Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Si gadis dingin


__ADS_3

Hari ini begitu sepi, hanya ada Falcon, Liana dan Peter di rumah panggung tersebut. Menjelang siang, si kecil Paulo nampak datang kembali ke rumah panggung. Kali ini dia nampak membawa seorang bersamanya.


Falcon melihat dari kejauhan di depan teras rumah tersebut, sementara Liana, gadis itu masih di dalam sedang mengobati luka di tubuh ayahnya.


“Nak, sebaiknya kau makan dulu,” ucap Peter pada putrinya.


Dia bersama Liana semenjak bangun dan meminta minum. Setelah itu gadis tersebut membersihkan tubuh ayahnya dan mengoleskan obat pada luka sang ayah. Liana sama sekali belum terlihat memakan atau meminum sesuatu. Bahkan saat Falcon memberinya segelas air, gadis itu hanya mengucapkan terimakasih dan tak menyentuhnya sama sekali.


Peter merasa khawatir pada sang putrinya, sedangkan Liana hanya diam dan terus menggerakkan tangannya untuk mengoleskan obat di luka luar Peter.


Pria itu terus memperhatikan sang putri yang sedari tadi memasang wajah kaku dan datar, membuat hati Peter merasa nyeri.


“Nak...,” panggil Peter.


“Kau hanya boleh bicara dengan ku saat luka mu sudah cukup sembuh!” seru Liana tegas.


Meski terdengar dingin dan angkuh, namun sesungguhnya gadis itu justru sangat peduli dengan kondisi ayahnya saat ini.


Dia bahkan menangis dan sangat bersyukur saat pria malang itu bangun dari tidur panjangnya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Liana tadi, membuat Peter sedikit merasa hangat, meski dengan cara bicara Liana yang begitu dingin.


Sepertinya, aku harus belajar lagi cara menghadapi sifat Pak tua Wang itu pada gadis ini, batin Peter.


Dia bisa melihat bagaimana sifat Liana yang diturunkan dari sang kakek kepadanya. Mengingat dia pernah bekerja bersama dengan Presdir Wang, Peter pun sedikit banyak tahu bagaimana harus menghadapi orang dengan watak keras seperti itu.


Dia kini hanya akan terus memperhatikan wajah putrinya dalam diam, dan menunggu sampai lukanya membaik.


Paras itu benar-benar membuatnya teringat kembali akan cintanya yang telah lama tiada. Liana dan Lilian bak satu orang yang berdiri di depan sebuah cermin.


Sangat mirip dan nyaris tak ada beda, kecuali jika dilihat dari sifat asli keduanya yang sangat bertolak belakang.


Peter masih sangat ingat betapa lembutnya sang kekasih dulu. Gadis ceria yang selalu ingin dekat dengan alam bebas, gadis periang yang selalu ingin membaur dengan siapapun, gadis naif yang selalu percaya pada orang lain, gadis cengeng yang akan menangis jika ada yang mendiaminya, dan gadis malang yang harus terkurung selama hidupnya karena sakit.


Liana melihat hal tersebut dan segera mengambil tisu yang ada di sebelahnya. Dia mengelap lelehan tersebut dengan lembut, namun dibarengi dengan kata-kata yang terdengar kasar.


“Jangan pandangi aku seolah sedang melihat orang lain. Aku bukan kekasihmu. Aku sudah punya orang yang ku cintai dan itu bukan dirimu. Kalau kau merindukannya, susul saja kekasihmu itu, biar kalian bisa bersama selamanya,” ucap Liana datar.


Meski terdengar begitu dingin, namun hati Peter menghangat, karena dia tahu jika itu adalah bentuk perhatian dari sang putri berwatak Presdir Wang yang dia ketahui.

__ADS_1


“Aku akan menunda untuk bertemu dengan kekasihku, karena aku harus memastikan putri ku baik-baik saja,” ucap Peter.


Liana menghentikan gerakan tangannya sesaat kala mendengar perkataan Peter tadi. Lalu kemudian, dia kembali bergerak dan menyelesaikan urusannya di kamar tersebut.


Dalam hati, gadis ini begitu ingin memeluk sang ayah dan meluapkan kerinduan yang selama ini dipendamnya, namun melihat Peter yang masih seperti ini, membuat Liana hanya bisa menahan perasaannya, dan fokus pada penyembuhan sang ayah.


Gadis yang sejak kecil kurang merasa kasih sayang itu, mengalami kesulitan untuk mengekspresikan perasaan peduli dan sayangnya kepada orang yang ia cintai.


.


.


.


.


Yah begitu lah Liana, mau bagaimana lagi dong babeh🙈


pagi bestie 🥰sarapan datang😘

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2