Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Gambar dua dimensi


__ADS_3

“Selamat pagi, Tuan dan Nyonya,” sapa dokter tersebut.


“Selamat pagi, Dok,” sahut Falcon dan Liana nyaris bersamaan.


Dokter itu melihat wajah Liana yang nampak pucat dan lingkar mata yang terlihat lelah.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter memulai konsultasi.


Liana pun menceritakan kondisinya sejak semalam, yang terus menerus muntah hingga tubuhnya lemas dan asam lambung naik hingga ke kerongkongan.


“Apa ada benda atau sesuatu hal khusus yang memicu reaksi Anda tersebut?” tanya dokter itu.


Liana nampak berpikir. Tiba-tiba saja Falcon menyela, dan mengatakan bahwa dia kembali muntah saat melihat acar bawang di meja makan pagi ini.


Dokter tersebut mencatat infomasi yang diberikan tadi. Kemudian, dia menanyakan perihal periode haidnya.


“Kapan terakhir kali datang bulan Anda?” tanya sang dokter.


“Ehm... Mungkin sekitar dua bulan yang lalu,” jawab Liana ragu.


Dokter pun nampak mengerutkan keningnya, dan kembali mencatat hal tersebut.


“Sus, tolong bantu Nyonya ini naik ke atas tempat tidur,” seru dokter tersebut.


“Baik, Dok,” sahut perawat tadi.


Liana pun berdiri dan melepas pegangannya di tangan sang suami. Mereka seolah akan terpisah sangat jauh hingga tak rela untuk melepaskan barang sejenak.

__ADS_1


Melihat hal itu, dokter tersebut nampak menahan senyum dan mengeleng pelan. Dia kemudian berdiri dan berjalan menuju ke arah Liana.


“Anda juga bisa menemani istri Anda di sini, Tuan,” ucap sang dokter.


Mendengar hal itu pun Falcon segera berdiri dan berjalan ke arah istrinya. Liana segera meraih tangan Falcon, saat perawat mengolesi sesuatu yang terasa dingin di atas permukaan perutnya.


Dokter baru saja memakai sarung tangan lateks dan mengambil sebuah alat sensor yang terhubung dengan layar dua dimensi, yang menggantung di depan semua orang. Dia kemudian mulai menekan alat tersebut ke perut bagian bawah Liana, hingga membuat wanita itu sedikit meringis menahan rasa tak nyaman tersebut.


Alat tumpul itu terus bergerak ke kanan dan kiri, seolah sedang mencari sesuatu. Senyum kemudian terbit di wajah sang dokter saat melihat sesuatu yang nampak di layar hitam putih di sana.


“Silakan dilihat, Tuan. Ini adalah janin yang sedang tumbuh di rahim istri Anda. Jika dilihat dari ukurannya, dia baru berusia sekitar tujuh minggu. Hampir dua bulan,” ucap sang dokter.


“Ja... Janin? Maksud Anda, Dok?” tanya Falcon.


Dia masih belum paham. Pria itu kemudian melihat ke arah sang istri. Liana nampak memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Honey,” panggil Liana lirih.


“Ada apa dengan istri saya, Dok? Apa ada hal serius?” tanya Falcon khawatir.


Namun, belum juga dokter menjawab, Liana lebih dulu memukul lengan Falcon dengan keras hingga membuat pria itu memekik.


“Kenapa kau jadi b*doh begini sih?” keluh Liana.


“Sweety, kenapa kau bicara begitu?” tanya Falcon.


“Istri Anda baik-baik saja. Ini hal yang wajar terjadi pada ibu hamil, terutama di usia kandungan yang masih berada di trimester pertama. Hal ini akan semakin berkurang saat sudah memasuki trimester kedua. Untuk sementara, Anda cukup menjaga pola makannya dan pastikan dia istirahat dengan baik, agar kondisinya tidak membahayakan dirinya dan juga calon bayi yang dikandungnya,” jelas sang dokter panjang lebar.

__ADS_1


Namun, Falcon masih terlihat diam. Dia masih belum bisa mencerna informasi yang baru saja diperolehnya.


“Maaf, Dok? Bisa tolong dijelaskan lebih singkat lagi,” ucap Falcon.


Liana yang sudah selesai dibersihkan pun kembali memukul lengan suaminya yang masih saja tulalit.


“Honey, aku hamil. Kau akan jadi ayah dan aku akan jadi ibu. Apa kau paham?” ucap Liana sedikit ketus.


Dia kesal karena pria itu seolah mendadak menjadi orang paling b*doh sedunia, dan membuat istrinya malu.


Mendengar perkataan dari Liana, falcon tiba-tiba merengkuh pundak Liana dan mengguncangnya beberapa kali.


“Apa kau yakin? Apa yang kau katakan itu sungguhan?” tanya Falcon.


“Bukankah tadi dokter sudah bilang. Di sini... Ada anak kita,” ucap Liana sambil menyentuh perutnya yang datar.


Falcon pun menurunkan pandangannya melihat ke arah perut sang istri, dan kembali menatap mata Liana. Nampak senyum tipis di bibir wanita itu, namun matanya kembali berkaca-kaca.


“Dok, tolong gugurkan kandungan istriku!” seru Falcon tiba-tiba.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2