Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Makam di atas bukit


__ADS_3

Seusai sarapan, Falcon mengajak Liana berkeliling pulau menggunakan mobil jeep pribadinya. Dia mengemudikan mobil dan membawa Liana berjalan-jalan mengitari pulau itu berdua.


Namun, semenjak sarapan, Falcon terus diam meski awalnya pria itu terlihat baik-baik saja. Liana yang memang peka pun merasa, jika perubahan tersebut dikarenakan oleh bunga liar yang dipetiknya pagi ini, dan digunakan sebagai hiasan meja makan.


Liana masih belum paham kenapa hal itu bisa terjadi. Hanya saja, pandangan Falcon saat melihat bunga-bunga liar itu, membuat Liana yakin jika hal itulah yang membuat pria di sampingnya tiba-tiba menjadi diam.


Sekitar hampir satu jam perjalanan dari mansion, kini mereka telah tiba di ujung lain pulau tersebut.


Falcon menghentikan mobilnya di bawah sebuah bukit kecil di sana. Dia keluar dan membukakan pintu untuk gadis yang ikut dengannya.


Liana pun turun dan berdiri melihat sekeliling. Terdapat sebuah bukit kecil di hadapan mereka. Sepertinya, mereka berdua akan naik ke sana dan melihat sesuatu yang ada di puncaknya.


Falcon mengulurkan tangannya untuk membantu Liana naik ke atas. Meski canggung, gadis itu pun menerima niat baik Falcon dan meraih tangannya untuk membantunya naik.


Tak perlu bersusah payah, keduanya kini telah sampai di atas. Liana dibuat terkejut dengan keberadaan sebuah gundukan tanah makam yang cukup besar di sana. Sebuah nisan dari batu pualam tertancap di depan pusara tersebut.


Sebuah foto pun nampak terpajang di sana dan beberapa sesaji di sisi kana dan kirinya. Tak lupa juga tempat dupa yang biasa di gunakan untuk memberi penghormatan kepada mendiang.


Awalnya, Liana tak begitu memperhatikan, namun setelah dilihat semakin dekat dan baik-baik, barulah dia menyadari jika foto yang ada di depan makam tersebut adalah foto perempuan yang ia temukan di kamar Falcon pagi ini.


“Ini...,” ucap Liana.


Gadis itu seolah kehilangan kata-katanya, saat hendak bertanya berbagai macam pertanyaan yang muncul dibenaknya. Dia hanya bisa menoleh ke arah pria di sampingnya itu dengan tatapan penuh tanya.


“Ibu, aku datang lagi. Kali ini, aku datang dengan seseorang. Perkenalkan, dia adalah Liana. Tapi saat ini, dia sedang berubah menjadi seseorang bernama Lilian Wu. Dia sama gilanya dengan mu, yang suka kemana-mana dengan menyamar menjadi orang lain,” ucap Falcon.


Mendengar kata-katanya, Liana sama sekali tak menyangka jika makam yang dikunungi mereka adalah ibu dari pria yang terkenal sadis dan bengis ini.


Raut wajah kesepian dan sedih begitu jelas terlihat sejak semalam, namun Liana tak tahu pasti ada apa dengan pria itu, dan detik ini dia baru mengetahui alasannya.


Liana menoleh ke arah makam, dan mencoba melakukan hal yang sama, yang dilakukan oleh Falcon.


“Hai, Bibi. Kau bisa panggil aku Liana. Itu nama asli ku. Aku tak sengaja mengenal putramu. Tapi dia orang yang baik, meski terkadang juga menyebalkan. Namun, terlepas dari semua itu, aku banyak berhutang ucapan terimakasih padanya karena sudah membatuku selama ini,” ucap Liana.


Mereka cukup lama berada di sana. Setelah bersembahyang di depan pusara tersebut dan menyalakan dupa penghormatan kepada ibunda Falcon, mereka pun kemudia pamit dan kembali ke mobil.


Sepanjang perjalanan, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga tiba-tiba saja Falcon bersuara.


“Apa kau tidak ingin bertanya sesuatu?” tanya Falcon.


Mobil jeep itu melaju di jalanan yang berada di pinggir tebing. Pemandangan laut terlihat jelas dari dalam kendaraan itu. Di depan, terdapat persimpangan jalan, dan Falcon mengambil arah yang menuju ke dalam pulau.

__ADS_1


“Kau tau, aku adalah orang yang sangat ingin tau segala hal. Namun, jika itu hal pribadi, aku memilih diam dan tidak bertanya, kecuali dua hal. Pertama, jika orang tersebut yang lebih dulu membukanya padaku. Kedua, jika hal tersebut melibatkan aku,” jawab Liana.


Sebuha garis lengkung tertarik ke atas dari bibir Falcon. Jawaban Liana benar-benar sangat berbeda dari orang-orang yang selama ini dekat dengannya.


“Kau tau, sepanjang aku hidup, hanya ada empat orang yang bicara seperti itu,” ucap Falcon.


“Oh ya? Siapa saja? Ehm, tunggu dulu. Mungkin aku bisa menebaknya,” sahut Liana.


Falcon menoleh sekilas ke arah gadis itu dengan sedikit kerutan di keningnya. Dia penasaran siapa saja yang akan dia sebutkan.


“Benarkah?” tanya Falcon.


“Kau bilang empat dihitung dengan ku kan? Berarti tiga lainnya adalah Nine, Long dan yang terakhir adalah ibumu. Benar kan?” jawab Liana.


Falcon kembali menoleh ke arah Liana dengan seulas senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Tangannya terulur ke arah gadis itu, dan mengacak rambut gadis itu hingga berantakan.


“Hei, rambutku!” pekik Liana.


“Bagaimana kau bisa tau? Apa sejelas itu?” tanya Falcon.


“Yah, sejauh aku mengenalmu, hanya ada tiga orang yang dekat dengan mu. Tak ada lagi yang lain. Yah, meskipun aku belum pernah melihat bagaimana hubungamu dengan ibumu, tapi melihat dari betapa kau memperlakuakannya seperti seorang kekasih, itu menandakan kalau dia begitu berharga. Benar begitu kan?” jawab Liana.


“Kau salah,” sahut Falcon.


Falcon menoleh sekilas dan melihat ekspresi itu di wajah Liana. Senyum tipis tergambar di bibirnya.


“Kenapa?” tanya Falcon.


“Kau bilang kalau aku salah. Jadi, yang benar itu bagaimana?” tanya Liana balik.


“Kau bilang hanya ada tiga orang yang dekat denganku selama ini bukan?” tanya Falcon.


Liana hanya mengangguk kecil sambil terus berpikir.


“Yang benar ada empat,” jawab pria itu lagi.


“Benarkah? Jadi siapa satunya lagi? Kenapa dia tidak berkata seperti yang ku katakan tadi?” tanya Liana.


Dia terlihat begitu menunggu jawaban dari Falcon. Namun, sebuah suara bising terdengar dari luar, dan membuat fokus mereka teralihkan.


Liana mencoba mencari asal suara tersebut, dan mendapati jika sebuah helikopter tengah terbang di atas mereka menuju ke arah depan, di mana terdapat sebuah padang luas.

__ADS_1


“Apa itu helikopter kemarin?” tanya Liana


Falcon hanya menoleh dan melempar senyum ke arah Liana. Mobil itu melaju dan kini tiba di tempat helikopter mendarat.


“Turun lah. Aku akan mengantarmu sampai masuk ke sana,” ucap Falcon.


“Apa kau tidak ikut naik?” tanya Liana.


“Aku masih ada urusan di sini. Kau harus segera pulang. Kau juga harus selesaikan urusanmu dengan kakek mu kan? Terlebih para pekerja mu pasti kelabakan karena bosnya tiba-tiba hilang,” jawab Falcon.


Liana diam. Entah kenapa dia enggan untuk meningalkan tempat terpencil itu. Dia merasa nyaman tinggal di pulau asing tersebut.


“Baiklah,” sahut Liana.


Dia berusaha tersenyum namun terasa hambar. Falcon pun bisa melihatnya dengan jelas.


“Kau bukan anak kecil lagi. Hadapi lah masalahmu, jangan lantas menghindarinya terus. Aku hanya memberimu tempat bersembunyi sejenak, bukan selamanya,” ucap Falcon mencoba menasehati Liana.


“Aku tau,” jawab Liana ketus.


Tapi bukan itu masalahnya! Ah, entahlah. Akhir-akhir ini aku juga merasa aneh sendiri dengan diri ku, batin Liana.


“Anak buahku akan mengantarkan sampai ke apartemen. Mobil dan tas mu sudah ku minta mereka antarkan ke sana,” ucap Falcon.


Liana hanya mengangguk pelan. Dia keluar dari mobil dan dibimbing oleh Falcon untuk naik ke atas helikopter. Pria itu bahkan memasangkan safety kit ke badan Liana sebelum dia pergi menjauh dari burung besi itu.


Perlahan, helikopter mengudara membawa Liana kembali ke pulau utama. Falcon melambaikan tangan beberapa kali ke atas, saat matanya masih menangkap wajah Liana yang masih melihatnya dari dalam benda tersebut.


Kau tau, orang ke empat yang dekat dengan ku adalah kamu, Lilian, batin Falcon.


.


.


.


.


Sudah 3 bab🥳🥳🥳🥳🥳🥳


hari ini udah ya bestie, aku mau bobo dulu🤭

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2