasnya, namun dering kembali terdengar hingga membuatnya terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya.


Dengan ragu-ragu, Liana menggeser tombol hijau ke kanan dan mendekatkan benda pipih itu ke dekat telinganya.


“Halo,”


.


.


.


.


Pagi semua 😁 sarapan nih bestie


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2