Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Menyudutkan


__ADS_3

Di ruang kerja tim pemasaran, keributan terjadi di pagi hari, saat seorang karyawan bagian personalia tengah menunjukan meja kepada karyawan baru.


Karena merasa jika mejanya kecil dan ruangannya sangat sempit, karyawan baru itu pun marah-marah kepada karyawan yang lebih senior darinya.


“Apa kau tau aku ini siapa? Aku ini cucu dari Tuan Wang, pemilik perusahaan ini. Kau paham! Kakek tidak mungkin menempatkan ku di ruangan sekecil ini. Ini pasti akal-akalan mu saja untuk mengerjai pegawai baru seperti ku. Iyakan! Dasar rendahan!” maki Jessica.


“Maaf, Nona. Saya hanya melaksanakan perintah dari menejer personalia. Beliau bilang, Anda untuk saat ini ditempatkan di posisi ini,” jawab karyawan itu tertunduk.


Dia tak berani melawan kata-kata kasar Jessica, karena dia melihat sendiri jika gadis itu datang bersama dengan Jimmy, yang tak lain adalah asisten pribadi dari presdir mereka.


Jessica nampak berdiri dengan terus berkacak pinggang. Dia menoleh ke sekeliling dan melihat jika beberapa karyawan di sana terlihat berpakaian monoton, hitam dan putih. Dia bahkan menertawakan penampilan mereka itu.


“Hahahaha... Yang benar saja. Masa aku yang cantik, modis dan kaya raya ini, harus bergabung dengan tumpukan sampah seperti mereka. Mana menejer personalia nya? Aku mau buat perhitungan dengannya,” ucap Jessica dengan sombongnya.



Semua yang berada di sana pun bisa mendengar dengan jelas, apa yang dikatakan olehnya barusan, dan merasa geram sekaligus emosi dibuatnya.


Saat itulah, seseorang datang dan berdiri di antara Jessica dan pegawai malang itu.


“Terimakasih sudah mengantarnya kemari, Kak. Kau bisa kembali ke tempatmu,” ucapnya dengan begitu ramah dan sopan, serta penuh senyum.


“Baik, Nona Wu. Saya permisi,” sahut pegawai itu.


Jessica begitu terkejut dengan kehadiran seorang gadis, yang beberapa hari lalu telah mengetahui identitasnya dan sang ibu di mansion keluarga Wang.


Dia tak menyangka jika akan bertemu dengannya di perusahaan secepat ini.


Melihat pegawai itu pergi begitu saja, membuat Jessica merasa kesal, dan berteriak memanggilnya.

__ADS_1


“Hei, tunggu! Kau belum selesai denganku!” pekik Jessica.


Liana memutar bola matanya karena jengah melihat kelakuan memalukan dari Jessica, yang sudah pasti akan membawa nama buruk untuk Kakek Joseph.


“Ikut aku!” seru Liana.


Gadis itu menarik tangan Jessica dengan paksa dan kasar, hingga gadis itu pun terpaksa berjalan terseok-seok mengikuti langkah kaki Liana yang cukup cepat. Ditambah, Jessica yang saat itu menggunakan high heels, sengaja dibuat kepayahan oleh Liana yang memakai sneakers.


Liana membawa Jessica ke dalam toilet karyawan di lantai tersebut. Dia melihat semua bilik kosong, dan segera mengunci pintunya dari dalam.


“Kenapa kau bawa aku kemari? Mau apa kau hah? Jangan coba-coba untuk merundungku di kantor. Ingat, kalau aku ini cucu...,” ucap Jessica dengan menunjuk-nunjuk ke arah Liana.


“Apa? Apa hah?” sela Liana.


Dia tak takut sama sekali dengan ocehan dari Jessica. Dia justru berjalan maju dan menatap tajam ke arah gadis arogan itu.


Sementara Jessica, dia yang sedari tadi marah-marah dan memaki orang, seketika diam dan merasa terintimidasi oleh tatapan Liana.


Melihat Jessica sudah tersudut, Liana menghentikan langkahnya, dan melipat kedua lengan dia depan dada. Masih dengan tatapan tajam, dia pun kembali bersuara.


“Jangan sekali-kali kamu berulah di sini. Apa lagi dengan membawa-bawa nama Tuan Wang. Ingat! Kau itu palsu, sama seperti ku. Bedanya, aku memang sudah mengaku palsu sejak awal. Tak ada yang perlu ku khawatirkan lagi. Tapi kau... Kau palsu sampai ke darah dan daging mu. Aku penasaran, bagaimana kalau setelah para karyawan melihat betapa arogannya sikapmu ini, kemudian mereka semua tau kau ini hanya seorang penipu, pasti akan seru sekali,” ucap Liana sinis.


Meski terlihat biasa dan mencoba mengintimidasi, namun Jessica tak bisa melihat kepalan tangan gadis di hadapannya itu begiru kuat, terlebih saat menyatakan dirinya juga adalah cucu palsu.


Biarkan dia tau kalau aku juga palsu. Dengan begini, aku bisa leluasa menyiksanya, batin Liana.


“A... Aku tidak takut dengan mu. Aku akan adukan kamu pada Kakek!” ancam Jessica.


“Benarkah?” tanya Liana sambil memiringkan sedikit kepalanya ke arah kiri.

__ADS_1


Dia kemudian mencondongkan wajahnya ke depan, hingga membuat Jessica terdesak ke belakang.


“Silakan saja kau adukan aku, dan kita lihat apa yang bisa ku perbuat padamu dan juga ibumu. Ingat, kalau aku memegang kartu mati kalian,” balas Liana.


Sebuah seringai yang terlihat begitu mengerikan, menghiasi bibir sang arsitek muda, dan membuat sekujur tubuh Jessica bergidik ngeri melihatnya.


Dia tak bisa lagi berkata apapun di hadapan Liana, karena merasa jika saat ini, dia belum mempunyai kekuatan apapun untuk bisa membalas gadis itu.


Sementara Liana, dia menegakkan lagi badannya, dan menepuk-nepuk pundak Jessica, seolah tengah menyingkirkan debu yang tak ada di sana.


“Kalau kau ingin aman di sini, menurut lah. Jadi gadis baik, dan jangan terlalu berisik. Mengerti!” ucap Liana.


Jessica mengangguk cepat dengan sedikit takut. Melihat hal itu, sebuah garis lengkung asimetri terukir di bibir Liana.


“Bagus! Sekarang pergilah ke mejamu yang tadi!” seru Liana.


Mendengar hal itu, Jessica segera pergi dari sana, meninggalkan Liana yang masih berdiri di tempat.


Saat melihat Jessica sudah menghilang di balik pintu, senyum di bibir Liana seketika menghilang. Wajahnya kembali datar dan terlihat begitu dingin.


Lihat saja! Karena kau sudah keluar dari zona amanmu, dan masuk ke wilayah ku, bersiaplah untuk menerima kejutan-kejutan dariku selanjutnya, batin Liana.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2