Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Tiba di istana


__ADS_3

Sky castle, sebuah rumah bak istana yang berdiri megah di tengah hamparan padang rumput yang terdapat di sebelah barat Empire State. Sebuah rumah yang dikelilingi rimbunnya hutan bambu cina yang membentuk pagar hidup di dalam pagar beton.


Tampak dari kejauhan, sebuah mobil melaju di jalanan menuju ke istana tersebut, membawa dua orang gadis dan seorang pria tua. Sebelumnya, kedua gadis itu diantar kembali ke hotel untuk mengambil barang-barang mereka, karena memutuskan untuk check out dari hotel lebih awal.


Mereka berencana akan menginap di rumah besar itu atas undangan dari Tuan Harvey. Keduanya tak bisa menolak karena khawatir akan mengecewakan rekan bisnis, yang baru saja memutuskan bekerja sama dengan mereka. Meski awalnya Liana merasa keberatan, namun Tuan Harvey terus membujuk Nona Shu yang sudah terlihat antusias sejak awal.


Selama perjalanan, Liana hanya duduk diam menikmati pemandangan yang tersuguh di sekitarnya.


Ingatannya kembali ke Dream Hill, tempat di mana sang kakek mendirikan rumah untuk keluarganya, yang kini hanya tersisa dirinya dan sang cucu.


Dari kejauhan, Liana bisa melihat atap dari sebuah bangunan yang tinggi sekitar lima lantai, jika dilihat dari banyaknya bagian atap yang bisa dilihat oleh Liana dalam jarak yang masih lumayan jauh.


Tuan Harvey nampak menikmati perbincangannya dengan Nona Shu, yang memang ahli dalam hubungan personal, karena dia sudah lama berada di bagian marketing.


“Lahan di sini sangat luas. Apa mungkin ini semua milik Anda, Tuan?” tanya Nona Shu.


Mereka baru saja melewati sebuah jembatan yang melintang di atas sungai besar. Hamparan padang rumput semakin terlihat hijau dan terawat.


“Tidak semua. Hanya sebagian kecilnya saja yang bisa ku miliki,” sahut Tuan Harvey.


“Benarkah? Boleh saya tau dari mana sampai mana yang merupakan milik Anda?” tanya Nona Shu yang nampak tertarik.


“Kau lihat jembatan tadi?” tanya Tuan Harvey balik.


Nona Shu hanya mengangguk, dan menunggu jawaban dari Pak tua itu.

__ADS_1


“Dari jembatan itu, hingga ke belakang bukti di depan sana, itulah tanah milikku. Kami biasanya menamai tempat ini dengan Sky Castle,” ungkap Harvey.


Nona Shu pun kembali menoleh ke belakang dan kemudian melihat jauh ke depan, seolah tengah mengukur seberapa luasnya lahan milik pak tua yang duduk di kursi depan itu.


“Kau lihat bangunan di depan sana? Itulah rumah tuaku. Di sana lah anak beserta cucuku tinggal bersama,” tambah Tuan Harvey.


“Wah, Anda Benar-benar luar biasa, Tuan. Saya yakin kalau Anda memiliki keluarga yang bahagia,” ucap Nona Shu.


“Hahahaha... Yah, semua keluarga memiliki ukuran bahagia yang berbeda-beda. Kita tak tau standar bahagia menurut orang lain seperti apa, Nona,” sahut Tuan Harvey tergelak.


Mendengar tawa dari pria tua itu, Liana yang tadinya tak terlalu peduli dengan perbincangan tersebut, akhirnya menoleh dan melihat siluet wajah tua Bob Harvey dari samping.


Entah kenapa dia bisa merasakan rasa kesepian dan sedih di sana. Seperti yang dulu pernah ia lihat di wajah kakeknya, Joseph Wang.


Setelah mengatakan hal itu, baik Nona Shu dan Tuan Harvey sama-sama diam. Nona Shu sibuk melihat pemandangan di sana dan istana yang hendak mereka datangi. Sedangkan Tuan Harvey, dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Sesampainya di depan gerbang istana Sky Castle, mobil berhenti sejenak. Terlihat gerbang terbuka dengan sendirinya, dan ada sekitar enam orang pria bertubuh besar nampak berjejer di samping jalan masuk, seolah tengah menyambut kedatangan mereka.


Mobil kembali melaju, memasuki halaman istana Sky Castle yang begitu luas dan sangat indah. Liana terus menyandarkan kepalanya di kaca mobil, dengan mata yang melihat ke luar dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya.


Hal itu pun diketahui oleh Nona Shu, yang tak sengaja melihat ke arah gadis tersebut.


Aneh. Kenapa kali ini dia berwajah muram begitu? Bukankah ini maha karya? Harusnya dia pun sama antusiasnya, batin Nona Shu.


Kini mobil telah berhenti tepat di depan tangga depan istana, yang dianggap hanya rumah tua oleh Tuan Harvey.

__ADS_1


Seseorang datang ke arah mobil dan membukakan pintu mobil depan untuk Tuan Harvey, sedangkan Jack, dia turun dan membukakan pintu belakang yang ada di dekatnya.


Liana dan Nona Shu pun turun. Lagi-lagi Nona Shu tercengang melihat apa yang ada di hadapannya. Namun Liana masih terlihat biasa saja, bahkan tak tertarik sama sekali.


“Ini tamu ku. Bawa mereka ke kamar tamu untuk beristirahat,” seru Tuan Harvey kepada salah satu pelayan yang menyambutnya.


“Baik, Tuan. Mari nona-nona, ikuti saya,” ucap si pelayan.


“Tuan Harvey, terimakasih atas undangannya,” ucap Nona Shu.


“Jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri,” seru Tuan Harvey.


Nona Shu pun berjalan mengikuti pelayan tadi, sedangkan Liana sedikit tertinggal di belakang. Langkahnya begitu pelan dan bahkan terlihat lemas.


Tuan Harvey yang bermata jeli pun bisa menangkap perbedaan sikap dari gadis itu.


.


.


.


.


Utang kemarin up sahur😅✌

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2