Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Mimpi buruk


__ADS_3

Malam hari, setelah Kakek Joseph mendengar semua penurutan Liana mengenai pertemuannya dengan sang ayah, pria tua itu meminta agar jimmy selalu waspada, dan bekerja sama dengan anak buah Falcon yang selalu mengawal kemana pun Liana pergi untuk tetap melindunginya.


β€œAku yakin, saat dia kembali, pasti ada bahaya yang juga datang bersamanya. Kita harus lebih berhati-hati lagi setelah ini,” ucap Kakek Joseph.


β€œBaik, Tuan. Saya akan berusaha menambah orang untuk mengawasi Nona Liana,” sahut Jimmy.


Setelah memberi perintah kepada sang asisten, Kakek Joseph pergi ke kamar Liana. Dia membuka sedikit pintu kamar gadis itu, namun tak bermaksud untuk masuk dan mengganggunya.


Dari tempatnya berdiri, Presdir Wang bisa melihat jika sang cucu telah terlelap dalam buaian sang dewi mimpi.


Dia ingat betul bagaimana wajah Liana saat menceritakan pertemuannya dengan sang ayah, pria yang telah membuat putri semata wayangnya jatuh hati dan menyerahkan hidupnya untuk mengandung anak dari pria tersebut.


Dalam hati, Joseph sangat berharap bisa segera bertemu dengan Peter dan bertanya langsung padanya tentang semua yang terjadi selama ini, hingga alasan kenapa dia tega membuat Lilian menjalani masa kehamilan hingga persalinan, hanya ditemani pelayan pribadinya saja, Vivian.


Semua nampak samar saat pria itu datang bersama temannya si Jung ke perusahaan ku. Jimmy yang selalu tajam dan bisa ku andalkan, seketika menjadi tumpul dan lemah. Aku yakin, di antara kedua pria itu, pasti salah satu dari mereka lah yang membuat semua kekacauan di dalam hidupku. Tapi, apa alasannya? Ingin sekali ku tangkap bajingan itu dan menyeretnya kemari. Tapi, aku tak bisa demi menjaga perasaan cucuku. Meski dia tak mengatakannya secara langsung, tapi aku sangat mengerti dan yakin, jika dia pun begitu merindukan ayahnya, batin Kakek Joseph.


Setelah cukup lama berdiri di depan pintu kamar Liana, Kakek Joseph pun akhirnya kembali ke ruang pribadinya untuk beristirahat.


...πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘...

__ADS_1


Hari-hari berlalu sejak pertemuannya dengan sang ayah, Liana jadi sering mengunjungi Golden Park di penghujung hari.


Dia hanya duduk di dalam mobil, dan tak keluar selangkah pun dari kendaraannya. Dia terus melihat ke sekitar dan memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang di tempat tersebut. Namun, tak juga kunjung ia temukan keberadaan sosok sang ayah.


Sejak kejadian jambak-jambakan dengan Lusy tempo hari, gadis itu pun seakan menghilang, begitu pun juga dengan Christopher.


Tak ada sepatah kata pun penjelasan darinya atas apa yang terjadi di restoran tempo hari, seolah tak perlu ada yang dijelaskan di antara mereka.


Liana tak terlalu mempedulikan kedua orang tersebut. Yang dia harapkan adalah bisa kembali bertemu dengan sang ayah.


Dia belum tau jika Christopher mempunyai hubungan dengan Peter, bahwa pemuda tersebut adalah keponakan pria itu, atau dengan kata lain sepupu Liana sendiri.


β€œSemua rumus bangunan bisa ku pecahkan. Sesulit apapun model rancangan bisa ku bangun dengan baik, tapi kenapa hanya masalah ingin bertemu seseorang saja bisa sesulit ini?” gumam Liana pada diri sendiri.


Sudah sejak petang, selepas selesai bekerja, dia berada di taman itu, namun tak ada petunjuk sedikitpun tentang sang ayah.


β€œAndai Falcon ada di sini, pasti aku bisa meminta bantuannya untuk mencari di mana ayah berada. Ah... Dasar pangeran aneh. Keluarganya begitu kaya raya, tapi ponsel saja tidak punya. Benar-benar menyusahkan!” keluh Liana.


Gadis itu mengacak rambutnya hingga berantakan, dan merebahkan kepalanya di kemudi mobil.

__ADS_1


Dia memandang menerawang melewati kaca. Pikirannya terus mengingat wajah tampan pria yang sudah beberapa minggu ini terus mengusik hatinya, bahkan selalu muncul di dalam mimpinya.


Setiap kali tidur di malam hari, Liana selalu bermimpi jika Peter datang dengan senyum yang begitu hangat, dan hendak berjalan ke arahnya. Namun, Tiba-tiba saja seseorang datang dan menariknya menjauh pergi dari hadapannya lagi.


Sekuat apapun Liana berteriak, suara seolah tak mampu keluar dari mulutnya. Secepat apapun Liana berusaha berlari, namun bayangannya pun tak bisa dikejar oleh gadis itu. Setiap malam, selalu berakhir dengan teriakan histeris Liana yang terbangun karena mimpi tersebut, yang terus hadir berulang-ulang.


Hingga gadis cantik itu merasa enggan untuk menutup mata, meski raga begitu lelah telah terjaga sepanjang siang.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita iniπŸ˜ŠπŸ™


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2