
Awal pekan telah tiba. Hari ini adalah hari terakhir sidang, di mana hukuman untuk Amber dan Moses akan diputuskan.
Liana, Falcon dan Ella yang diantar oleh anak buah geng Jupiter, kini telah tiba di depan gedung Golden Court, tempat di mana persidangan kasus tersebut akan digelar.
Di mana juga terlihat baru saja datang, mobil rombongan Christopher dan Peter. Liana dibantu oleh Falcon keluar dari dalam mobil.
Semenjak mengetahui bahwa sang istri tengah berbadan dua, pria itu terlihat lebih protektif, meski mereka sudah sepakat untuk menunda memberithukan kabar gembira ini kepada yang lain, setidaknya sampai sidang berakhir. Tentu saja kecuali Q, yang selalu menjadi sasaran pertanyaan oleh Falcon dengan seribu hal seputar kehamilan.
Namun, sikap protektif Falcon kepada sang istri tak bisa dicegah sama sekali, dan sering membuat Liana malu sendiri.
Nampak ayah dan sepupunya berjalan ke arah rombongan Liana. Entah kenapa, wanita itu tiba-tiba melepas rangkulannya di lengan sang suami dan menghampiri ayahnya.
Dengan manjanya, Liana merangkul lengan Peter hingga membuat semua orang melihat dengan penuh keheranan, tak terkecuali Peter sendiri.
Putri yang selalu bersikap dingin dan ketus itu, tiba-tiba menjadi manja dan langsung menggelayut begitu saja di lengannya
Falcon yang melihat kelakuan sang istri pun hanya bisa tersenyum tipis. Dia sedikit mengerti mengenai perubahan hormon wanita yang tengah hamil. Sebelumnya, dia sering bertanya ini dan itu pada Q, agar dia bisa siap siaga setiap kali sang istri menunjukkan perubahan atau keluhan sekecil apapun.
Dia menebak, jika sikap manja Liana pada sang ayah adalah pengaruh dari kehamilan yang saat ini dialaminya.
“Selamat pagi, Ayah,” sapa Falcon.
Peter nampak masih memperhatikan putrinya dengan keheranan. Melihat menantunya sudah berdiri di depannya, dia pun mengalihkan perhatian dan membiarkan Liana bermanja-manja di lengannya.
__ADS_1
Pria paruh baya itu tersenyum ke arah Falcon.
“Hei, Tuan muda ke lima. Ada apa dengan istrimu ini? Apa dia sedang sakit?” tanya Christopher, dengan memutar telunjuk di dekat pelipisnya.
Pemuda itu terus memperhatikan Liana dengan tatapan aneh, karena dia sangat tahu bahwa wanita itu tidak pernah menunjukkan hal semacam ini sebelumnya.
Melihat sang sepupu mengejeknya, Liana pun menendang kaki Christopher yang berdiri tak jauh darinya, hingga membuat pemuda itu memekik kesakitan.
“Sweety,” panggil Falcon dengan lembut.
Liana kembali menggelayut manja di lengan sang ayah, seolah tengah bersembunyi dari tatapan sang suami. Dia tahu maksud panggilan tadi adalah untuk menghentikan kelakukuan kasarnya itu.
“Dia mengejekku lebih dulu. Aku hanya membela diri. Benarkan, Ayah?” ucap Liana.
“Baik, Ayah,” sahut Falcon.
Dia kemudian menoleh ke arah Mike, seolah memintanya untuk mengamankan jalan dari kerumunan wartawan, yang sudah pasti sedang menunggu mereka di dalam sana.
Dia pun mempersilakan mertua dan istrinya untuk berjalan terlebih dahulu. Dia memilih membiarkan Liana bermanja dengan ayahnya, sementara dia berjalan di belakang bersama dengan Christopher.
Pemuda itu tiba-tiba mendekat ke arah Falcon, dan kembali menanyakan pertanyaan yang tadi.
Falcon pun menoleh, dan menempelkan telunjuk di depan bibirnya.
__ADS_1
“Ssttt! Biarkan saja. Bukankah begini lebih baik?” ucapnya.
“Tapi ini agak aneh. Gadis kurang ajar dan bar-bar seperti dia tiba-tiba menjadi...,” sahut Christopher.
Namun, Falcon tiba-tiba merangkul leher Christopher, dan membuat pemuda itu seperti tercekik.
“Hei, Sepupu. Yang kau bicarakan itu adalah istriku!” ucap Falcon penuh penekanan.
“Iya. Baiklah! Baiklah! Aku salah. Lepaskan aku!” pinta Christopher.
Falcon pun kemudian melepaskannya dan kembali berjalan menyusul istri dan juga mertuanya.
.
.
.
.
Hari ini sudah dulu ya bestie 🤭🥰besok lanjut lagi😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘