Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Aku mohon


__ADS_3

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, kini keduanya telah sampai di Sky Castle. Falcon membawa Liana masuk dan meminta pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar tamu untuk ditempati gadisnya.


Hari sudah sore. Penghuni rumah sebentar lagi akan mulai berdatangan pulang. Dia pun meminta pelayan agar cepat menyelesaikan permintaannya, dan tidak menimbulkan kegaduhan saat semua orang telah kembali.


Beberapa saat kemudian, kamar telah selesai disiapkan dan dia pun membawa Liana masuk untuk beristirahat.


“Kamu di sini dulu. Aku akan coba bicara pada pak tua itu dan membawamu pulang ke Golden City,” Seru Falcon.


Liana duduk di sebuah sofa yang ada di dalam kamar. Wajahnya terus menampilkan ekspresi datar, meski hatinya sedang tak menentu memikirkan sang ayah yang saat ini entah sedang berada di mana, di kota Golden City.


Menjadi buron oleh ayahnya sendiri yang begitu menentang hubungan antara Peter dan Lilian, bahkan untuk sekedar bertemu dengan putrinya pun tak bisa.


Falcon merasa tak tenang melihat gadisnya seperti ini. Dia lebih memilih melihat Liana menangis, daripada terus diam tanpa ekspresi seperti ini.


Pria itu pun memeluk Liana, dan dengan begitu lembut membelai surai hitamnya yang legam.


“Ayahmu pasti akan baik-baik saja. Aku akan pastikan kau akan kembali secepatnya,” ucap Falcon


Awalnya, dia ingin menahan Liana sehari lagi di Empire State, sebelum terjadi kejadian mengejutkan hari ini.


Namun, melihat kondisi Liana yang terguncang seperti sekarang ini, membuat Falcon memutuskan untuk membatalkan niatnya, dan segera mencari cara agar Liana bisa segera kembali ke Golden City dengan selamat.


Walau bagaimanapun, saat ini yang ada dipikiran Liana hanyalah ayahnya.

__ADS_1


Setelah menempatkan Liana di kamar tamu, Falcon pun keluar meninggalkan kamar tersebut dan mencari sang kakek.


Sedangkan Liana, gadis itu memutuskan untuk menghubungi seseorang yang mungkin bisa segera membantunya untuk memastikan keamanan sang ayah.


Dia meraih tas punggungnya dan mengambil ponsel dari dalam sana. Dengan cepat, ia menggulirkan layarnya dan mencari nomor orang yang akan dihubungi.


“Halo, Paman!” sapa Liana.


“Halo, Nona. Bagaimana kabar Anda di Empire State?” tanya Jimmy.


“Aku baik-baik saja. Ada sesuatu yang aku ingin Paman lakukan,” ucap Liana.


“Apa itu?” tanya Jimmy.


Setelah mengatakan hal tersebut, Liana tak lagi mendengar jawaban dari Seberang. Jimmy diam seolah tak bisa menjawab permintaan dari nonanya.


Liana yang tak kunjung mendengar jawaban pun, akhirnya kembali memanggil-manggil asisten kakeknya.


“Paman! Apa Paman masih di sana?” panggil Liana.


“Ehm... Yah, saya masih di sini, Nona,” sahut Jimmy.


“Tolong aku, Paman. Paman bisa kan membantuku?” pinta Liana.

__ADS_1


“Maaf, Nona. Sebaiknya Anda bicarakan hal ini dengan kakek Anda terlebih dulu,” ucap Jimmy.


Liana nampak mengusap keningnya sembari mengehela nafas berat.


“Baiklah. Apa kakek sedang bersama mu? Berikan teleponmu padanya!” seru Liana.


Jimmy pun menyerahkan ponsel tersebut kepada tuannya, dan membiarkan kakek dan cucu itu bicara.


“Ada apa anak nakal? Apa begini caramu menghubungi kakekmu?” ucap Kakek Joseph dari seberang sambungan.


“Kek, Ayah dalam bahaya. Minta Paman Jimmy untuk mencarinya dan membawanya ke tempat yang aman. Aku mohon, Kek,” pinta Liana.


.


.


.


.


Bakal dikabulin nggak yah🤔


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2