
“Lalu, apa alasannya?” tanya Falcon penasaran.
“Apa kau lupa, kalau di hari pertama kau sudah mengajakku pergi ke lahan. Dari sana, aku sedikit banyak telah mendapatkan informasi mengenai tempat yang akan dijadikan lokasi pembangunan Paradise. Sedangkan gambar landscape ku mendapat lumayan banyak koreksi dari tim mu. Memang tidak dipungkiri, ini juga agar aku tidak terlalu mengingat sikap tak tegas mu itu. Jadi, aku putuskan untuk merombaknya di beberapa bagian. Tak terasa, waktu sudah menjelang pagi dan aku tidak sempat untuk tidur. Begitulah ceritanya,” ungkap Liana.
“Jadi, kau sama sekali tidak menangis atau sedih dengan pertengkaran kita? Apa hanya aku yang seperti orang gila dan menganggap dunia seolah hancur, hanya karena pertengkaran semacam itu?” tanya Falcon kecewa.
“Siapa bilang aku tidak menangis? Aku menangis. Tapi bukan karena kita bertengkar atau karena hampir berpisah. Tapi aku menangis karena ternyata sikapmu sungguh mengecewakan. Kau secara tak langsung sudah berencana menyerah lebih dulu, ketika nanti tiba saatnya kakekmu benar-benar mengancammu lagi dengan nyawaku,” jawab Liana.
Falcon tak percaya jika gadisnya berpikir seperti itu tentang dirinya. Sebagai seorang pria, Falcon merasa sangat malu karena sudah bersikap lemah di hadapan kekasihnya.
Dulu saat di Grey Town, semua nampak mudah baginya. Tak ada satu hal pun yang tak bisa ia lakukan dan dapatkan. Seolah, kota hitam itu adalah taman bermain eksklusif untuknya, meski di balik semua itu telah banyak pengorbanan yang ia lakukan.
Sedangkan sejak pulang ke Empire State, semua yang dia miliki, kemampuan yang ia kuasai, tak bisa lagi ia gunakan dengan suka hati. Teman-teman, bawahan dan juga teknologi yang selalu membuatnya bertindak cepat dan tepat, membuatnya bisa berpikir dengan tenang, kini tak ada lagi. Semua tertinggal di kota hitam itu, dan membuat Falcon seketika menjadi pria biasa yang memiliki banyak kekurangan dan ke khawatiran.
Liana seolah paham akan hal itu. Dia memiringkan tubuhnya dan menjangkau dada bidang Falcon.
__ADS_1
“Apa harga dirimu terluka dengan kata-kata ku tadi?” tanya Liana.
Falcon meraih tangan gadis itu dan mengecupnya sekilas, lalu menggenggamnya erat di atas perut.
“Lebih tepatnya aku sangat malu. Aku ingin selalu menjadi pria yang bisa kau andalkan, tapi kau lihat sendiri sekarang kalau aku tidak lebih dari seorang pria biasa, bahkan mungkin lebih buruk lagi. Hanya seorang pecundang yang tak bisa melakukan apapun,” sahut Falcon.
“Aku rasa, semua itu karena kau sendirian di sini. Bagaimana kalau kau ajak salah satu temanmu di Grey Town untuk menemanimu dan membantumu di sini. Bukankah itu akan lebih baik?” seru Liana.
“Bagaimana dengan orang tua itu? Dia tidak akan mungkin setuju. Dan aku malas untuk berdebat dengannya karena hanya akan berujung pada sebuah ancaman lain,” jawab Falcon.
“Entahlah. Rasanya sangat malas jika harus berhadapan dengan orang tua itu,” keluh Falcon.
“Kau harus terbiasa dengan itu jika kau mau kita terus bersama, Honey,” ucap Liana.
“Yah, mungkin tidak se... Apa kau bilang tadi? Honey? Apa tadi kau memanggilku 'Honey'?” tanya Falcon.
__ADS_1
Dia terkejut dengan panggilan Liana yang tiba-tiba berubah padanya. Sedangkan Liana, gadis itu menarik kembali tangannya dan berbalik memunggungi Falcon.
“Tidak ada siaran ulang. Perkataanku semuanya eksklusif,” ucap gadis itu.
.
.
.
.
Cieeee yang akur🥰🥰🥰🥰🥰
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘