
Dermaga besar pesisir utara negara bagian A, malam ini sebuah pesawat jet mendarat di sana dengan lambang Lunar Group.
Seorang wanita dengan pakaian serba hitam, memakai topi jaring di kepalanya, serta sarung tangan kulit berwarna serupa, nampak turun dari pesawat pribadi tersebut.
Penampilan glamour dan berkelas itu, siapa lagi kalau bukan Amber Callister Harvey, sang nyonya pertama di keluarga Harvey yang sangat ambisius itu.
“Di mana orang itu?” tanya Amber.
“Silahkan masuk ke dalam mobil, Nyonya. Kami akan mengantar Anda ke tempat bos kami,” sahut seorang pengawal.
Nampak beberapa orang yang berpakaian serupa dengan para penjaga di mercusuar, menjemput Amber di tempat tersebut.
Tiga mobil melaju beriringan menuju ke menara di sisi utara Heaven Forest, dengan salah satunya membawa Amber.
Sekitar empat puluh menit perjalanan dari dermaga besar, kini mereka telah sampai di pelataran mercusuar tua, tempat di mana Liana dan Peter tengah disekap.
Dari atas menara, Q bisa melihat kehadiran iring-iringan mobil tersebut. Terlihat Henry dan juga Alice, keluar menyambut kedatangan tamu agung mereka. Bisa ditebak dengan mudah, jika Amber lah klien yang dimaksud Alice sebelumnya, yang akan datang ke tempat itu.
“Selamat datang, Nyonya Callister. Selamat datang. Bagaimana perjalanan Anda?” sapa Henry beramah tamah.
Semuanya nampak siaga, begitu pun Alice. Hanya dirinya yang bersikap begitu santai di depan wanita itu.
Dia berdiri di dekat kursi belakang mobil, di mana Amber duduk, tanpa menoleh ke arah pria itu.
__ADS_1
“Di mana mereka?” tanya Amber langsung.
Wanita itu seperti biasa selalu terlihat angkuh dan arogan di hadapan semua orang, tak terkecuali kali ini.
“Tidak perlu terburu-buru seperti itu. Malam masih panjang. Bagaimana kalau kita bicarakan soal transaksi kita terlebih dulu,” ucap Henry.
Amber nampak tidak suka dengan sikap pria itu yang terlihat jelas sangat materialistis. Mau tak mau, Amber pun meminta asistennya yang turut ikut ke sana, untuk segera mentransferkan sejumlah uang ke rekening yang pernah disebutkan Henry sebelumnya, saat Amber bersedia untuk bekerjasama dengannya, memberi pelajaran kepada Liana.
“Ini, Nyonya,” ucap sang asisten.
Dia menunjukkan macbook nya yang menampilkan bukti transfer sejumlah uang ke dalam rekening Henry.
“Kau sudah lihat bukan? Sekarang, di mana gadis itu?” tanya Amber langsung.
Dia berbalik dengan seringai yang terlihat sangat licik. Henry bahkan melirik sekilas ke belakang, seolah tengah merendahkan sang klien.
Amber keluar dari dalam mobil, dan melihat ke sekeliling. Nampak gelap dan begitu menyeramkan. Hawa dingin membuat bulu kuduknya meremang seketika. Dia pun segera menyusul sang gangster ke dalam.
Henry berjalan mendahului wanita itu, sambil menunjukkan jalan menuju ke puncak menara mercusuar.
Di dalam bangunan tua tersebut, terdapat satu ruangan yang begitu luas dan berlangit-langit sangat tinggi, dengan tangga yang melingkar di sepanjang dinding dalam, menuju ke ruangan lain yang berada di bagian paling atas.
Dengan tampilan Amber yang seperti itu, wanita tersebut sedikit kesulitan menaiki anak tangga yang cukup panjang. Namun, dendamnya kepada Liana, membuatnya mau bersusah payah menuju ke tempat tinggi itu.
__ADS_1
Sesampainya di atas, Henry nampak berdiri menunggunya di depan sebuah pintu usang, yang terbuat dari kayu tebal.
“Dia ada di dalam,” ucap Henry.
“Buka pintunya!” seru Amber.
Henry pun memutar tuas, dan mendorong pintu. Amber berdiri tepat di depan pintu. Namun, matanya membola kala melihat kondisi di dalam sana.
Dia pun menyerbu masuk tanpa menunggu Henry selesai membuka pintu lebar-lebar.
“Surprise!”
.
.
.
.
Siang bestie, 🥰aku update jam segini, tapi maaf lanjutannya mungkin besok atau kalau sempet agak sore kemaleman dikit ya😅🙏otak lagi rada panas🙏😅
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘