
Mentari mulai turun ke ujung samudera di sisi barat, meninggalkan jejak kemerahan di atas permukaan air laut. Ketiga pria itu masih berada di posisi masing-masing, sedangkan anak kecil itu masih asik dengan siaran televisi yang sedang dilihatnya.
Sementara Liana, gadis itu masih duduk bersimpuh di samping ayahnya yang belum juga bangun dari pingsannya.
Matanya tak henti-henti mengalirkan lelehan bening, meski hatinya berusaha kuat untuk menahan kesedihan yang muncul saat ini.
“Kenapa harus se tragis ini?” ucapnya kemudian, setelah beberapa lama dia hanya terdiam sambil menahan isaknya.
“Kenapa harus begini nasib keluarga kita, Ayah?” tanya Liana.
Dadanya semakin sesak, terlebih saat mengingat kembali semua yang telah terjadi pada dirinya dan juga kedua orang tuanya.
“Bangunlah! Aku mohon, bangunlah! Banyak yang ingin ku tanyakan padamu, Ayah. Aku mohon! Bangunlah, Ayah!” pekik Liana.
Dia pun menangis se jadinya di samping sang ayah. Liana sudah tak mampu membendung perasaannya yang saat ini benar-benar menyesakkan dadanya, hingga hampir meledak.
Isak tangisnya terdengar hingga ke luar rumah, namun tak satu pun yang berusaha masuk dan melihatnya.
Mereka semua seolah tahu apa yang saat ini dibutuhkan oleh kedua orang di dalam sana. Tangisan Liana terdengar begiti memilukan. Falcon bahkan terus menggenggam pagar yang mengelilingi teras dengan kuat, untuk menahan keinginannya memeluk dan menenangkan gadisnya
__ADS_1
Dia tahu, jika Liana saat ini hanya ingin bersama dengan sang ayah. Gadis keras kepala itu hanya akan marah jika ada yang mengganggu waktunya.
Liana terus menangis hingga tubuhnya berguncang hebat. Wajahnya sudah sepenuhnya basah oleh lelehan dari mata dan juga hidungnya. Dia tak peduli jika sang ayah akan terganggu, karena keinginannya justru adalah agar Peter segera sadarkan diri.
Tak disangka, tangisan Liana membuahkan keajaiban. Jemari Peter bergerak. Tak berselang lama, erangan lirih keluar dari mulut pria malang itu, dan seketika membuat Liana menghentikan tangisnya dan menoleh ke arah sang ayah.
Dia melihat kelopak mata Peter mulai bergerak hendak terbuka, dan membuat Liana serta merta bangun dan berteriak memberitahu semua orang akan hal tersebut.
“Dia bergerak! Ayahku sadar!” teriak Liana.
Ketiga pria itu pun berbalik dan bergegas masuk. Q yang pertama berlari ke arah kamar Peter dan memeriksa kondisi pasiennya.
“Tuan, apa kau mendengar ku? Tuan, coba buka mata Anda perlahan,” ucap Q setelah melakukan beberapa pengecekan.
Sensor matanya sudah bereaksi terhadap cahaya, yang menandakan jika pasien memang telah sadarkan diri. Namun, melihat kondisi lukanya, Q khawatir jika Peter akan mengalami shok yang diakibatkan oleh rasa sakit yang dideritanya.
Dia pun segera mengambil obat penghilang nyeri dan menyuntikkannya ke dalam carian infus, untuk sedikit mengurangi sakit yang dirasakan.
“Apa ayahku akan baik-baik saja?” tanya Liana panik.
__ADS_1
“Kau tenanglah. Dia sudah sadar, dan ini adalah hal yang sangat bagus. Kita hanya perlu memastikan dia sadar sepenuhnya, baru lah fokus pada penyembuhan luka luarnya,” ucap Q.
Kemudian, samar-samar terdengar suara yang begitu lirih hampir tak terdengar dari bibir Peter. Pria itu seolah tengah mengatakan sesuatu, namun mulutnya belum mampu bicara dengan jelas.
Q mendekatkan telinganya ke arah bibir Peter, dan mencoba mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria malang itu.
Wajahnya nampak serius mendengarkan bisikan tersebut, dengan garis alis yang hampir menyatu di keningnya. Namun, tiba-tiba matanya melebar dan dia menjauhkan kepalanya dari Peter, serta menoleh ke arah Liana.
“Dia memanggil namamu,” ucapnya.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘