Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Tempat rahasia


__ADS_3

Dari celah sempit yang terdapat di antara dua rumah kosong itu, Liana berjalan mengikuti Falcon yang semakin jauh meninggalkannya.


“Hei, Tuan. Tunggu aku!” seru Liana.


Langkah kakinya tak mampu mengimbangi Falcon yang berjalan dengan langkah lebar.


Lantai di tempat tersebut terasa berair dan licin. Liana bisa saja berlari, namun dia tak ingin jatuh dan malu di depan ketua gangster itu.


Di ujung celah sempit, Falcon berbelok dan berbelok. Entah sudah berapa kali belokan yang diambil, bahkan Liana pun tak bisa menghapalnya.


Si*l! Apa dia mau menyesatkan ku? Awas saja! batin Liana.


Setelah beberapa lama mereka menyusuri jalanan sempit itu, kini Liana bisa melihat ujungnya. Ada sedikit kelegaan yang dirasakan saat bisa melihat jalanan lagi.


Matanya fokus melihat ke depan, dan serasa ingin segera keluar dari celah itu. Namun, Falcon berhenti dan berdiri tepat di depan sana.


“Kenapa berhenti?” tanya Liana.


Pria itu mengulurkan tangannya ke arah gadis itu. Namun, Liana tak paham dan malah diam.


“Jangan salah paham! Aku tidak berniat menggandeng tanganmu dengan mesra. Di depan sudah cukup ramai, dan keberadaan mu bersamaku pasti akan menarik perhatian orang. Langkahmu sangat pendek, jadi lebih baik kau pegang tanganku, biar bisa kutari kau berlari,” ucap Falcon.


“Kalau Anda memang tidak mau orang-orang melihat kita bersama, duluan saja. Saya bisa menyusulmu di belakang nanti,” sahut Liana.


“Hahaha.... Menyusulku? Hei, Nona. Kau lupa kejadian tadi? Kalau aku meninggalkanmu sendirian di kota ini, kau akan habis tak bersisa. Ayo cepat!” ujar Falcon mengejek.


Liana merasa tersinggung karena ejekan dari pria di depannya itu. Dia masih tak mau meraih uluran tangan Falcon, dan akhirnya, pria itu menarik lengan Liana dengan tiba-tiba.


“Hei!” pekik Liana karena terkejut.


Falcon tak lagi menoleh, dan mulai berlari di jalanan itu.


Memang benar di sana sudah begitu ramai, bahkan Falcon pun harus memakain tudung kepalanya untuk menghindari pandangan orang-orang.


Setelah beberapa saat, kini mereka kembali masuk ke dalam sebuah celah, namun kali ini, celah tersebut seakan turun ke bawah.


“Kau mau ajak aku kemana lagi?” tanya Liana.


“Bisa tidak kamu cukup ikut dan jangan banyakan bertanya?” keluh Falcon karena Liana yang seolah curiga dengan dirinya.


“Apa aku tidak punya hak bertanya di sini? Aku hanya ingin memastikan kalau kau tidak membawaku ke tempat yang aneh. Itu saja,” jawab Liana.


Jalan semakin menurun, dan di ujung sana terdapat pintu pagar yang tinggi menjulang. Falcon meraba dinding di sekitar, dan tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya.


“Waaahhhh... Benar-benar dunia gangster selalu punya rancangan yang unik,” ucap Liana.


Falcon hanya geleng-geleng, melihat gadis itu justru takjub dengan pintu otomatis yang diletakkannya di sana.

__ADS_1


“Masuklah!” Seru Falcon.


Liana masuk. Di dalam masih tak jauh beda dengan di luar sana. Hanya saja udara terasa sedikit hangat. Beberapa langkah di depan, mereka kembali melihat sebuah rolling dor.


“Apa ada tombol otomatis lagi di sini?” tanya Liana bersemangat.


Falcon meraih sesuatu dari dalam saku dan menunjukkannya kepada Liana. Sebuah kunci biasa dan seketika binar di mata Liana pun hilang.


Falcon terkekeh melihat sikap gadis yang menurutnya unik ini.


Setelah membuka pintu itu sedikit, falcon meminta Liana untuk masuk terlebih dulu ke dalam dengan berjongkok.


“Kenapa sesempit itu Anda membukanya?” tanya Liana yang merasa sedang dipermainkan.


“Mau coba membukanya lebar-lebar?” tawar Falcon.


Liana memicing, dan mengamati bentuk pintu rolling dor itu. Dia tak melihat ada yang aneh di sana, namun saat dia menyentuhnya, barulah dia tahu jika pintu tersebut memang dibuat agar hanya bisa dibuka sampai pinggang orang dewasa, karena bagian atas hanya lukisan dinding yang mirip rolling dor.


“Jadi, ini cuma mural? Kau pintar sekali, Tuan,” keluh Liana di dalam pujiannya.


Mau tak mau, Liana pun berjongkok dan masuk dengan merangkak ke dalam. Nampak senyum tipis terlihat dari bibir Falcon melihat tingkah Liana.


Saat berada di dalam, hanya ada satu hal yang bisa di gambarkan. Gelap. Falcon masuk ke dalam dan segera menutup kembali pintu rolling dor tersebut.


“Di mana saklar lampunya? Aku tak bisa melihat apapun,” keluh Liana.


Sebuah jentikan jari terdengar, dan seketika semua lampu di ruangan tersebut menyala. Liana yang merasa silau pun seketika menutup matanya, dan membukanya perlahan.


“Oh my god!” gumamnya.


Liana begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Pandangannya mengedar ke sekeliling. Dia tak menyangka jika ada ruangan seperti ini di dalam tanah.


Di hadapannya, kini tampak sebuah ruangan yang lebih mirip kamar hotel berbintang, lengkap dengan sebuah mini bar.


Tak ada kesan kumuh bahkan semuanya terlihat mewah.


“Sudah ku duga. Dunia kalian memang sungguh menakjubkan,” puji Liana dengan mata yang terus mengedar.


“Duduklah! Aku ambilkan kau minum,” seru Falcon yang sudah berada di balik mini barnya.


“Aku minta bir dingin saja. Apa ada?” tanya Lina.


Falcon menunjukkan ke arah sebuah lemari pendingin yang ada di sudut ruangan, dan Liana pun segera menyerbunya.


“Ada apa kau kemari?” tanya Falcon sambil meneguk minuman yang baru digunakan.


“Aahhh.... Segarnya! Aku ingin minta bantuan Anda mencari seseorang, Tuan Falcon,” jawab Liana.

__ADS_1


“Bantuan? Kau tahu, tarif ku mahal. Apa kau bisa membayarnys?” tantang Falcon.


“Apa itu sepadan dengan bayaran ku merawat luka mu tempo hari?” tanya Liana membalas.


Pria itu terkekeh mendengar jawaban dari Liana.


“Dasar gadis licik. Jadi, kau jauh-jauh kemari sampai dikejar orang, hanya untuk meminta balas budiku? Apa semahal itu tangan seorang kuli bangunan?” sindir Falcon.


“Tentu saja. Jadi, bagaimana?” tanya Liana.


“Ehmmm... Sepertinya perlu sedikit tambahan,” ujar Falcon.


“Berapa banyak?” tanya Liana cepat.


“Bagaimana kalau, dengan mengganti panggilan kita,” seru Falcon.


“Panggilan? Memang ada yang salah dengan panggilan kita selama ini?” tanya Liana


“Panggilan mu terlalu kaku. Bagaimana kalau hilangkan kesan formal saat bicara. Cukup panggil nama masing-masing saja. Bagaimana?” tawar Falcon.


“Deal!” sahut Liana cepat.


Bahkan sangking cepatnya, Falcon sampai hampir tersedak minumannya sendiri.


Dasar gadis aneh! Biasanya mereka akan bertanya lagi kenapa, kenapa dan kenapa. Dia malah langsung setuju begitu saja untuk saling memanggil nama, batin Falcon.


“Jadi, siapa yang mau kau cari?” tanya Falcon.


“Cucu Joseph Wang,” jawab Liana.


Falcon yang tadi hampir tersedak, kini benar-benar tersedak karena jawaban dari Liana.


Apa? Cucu pak tua itu lagi? batin Falcon.


.


.


.


.


Tidak secepat itu masalahnya kelar ya ges🤭nanti novel ku cepet tamat dong😅


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2