Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sayangku


__ADS_3

Liana dan Falcon pergi menuju ke lahan tempat di mana proyek hunian elit Paradise akan digarap.


Tanah seluas kurang lebih 50 hektar itu, akan dibangun sebuah komplek hunian elit, yang terdiri dari puluhan unit rumah mewah ukuran sedang, ukuran besar dan juga sekitar lima tower apartemen, yang mengelilingi sebuah hall besar yang dilengkapi dengan pusat perbelanjaan di bagian belakang, dengan ketinggian hingga lima belas lantai.


Lahan tersebut sudah diratakan dan dipasangi papan bowplank di sekelilingnya. Banner nama proyek tersebut pun sudah dipasang mengitari lahan tersebut.


Falcon mengajak Liana masuk dan berkeliling di tempat itu menggunakan mobil Rubicon keluaran terbaru. Liana sampai keheranan saat melihat pria itu membawa mobil mewah dengan harga fantastis tersebut, mengingat perlakuan keluarganya yang kurang baik pada si pangeran terbuang.


Namun, menurut Falcon, ini semua dilakukan kakeknya demi menjaga gengsi keluarga. Mengingat dirinya adalah cucu laki-laki dari keluarga Harvey, pemilik Lunar Group yang terkenal, orang-orang pasti berpikir bahwa tidak mungkin jika dia justru tak mendapatkan fasilitas mewah, meski kenyataannya memang tidak ada keistimewaan untuknya.


Jadi, Tuan Harvey meminjaminya mobil ini sebagai kendaraan inventaris dari perusahaan, selama dia bekerja di The Palace.


Selama melihat lokasi proyek, Liana terlihat duduk tenang meski matanya terus mengedar ke arah depan, sambil merasakan guncangan yang terjadi di dalam mobil.


“Sepertinya tanah di sini cukup stabil. Urugannya juga sudah cukup padat. Berapa lama kalian telah meratakan tanah ini?” tanya Liana.


“Lahan ini pada dasarnya adalah tanah dengan bantuan keras. Ini bukan area tanah Merah yang bersifat lembek dan mudah goyang. Urugan ini hanya untuk meratakan permukaannya saja. Kau lihat sebelah sana?” ucap Falcon sembari mengarahkan pandangan ke depan.


Liana pun mengikuti arah tatapan mata pria itu.


“Di sana adalah ujungnya. Ada sebuah bukit kecil yang memiliki struktur tanah asli wilayah ini. Kau bisa mendapatkan sampel dari sana,” lanjut Falcon.


“Baiklah. Kita langsung ke sana saja,” seru Liana.


Falcon pun melajukan mobil jeep Wrangler Rubicon nya itu ke tempat yang ditunjuk boleh Liana.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Liana segera keluar dari mobil dan berjalan ke arah bukit kecil tersebut. Gadis itu nampak mengambil sebuah sapu tangan dari sakunya, dan memilinnya kemudian mengikatkan pada rambutnya sebagai ganti tali rambut.


“Apa kalian sengaja menyisakan bagian ini di sini?” tanya Liana.


“Kami hanya ingin mempermudah pekerjaan kalian dalam meneliti struktur batuan tanah dasar di tempat ini. Jika memang tidak diperlukan, kau bisa meratakannya juga,” ucap Liana.


Gadis itu nampak berpikir sejenak. Dia pun mencoba mendaki gundukan tersebut dan berdiri di puncaknya.


Dia bisa melihat sebagian besar lahan tersebut dari sana. Falcon pun menyusulnya naik dan bergabung dengan Liana.


“Sepertinya, aku aka pertahankan area ini. Ini bisa jadi salah satu spot menarik untuk Paradise,” ucap Liana.


Falcon menoleh melihat ke arah gadisnya. Dia tersenyum melihat optimisme sang arsitek muda nan cantik itu.


“The Palace akan serahkan semuanya pada kalian,” seru Falcon.


Cukup lama mereka melihat-lihat area tersebut. Liana bahkan meminta pria itu untuk membawanya berkeliling ke pemukiman yang berada di sekitar lahan tersebut. Gadis itu juga meminta untuk melihat aliran sungai alami yang terdekat dengan lahan.


Setelah mentari mulai condong ke barat, waktu menunjukkan pukul empat sore, Falcon mengajak Liana untuk beristirahat dan membawanya pergi dari area tersebut.


“Kita mau kemana lagi?” tanya Liana.


“Kita akan berjalan-jalan sebentar, mumpung kau belum mulai sibuk,” ucap Falcon.


“Baiklah. Kau tour guide nya. Aku terima beres dan jangan menyesatkanku,” seru Liana.

__ADS_1


“Baiklah. Tapi aku minta bayaran besar sebagai tour guide mu,” ucap Falcon.


Liana menoleh ke arah pria di sampingnya dengan kening yang berkerut. Kemudian, gadis itu tiba-tiba menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan sedikit memundurkan tubuhnya.


“Jangan macam-macam ya,” serunya.


Falcon menoleh dan terkekeh melihat tingkah Liana. Tangannya terulur dan mengacak rambut gadis itu.


“Sejak kapan sayangku jadi semesum ini?” goda Falcon.


“Hei, jangan panggil aku seperti itu. Geli,” keluh Liana.


“Kenapa? Bukankah manis sekali? Sayangku,” goda Falcon lagi.


Liana justru bergidig dan membuat Falcon semakin terkekeh.


.


.


.


.


Bang, kalo si eneng nggak mau di panggil sayang, othor aja dah yang dipanggil sayang 🤣🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2