
King Cassino, sebuah tempat perjudian terbesar di Grey Town yang merupakan salah satu usaha milik Falcon.
Di tempat tersebut, ada seorang wanita tua yang terkenal sebagai master judi, dan jarang kalah saat bermain.
Namun, semenjak usianya memasuki enam puluh tahun, dia telah berhenti duduk di depan meja judi, dan hanya melihat dan memperhatikan setiap orang yang bermain di tempat tersebut.
Dia bahkan belum pernah sekalipun bermain di dalam King Cassino, semenjak tempat itu dibuka beberapa tahun yang lalu, dan selama itu, pekerjaannya hanya bermain-main serta mengajak orang yang kalah untuk minum.
Dia adalah sumber informasi di Grey Town, yang sering digunakan Long untuk mencari sesuatu. Wanita tua itu adalah Nyonya tua Mo.
“Minumlah! Malam ini aku akan mentraktirmu. Tenang saja,” ucap Nyonya tua Mo.
Terlihat seorang wanita dengan dandanan menor, tengah duduk di depan sebuah bar, ditemani oleh wanita tua itu.
Dia terlihat memegangi kepalanya dengan rambut yang sudah sangat acak-acakan.
“Hah! Kenapa selalu seperti ini?” keluhnya.
Segelas bir di minumnya hingga habis, dan kembali dituangkan oleh Nyonya Mo.
“Memangnya kalau menang, kau mau apa? Apa kau ingin menebus anakmu? Percuma. Kulihat, dia sangat senang di sini,” ucap Nyonya tua Mo.
“Tidak, Nyonya. Dia marah padaku karena sudah membuatnya menjadi seorang pelacur. Dia bahkan sudah tau, kalau aku meminta uang langsung pada Bos Long. Dia bahkan ingin menyembunyikan uangnya dari ku. Kalau aku tidak berjudi, aku tidak bisa dapat uang,” jawab Caroline.
“Dasar bodoh! Karena berjudi, kau justru kehilangan uangmu setiap hari. Hutang mu semakin menumpuk dan tak terhitung lagi banyaknya. Lagi pula, kenapa kau pergi dari kota kelahiran mu itu? Bukankah di sana, hidupmu sudah pasti terjamin?” tanya Nyonya Mo.
Wanita tua itu terus mencekoki Caroline dengan minuman keras hingga mabuk, sehingga dia bisa melancarkan aksinya.
Caroline pun menceritakan semua kejadian yang dialami sejak dari menjual keponakannya, yang justru berujung pada kesialannya yang harus bekerja di tempat si tua Paulo untuk beberapa bulan.
Hingga akhirnya, sebuah mobil bak terbuka, membawanya sampai ke Grey Town.
“Aku hanya membawa sedikti uang saat itu. Ku kira, aku bisa menggandakannya di Cassino, tapi uangku justru hilang, dan anakku menjadi pelacur sekarang. Ini semua karena anak kurang ajar itu!” maki Caroline yang sudah semakin lepas kendali.
“Jadi, kau dihianati oleh keponakanmu sendiri?” tanya Nyonya tua Mo.
“Heh, keponakan? Dia bukan keponakanku. Lagipula tidak ada yang tahu dia anak siapa. Kakakku hanya membawanya pulang, dan mengaku jika dia adalah anaknya. Dasar kakakku yang bodoh,” jawab Caroline.
“Ehm, lalu, siapa kakak b*dohmu itu?” tanya Nyonya tua Mo.
“Vivian. Namanya Vivian Yu. Dan anak itu bernama Liana Yu. Benar-benar anak si*lan!” maki Caroline lagi.
Nyonya tua Mo semakin membuat mabuk wanita di sampingnya itu. Hingga saat sudah tak bisa berbicara lagi, dia meninggalkan Caroline begitu saja di meja bar.
...👑👑👑👑👑...
__ADS_1
Akhir pekan itu, adalah akhir pekan di akhir bulan. Seperti biasanya, Liana mengunjungi mansion besar keluarga Wang di Dream Hill.
Sejak perdebatannya dengan Kakek Joseph terakhir kali, dia bahkan belum pernah menanyakan kepada Jimmy tentang kondisi pria tua itu.
Kali ini, Liana mengalah dan memilih untuk tetap datang ke sana, demi menghormati semua yang telah Kakek Joseph berikan kepadanya.
Sesampainya di mansion besar, Liana seperti biasa disambut hangat oleh setiap orang yang ada di sana, terkecuali Debora yang selalu saja bersikap dingin, terlebih saat Liana dengan lancang, menggambar ulang cetak biru yang tersimpan di balik lemari buku.
Meski begitu, kepala pelayanan itu tak lekas menjadi sosok jahat yang menindas Liana. Hanya saja, semua itu dia lakukan semata-mata demi privasi dari sang majikan, dan juga peraturan mutlak di rumah tersebut.
Ella, teman sekamar Liana dulu, adalah salah satu orang yang akan selalu menyambut kedatangan Liana dengan kehebohan.
Kedua gadis itu akan saling berpelukan beberapa saat, dan kemudian kembali ke urusan mereka masing-masing.
Seperti saat ini, Liana yang baru saja tiba, disambut oleh Ella yang sengaja berlari dari halaman samping, saat melihat mobil Liana datang.
“Lilian!”
“Kak Ella!”
Keduanya pun berpelukan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Ella.
“Yah, seperti biasa,” sahut Ella.
“Apa semuanya baik-baik saja di sini?” tanya Liana.
“Ya, semuanya baik-baik saja. Kau mau bertemu tuan besar bukan? Hati-hati, sejak kau pergi terakhir kali, hampir semua orang dimarahi olehnya,” tutur Ella sambil berbisik.
“Memang apa salah mereka?” tanya Liana.
“Bukan mereka masalahnya, tapi....,” sahut Ella.
“Ehem!”
Sebuah suara deheman membuat Ella menghentikan kata-katanya sebelum usai. Kedua gadis itu menoleh, dan melihat jika Debora sudah berada di belakang mereka.
“Kau naiklah ke atas. Tuan besar sudah menunggumu,” seru Debora.
“Baik, Nyonya,” sahut Liana.
“Kak, nanti kita ngobrol lagi ya,” ucap Liana kepada Ella.
“Oke,” sahut Ella.
__ADS_1
Keduanya pun berpisah.
Setibanya di depan kamar Kakek Joseph, Liana mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada sahutan dari dalam.
“Kek, ini aku. Apa aku boleh masuk?” tanya Liana.
Dia memilih untuk lebih sopan kali ini, mengingat apa yang dikatakan oleh Ella tadi, jika Joseph selalu marah-marah, dan dia tak ingin kedatangannya akan semakin membuat pria tua itu emosi.
“Masuklah!” sahut Joseph.
Liana pun segera memutar gagang pintu dan membuka papan kayu tersebut. Dia berjalan menghampiri Joseph, yang terlibat duduk di tepi ranjang, seolah ingin pergi ke suatu tempat.
“Kek, kenapa duduk di situ? Kenapa tidak bersandar saja di sana saja?” tunjuk Liana ke arah head board.
“Bawa aku ke balkon!” seru Joseph.
Liana pun menghampiri pria tua itu dan membantunya berjalan menuju ke balkon. Di sana sudah ada sebuah meja dan kursi, yang biasa digunakan Joseph untuk bersantai menikmati pemandangan sekitar.
“Aku ambilkan selimut dulu, Kek,” ucap Liana.
Gadis itu kemudian kembali ke dalam, dan membawakan selimut untuk pria tua itu.
“Kau tau, di sebelah adalah kamar putriku,” ucap Joseph tiba-tiba, saat Liana tengah menutupi tubuhnya dengan selimut.
Gadis itu pun seketika menegakkan badannya, dan menatap ke arah Kakek Joseph dengan kebingungan.
Kenapa kakek tiba-tiba mengatakan itu padaku? batin Liana.
Joseph menoleh dan membalas tatapan Liana.
“Aku ingin kau masuk ke dalam sana,” ucapnya.
.
.
.
.
Ada yang punya kopi nggak? Othor ngantuk nih🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1