
Terjadi keributan di depan ruang kerja sang tetua keluarga Chen. Hal ini disebabkan oleh putra bungsunya yang baru saja mendengar sebuah kabar mengejutkan, yang tak sengaja ia dapat setelah melihat tayangan di televisi.
Dia melihat seorang gadis yang begitu mirip dengan kekasihnya, yang telah meninggal bertahun-tahun yang lalu, dan menemui sang ayah serta menyalahkan semua ketidak tahuannya kepada sang ayah.
“Peter! Mau sampai kapan kau akan terus mengingat wanita itu? Dia sama sekali tak pantas bersanding dengan putra keluarga Chen. Sudah ku bilang hubungan kalian tidak akan berhasil, tapi apa? Kau malah terus memberontak dan menolak semua wanita yang kubawa untuk menjadi istrimu. Kau adalah aib di keluarga ini. Dan sekarang apa? Kau tau kau punya putri, lalu apa mau mu? Menemuinya? Apa kau yakin dia akan menerimamu? Pria jahat yang sudah meninggalkan ibunya dan membuatnya menderita sampai akhir hayatnya?” ucap jerome.
“Ini semua salahmu, Ayah! Kalau bukan karena keegoisanmu, kalau kau tak meminta Moses memfitnah ku, kalau kau tak memaksaku pulang kembali ke rumah ini, semua ini tidak akan pernah terjadi. Lilian ku pun pasti belum mati saat ini, dan kami pasti sudah hidup bahagia. Ini semua salah mu!” cecar Peter.
“Anak tidak tau diuntung. Jangan seperti anak kecil yang kehilangan mainannya! Kau sudah cukup tua untuk merajuk seperti itu. Apa kau kira, dengan pembangkangan yang kau lakukan selama ini, akan meluluhkan hatiku? Kau hanya bermimpi! Buang jauh-jauh pikiranmu untuk menemui gadis itu!” sahut Jerome dingin.
“Aku tidak akan menurut lagi padamu, Ayah. Sudah cukup dua puluh tahun ini aku mengalah. Merasakan wanita yang kucintai menderita seorang diri. Aku tidak peduli apakah kau akan mematahkan kakiku, atau bahkan membunuhku. Yang aku inginkan sekarang adalah bertemu dengan anakku!” ungkap Peter.
Setelah mengucapkan hal terakhir, pria itu kemudian pergi dari hadapan sang ayah.
Di bawah tangga, seorang pemuda terlihat mematung. Dia tak menyangka akan apa yang baru saja didengarnya.
Jadi, Liana dan aku adalah saudara? Putri Paman Peter? batin Christopher.
...👑👑👑👑👑...
Di tempat lain, di kota dengan tingkat kejahatan paling tinggi di negara bagian A, Grey Town, sebuah tempat rahasia yang tak banyak diketahui oleh orang-orang, seorang gadis bersusah payah menemukan sebuah tempat tersembunyi, dan akhirnya berhasil membuat si pemilik tempat itu membukakan pintu untuknya.
Setelah masuk, gadis itu serta merta memeluk sang pemilik tempat, dan memukuli punggung pria yang dipeluknya sambil terus memaki.
Namun, si pria tampak diam. Dia hanya membalas pelukan gadis itu, sambil terus mencoba menenangkan hati sang gadis yang dipenuhi dengan kekecewaan dan amarah.
Puas menangis dan melampiaskan kekesalannya pada punggung pria itu, sang gadis itu pun akhirnya tenang.
Pria yang tak lain adalah Falcon, menuntun gadis itu untuk duduk di sofa yang ada di sana. Liana masih terlihat sesenggukan karena tangisnya.
Falcon menutup kembali rolling door dan kemudian mengambil air minum dari dalam lemari pendingin, lalu memberikannya pada gadis itu.
“Minumlah! Kau pasti lelah mencari tempat ini bukan,” seru Falcon.
__ADS_1
Liana meraih air tersebut dan meneguknya seperti orang kehausan di tengah padang pasir. Dia bahkan menghabiskan lebih dari setengah botol dalam sekali teguk.
“Sebaiknya kau bersihkan diri dulu. Setelah itu, baru akan ku antar kau pulang,” ucap Falcon.
“Pulang? Aku kemari karena ingin meminta penjelasanmu, Tuan! Susah payah aku mencari tempat ini, dan kau malah berencana mengantarku pulang?” cecar Liana kembali emosi.
Falcon nampak menghela nafas berat. Dia tak tau jika gadis yang selalu tak acuh pada setiap urusan orang lain, kini justru menjadi begitu cerewet dan menuntut.
“Baiklah. Kau boleh bertanya apapun padaku, tapi kau harus bersihkan dulu badanmu. Lihat! Gaunmu yang cantik ini sampai kotor dan basah karena berlarian ke sana kemari,” seru Falcon.
“Salah siapa membuatku sampai seperti ini?” timpal Liana ketus.
“Baiklah! Baiklah! Ini salah ku. Puas?” sahut Falcon.
“Puas apanya!” cibir Liana.
Gadis itu pun bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi. Sebelum dia masuk ke dalam, Liana kembali menoleh ke arah Falcon.
“Pinjami aku bajumu!” seru Liana.
Falcon bangun dan mengambil sebuah kaus yang mungkin akan kebesaran jika dipakai oleh Liana, serta sebuah celana pendek yang biasa ia gunakan saat tidur, yang mungkin akan sepanjang lutut Liana.
Dia berjalan ke arah kamar mandi, dan mengetuk pintunya. Saat handle berputar, Falcon segera memalingkan wajahnya ke lain arah, dan kembali menoleh saat pintu terdengar kembali tertutup.
Dia pun kembali duduk di sofa, dan menunggu Liana selesai mandi.
Sekitar dua puluh menit, pintu terbuka. Liana keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Dia sudah mengenakan pakaian yang dipinjamkan oleh Falcon dan mengeringkan rambut dengan sebuah handuk, sambil berjalan ke arah sebuah kursi di depan minibar, dan menghadap lurus ke arah pria itu.
Dia sengaja duduk di sana, karena ingin melihat langsung wajah pria, yang sudah membuat hidupnya menjadi kacau dalam satu minggu terakhir.
“Aku sudah siap mendengarkan penjelasanmu,” ucap Liana.
“Kau mau aku menceritakan dari mana?” tanya Falcon.
__ADS_1
“Dari awal!” seru Liana.
Di depan pria itu, sudah ada beberapa kaleng bir. Falcon meneguk salah satunya, dan menghela nafas dalam, seolah apa yang akan disampaikan begitu berat.
“Apa kau ingat ceritaku tentang seorang anak yang dibuang di Sky Escape?” tanya Falcon.
“Apa itu kau?” tanya Liana balik.
“Kau benar. Itu adalah aku,” sahut Falcon.
“Tapi kenapa? Kenapa seorang tuan muda satu-satunya dari klan terbesar di ibu kota malah dibuang ke tempat terpencil seperti itu?” tanya Liana.
“Ini semua karena rasa iri yang muncul di hati manusia-manusia serakah itu. Ayahku memiliki tiga orang istri. Kedua istri pertamanya tidak bisa memberinya seorang putra. Akhirnya dia pun memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang gadis,” ungkap Christopher.
Liana mendengarkan dengan serius setiap kata yang keluar dari bibir pria, yang telah beberapa kali menyelamatkannya dari kejadian menakutkan semasa hidupnya.
“Kau pernah melihat mereka berdua bukan?” tanya Falcon.
“Yah, saat makan malam dan sarapan waktu itu,” sahut yang Liana
“Yang duduk di samping kanan ayah adalah istri pertamanya. Dialah orang yang paling tidak suka saat ayah mengangkat seorang selir demi untuk mendapatkan seorang anak laki-laki. Nyonya kedua selamat, karena bernasib sama dengannya. Hanya bisa memberikan anak perempuan. Hingga akhirnya, ibuku hamil dan melahirkanku, cucu laki-laki yang sangat ditunggu oleh keluarga, terutama kakekku,” lanjut Falcon.
“Kalau kau adalah anak yang ditunggu-tunggu, lalu kenapa kau bisa berakhir di pulau itu? Apa yang sudah mereka lakukan padamu sampai bisa begitu?” tanya Liana.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘