
Grey town, kota yang akan semakin hidup di malam hari. Berbanding terbalik dengan keadaan pada saat siang hari, kala mentari bersinar merajai langit, kota itu justru nampak lengang dengan hanya beberapa orang terlihat berlalu lalang di jalanan.
Namun, ketika langit cakrawala memerah di ufuk barat, manusia penghuni kota tersebut mulai bermunculan keluar dari sarangnya. Mereka seolah enggan untuk menyapa surya dan lebih senang menyambut sang ratu malam.
Saat itu, sebuah mobil sport merah, tengah melaju di jalanan yang berada di luar kota Grey Town. Semburat jingga telah nampak di ujung samudra sana dengan begitu indahnya.
Kuda besi yang kebetulan melintadi jalanan di tepi laut, menghentikan lajunya. Nampak seorang gadis turun dengan sebuah kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
Kaus putih polos tanpa kerah, dipadu padankan dengan sebuah jaket denim, serta jeans hitam sebagai bawahan, melengkapi penampilan santainya.
Rambut yang selalu dikuncir ke atas, dan sepatu sneakers yang menjadi andalannya pun tak ketinggalan.
Dia berjalan memutar, menuju ke sisi kiri mobil, dan berdiri mengahadap ke arah laut lepas. Gadis itu terlihat melepas kacamatanya, dan menggantung benda tersebut di kerah kausnya. Dia berdiri di sisi pagar pembatas, di mana ada tebing karang yang begitu tinggi di bawah sana.
Gadis itu nampak memejamkan matanya, dan meresapi hembusan angin laut yang dingin menerpa kulit wajahnya. Terdengar helaan nafas yang begitu berat dari mulut gadis yang gemar menguncir ke atas rambutnya itu.
“Apa yang akan ku lakukan jika cucu kakek sudah kembali? Apa ini juga saatnya aku bersiap untuk kembali ke tempatku semula?” gumamnya.
Entah kenapa, saat dirinya mantap untuk membantu Kakek Joseph menemukan sang cucu yang sudah lama hilang, hati kecil Liana merasa tak rela jika tempatnya akan segera digantikan.
Sejak lari dari kejaran si tua Paulo hampir tiga tahun yang lalu, Liana menyadari jika selama ini hidupnya terlalu mengandalkan Kakek Joseph. Sehingga saat memikirkan sang cucu asli kembali, dia pun merasa sedikit terancam, meski dia sadar betul jika semua bukan haknya sejak dari awal.
Liana berdiri di sana cukup lama. Ketika surya telah sepenuhnya terbenam di bawah laut, barulah dia kembali melakukan kendaraannya menuju ke kota para mafia, Grey Town.
Sesampainya di sana, suasana liar benar-benar terasa. Banyak sekumpulan pria remaja dengan pakaian serba hitam dan atribut jalanan, memenuhi setiap sudut kota.
Gadis-gadis berpakaian sangat mini dan cenderung seksi pun, nampak berbaris di setiap depan tempat hiburan malam yang bertebaran di kota tersebut.
Jika melihat penampilan Liana saat ini, bisa dipastikan jika mereka akan bisa menebak bahwa dia adalah orang asing yang baru pertama kali datang ke tempat tersebut.
Liana Melajukan mobilnya semakin masuk ke dalam kota. Entah kenapa gadis pemberani ini merasa menggigil, saat melihat tatapan dari setiap orang yang melihat mobilnya melaju di jalanan, seolah mereka tau jika dia sedang berhati-hati.
Dia melajukan mobilnya perlahan, sambil mencoba mencari sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk keberadaan si penguasa Grey Town, Falcon, berada.
__ADS_1
Saat dia sedang fokus melihat sekeliling, Tiba-tiba saja, ada seorang wanita yang melambaikan tangannya di depan mobil, seolah ingin menumpang padanya.
Wanita itu berdiri di tepi trotoar jalan, dengan pakaian yang super seksi. Liana menghentikan laju mobilnya, dan memilih untuk tak segera turun dari sana.
Wanita itu kemudian berjalan menghampiri Liana dan mengetuk kaca mobil sport nya.
Awalnya, gadis itu tak ingin meladeni wanita tersebut dan bermaksud untuk segera tancap gas dari tempat itu. Namun, dia kembali berpikir, jika mungkin saja wanita ini bisa membantunya menemukan Falcon dengan segera.
Liana pun menurunkan sedikit kaca mobilnya, dan wanita itu seketika mencoba melihat ke dalam.
“Hai, apa aku bisa minta bantuan mu?” tanya wanita itu.
“Maaf, tapi aku sedang buru-buru,” sahut Liana berusaha menolak.
“Apa kau baru di sini? Mungkin kita bisa saling bantu. Aku butuh tumpangan sampai ke ujung jalan sana, sebagai gantinya kau bisa bertanya apapun padaku,” ucap wanita itu.
Liana sedikit berpikir. Namun sejurus kemudian, dia pun menyetujuinya.
“Baiklah. Ayo masuk!” Seru Liana.
Wanita itu pun masuk dan duduk di kursi samping kemudi. Liana sekilas melirik pakaian wanita itu, dan seketika dia menaikkan sebelah alisnya.
Gadis itu pun melajukan mobilnya ke depan, mengikuti arahan dari wanita yang baru saja ditemuinya.
Meskipun sebenarnya Liana ragu dengan kejujuran wanita asing ini, namun hanya itu yang bisa ia pikirkan, untuk bertanya mengenai Falcon.
“Terimakasih sudah membiarkanku masuk. Sepertinya kamu bukan dari sini. Apa mungkin, kamu baru pertama kali ke Grey Town?” tanya wanita itu.
“Tidak juga. Aku sudah beberapa kali pernah kemari untuk sebuah urusan,” jawab Liana mengarang dan mencoba bersikap setenang mungkin
“Oh ya. Apa kau punya teman atau saudara di sini?” tanya wanita itu lagi.
“Aku tidak memiliki saudara di sini. Aku kemarin hanya ingin menemui temanku,” Jawab Liana.
“Oh ya. Siapa nama temanmu? Mungkin aku mengenalnya,” tanya wanita itu.
“Falcon. Aku yakin kau mengenal dia dengan sangat baik,” sahut Liana.
__ADS_1
Wanita itu nampak diam. Dia tak lagi berbicara, dan Liana pun merasa ada yang aneh dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah. Wanita yang tadinya sangat cerewet, tapi kini tiba-tiba saja hening saat Liana menyebutkan nama Falcon.
Liana tersenyum dalam hati, karena merasa jika dia dilindungi hanya dengan menyebutkan nama orang itu saja.
Baiklah. Kita lihat seberapa berpengaruhnya Anda di sini, Tuan Falcon, batin Liana.
Tak lama kemudian, wanita itu meminta Liana untuk berbelok ke sebuah jalan kecil. Namun, sekitar beberapa meter dari jalan utama, Liana menemukan jika jalan tersebut buntu.
Gawat! batin Liana.
Gadis itu pun seketika menoleh ke arah wanita asing tadi, dan dia semakin terkejut melihat sebuah pisau sudah mengarah tepat ke depan wajahnya.
Liana kesal bukan main, karena dengan begitu mudahnya sudah masuk ke dalam perangkap wanita asing itu, dan dia masih bisa percaya diri dengan hanya mengandalkan nama besar Falcon di sarang gangster.
“Kamu kira hanya dengan modal tau nama Falcon, lalu semua di sini akan takut padamu hah? Itu cara lama yang selalu digunakan oleh orang baru sepertimu,” ucap wanita seksi itu.
“Apa mau mu? Uang? Caramu ini juga sudah kuno untuk merampok orang,” jawab Liana yang seolah tak sadar dirinya sedang dalam bahaya.
Liana berpikir keras untuk bisa keluar dan mencari bantuan dari wanita berbahaya itu. Matanya terus menatap tajam ke arah wanita di depannya, namun sekejap kemudian dia melirik ke arah lain dan membuat wanita itu ikut menoleh.
Saat itu lah, Liana mendapat kesempatan untuk menyerang wanita asing tersebut dan merebut paksa pisau dari tangannya. Dengan gerakan cepat, Liana memukul tengkuk wanita itu hingga membuatnya membentur dashboard.
Liana pun segera keluar dari dalam mobilnya, dan membuang sembarangan pisau tadi ke sisi jalan.
Dia berlari hendak menuju ke jalan utama, namun langkahnya terhenti, saat beberapa pria mulai berdatangan menghadang jalannya.
Mati aku!
.
.
.
.
Pagi-pagi ngopi enak kali yah? Kirim kopi dong buat ku gengs😁🤭
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘